
Bebetlrapa hari, pengacara keluarga Liam telah mengurus persidangan Axella secara tertutup, dan akhirnya pengadilan memutuskan jika Axella akan menjadi tahanan rumah.
Itu karena menilik pertimbangan Axella masih memiliki bayi prematur dan juga ia adalah istri dari William Linevero yang telah banyak berjasa untuk Negara Vernecia, namun itu tidak berlaku untul William karenaseseorang telah dengan tegas mengunci hukuman William.
Kabar tentang penjualan Mansion The Kingham pun juga bagaikan virus yang tak terbendung lagi, istana itu terlalu megah dan di jual dengan harga uang yang fantastis, hingga beberapa bangsawan tidak banyak yang beryahan merela telah kalah bersaing dengan penawaran-penawaran tinggi bangsawan lainnya.
Banyak juga bangsawan yang langsung mundur karena tidak mampu bersaing lagi.
Kabar itu pun di dengar oleh Alaris, namun ia masih diam tidak bersuara.
Banyak kenangan buruk yang ada di mansion itu, sepertinya Alaris tidak berniat membelinya. Namun berbeda dengan Leon, sepertinya ia tertarik untuk menawar mansion itu dengan harga yang tidak dapat lagi di jangkau oleh para bangsawan biasa.
Saat itu Alaris sedang duduk dan menyulam, di belakangnya Samantha dan Emily yang sudah mengetahui kabar Alaris hamil menjaga Alaris dengan sangat ketat.
Tak berapa lama, terdengar ketukan pintu dan Brida pun masuk.
"Nyonya Alaris, Jason ingin berbicara dengan anda." Kata Brida menyodorkan ponselnya.
"Ya."
"Nyonya, maaf sebelumnya saya telah lancang, tapi saya hanya ingin meminta pada anda untuk memberikan pengampunan untuk Tuan William, dia sudah melakukan semua yang di minta Tuan Leon. Bagaimana Tuan Leon menghasut Tuan William agar mau menerima semua tuduhan kejahatan yang di lakukan Nyonya Axella, kenapa belum puas juga dengan hukuman seumur hidup, dan sekarang Tuan Leon menghasut agar Tuan William membunuh anak yang di lahirkan Nyonya Axella, meskipun dia bukan darah daging Tuan William tapi tetap saja itu sangat kejam dan tidak berperikemanusiaan, saya harap Tuan Harry tidak terlibat, jika dia terlibat anda pasti akan kecewa."
"Anak itu bukan anak kandung William? Apa yang terjadi bagaimana bisa seperti ini." Tanya Alaris.
"Oee...Oeekkk..."
Terdengar suara bayi menangis, dan tentu saja Alaris juga mendengar ada deburan ombak yang sangat keras.
"Dimana kamu sekarang?" Alaris sontak berdiri dan membulatkan matanya.
"Saya sedang berada di ujung jalan Nyonya, apakah saya harus membunuh bayi ini, atau bagaimana." Kata Jason.
Saat itu Jason sudah berada di sebuah dermaga, ia akan menaiki kapal yang membawanya ke tengah lautan.
Alaris mendengar suara bayi yang menangis semakin kencang dan sontak membuat Alaris berlari menuju ruangan kerja Harry.
"Jangan lakukan itu Jason!" Teriak Alaris.
"Aku mohon jangan lakukan itu!"
Meski pun Alaris membenci Axella, dan bayi itu, namun Alaris tidak sampai hati jika harus menghilangkan nyawa mereka.
Brida, dan para pelayan pribadi Alaris tidak mengerti apa yang terjadi, namun mereka semua berteriak agar Nyonya mereka tidak berlari terlalu cepat karena akan berbahaya untuk kandungannya.
__ADS_1
"Nyonya jangan berlari seperti itu!" Teriak Emily.
"Nyonya jangan berlari lantainya lincin!" Teriak Samantha.
"Nyonya, apa yang terjadi, jangan panik!" Teriak Brida.
BRAKK!!!
Alaris membuka pintu ruangan kerja Harry dengan kasar, keringat dingin mengucur deras di kepalanya.
Ponsel milik Brida masih berada di telinganya, panggilan itu masih saling terhubung.
"Sayang?" Tatapan Harry terkejut melihat istrinya datang dengan wajah yang tidak bisa di jelaskan.
Saat itu Harry, Leon dan Zoland sedang berdiskusi.
Semua tatapan menuju ke arah Alaris, mereka semua terkejut dan pandangan mereka tidak lepas dari apa yang akan Alaris lakukan.
"Harry, apa kamu menyuruh seseorang untuk menghasut William?"
Leon dan Harry saling pandang.
"Apa kamu menyuruh orang itu untuk menghasut William agar dia membunuh bayinya!" Teriak Alaris.
Para pria itu saling pandang.
Brida dan para pelayan menutup mulut karena terkejut.
"Sayang, bicara dengan pelan, aku tidak mengerti apa maksudmu istriku?" Harry mendekati Alaris dan mengambil ponsel yang ada di tangan Alaris.
Alis Harry naik satu, dan melihat nama yang ada di ponsel itu adalah Jason.
"Halo Jason, aku tidak tahu apa yang telah kamu katakan pada istriku, tapi aku dan Leon tidak pernah menghasut William untuk membunuh bayinya, aku tidak sehina itu, aku selalu mengatakan aku tidak pernah membunuh dan tidak memiliki niat untuk membunuh bahkan jika itu William apalagi bayi itu. Tidak tahu kamu mendapatkan sumber dari mana, tapi aku dan Leon tidak pernah sekalipun ingin mengotori tangan kami, jangan sama kan aku dengan Tuan mu yang tega membunuh orang, sebisa mungkin tangan-tangan kami tidak ingin menjadi tangan kotor dan menjadi pembunuh." Kata Harry.
"Lalu apa yang anda mau, kenapa Tuan William memerintakan saya untuk membunuh putrinya, sebelumnya Tuan Leon telah menghasut Tuan William, apakah aku bisa percaya dengan ucapan anda."
Harry melihat Leon.
"Aku akan menyelidiki ini, siapa yang telah menjual nama ku dan nama Leon dia tidak akan pernah bisa melarikan diri." Kata Harry.
"Pertanyaanku adalah aku tidak tahu alasannya tapi, bagaimana jika William sendiri lah yang menginginkan bayi itu mati?" Kata Harry.
Jason gemetar dan mundur dari kapal yang akan ia naiki, sebelumnya Jason akan membuang bayi itu di tengah samudra.
__ADS_1
Kemudian tubuh dan tangan Jason bergetar, ia melangkah mundur dan memeluk bayi itu, bayi yang sudah memikatnya pada pandangam pertama.
Jason mencium bayi itu dengan ketulusan dan kehangatan.
"Aku akan merawatmu." Kata Jason menangis.
Para pelayan pribadi Alaris mendengar itu, dan meneteskan air mata, ternyata Jason memiliki sifat ke ayahan yang sangat besar, dia mencintai dan berani membelok dari perintah William yang tidak pernah ia langgar, namun demi bayi itu kini Jason melanggarnya.
"Aku dengar Axella akan menjadi tahanan rumah, kamu bisa pergi dan mencari tempat tinggal bersama bayi itu, dan mencarikan tempat tinggal juga untuk Axella, katakan saja pada William jika kamu sudah melenyapkan bayi itu. Dan tugas mu selesai." Kata Harry.
"Tapi Tuan Harry, saya mohon satu lagi, tolong berikan keringanan untuk Tuan William, saya mohon, jika saya punya uang, saya sudah datang ke Negara Slyvedonia dan bersujud pada anda." Kata Jason.
Harry menarik alisnya ke atas. Lalu melihat pada Alaris yang juga mendengarnya, istrinya masih ada di dekatnya dan sedang menunggu keputusan apa yang akan Harry berikan.
"Aku akan bicara pada pihak yang bersangkutan agar mereka menilik lagi hukuman William, karena William juga orang yang telah berjasa di Negara Vernecia, mungkin Pemerintah akan memikirkannya dan memberikan grasi pada William."
"Terima kasih Tuan Harry." Kata Jason menangis.
Harry mematikan ponselnya dan melihat ke arah Brida dengan tatapan dingin.
Brida hanya menunduk.
"Istriku, apa kamu sekarang puas dengan jawabanku?" Tanya Harry tersenyum.
Alaris merasa bahwa senyuman Harry yang sedang ia tunjukkan sekarang justru mengerikan.
'Itu adalah iblis yang tersenyum.'
Alaris mengangguk.
"Leon apa kamu menyuruh seseorang untuk menghasut William agar dia membunuh bayi nya? Jika terbukti itu adalah kamu, aku akan memberikanmu ultimatum. Aku sudah katakan jangan sakiti orang yang tidak berdosa." Kata Harry.
"Tidak pernah, aku tidak pernah menghasutnya. Aku akan kesana dan memeriksanya." Kata Leon.
"Zoland apa kamu menghasut William agar dia membunuh bayinya?" Kata William.
"Tidak Tuan, tapi saya mendengar kabar bahwa Nyonya Axella hampir ingin membawa bayinya melompat dari atas atap mansion untuk mati bersamanya, karena dia tidak ingin di penjara."
"Kamu dengar sendiri Istriku, bukan kami yang menghasut William, kamu juga dengar sendiri, Axella yang sebagai ibu dari bayi itu, justru tega membawanya untuk mati bersama, bagaimana jika saat dia melompat bayi nya yang mati dan dia selamat?"
"Aku...." Alaris menunduk, ia tidak mengerti kenapa akhir-akhir ini perasaannya gampang tersulut dan terpengaruh.
Perasaan Alaris begitu moody, dan ia tidak tahu apakah itu pengaruh hormon kehamilan ataukan dia yang sudah berubah setelah menikah dengan Harry, tak lagi dingin dan lebih berperasaan. Mungkinkah karema hati nya sudah di penuhi rasa cinta sehingga ia menjadi orang yang sangat welas asih.
__ADS_1
bersambung~