Pernikahan CRAZY RICH

Pernikahan CRAZY RICH
WANITA LICIK


__ADS_3

Alaris sampai di mansion dan langsung masuk ke dalam ruangan tengah, namun ia terkejut ketika melihat Axella berdiri di tengah mansion dengan menangis.


"Astaga, mengagetkan. Apa dia hanya bisa menangis." Gerutu Alaris yang mulai muak dengan air mata.


"Aahh Nyonya Alaris, kita bertemu lagi." Kata Axella dan menghapus air matanya.


"Di mana William? Apa kalian tidak bersama?"


"Tidak." Kata Alaris.


"Tapi, saya mendengar kalian pergi bersama untuk mempersiapkan acara pesta."


"Kami berangkat terpisah dan pulang terpisah, kamu senang sekarang." Alaris tidak ingin terlibat apapun dengan Axella dan memilih pergi namun sekali lagi Axella belum bisa melepaskan Alaria pergi begitu saja.


"Ehmm... Apakah saya juga boleh pergi bersama kalian untuk datang ke pesta?" Tanya Axella.


"Tidak." Kata Alaris.


"Saya janji tidak akan membuat onar, dan hanya akan duduk diam, serta menutup mulut dengan rapat." Kata Axella lagi menutup mulutnya rapat-rapat.


Alaris tidak memperdulikan kicauan Axella dan hanya terus berjalan.


"Kakak! Aku bertanya padamu, kenapa kamu tidak menjawab dan meninggalkanku." Axella menggapai tangan Alaris.


Namun dengan reflek Alaris menepisnya.


"Aak..." Axella terkejut dan merasa sakit hati.


"Kamu memanggilku apa?"


"Aku memanggilmu kakak, bukankah kita keluarga, kamu lupa? William berharap kamu menjagaku seperti seorang kakak yang menjaga sang adik, lagi pula sebentar lagi suami mu adalah suamiku, kita memiliki suami yang sama. Benarkan kak?"


"Jangan memanggilku kakak." Kata Alaris dingin.


"Kamu pasti sangat membenciku kan!" Kata Axella.


Mata Axella yang jernih mulai berkaca-kaca dan mulai berair, dia menangis lagi.


'Tentu saja aku membencimu, sangat membencimu.' Batin Alaris.


"Pergilah." Kata Alaris.


"Kamu pasti iri denganku kan, kamu pasti cemburu denganku." Axella mencoba memprovokasi Alaris lagi.


"Apa...?"


"Kamu iri denganku, karena William lebih mencintaiku, jadi kamu membenciku dan tidak memperbolehkanku datang ke acara pesta itu, meski tanpa ijinmu, William pasti akan tetap mengajakku." Kata Axella dengan menangis tersedu-sedu.


"Ini bukan masalah benci atau tidak, tapi Itu adalah perayaan yang sangat penting untuk kelangsungan perusahaan, dan akan banyak tamu penting yang hadir, apalagi akan banyak masyarakat menengah ke atas yang akan mengikuti pesta itu, lagi pula walaupun kamu akan menjadi istri William kita tetap tidak bisa menjadi kakak adik karena kita bukan saudara, dan aku hanya memiliki 1 adik laki-laki."


Alaris mencoba menjelaskan kebenaran yang sulit itu bahkan sangat sulit untuk ia jelaskan melalui mulutnya, dan kenapa pula Alaris harus menjelaskannya, tetapi bagaimana pun Alaris menjelaskannya Axella justru semakin menangis.

__ADS_1


'Dia pasti mengira aku menghinanya.'


Karena tidak berhasil meyakinkan Axella, Alaris memilih untuk mengakhiri perdebatan mereka.


"Apa aku tidak penting, sehingga aku tidak boleh datang!" Tangisan Axella semakin keras.


"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya, akan tidak baik pengaruhnya jika orang luar tahu tentang hubungan kalian." Alaris memijit pelipisnya yang mulai pusing.


"Apakah cinta itu dosa! Apa kamu tidak pernah jatuh cinta! Kamu pasti sangat membenci ku karena William lebih mencintaiku."


Alaris terhenyak, semua perkataan Axella pun di dengar oleh para pelayan yang penasaran ada kegaduhan apa.


"Sebenarnya, kehadiranmu akan menyebabkan masalah dan pengaruh buruk pada perusahaan, apa kamu tidak peka sama sekali!" Alaris mulai tersulut kali ini, ia merasa terdesak dan tertekan dengan semua kalimat Axella yang terus menuduhnya dan menyudutkannya.


"Ta... Tapi aku lah yang bisa memberikan anak untuk William, dan kamu tidak, itu artinya seharusnya akulah yang ada di posisi mu, seharusnya aku lebih penting daripada kamu!"


"Apa?"


Axella menggeram kan suaranya dan menegaskan pada Alaris.


"Ya, aku mengandung anak William." Senyuman Axella melebar.


Kemudian Axella mendekat pada Alaris dan menyentuh tangan Alaris.


"Kamu akan memiliki keponakan dan semua warisan William pasti akan jatuh pada anakku."


Sontak Alaris melepaskan cengkraman tangan Axella yang ada di tangannya, Axella melihat William datang dan justru menjatuhkan dirinya di lantai.


"Axella kenapa kamu menjatuhkan dirimu?"


"Apa yang kamu lakukan Alaris!" Bentak William.


"Perutku... Aahhh tolong perutku sakit..."


"Panggil dokter sekarang!!" William berteriak seperti orang kalap dan menggendong Axella.


Alaris melihat ekspresi cemas William yang natural dan alami, itu adalah naluri, tidak ada rekayasa atau pun pura-pura apalagi di buat-buat. Kali ini William benar-benar serius pada wanita ini, bukan seperti waktu-waktu yang dulu, ketika William hanya ingin membuat Alaris cemburu.


'Jadi, seperti inikah saat William jatuh cinta?' Kata Alaris dalam hati.


Alaris mengikuti William yang menggendong Axella ke kamarnya, dan menunggu di luar kamar Axella, tak lama kemudian dokter pun datang, Alaris menunggu di dampingi oleh Samantha dan juga Emily yang baru saja tiba.


"Dasar manusia ular." Geram Emily.


Samantha menyenggol Emily, agar berhati-hati berbicara.


"Bukan hanya kamu yang akan mendapatkan masalah, tapi Nyonya juga akan mendapatkan hukuman karena mulutmu itu." Kata Samantha.


Emily hanya bisa cemberut.


Terlihat Jason juga menunggu di depan kamar.

__ADS_1


Di dalam Kamar, William terus memegangi tangan Axella dan menggenggamnya, sesekali William menyapu dahi Axella.


Sang dokter pun selesai memeriksa.


"Tidak apa-apa tuan, bayi nya sehat, tapi harus lebih berhati-hati lagi karena masih trimester awal, jangan sampai si ibu stress dan turuti saja apa yang Nyonya mau." Kemudian dokter pun pergi.


"Kamu dengar, jangan stress dan banyak pikiran." Kata William


"Bagaimana aku tidak banyak pikiran? Semua ini karena perkataan Alaris."


"Kenapa dengan Alaris?"


"Katanya aku tidak boleh memanggilnya kakak, larena kami bukan saudara, dan dia hanya punya 1 adik laki-laki, dia pasti sangat membenciku." Axella menangis lagi.


"Dia mungkin sedang lelah dan banyak beban pikiran."


"Tidak mungkin dia pasti sangat membenciku, saat aku bilang ingin ikut pergi ke pesta katanya aku hanya akan membuat malu, dan hanya akan memberikan pengaruh buruk pada perusahaan, itu karena hubungan kita." Kata Axella.


"Dia bilang seperti itu?"


Axella mengangguk dengan air mata yang terus mengalir.


"Sudahlah, sekarang tidurlah, kamu akan datang bersamaku ke pesta itu."


"Benarkah? Kamu mengijinkaku pergi?"


"Ya, lain kali bicaralah padaku, mintalah padaku, karena akulah yang memutuskan dan bukan Alaris."


"Baiklah."


"Sekarang tidurlah, aku tidak mau kamu menyakiti bayinya dengan memikirkan hal-hal lain, fokuslah merawat bayi nya."


"Terimakasih William."


Kemudian William keluar dari kamar Axella dan Alaris pun mendekat.


"Bagaimana?" Tanya Alaris.


William menatap tajam pada Alaris, seperti menatap pada seorang penjahat.


"Apakah... Ba... Bayi nya baik-baik saja?" Tanya Alaris, meski kalimat itu berat untuk ia ucapkan dari mulut bahkan hatinya.


William terkejut sejak kapan Alaris mengetahui bahwa Axella mengandung anaknya.


"Karena kamu sudah tahu, ke depannya bersikap baiklah pada Axella, jangan memberikan kalimat-kalimat tekanan, itu akan membuatnya stress dan membuat bayi nya sakit."


William pun meninggalkan Alaris yang hanya berdiri mematung, bahkan Alaris sendiri kebingungan, ia tidak mendorong Axella, tidak menyakiti Axella, tapi kenapa seolah dialah yang jahat dan telah menyakiti Axella beserta bayi nya.


"Nyonya... Kita kembali ke kamar?" Tanya Samantha.


Alaris hanya bisa mengangguk dan berjalan dengan kaki yang gemetar.

__ADS_1


bersambung~


__ADS_2