
Harry dan Zoland sampai di pulau itu, tebing yang tinggi dan curam terasa sangat kecil di lihat dari bawah.
Suara gemuruh air pantai dan angin saling berdebur beriringan.
"Tuan, kita tidak bisa menjelahi nya, hutan ini masih liar." Kata Zoland.
"Lalu?"
"Kita harus naik dengan helikopter." Kata Zoland.
"Itu ide yang bagus, tapi apakah helikoptermya sudah siap."
"Saya rasa, sudah selesai." Zoland menghubungi pengawal kastil untuk mengirimlan helikopter pengganti.
Kemudian helikopter tercanggih dengan mesin yang sudah di modifikasi di terbangkan untuk menjemput mereka.
"Apa sudah datang?"
"Ya, itu dia tuan."
Helikopter pun mendarat di atas pasir tidak sampai menyentuh pasir, Leon mengulurkan tali agar Zoland dan Harry naik.
"Butuh tumpangan?" Kata Leon tersenyum.
"Helikopter kalian tidak akan mampu naik ke atas." Kata Leon lagi.
"Kamu datang di waktu yang tepat, aku sedang malas memberantas hutan." Sahut Harry.
Leon tertawa pelan.
"Memang Austin sengaja ingin membuatmu melewati hutan terkutuk itu. Dia pikir kita tidak memiliki helikopter dengan mesin canggih." Leon kemudian menerbangkannya dan mulai baik.
Helikopter sampai di halaman depan kastil dan mendarat dengan sempurna.
"Seperti kastil berhantu, lihat lah awan-awan yang menyelimutinya, apalagi kenapa tidak ada penjagaan di sini." Kata Leon.
Harry tetap diam dan kemudian ia masuk lebih dulu menuju halaman depan kastil.
Tak berapa lama pintu di buka.
Terlihat Austin berdri di atas tangga yang menjulang naik. Tangga itu besar dan mewah.
"Dimana istriku." Kata Harry.
"Kalian tamu di sini, biarkan aku menyuguhi minuman. Perjalanan kalian sangat panjang kan." Kata Austin.
"Berhenti basa-basi!" Kata Harry.
"Masuklah." Ajak Austin.
Harry masuk diikuti Zoland dan Leon.
Sedangkan Austin menuruni tangga dan menuntun jalannya, mereka kini berada di ruangan tengah.
Seorang wanita cantik sedang duduk memandangi patung yang berdiri, itu adalah patung Alaris pemberian dari Harry.
"Istriku..." Panggil Harry.
Alaris sontak melihat pada pria yang bersuara. Melihat Harry jantungnya terasa berdegup dan Alaris sontak berdiri.
'Siapa dia, jantungku berdegup kencanng, dia terlihat begitu familier.'
Alaris mendekat pada Austin dan berdiri di belakang Austin.
"Istriku ini aku... Harry, suamimu." Kata Harry mengulurkan tangannya.
__ADS_1
"Suamiku? Honey, mengapa dia bilang seperti itu?"
Alaris melihat dan menarik kemeja Austin sedikit.
"Honey?" Suara Harry tercekat, hampir tenggelam di tenggorokan.
Zoland dan Leon juga nampak terkejut.
Harry sudah menduga dari awal kedatangannya, bahwa Alaris tidak menunjukkan suatu sikap seperti biasanya, seharusnya ia langsung menghamburkan diri ke dalam pelukannya, atau setidaknya wajahnya terlihat senang ketika ia datang menjemputnya. Namun Alaris tidak begitu.
"Ada apa ini, bisa kamu jelaskan padaku!" Geram Harry dengan tatapan iblis.
"Kita bicara." Kata Austin.
Kemudian Austin memanggil seorang pelayan dengan isyarat tangannya.
"Bawa Nyonya Alaris ke kamarnya." Kata Austin.
Kala itu Harry ingin sekali meremukkan tangan Austin yang dengan berani telah membelai kepala istrinya.
Namun ia harus menahannya demi Alaris, setelah pelayan membawa pergi Alaris, Austin kemudian duduk dengan santai di sofa.
"Alaris hilang ingatan." Kata Austin.
"Apa! Kamu bercanda!" Sentak Harry.
"Sstt!! Kamu mau dia mendengar dan kembali syock?"
Harry menahan amarahnya, Zoland dan Leon saling pandang dengan wajah tegang.
"Kepala nya terbentur sangat keras, namun bayi nya baik-baik saja."
"Aku akan membawanya pulang, dan melakukan pengobatan."
"Silahkan, tapi saat ini Alaris menganggap aku adalah suaminya, dia akan mengalami kemunduran distorsi pada otaknya, apa kamu mau istrimu sekarat lagi." Kata Austin.
"Lalu bagaimana." Tanya Harry.
"Biar tetap begini dulu, sampai Alaris sadar dan mengingatnya sendiri, jika kita memaksanya itu akan berdampak pada kesehatannya dan pada bayinya."
Harry diam, ia merasa tak berguna, ia merasa bahwa dirinya sangat tidak becus, ia tidak tahu harus melakukan apa.
"Tuan harry, seperti nya sementara turuti dulu sampai kesehatan Nyonya Alaris membaik, atau jika itu bisa, kita tempatkan Emily dan Samantha di sini." Kata Zoland.
"Aku juga akan di sini." Kata Harry.
"Tidak boleh." Sahut Austin.
Harry melotot dengan penolakan Austin.
"Ini Kastilku, aku berhak menolak siapa yang harus tinggal di sini, untuk pelayan pribadi Alaris aku mengijinkan tapi untuk kamu Harry, tidak! Aku butuh privacy." Kata Austin tegas.
"Melihat kamu percaya diri seperti itu, apa yang sudah kamu lakukan pada Alaris." Sahut Leon.
"Apa sesuatu yang sedang kamu tunggu selama ini telah terwujud?" Kata Leon lagi.
Wajah Austin merah, ia kembali teringat bagaimana ciuman panas itu terjadi, ciuman dimana saat Austin meminta ijin lebih dulu dan Alaris mengijinkannya.
Harry meradang karena ternyata tebakan Leon tepat sasaran.
Harry menarik kemeja Austin dan memukul wajah Austin beberapa kali.
"BUGH!!!"
"BUGH!!"
__ADS_1
"Brengsek!" Pekik Harry.
"Astaga!" Teriak Alaris tiba-tiba. Alaris turun karena mendengar keributan.
Kemudian Alaris menepis dan mendorong Harry, ia panik dan kemudian menyentuh pipi Austin.
"Apa itu sakit? Pasti sakit." Kata Alaris membelainya.
Harry melihat tangannya sendiri, tangan yang ia gunakan untuk memukul Austin, dan juga tangan yang di kibaskan oleh Alaris.
"Ini menyakitkan istri..." Kata Harry mengiba, matanya mulai berkaca-kaca.
Harry menarik nafasnya panjang dan mengontrol emosinya.
"Ini benar-benar sakit." Kata Harry meremas dadanya.
Sebuah senyuman kecil tersungging di bibir Austin, ketika Alaris melihat Harry putus asa.
"Kamu benar-benar melupakanku?" Tanya Harry.
"Kamu jangan sentuh suamiku lagi, jika kamu memukulnya lagi, aku tidak akan tinggal diam!"
"Kamu bahkan membelanya." Harry tertawa dan menangis secara bersamaan, ia menutupi wajahnya dengan telapak tangannya.
"Baiklah, istri... Kamu menang. Ayo kita pulang." Kata Harry mengajak Zoland dan Leon.
"Tapi Tuan... Kita tidak bisa membiarkan Nyonya di sini dengan binatang itu!" Sergah Zoland.
"Kirim Emily dan Samantha kemari, dan juga ini yang terbaik untuk kesehatan Alaris dan bayi yang ada di dalam perutnya."
"Aku akan memasang beberapa alat sadap dan kamera, ketika mengantar pelayan pribadi istrimu." Bisik Leon
"Jangan sampai istriku mengetahuinya, dan setelah kita tiba di kastil panggil Arthur untuk datang."
Kemudian 3 pria itu kembali menaiki helikopter dan pergi meninggalkan kastil.
Sedangkan Alaris merawat luka lebam Austin di wajahnya, ia mengompresnya dengan air dingin.
"Kenapa dia memukulmu, apa kamu berbuat salah padanya?"
Austin tersenyum kecut.
"Tidak hanya berbuat salah, tapi... Aku mengambil sesuatu yang berharga darinya."
"Apa itu berlian atau semacamnya?"
"Lebih dari itu, lebih berharga dari berlian dan jauh lebih mulia dari apapun." Kata Austin.
Alaris menarik tangannya yang sedang mengompres Austin, membuat pria itu terhenyak.
"Kembalikan padanya, aku tidak mau kamu berurusan dengannya. Sepertinya dia adalah pria yang kejam."
"Bukan hanya kejam mungkin suatu hari aku akan mati di tangannya."
Tanpa aba-aba Alaris mencium bibir Austin.
"Jangan katakan itu lagi, aku sangat marah jika kamu mengatakan sesuatu tentang kematian." Kata Alaris kesal.
Austin tersenyum kecil dan malu, wajahnya merona merah dan matanya melotot.
"Ini ke empat kalinya kita berciuman."
"Lalu kenapa?"
"Aku bisa mati, jika kecanduan, dan pasti akan bahaya jika aku tidak bisa menahan diri." Kata Austin.
__ADS_1
bersambung~