
Alaris tidak bisa berbuat apapun kecuali memikirkan 1 hal.
''Hanya Harry yang bisa membantu.'
Saat Alaris sibuk dengan pikirannya dan terus berjalan, sedangkan Brida tetap menemaninya di belakang dengan prihatin, baru saja Alaris meredam kekecewaan dan getir nya sikap William ia berpapasan dengan Axella.
"Nyonya, apa anda baru saja dari ruangan tuan William." Tanya Axella dengan tersenyum.
'Apa dia sedang menghina dengan senyumannya itu.'
Alaris hanya diam dan tidak berniat menanggapi, ia memilih melanjutkan langkahnya dan melewati Axella.
"Sejak awal aku selalu ingin memiliki hubungan yang baik dengan mu! Jadi, bukan salah ku jika William kasar denganmu." Kata Axella berteriak.
"Lancang!" Kata Brida menghalangi Axella yang hendak mendekat.
Alaris kemudian berbalik dan menatap tajam pada Axella.
"Aku tidak pernah berniat memiliki hubungan baik dengan wanita yang sudah merebut apa yang telah menjadi milikku." Alaris menatap tajam mata Axella.
Axella menggigit bibirnya yang bergetar, ia menahan tangis.
'Apa dia menangis? Ya, tentu saja dia menangis, dan William akan datang menolongnya.'
"A... Aku akan menjadi Nyonya di sini, kamu tidak seharusnya bersikap kurang ajar padaku." Axella menatap Brida dengan seberkas ketakutan.
"Selingkuhan hanya tetap selingkuhan. Jika nantinya kamu akan menjadi Nyonya di sini, semua orang tetap melihatmu sebagai selingkuhan yang mengandung di luar pernikahan. Mereka semua tetap akan memandangmu sebagai wanita perusak rumah tangga." Kata Alaris dingin.
'Bukan salahku, aku sedang tidak ingin berkompromi, tapi kamu terus saja mengangguku.'
Mendengar itu, Axella pun menangis.
Tak berapa lama William menyusul dimana suara perdebatan itu, dan menyadari sesuatu telah terjadi, membuat Axella sesenggukan.
"Apa yang terjadi?" Tanya William meraih kedua bahu Axella dan memeluknya.
__ADS_1
'Dan drama pun akan berlanjut. Aku akan menjadi seorang wanita yang jahat di mata William, menyakiti seorang wanita lemah yang sedang hamil.'
"Saya... Saya hanya ingin menyapa Nyonya Alaris dan mengobrol, tapi sepertinya Nyonya Alaris tidak berkenan, dia mengatakan bahwa aku akan tetap menjadi selingkuhan." Axella menghapus air mata yang membanjir dengan kedua punggung tangannya.
"Nyonya Alaris tidak mau menjadi saudara ku, bahkan hanya untuk berteman dia tidak mau." Tambah Axella.
"Kamu bisa memiliki saudara ketika William membawa perempuannya lagi ke sini untuk menjadi selingkuhannya, kamu bisa berteman dengan para selingkuhan William yang akan dia bawa lagi ke sini."
William tertegun dan tak percaya Alaris mengatakan itu pada Axella yang jelas-jelas sudah sangat lemah. Mata nya membulat.
"Apa... Apa kamu akan membawa perempuan lagi setelah aku." Tanya Axella pada William dengan mata yang berarir.
Sebelum William menjawab Alaris sudah menjawabnya.
"Tentu saja, dia akan membawanya dan kalian bisa berteman atau menjadi saudara, kalian satu kumpulan." Kata Alaris tajam.
"Alaris!" Teriak William.
Axella melepaskan dirinya dari pelukan William dan melarikan diri, pergi menuju mansion selatan dengan derai air mata.
"Kamu memandangku seperti itu? Berarti kamu tidak tahu apapun tengtang aku. Lagi pula, aku mengatakan yang sebenarnya kan. Daripada dia berusaha untuk bersikap ramah padaku, lebih baik dia lakukan untuk selingkuhanmu yang akan datang, mereka pasti akan cocok satu sama lain." Alaris berkata dengan wajah dingin dan datar.
"Secara tidak langsung, apakah kamu merasa lebih terhormat? lebih bermartabat, lebih pintar? Lebih memiliki etika dan etiket, atau kamu merasa paling suci! Axella tidak pernah berbuat jahat padamu, harus kah kamu selalu memperlakukannya dengan sinis."
"Tidak pernah berbuat jahat? Aku menolongnya dan dia merebut sesuatu yang sudah menjadi milikku? Apa aitu bukan kejahatan? Lalu bagaimana aku harus bersikap pada orang seperti itu? Apa seperti maumu? Menjaganya melindunginya? Bagaimana jika kamu saja yang menjaga suami-suamiku kelak William?"
"Kamu memang patung tak bernyawa! Tidak memiliki hati sedikitpun! Axella tidak merebut apapun, kamu lah yang tidak bisa menjaga dan menyenangkan suamimu."
"Lalu untuk perusahaanku? Bagaimana bisa kamu ingin memberikan itu padanya, kalian bahkan tidak memiliki hak apapun! Dan berapa kali aku harus mengatakannya, bahwa aku tidak ingin terlibat dengan mu dan selingkuhanmu? Jika Axella meninggalkanku sendirian dan tidak selalu mengikutiku, dia tidak akan melihat sikapku yang sinis. Aku sudah katakan bahwa jangan mendekatiku, dan jangan membuatnya berlarian di mansion utara, para pelayan akan kesusahan mengepel dan membersihkan, aku tidak suka kotor, apalagi sesuatu yang sudah berulang kali di gunakan oleh para pria, dia wanita yang berbeda denganku, aku mengatakannya karena kamu sepertinya tidak paham dengan maksudku, dia wanita kotor."
"Aku tidak menyangka kamu adalah biang gosip! Sejak kecil kamu di penuhi kebahagiaan, bergelimang harta kekayaan dan semua yang indah untukmu, kamu tumbuh besar dengan baik, tapi kamu kejam kepada wanita yang miskin dan menderita sejak hidupnya."
"Tau apa kamu tentang masa lalu ku, apalagi masa kecil ku William! Kamu tidak tahu apa-apa!" Alaris mengigit bibirnya, mengepalkan tangannya.
"Kamu bahkan tidak peduli itu."
__ADS_1
"Terserah apa katamu, apa kamu tidak kasihan padanya?" William masih belum puas.
"Aku pernah kasihan padanya dan aku menyesalinya." Kata Alaris.
"Kamu.... Kamu juga manusia Alaris tidak kah memiliki belas kasihan yang tulus."
"Percuma bicara padamu, semua ini tidak berguna. Dia mengambil keputusan yang salah, dia tahu keputusannya salah tapi tetap ia ambil, aku menyelamatkannya dan dia menghancurkan hidupku."
Alaris pergi meninggalkan William yang tertegun dengan setiap jawaban Alaris yang tak berperikemanusiaan, itu lah menurutnya. William pun juga pergi ke mansion selatan untuk menemui Axella.
Alaris berjalan dengan cepat dan pikirannya malang melintang, kemudian ia berhenti sejenak di koridor.
'Saat itu banyak orang merasa iri dengan pernikahanku, mereka mengatakan kami adalah pasangan yang cocok, mereka selalu memuji jika William adalah pria tampan yang baik, dan aku adalah wanita cantik yang akan memberikan banyak anak dan kebahagiaan untuk William.'
'Tapi sekarang William tidak pernah percaya kata-kata ku, bahkan jika aku tidak pernah menyentuh Axella, apapun yang terjadi pada wanita itu, William akan tetap menuduhku.'
"Nyonya Alaris..." Sapa Brida.
Panggilan Brida membuat Alaris kembali sadar.
"Siapkan beberapa dokumen untuk melawan William, aku harus mendapatkan kembali apa yang sudah ku rintis selama ini, dan panggil semua pelayan kepercayaan kita panggil mereka yang ada di pihak kita untuk mengepak semua barang-barang milikku, jangan sampai sehelai benang pun tertinggal di sini, aku tidak akan bisa tenang jika suatu saat nanti Axella menggunakan kamarku dan segala barang-barangku."
"Dimengerti nyonya."
Alaris melanjutkan langkahnya, ia berjalan menaiki tangga marmer yang lebar, tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana perasaan dan hatinya, semua mengira ia baik-baik saja dan tidak pernah terpengaruh namun semua yang mereka tahu hanyalah sekedar apa yang terlihat dari tampilan luar Alaris.
'Saat ini yang harus ku pikirkan adalah bagaimana melindungi diriku di masa nanti, William adalah pria yang keras dalam dunia bisnis, dia kejam dan tidak berperasaan jika itu menyangkut perusahaan. Pasti dia tidak akan melepaskan begitu saja Aldawn, apa yang sudah lama ia incar.'
Alaris menyisir dokumen-dokumen yang ada di dalam kamarnya, ia memeriksa satu persatu berusaha seteliti mungkin agar tidak ada yang tertinggal.
'Aku harus memeriksa semua dokumen dan membawanya bersama ku, aku tidak mau jika Axella nantinya memakai kamarku dan menemukan semua rahasia perusahaan, meski dia terlihat tidak tahu apapun tentang masalah perusahaan namun dia tidak akan diam saja saat melihat beberapa barang yang terlihat penting.'
Meski ia sibuk dengan pikirannya yang malang melintang, wajahnya masih menunjukkan ketenangan dan tentu saja masih seperti biasa, wajah dinginnya lebih dominan.
bersambung~
__ADS_1