
Persidangan kembali di mulai setelah beberapa menit istirahat, bagi tamu yang ingin mengetahui kelanjutan kasus William beberapa menit begitu terasa lama namun bagi yang akan mendapatkan hukuman beberapa menit itu bagai satu detik.
Axella duduk di kursi rodanya dan berada di dekat William.
"Persidangan akan di mulai semua hadirin bisa duduk dengan tenang." Kata sang hakim.
"Nyonya Axella saya sudah memegang bukti-bukti bahwa anda terlibat dalam kasus pembunuhan Gloria dan Percobaan pembunuhan Greisy, apa tanggapan anda."
Axella tidak dapat mengatakan apapun, sedari tadi sebelum persidangan akan di mulai wajah nya pucat pasi, tubuh Axella juga gemetar, keringat dingin membanjir, tangan Axella tidak bisa di kendalikan, trauma ingatannya ketika menjadi pelayan yang di penjara untuk pemuass naffsu kembali menjangkitinya.
"Tidak... Tidakk... Aku tidak melakukannya.... Tidak! Yang mulia! Itu bukan Aku!" Teriak Axella histeris.
"Axella..." Panggil William.
"Tidak... Jangan mendekat!!!" Axella menepis tangan William.
Kemudian Jason dan Jenny maju menenangkan kondisi Axella, para tamu yang menyaksikan percaya jika Axella berpura-pura menjadi gila agar terhindar dari persidangan.
"Tidak... Jangan sentuh saya... Jangan!!!"
Sang hakim menghela nafasnya dan kemudian memberikan anggukan pada Jason dan Jenny untuk membawa Axella pergi.
"Karena semua bukti sudah ada, dan mengarah pada William serta istrinya. Hari ini di putuskan William akan menerima hukuman seumur hidup dan Axella akan menerima kurungan penjara selama 25 tahun."
TOK TOK TOK!!!
"Sidang di tutup!!!"
"Keberatan Yang Mulia! Yang Mulia!" Teriak pengacara William.
Setelah para tamu pergi dan gedung menjadi sunyi, Kemudian Alaris menghampiri William dengan wajah tegar.
"William, semoga hukuman yang kamu terima ini akan menjadi pelajaran untuk yang lainnya." Kata Alaris.
Saat itu Harry juga berada di sisi Alaris.
"Apa dengan begini kamu sudah memaafkanku Alaris? Apa dengan begini kamu sudah tidak membenciku? Dia bilang hanya dengan menurutinya kamu akan memaafkanku." Kata William penuh putus asa.
"Menurutinya?" Alaris mengerutkan keningnya.
"Sudah cukup Istriku, Arthur sudah menghubungi untuk melakukan pemeriksaan." Kata Harry mengalihkan.
"Ahh.. Baiklah."
"Alaris, kamu sedang sakit?" Tanya William.
"Tidak." Jawab Alaris dan pergi lebih dulu.
Kemudian Harry membungkuk dan berbisik di telinga William yang masih dengan tangan terborgol.
"Terimakasih William karena kebodohanmu melepaskan Alaris, aku bisa menikahinya, dan kami akan segera memiliki bayi. Itu adalah 2 bayi kembar." Bisik Harry dengan suara rendah yang mengerikan.
William menelan ludahnya kasar, pupilnya bergerak-gerak, tubuhnya mulai gemetar dan berkeringat dingin.
__ADS_1
Kepalanya mulai kacau dan tidak dapat berfikir jernih.
Harry kemudian pergi menyusul Alaris dan memeluk istrinya lalu menciumnya, mereka pun terus berjalan hingga melewati pintu gedung yang lebar dan kini tinggal terlihat punggung mereka, lalu menghilang di tengah cahaya luar yang menyilaukan.
"AAAAAARRRGGGGGHH!!! KALIAN SEMUANYA ADALAH BADJINGAN!!!"
Teriak William.
Hukuman sudah di jatuhkan dan kemudian Jason datang menghampiri dengan nafas terengah-engah.
"Apa persidangannya sudah selesai bagaimana hasilnya?" Tanya Jason.
Sang pengacara menggeleng dengan wajah penyesalan.
"Penjara seumur hidup."
Jason merasa tubuhnya lemah dan putus asa.
"Tuan! Saya tahu alasan anda bersikap seperti ini, tapi tidak seharusnya anda percaya dengan ucapan Leon!" Kata Jason.
"Untuk apa lagi aku ada di sini Jason, semua sudah hilang, bahkan anak itu juga bukan anakku." Kata William.
Kemudian seorang polisi datang dan memberitahu.
"Saatnya kembali ke penjara."
William menurut dan berjalan dengan polisi tersebut.
"Kita sudah tidak memiliki uang Jason, semua akun bank milik kita sudah di bekukan, stempel marga Liam juga hilang."
"Saya tidak perlu bayaran Tuan William, jika anda mau mengajukan banding saya melakukannya tanpa meminta sepeserpun, anda adalah orang yang paling berjasa pada saya." Kata sang pengacara.
"Sudahlah, tidak ada lagi yang patut ku perjuangkan kali ini, bahkan hidupku sendiri. Jason pergilah cari bos yang baru."
"Tapi..."
"Jason.... Setelah ini selesai, usir bayi itu dari mansion dan jual Mansion The Kingham." Kata William.
"Tuan!!!" Jason dan sang pengacara terkejut hampir melompat dari mereka berdiri.
"Apa maksud amda Tuan William." Kata Jason penuh wajah ketakutan.
"Penjualan mansion itu kalian bagi dua, dan sisanya berikan pada para pengawal dan pelayan." Kata William mengakhiri diskusi dan memilih untuk pergi.
William keluar dari gedung persidangan, dan seperti biasa, semua wartawan sudah mengerubunginya, berita semakin gencar dan luar biasa.
"Tuan William saya dengar anda mulai depresi dan istri anda mulai gila dengan keputusan persidangan ini." Tanya salah satu wartawan.
"Tuan William, saya dengar anak itu bukan darah daging anda?" Tanya wartawan yang lain.
William berhenti melangkah dan melihat siapa yang bertanya.
Kemudian Polisi itu mendorong punggung William dengan sangat kasar.
__ADS_1
"Jalan!"
William kembali berjalan dan hendak masuk ke dalam mobil.
"Tuan William saya dengar dari Nyonya Axella, dulu dia pernah berkata, anda menceraikan Nyonya Alaris karena Nyonya Alaris mandul, tapi sekarang anak anda bukan darah daging anda jadi siapa di sini yang sebenarnya mandul." Wartawan itu bertanya lagi tanpa basa-basi.
"Selama pernikahan, aku dan Alaris tidak pernah melakukan hubungan fisik, Alaris tidak mandul." Kata William kemudian masuk ke dalam mobil.
Semua wartawan terkejut dengan penuturan William, membuat mereka semakin agresif untuk bertanya dan semakin seperti hiruk pikuk yang meriah.
Mobil pun berjalan pergi menuju penjara tempat biasa William mendekam.
Sedangkan di tempat lain Axella sudah sampai di mansion The Kingham, polisi sudah banyak berjaga di sana.
Lalu dengan tangan gemetar Axella meraih air minum yang ada di atas meja, dekat ranjangnya.
PYAR!!!
Gelas berisi air itu pecah dan berserakan di atas lantai.
"Nyonya, saya akan bersihkan." Kata seorang pelayan.
"Dimana Jenny." Tanya Axella.
"Nyonya tidak tahu? Jenny mengundurkan diri, dia berkata setelah persidangan Tuan William akan berhenti sebagai pelayan." Kata sang pelayan.
Axella mengangguk mengerti, dengan gemetar.
"Tidak heran jiia ia menginginkan untuk berhenti, karena aku telah...."
Axella menghentikan kalimatnya, ia sadar telah membuat pelayan yang sedang membersihkan lantai ketakutan.
Pelayan itu memikirkan sesuatu hal dalam benakny, bisa saja setelah Gloria dialah yang akan di bunuh, pelayan itu juga berfikir, Jenny memilih mengundurkan diri pun adalah keputusan yang tepat.
"Mulai hari ini kamu yang akan menjadi pelayan pribadiku." Kata Axella.
"Maa... Maafkan saya Nyonya, sa... Saya, hari ini berniat mengundurkan diri juga." Pelayan itu menunduk dan pergi terburu-buru setelah membersihkan lantai.
Axella mulai gemetaran lagi, ia menggigiti kuku ibu jarinya dan berfikir lagi, apa yang harus ia lakukan akan terbebas dari semua tuduhan itu.
Namun semuanya telah terlambat, semua bukti sudah di serahkan kepada hakim, dan hukuman penjara untuk Axella sudah di tetapkan.
"Aku pernah mendengar, penjara sangat mengerikan, William yang memiliki power sangat tinggi saja habis di pukuli, aku tidak ingin masuk penjara... Aku tidak mau... Apa yang harus ku lakukan...."
Axella duduk dengan menekuk kedua kakinya dan memekuknya, tubuhnya berayun pelan maju dan mundur, ia juga menggigiti kuku ibu jarinya.
Pandangan matanya tidak tenang, pikirannya brutal mencari cara agar ia terbebas dari penjara.
Kemudian Axella tiba-tiba duduk dengan tenang namun masih memekuk kedua lututnya, ia ingat sesuatu.
"Aku pernah mendengar Jason meenghubungi seseorang tentang tahanan rumah, aku harus cari cara, setidaknya aku tidak tinggal di penjara."
bersambung~
__ADS_1