Pernikahan CRAZY RICH

Pernikahan CRAZY RICH
IBLIS YANG BERBALUT KECANTIKAN


__ADS_3

Ponsel Axella bergetar, dan ia menjawabnya.


"Jangan menelponku bodoh! Aku tidak mau William tahu."


"Apa kamu tidak mau mendengar kabar tentang Greisy?" Kata Reed.


"Pasti sudah mati kan, dia tidak terlihat beberapa hari ini."


"Tentu saja, lalu bagaimana tentang pembayaran itu."


"Aku akan menghubungi mu nanti."


"Jika kamu bohong aku akan datang ke mansion dan menagihnya, aku akan menceritakannya pada William."


Tiba-tiba pintu kamar Axella di buka dan itu William. Axella dengan cepat menutup ponselnya.


"Kamu berbicara dengan siapa?" Tanya William.


"Aah... Ehmm... Teman, aku punya teman."


"Teman? Dari mana? Kamu tidak pernah pergi keluar?"


"Ahh... Aku berkenalan saat dulu berbelanja."


"Ooh.. Baiklah, tapi jangan terlalu dekat." Kata William menepuk kepala Axella pelan.


Axella mengangguk dan tersenyum.


"Aku akan pergi untuk kepentingan bisnis ke luar negara. Kamu jangan keluyuran kemana-mana apalagi ke mansion utara."


"Kamu tidak akan mengajakku?" Tanya Axella berharap.


"Ini pertemuan yang sangat penting dan di sana ada ayahku." Kata William.


"Ayah? Kamu tidak pernah bercerita jika memiliki ayah."


William tersenyum.


"Kapan-kapan akan ku ceritakan padamu. Aku berangkat ya."


"Jika kamu memerlukan bantuan, pelayan pribadi dan para pengawal akan membantumu."


"Baiklah." Kata Axella.


Kemudian Axella mengantar William ke depan mansion, hingga mobil nya pergi membawa William dan juga Jason.


"Kenapa dia tidak mengajakmu?" Tanya Leon.


"Ahh... Kemana saja kamu? Kenapa baru terlihat?"


"Aku ada urusan di luar beberapa hari, apa ada sesuatu yang terjadi."


"Ya sesuatu yang bagus telah terjadi, William menghukum Alaris dan Emily berdiri di bawah guyuran hujan semalaman." Axella tertawa geli.


Raut wajah Leon langsung berubah.


"Kamu senang?" Tanya Leon.


"Tentu saja, itu berarti William sangat mencintaiku."


"Aah... Selamat atas keberhasilanmu." Kata Leon dingin.


"Oh ya apa kita bisa bicara berdua?" Tanya Axella.


Leon mempersilahkannya.

__ADS_1


"Tidak, maksudku ini sangat rahasia, apakah kita bisa bicara di kamarmu?"


"Tentu." Kemudian Leon mempersilahkan Axella untuk berjalan lebih dulu.


Dengan gembira dan menari sembari bernyanyi Axella melangkahkan kakinya menuju kamar milik Leon.


Setelah sampai di kamar Leon, pria itu kemudian menutup pintu dan menguncinya.


"Agar tidak ada yang mendengar dan melihat kita." Kata Leon.


"Baiklah, sebenarnya aku ingin meminta bantuanmu."


"Apa itu?"


"Black card yang William berikan aku tidak bisa lagi memakainya, dan aku harus membeli sesuatu. Dia melarangku karena aku menghabiskan banyak uang.


"Ya, lalu..."


"Apa kamu bisa meminjakan aku uang?" Tanya Axella.


"Tidak masalah, berapa?"


"Mungkin sekita 100 atau 200 juta." Kata Axella.


"Itu mudah. Tapi uang sebanyak itu untuk apa? Aku ingin meminjamkannya padamu Axella, tapi aku benci kebohongan." Kata Leon santai dan dingin.


"Sebenarnya apa kamu bisa menjaga rahasia?"


"Kita berteman, aku pasti akan menjaganya, aku kecewa dan sakit hati jika kamu menyembunyikan sesuatu dariku Axella. Berarti kamu tidal sepenuhnya menganggaku dan tidak percaya padaku." Kata Leon.


Leon kemudian mengambil pisau buah dan memeriksa ketajamannya.


"Aku memerintahkan Reed untuk menyewa pembunuh bayaran."


"Lalu siapa targetnya "


Leon mengambil apel dan memotongnya dengan kasar.


"Aku harus membayar Reed untuk sisanya. Tapi aku tidak memiliki uang, dan Reed akan nekat datang."


"Aku bisa meminjamkannya, tapi kamu harus mengembalikannya dengan bunga." Kata Leon.


"Bunga?"


"Ya begitulah aturan pinjam meminjam uang."


"Tapi aku tidak memiliki uang."


"Mintalah pada William uang untuk keperluan per bulan


mu, kamu bisa menyicilnya dengan itu."


"Ahh itu ide bagus."Kata Axella.


"Kamu setuju dengan bunga yang ku berikan?"


"Aku setuju." Kata Axella tersenyum dan wajahnya bersinar.


Leon tersenyum sinis, dan memakan apelnya lalu mendekati Axella tepat di depan wajah Axella yang cantik.


Kemudian Leon menyentuh pipi Axella.


"Pernah kamu mendengar kalimat bahwa, Iblis yang berbalut kecantikan?" Bisik Leon di telinga Axella.


Seketika tubuhnya meremang dengan perlakuan Leon.

__ADS_1


"Ti... Tidak..." Kata Axella yang dadanya bergetar.


"Banyak iblis bersembunyi dan menyembunyikan wajah asli mereka di balik topeng wajah cantiknya, kamu tahu Axella, jika melakukan sesuatu jangan setengah-setengah, kamu harus memilih menjadi iblis atau menjadi malaikat." Bisik Leon dan mengecup telinga Axella.


"Le...Leon, apa yang kamu lakukan."


"Aku mengatakan, jika kamu ingin membunuh Greisy, itu tidak akan berpengaruh apapun pada Alaris dan hubunganmu dengan William, kamu harus membunuh Alaris, semuanya akan cepat terselesaikan, dan kamu akan cepat menikah, lalu anakmu adalah satu-satunya pewaris di sini." Leon menarik pelan tubuh Axella, dan kini tubuh mereka saling menempel.


Axella menelan ludahnya, kalimat Leon seolah seperti sihir baginya, perlakukan Leon seolah langsung merasuki tubuh dan jiwanya, mata Axella sayu dan kemudian kedua tangan Axella terbang merangkul tengkuk Leon.


"Leon, kamu adalah satu-satunya pria yang paling aku percaya, bahkan aku belum bisa sepenuhnya percaya pada kalimat William, karena sampai hari ini dia belum juga menikahiku dan menceraikan Alaris, apa kamu mau membantuku."


Leon tersenyum pahit dan dingin.


"Tapi sudah saatnya aku pergi, taman sudah selesai di bangun, dan kamu harus melakukannya sendiri di sini." Kata Leon.


"Tidak... Apa maksudmu pergi? Kamu tidak akan pergi kemanapun, kamu harus tetap tinggal di sini, aku tidak bisa melakukan apapun tanpa mu."


Leon melepaskan pelukannya dan berbalik memunggungi Axella membuka tirai yang menutup dan menatap taman melalui jendela besarnya.


"Aku harus pergi Axella, tidak ada sesuatu lagi yang membuatku harus tetap berada di sini, lihat lah kemegahan taman itu, semua itu adalah desain kita, dan aku harus meninggalkanmu, aku sudah menyelesaikan pekerjaanku di sini."


"Aku akan katakan pada William jika aku masih ingin membangun taman." Kata Axella.


"Benarkah?" Leon masih memunggungi Axella dan menatap taman.


"Ya aku akan katakan pada William agar kamu tetap bisa tinggal di sini, bersamaku, dan membantuku, bagaimana caranya agar aku bisa menyingkirkan Alaris."


Axella kemudian memeluk Leon dari belakang.


"Aku mencintai mu Leon."


"Benarkah?" Tanya Leon.


"Benar Leon, aku sangat serius dengan kalimatku, aku mencintaimu, dan aku tidak sanggup jika melihatmu pergi, hanya kamu yang selalu membantuku, dan hanya kamu yang aku percaya. Jadilah kekasihku Leon."


Leon tersenyum sinis.


"Aku juga menyukai mu Axella, tidak masalah kita menjadi sepasang kekasih."


Kemudian Leon berbalik dan memeluk Axella.


"Tapi bisakah kamu juga membantuku, itu untuk melancarkan rencanamu membunuh Alaris?" Tanya Leon.


"Apapun itu Leon."


"Sebisa mungkin dapatkan password ruangan rahasia milik William, di sana ada beberapa dokumen yang bisa membuatmu menyingkirkan Alaris dan mengambil perusahaannya, selain itu kamu bisa menghubungi Reed untuk membunuh Alaris." Kata Leon."


"Benarkah?" Tanya Axella.


Leon tersenyum.


"Kamu percaya padaku kan?" Tanya Leon.


"Iya aku hanya percaya padamu. Tapi sekarang William sedang pergi bagaimana aku bisa tahu pasword ruangan rahasia, aku ingin cepat melaksanakan rencana kita."


Leon berfikir sejenak.


"Masuk ke dalam ruang kerja William, dan carilah tabletnya, ku rasa William memiliki tablet cadangan."


"Baiklah aku akan kesana." Kata Axella dan pergi meninggalkan Leon.


Setelah kepergian Axella, Leon menghubungi seseorang melalui ponselnya.


"Aku sudah memikatnya, dia terjerat, dia percaya sepenuhnya padaku, tunggu kabarku selanjutnya. Kamu bisa datang membawa para pengawal dan membawa Alaris pergi, aku akan tetap di mansion untuk mengambil beberapa dokumen lainnya." Kata Leon.

__ADS_1


bersambung~


__ADS_2