
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Austin ragu-ragu dan dengan wajah tegang.
Alaris sedang duduk di kursi yang nyaman di ruangan tengah, mengagumi patung yang mewah dengan berlian yang menempel di sana. Begitu indah dan sangat mempesona. Suara Austin membuatnya tersenyum, karena pria kekar itu memiliki suara yang sangat lembut dan hati-hati.
Alaris menoleh, Austin menatap Alaris dengan mata yang hangat, namun juga takut.
Kemudian Austin duduk di samping Alaris. Salah satu tangannya bersandar di sandaran kursi. Mata cokelatnya bercampur dengan cahaya kemerahan matahari terbenam menciptakan suasana yang lebih misterius.
"Aku sangat takjub dengan patung itu, bagaimana kamu bisa membuatnya?" Tanya Alaris penuh dengan rasa penasaran.
"Tapi, patung itu sangat dingin, seperti sosok yang berbeda denganku, wajah dan pandangan matanya seperti wanita yang tidak memiliki rasa takut, dan juga dingin." Kata Alaris.
"I... Itu belum sempurna sepenuhnya."
Alaris tersenyum dan membelai pipi Austin dengan tangannya.
"Tapi, aku sangat suka."
"Aku akan memperbaikinya." Kata Austin.
"Aku bilang aku suka." Kata Alaris sembari tersenyum dan membelai pipi Austin dengan lembut.
Austin membungkuk sedikit dan mengusap pipinya ke tangan Alaris. Kemudian dia mengambil tangan Alaris yang ada di pipinya lalu mencium telapak tangan Alaris dengan ringan dan berbicara dengan prihatin.
"Tapi, kamu tidak tampak ceria, apa kamu masih merasakan sakit?" Tanya Austin.
"Aku... Hanya bingung dengan semua ini... Semua terasa asing, dan aku tidak memiliki kenangan apapun yang aku ingat." Kata Alaris sedih.
"Apakah kamu tidak bahagia?" Tanya Austin sedih.
"Aku memiliki perasaan campur aduk."
Tak berapa lama seorang pelayan datang.
"Tuan, dokter sudah tiba."
"Baik." Kata Austin.
"Ayo, kita ke kamar, dokternya sudah datang."
Austin memapah Alaris, dan terlihat seorang dokter pria paruh baya sedang menunggunya di depan kamarnya.
Alaris tersenyum, kemudian sang dokter pun tersenyum canggung.
Mereka masuk ke dalam kamar, dan dokter mulai memeriksa.
"Nyo... Nyonya, amda harus banyak istirahat dan harus banyak makan, mengandung bayi kembar sangat beresiko jika amda tidak cukup istirahat dan makan yang bergizi."
"Baik, terimakasih dokter." Kata Alaris tersenyum.
"Dokter, ada yang harus kita bicarakan." Kata Austin
"Ba.. Baik Tuan."
"Kamu tunggu di sini dulu." Kata Austin sembari mengelus punuk kepala Alaris.
Alaris pun mengangguk dam tersenyum.
Kemudian Austin mengajak dokter itu ke ruangannya.
__ADS_1
Mereka kemudian mengobrol.
"Tuan, apa anda..."
Sebelum mengatakan lebih lanjut Austin mengulurkan sebuah berkas di atas meja.
"Tanda tangani." Kata Austin.
Sang dokter pun membacanya dan menandatangani.
"Saya... Tidak akan mengatakan apapun, yang terpenting adalah keselamatan keluarga saya, amda tidak perlu menekan saya seperti ini, Tapi jika Nyonya Alaris sembuh dan kembali mengingat semuanya, apa anda siap menerima resikonya?" Tanya sang dokter.
"Itu urusanku, sedangkan urusanmu cukup menutup mulut." Kata Austin.
******
Negara Slyvedonia
Zoland berjalan dengan langkah lebar, dan sangat cepat, bahkan itu terlihat setengaj berlari, saking tak sabarnya ia kemudian benar-benar berlari menuju ruangan tembak.
Terlihat Harry sedang menembak, dan semua sasarannya mengenai target dengan akurat.
"DOR!"
"DOR!"
"DOR!"
Harry berulang kali menembakkan pistolnya di targetnya.
"Tian ada kabar siapa yang membeli patung Nyonya Alaris." Kata Zoland menarik nafasnya yang tersengol.
"Itu adalah Tuan Austin Harold." Kata Zoland.
"DOR!"
Tembakan melesat tepat pada target, tanpa Harry melihatnya, ia masih fokus pada apa yang ia dengar dari Zoland.
Kemudian Harry memberikan pistolnya pada Zoland, dan menerima sapu tangan lalu membersihkan tangannya.
"Sudah periksa mansionnya?" Tanya Harry.
"Mansion dalam keadaan kosong, patungnya juga tidak ada." Kata Zoland.
"Hubungi dia." Kata Harry berjalan pergi dengan cepat.
Harry menuju ruangannya, tubuhnya cukup berleringat, ia mematikan pendingin di ruangan menembak.
Setelah sampai di ruangannya, Harry duduk dan melihat layar lebar di depannya berukuran tv 58inc.
Zoland pun sedang berusaha menghubungi Austin, benar-benar menyusahkan sekali, jika Austin menyembunyika keberadaannya sekarang.
"Kita akan menggunakan satelit untuk melacaknya Tuan." kata Zoland.
"Lakukan semuanya." Kata Harry tidak sabar.
Tal berapa lama panggilan pun tersambung, Austin duduk di kursinya dan akhirnya dua wajah pria yang berkuasa pun saling memandang.
Mereka memiliki pikiran masing-masing dan mereka juga telah sadar jika apa yang ada di dalam pikiran mereka adalah berperang.
__ADS_1
"Dimana istriku." Kata Harry tanpa basa-basi.
"Kamu hebat Harry, tidal ada seorang pun yang bisa melacakku, tapi kamu dengan mudahnya hanya hitungan menit." Puji Austin.
"Sayangnya aku menghubungimu bukan untuk mendengarkan pujianmu." Kata Harry.
"Apa aku harus mengulangi pertanyaanku lagi?" Lanjut Harry.
"Ada." Kata Austin dengan wajah santai tanpa rasa takut sedikitpun.
"Kamu sangat percaya diri sekali, entah apa motifmu, tapi aku akan menjemput istriku." Kata Harry.
"Solahkan, kamu pintar, aku tidak akan memberikan dimana titik lokasiku, kamu pasti sudah menyadap panggilan ini dan melacakku, pasti sekarang kalian sudah mendapatkan koordinatnya. Aku menunggumu." Kata Austin.
"Kamu akan mendapat masalah jika berani menyentuh istriku." Kata Harry.
"Kamu boleh menjemputnya, aku tidak masalah, jika dia mau peegi bersamamu." Kata Austin tersenyum.
Harry merasakan ada hal yang janggal dan aneh.
"Senyumanmu itu... Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan dariku." Kata Harry.
"Honey...."
Mendengar suara yang tidak asing di telinganya membuat Harry membelalak, ia setengah berdiri dan melihat layar dengan lebih dekat.
"PETZ!" Panggilan di matikan sepihak. Layar kemudian mati.
"Kamu dengar itu Zoland, itu adalah suara Alaris." Kata Harry.
Zoland nampak ragu.
"Aku yakin itu suara Alaris, lalu siapa yang di panggil sayang? Apa dia tahu aku menghubungi nya lalu memanggilku honey? Tapi, dia tidak pernah memanggilku seperti itu." Kata Harry.
"Tuan."
"Kita jemput istriku sekarang juga Zoland! Titik koordinatnya sudah dapat?"
"Ya Tuan."
"Bagus, ayo!" Kata Harry.
Kemudian Harry menaiki helikopter bersama dengan Zoland, mereka terbang ke sebuah pulau yang cukup jauh dari Negara Slyvedonia.
Pulau terpencil itu dulunya adalah pulau yang sangat berbahaya, banyak bibatang buas yang hidup di sana, banyak hewan-hewan yang belum bisa di teliti, banyal juga tumbuhan beracun di sana.
"Tuan, kita tidak boleh turun, kita harus naik dan mendarat di kastil, karena hutan itu masih sangat berbahaya." Kata Zoland.
"Buka kah, pulau tengkoran milikku jauh lebih bahaya?"
"Seharusnya iya, tapi pulau milik Tuan Austin memiliki binatang-binatang yang belum teridentifikasi oleh dunia, saya takut jika kita tidak tahu caranya melewati hutan maka kita yang akan mengantarkan mayat kita sendiri."
"Kamu adalah prajurit ku, asissten ku yang paling kompeten, aku percaya dengan semua analisamu, jadi kita akan sampai di kastil dengan menggunakan caramu."
Zoland mengangguk, ini bukan peetama kalinya Zoalnd menjinakkan hutam rimba yang liar, bahkan Pulau tengkorak yang sangat ganas pun mampu Zoland jinakkan, namun kali ini banyak hewan atau tumbuhan beracun di pulau itu yang belum di identifikasi.
"Aku yakin kita mampu melaluinya." Kata Harry.
bersambung~
__ADS_1