
Harry mendekatkan lagi bibirnya, perlahan menyentuh tipis bibir Alaris, hingga mendekat lagi dan kini kedua bibir itu semakin menempel.
Merasa di terima, Harry melingkarkan kedua tangan berototnya di pinggang dan punggung Alaris, mendekap Alaris hingga seolah tidak boleh seorang pun yang bisa merebutnya dari pelukan Harry.
Harry menekan bibirnya dan melum*at bibir Alaris. Setelah beberapa detik diam, Alaris tidak mampu lagi menahan dan membendung gejolak yang ada di dalam tubuh nya, ada sesuatu yang membuatnya enggan berpisah, ada sesuatu yang menariknya untuk ikut menari bersama Harry dan Alaris pun mulai membalasnya.
Harry merasa gembira, wanita yang ia cintai sejak kecil kini benar-benar telah berada di dalam pelukannya.
Itu hanya ciuman, namun entah kenapa membuat mereka berdua tenggelam dalam irama panas yang berkobar di dalam masing-masing tubuh mereka.
Itu hanya ciuman namun entah kenapa terjadi begitu lama, dan hanya nafas yang terdengar dari telinga mereka.
Itu hanya ciuman namun entah mengapa seolah membakar dada Alaris yang dingin menjadi berapi-api.
Itu hanya ciuman namun entah mengapa, Harry begitu terus menikmatinya hingga merasa kurang dan kurang.
Tok Tok Tok! Suara ketukan pintu terdengar membuat sentakan di tubuh Alaris, dan tentu saja itu menyadarkannya jika dia telah membuat kesalahan.
"Nyonya dokternya sudah datang." Suara Samantha terdengar.
"Aku... Tidak seharusnya ini terjadi, aku minta maaf." Kata Alaris malu dan merasa bersalah.
Harry kemudian menggenggam tangan Alaris, menatap mata Alaris yang malu.
"Tidak Alaris... Kamu tidak perlu merasa ini salah... Kamu tidak perlu merasa sedang melakukan kesalahan dan dosa, karena kamu adalah wanita yang seharusnya mendapatkan kebahagiaan, karena kamu wanita yang seharusnya di lindungi bukan di sakiti."
"Tapi..."
"Nyonya, apa anda baik-baik saja? Apa luka Tuan Harry sangat parah?" Tanya Samantha.
"Iya sebentar. Kami baik-baik saja." Kata Alaris.
"Pertimbangkan permintaanku Alaris, menikahlah denganku."
Alaris masih bimbang dan akhirnya mengangguk pelan.
"Aku akan mempertimbangkannya." Kata Harry.
Kemudian Alaris membuka pintu dan mempersilahkan dokter masuk untuk memeriksa luka di kepala Harry.
Dengan tenang Harry kembali duduk di atas ranjang Alaris, pria itu melihat pada Alaris tanpa berpaling bahkan hanya sekejab, membuat Alaris semakin salah tingkah.
'Dari mana dia mendapatkan ketampanan dan tubuh berotot yang kekar itu.'
'Ah... Astaga, apa yang ku pikirkan! Apa aku sudah gila? Apa aku menyukai Harry hanya karena ia tampan dan memiliki tubuh yang sempurna?'
"Lukanya sudah tidak mengeluarkan darah, walaupun tidak dalam tapi harus di jahit." Kata sang dokter.
__ADS_1
"Apakah perlu ke rumah sakit?" Tanya Alaris tidak sabar.
"Tidak, saya sudah membawa alatnya." Kata dokter itu.
"Apakah akan membekas?" Tanya Alaris lagi khawatir pada bekas luka
"Untungnya tidak, jikapun membekas ini tidak akan terlihat Nyonya."
"Baguslah." Alaris bernafas lega.
Harry tertawa mendengar Alaris, membuat Alaris membulatkan matanya.
"Apa kamu khawatir tentang apa yang akan terjadi pada tubuhku? Membekas atau tidak aku tidak pernah mempermasalahkan itu, karena aku laki-laki." Kata Harry.
"Tapi tubuh mu terlihat sempurna, dan kamu juga tampan, akan sayang jika ada bekas luka." Kata Alaris yang tidak sadar berbicara karena sibuk memperhatikan dokternya yang sudah siap untuk menjahit luka di kepala Harry.
Alaris kemudian melihat pada Harry yang sedikit sedih.
"Apa itu sakit?"
"Tidak, tapi apa kamu hanya menyukai tubuh dan wajahku?" Tanya Harry.
Mendengar kalimat Harry membuat Alaris merona dan malu.
"Astaga apa yang sudah ku katakan tadi. Maksudku adalah, bentuk tubuhmu sangat sempurna apalagi kamu tampan, akan sayang jika tergores luka dan membekas.
"Kamu menyukai tubuh dan wajahku saja?"
Melihat Alaris salah tingkah Harry semakin puas menggoda Alaris dan kemudian tertawa.
Alaris pun memilih untuk pergi karena sangat malu namun sebelum benar-benar meninggalkan Harry, tangan kekar Harry susah meraih pergelangan Alaris.
"Jangan pergi." Kata Harry yang menunduk tanpa melihat Alaris karena dokter mulai menjahit lukanya.
Dengan menggengam tangan Alaris, Harry menundukkan kepalanya dan dokter mulai menjahit luka di kepala Harry.
Saat itulah Alaris merasa bahwa Harry memperlakukannya sangat berbeda.
Harry memiliki sifat yang kejam sama seperti William, namun sangat hangat terhadapnya, memperlakukannya dengan baik dan menghormatinya.
Pelan tapi pasti, kini debaran jantung Alaris mulai terisi oleh nama Harry, jantung yang dulu sesak karena William kini justru ringan namun juga berdesir panas saat setiap kali Harry melihat dan menyentuh Alaris.
'Dulu hatiku begitu sesak saat mencintai William, namun kini ada rasa berbeda di dalam dadaku ketika aku bersama Harry. Aku merasa lebih aman dan tenang, merasa bahwa Harry memperhatikan bagaimana pendapat dan perasaanku, dia lebih berhati-hati dan selalu menghiburku.'
Setelah beberapa jam berlalu, Harry selesai diobati. Zoland pun sudah datang untuk menjemput, awalnya pria itu tidak ikut bersama Harry karena harus mengurus berkas-berkas tentang Harry yang sebagai penjamin kebebasan Hector.
"Sepertinya nyonya Alaris merawat anda dengan baik Tuan."
__ADS_1
"Ya, tetap saja kamu tidak akan mendapatkan libur." Kata Harry.
"Hati-hati di jalan, dan aku minta maaf atas insiden hari ini." Kata Alaris.
"Kamu tidak perlu meminta maaf Alaris, jika kamu tidak ada mungkin William sudah tinggal nama." Kata Harry.
Kemudian mobil limusin mewah membawa Harry pergi.
Di dalam mobil Harry melepaskan jas yang menutupi tubuhnya.
"Ada informasi apa?" Tanya Harry.
"Reed sedang mencari pembunuh bayaran kelas tinggi di Negara Slyvedonia, pembunuh bayaran itu mengatakan targetnya adalah Greisy."
"Cih... Dia masih belum bisa belajar. Mencari penjahat di negara Slyvedonia, negara dengan sarang penjahat terkejam yang sudah ku atur di bawah kaki ku." Kata Harry.
"Setelah Greisy tertangkap oleh para pembunuh bayaran, saya memerintahkan untuk membawanya ke tempat aman." Kata Zoland.
"Kapan waktunya?"
"Sepertinya malam ini Tuan, informasi mengatakan Greisy sudah membuat jadwal menemui ibunya yang ada di rumah sakit jiwa." Kata Zoland.
"Kirim pengawal bayangan rahasia untuk mengawasi pembunuh bayaran itu, jika dia mengkhianati kita dan benar-benar akan membunuh Greisy, kamu tahu apa yang seharus nya di lakukan."
"Lalu bagaimana dengan Reed?"
"Bodohi dia, suruh pembunuh bayaran itu untuk mengatakan pada Reed bahwa Greisy memang sudah di bunuh, Reed masih berguna untuk menjadi orang bodoh yang akan terus menjadi lalat penganggu bagi Axella dan William."
"Sepertinya anda sudah mendapatkan sedikit hati Nyonya Alaris, kenapa anda tidak terus saja melukai kepala anda tuan?"
"Kamu jeli juga. Aku sengaja tidak menghindar saat William memukul ku menggunakan kursi." Kata Harry tersenyum kecut
"Sebentar lagi Nyonya Alaris akan menjadi milik anda tuan, sedikit lagi rencana kita akan berhasil, sepertinya Axella juga sudah jatuh ke dalam pesona Leon, dan selalu menuruti perkataannya."
"Leon memiliki tugas yang sangat berbahaya, aku sudah mengatakan padanya untuk jangan terlalu dalam mencari ruangan rahasia di mansion The Kingham untuk mencari bukti tentang kecelakaan yang menewaskan seluruh keluargaku dan keluarga Alaris."
"Pengawal mata-mata kita sudah tertangkap 1 tuan, namun sampai hari ini dia masih menutup mulutnya."
"Selamatkan dia dan bawa pulang, sudah cukup bermain-main nya."
"Baik tuan."
"Jika Leon tertangkap, gunakan semua kejahatan Axella untuk mengancam William, katakan pada Willim jika Axella bersekutu dengan Reed untuk membunuh Alatis, dan katakan bahwa Axella sudah membuat Alaris menderita."
"Di mengerti tuan."
bersambung~
__ADS_1