
Malam itu Harry memeluk Alaris, dan mengelus perut Alaris dengan kelembutan dan penuh kasih sayang.
"Bagaimana ini sepertinya aku mencintaimu lebih dari apa yang aku tahu, apalagi di perut ini sekarang ada buah cinta kita berdua, Istriku apakah kamu juga mencintaiku? Atau kah aku bertepuk sebelah tangan? Mungkin kah cintaku hanya sepihak?" Kata Harry mulai memikirkan sesuatu yang aneh lagi.
"Hm?" Tanya Alaris.
Saat itu Alaris hampir tertidur.
"Sayang, tubuhmu tidak sakit kan? Karena sepanjang hari kamu berbaring terus menerus?" Kata Harry lagi khawatir.
Alaris membuka mata, dan melepaskan diri dari dekapan Harry, kemudian tidur miring membelakangi suaminya.
"Istriku, kamu kenapa?" Tanya Harry.
"Aku tahu maksud dari ucapan mu, kamu ingin mengatakan bahwa aku pemalas, dan hanya tidur sepanjang hari kan, lalu kamu ingin mengejekku kenapa aku sangat betah tidur dan tubuhku tidak sakit." Kata Alaris dingin.
"Tidak... !!! Bukan itu Istriku." Harry duduk di samping Istrinya dan gelagapan.
"Bukan mau ku juga jika aku begini, aku tidak mengerti, keinginanku hanya mau tidur terus menerus!" Lanjut Alaris mendengus kesal.
"Istriku, bukan itu... Maksudku adalah aku sangat khawatir jika punggung mu sakit atau terasa pegal karena terus-terus an berbaring."
"Bilang saja terus terang jika aku sudah tua. Punggung dan pinggangku renta!" Alaris semakin muram, ia juga merasa semakin kesal.
"Astaga..." Harry memeluk Alaris dan mencium pipi Alaris.
"Kamu salah paham sayang, aku bahkan lebih suka jika kamu setelah melahirkan tetap berada di kastil, biarlah perusahaan aku yang mengurusnya, aku lebih suka kamu tidur-tiduran."
Harry menaruh pipinya di atas pipin Alaris dan menggesek-gesek pelan.
"Jangan marah sayang, apakah mood mu tiba-tiba menjadi tidak bagus?" Tanya Harry.
"Entahlah." Jawab Alaris malas.
"Sini aku peluk Istriku."
Alaris berbalik dan masuk ke dalam dada bidang Harry, dengan dekapan lengan kekar suaminya, Alaris merasa bahwa itu nyaman, kantuknya pun semakin menjalar cepat di matanya, entah mengapa Alaris hanya ingin tidur dan tidur.
"Tidurlah Istriku." Kata Harry mencium Alaris.
Setelah Alaris tidur pulas, Harry mengendap-endap turun dari ranjang, ia berjinjit kecil menuju balkon dan menutup pintu, kemudian Harry menghubungi Arthur.
'Ya, Tuan Harry, apakah terjadi sesuatu?' Tanya Arthur.
"Sebenarnya... Begini... Istriku agak bersikap aneh, biasanya dia tidak peduli dengan perkataan entah itu menyinggungnya atau tidak, tapi kenapa sekarang dia sangat sensitif bahkan itu bukan hal mengolok-oloknya."
'Aaa.... Itu wajar Tuan, pengaruh hormon, mulai ke depannya anda harus sabar dan menahan diri untuk lebih baik diam, karena saat ini Nyonya Alaris sedang memiliki perubahan hormon.'
"Syukurlah jika itu tidak berbahaya."
Harry langsung menutup ponselnya, dan kemudian kembali berjinjit mengendap-endap naik kembali ke atas ranjang.
__ADS_1
Di ruangan kerja, Brida, Leon serta Zoland sedang membahas perusahaan dan persidangan William.
"Apakah Harry benar-benar tidak akan ikut membahas masalah ini?" Tanya Leon.
"Sepertinya Tuan Harry akan menemani Nyonya Alaris tidur Tuan."
Leon kemudian melihat jam tangannya.
"Ini bahkan masih belum terlalu malam." Kata Leon.
"Wanita hamil memang seperti itu, awal-awal akan merasa lelah, dan selalu ingin tidur, lalu manja dan ingin selalu ada di dekat suaminya." Sela Brida.
"Kamu tahu banyak? Kamu pernah hamil?" Kata Leon melirik dengan lirikan tajam.
Brida mendengus.
"Tuan Leon, saya memiliki sepupu wanita yang seperti itu."
"Maaf Nona Brida, tapi bukan kah kemarin anda memegang mawar hitam pemberian Presiden?" Tanya Zoland yang tiba-tiba menyela.
"Aaa... Sejujurnya saya alergi bunga, saat itu saya memakai spray di tangan agar tidak memiliki kontak langsung."
"Spray?" Tanya Leon.
"Ya obat spray anti Alergi bunga, sejak kecil saya sudah alergi dengan bunga, dan jika bersentuhan dengan bunga tangan saya akan gatal, karena Nyonya Alaris menyukai bunga saya harus selalu menyiapkan obat itu, kami sangat bertolak belakang."
Leon mengangguk.
PLAK!
Leon tiba-tiba memukul kepala Zoland menggunakan berkas di hadapannya.
"Kamu pikir siapa dirimu? Pujangga cinta? Aku tahu tanpa kamu ajari, lagi pula kamu tidak memiliki waktu luang kenapa menjadi sok tahu dengan urusan wanita, kamu bahkan tidak pernah pacaran." Kata Leon sembari tertawa.
Zoland memasang wajah sedih.
"Yahhh, ini semua karena Tuan Harry sangat mencintai saya, dia tidak akan senang jika aku senang."
Zoland dan Brida pun tertawa.
Tak berapa lama Harry datang.
"Tuan Harry..." Kata Zoland.
"Ku kira kamu sudah tidur." Kata Leon.
"Ada yang harus ku katakan." Harry duduk menyilangkan kakinya.
Semua mendengarkan, wajah Harry nampak serius.
"Aku serahkan semua urusan William pada mu Leon." Harry mengusap dagunya pelan, memikirkan dengan penuh pertimbangan.
__ADS_1
"Apa!!!" Semua orang terkejut.
Leon dan Zoland adalah yang paling terkejut, setelah bertahun-tahun merancang rencana untuk membuat William membayar apa yang telah dia lakukan, sekarang Harry menyerah begitu saja bahkan ketika tinggal selangkah lagi membuat William tersiksa.
"Kenapa, bukankah ini adalah rencana kita dari awal? Kenapa kamu berhenti dan menyerahkannya padaku?" Tanya Leon.
"Alaris memintaku untuk melepaskannya dan membiarkan hukum Negara Vernecia yang mengurusnya, apalagi setelah ku pikirkan, lagi pula saat ini istriku sedang mengandung, aku tidak ingin mengotori segala tindakanku ke depannya."
"Tuan...." Zoland hendak berbicara pendapatnya namun sekali lagi, ia tahu Harry bukanlah pria yang mudah melepaskan dendamnya begitu saja.
"Leon, kamu tahu bagaimana menyengangkanku, aku sangat susah merasa puas, maka dari itu aku menyerahkan William padamu, kamu lah yang akan menjalankan semuanya." Kata Harry.
Leon kemudian tersenyum licik.
"Sepertinya kamu menyerahkan William padaku, itu juga sebuah pesan untukku jika aku tidak boleh segan." Kata Leon.
"Kamu juga sudah menderita." Kata Harry.
Zoland hanya memandangi Harry serta Leon yang saling menatap licik.
Sedangkan Brida masih tidak mengerti apa yang terjadi.
"Oke, mulai saat ini aku yang akan menangani masalah William." Kata Leon.
"Jangan lupa sebentar lagi persidangan di mulai." Kata Brida.
"Saatnya Greisy keluar, itu akan menjadi tambahan pukulan bagi Axella dan William."
"Lalu ada satu hal yang harus kamu lakukan Zoland." Kata Harry.
"Ya, Tuan?"
"Bantu pencarian adik sepupu Jason, dia bernama Gloria."
"Tuan Harry!!!" Zoland terkejut.
"Apa maksudmu!" Kata Leon.
Brida sampai melongo mendengar pernyataan Harry.
"Untuk masalah William, aku bisa mengerti tapi ini Jason? Kamu membantunya?"
"Ini permintaan Istriku, jika aku tidak turun tangan dia sendiri yang akan mengotori tangannya, karena aku yakin pelayan itu sudah mati." Kata Harry.
"Maksudmu?"
"Prediksiku pelayan itu di bunuh oleh Axella, tapi kurasa mayatnya masih di simpan, karena pembunuh bayaran yang membersihkannya, menurut kebiasaan mereka mayat itu akan di awetkan dan di jual ke pasar gelap untuk pengambilan organ." Kata Harry.
"Kita harus kepasar gelap?"
"Ya, kalian harus kesana dan membelinya." Kata Harry.
__ADS_1
bersambung~