Pernikahan CRAZY RICH

Pernikahan CRAZY RICH
PERTEMUAN EUGENE DENGAN ZANNA


__ADS_3

Seorang gadis kecil dengan pakaian agak lusuh dan rambut hitam yang panjang tergerai tertutup mantel dan tudung, ia turun dari bis kota yang mengangantarkannya dari desa terpencil dan terpelosok.


Gadis itu membawa rantang yang bertingkat dan berlari sembari membenarkan tudung mantelnya yang kumuh.


Dengan tergesa-gesa ia menyeberangi jalanan yang padat memakai sendalnya yang begitu tipis, itu sama sekali tidak membuatnya terhindar dari panas dan teriknya aspal yang membakar telapak kakinya.


Ketika gadis itu dengan tergesa-gesa mengejar lampu tanda menyeberang dan kehilangan waktu, semua mobil mulai ribut membunyikan klakson.


Gadis itu terjerembab jatuh hingga tersungkur, rantangnya pun terpental jauh dan semua nasi serta lauk pauknya berhamburan di jalanan.


"Astaga anak kumuh siapa itu mengotori jalanan!" Teriak pada pejalan kaki yang sudah melewatinya.


"Astaga lihatlah pengemis itu, menjijikkan sekali!" Kata seseorang lainnya lagi, tanpa sedikitpun memiliki empati atau belas kasihan.


Chia yang berada di dalam mobil nya bersama kakak-kakaknya pun harus terhenti dengan jalanan yang terhalang oleh gadis itu.


Chia mendecakkan lidahnya, dan menyedekapkan tangan.


"Ck!"


Tanpa di sadari oleh Chia dan Elouan, Eugene pun sudah berada di luar dan mendatangi gadis kumuh itu.


"Sejak kapan kakak disana?" Tanya Chia.


"Entah, mati kita lihat pertunjukan apa yang akan terjadi." Kata Elouan.


"Sayang, tidak ada pop corn " Kata Chia manyun.


"Cepat bangun, lihat lah semua mobil menjadi macet hingga mengular ke belakang." Kata Eugene dengan suara nya yang khas.


Gadis kumuh itu melihat ke atas, mungkin umurnya setara dengannya, tidak dia mungkin lebih muda sedikit, bisa jadi itu adalah 1 tahun di bawahnya atau hanya berbeda beberapa bulan dengannya, tapi pembawaan anak lelaki itu begitu tenang, kalem, tapi juga dingin, dia seperti orang dewasa yang terjebak dalam tubuh anak kecil, bahkan suara anak kecil nya yang khas pun terdengar berwibawa.


Kemudian gadis kecil kumuh itu mulai membersihkan nasi yang berceceran di atas jalanan dengan tangannya.


Semua orang yang memiliki waktu senggang pun meringis mengejek karena jijik.


"Petugas kebersihan jalan akan tiba membawa truk pembersih tidak perlu di bersihkan." Kata Eugene.


"Tapi... Makanan ini harus ku antarkan pada ibuku."


"Merepotkan sekali." Kata Eugene dan mengeluarkan beberapa lembar uang.


"Beli apapun dengan ini." Kata Eugene mengulurkannya di depan wajah gadis kecil itu.


"Aku bukan pengemis!" Bentak gadis itu dan menepis uang yang ada di tangan Eugene, membuat uang-uang itu berhamburan di jalanan.


"Sial!" Kata Chia yang geram melihat adegan itu.


Kemudian Chia hendak turun tapi di cegah oleh Elouan.


"Kakak!" Kata Chia kesal.

__ADS_1


"Aku penasaran apa yang akan Eugene lakukan." Kata Elouan tersenyum.


Senyuman yang aneh bagi Chia, senyuman itu bukan sekedar senyuman biasa.


"Kamu menuruni siapa, senyuman mu yang lebar itu mengerikan seperti iblis." Kata Chia.


"Aku tersenyum ramah padamu." Kata Elouan melemparkan senyuman lagi kali ini lebih lebar.


"Itu bukan senyuman ramah tapi ancaman, lagi pula jangan tersenyum padaku jika kamu tidak tulus ingin tersenyum dasar idiot!" Kata Chia mengomel.


"Kamu berani mengatakan kakakmu idiot?" Elouan mencubit dan menggelitik Chia.


"Aaa!!! Sudah... Sudah cukup! Lihat itu!" Pekik Chia.


Elouan dan Chia melihat Eugene menarik tudung mantel kumuh gadis cilik itu.


Gadis cilik kumuh yang masih duduk di aspal jalan pun sedikit terangkat ke atas.


"Ka.. Kamu.. Hanya anak kecil, bagaimana kamu... Bisa sekuat ini." Wajah gadis itu pucat pasi.


"Kamu mau ambil atau tidak uang itu terserah, yang jelas jangan halangi mobil kami." Kata Eugene dengan tatapan dingin dan tanpa ekspresi.


Kemudian Eugene melepaskan tudung mantel kumuh yang ia cengkram dan membuat Gadis kecil itu terduduk lesu di tengah zebra cross.


Eugene berjalan menuju mobilnya, sang sopir kemudian membuka pintu mobil untuk Eugene dan masuk.


Mobil melaju memutar sedikit melewati gadis kecil yang masih duduk lesu di atas zebra cross jalan aspal.


Sedangkan Chia dan Elouan hanya saling pandang.


"Ternyata tetap dingin dan tak berperasaan." Sambung Elouan.


Eugene hanya diam dan masih menatap ke depan, ia mendengarnya namun tidak berniat beradu argumen dengan adik-adiknya.


******


Gadis kecil kumuh itu akhirnya sampai di sebuah rumah yang memiliki pagar berduri melingkar dan di jaga oleh beberapa polisi yang bertugas secara bergantian.


"Aku membawa makanan untuk ibuku." Kata Gadis kecil itu.


"Masuklah." Sang penjaga kemudian membuka gerbang kecil itu dan membiarkan gadis kecil kumuh itu masuk.


"Akhirnya aku membeli makanan dengan uang anak laki-laki sombong itu, tenang saja aku akan mengganti uang yang sudah ku pakai!" Geram gadis kecil itu.


"Ibu..." Gadis kecil itu masuk ke dalam rumah yang terawat namun kecil.


"Zanna..." Panggil seorang wanita yang memiliki rambut panjang bergelombang.


Tubuh wanita itu terlihat sangat lemah dan tidak segar.


"Uhuk... Uhuk..."

__ADS_1


"Ibu makanan ini masih hangat ayo makan." Kata Zanna.


Wanita yang sudah terkurung selama kurang lebih 10 tahun itu memandangi anaknya, stocking hitam yang kumal itu sobek di bagian lutut dan memiliki luka serta darah yang berwarna merah segar.


"Zanna, kamu jatuh?"


"Ah... Tadi kesandung ibu, hanya luka sedikit." Kata Zanna tersenyum.


Dia adalah Axella, wanita yang di penjara di dalam rumah, di pisahlan dengan anak nya yang tidak benar-benar berarti baginya dulu.


Hanya karena William, dan hanya karena ia ingin tetap tinggal di mansion dengan segala kemewahan dan tak mau pergi dari mansion yang besar dengan semua kekayaan Axella tetap mengandung dan hanya itulah alasannya mempertahankan anaknya.


"Ibu... makanlah." Kata Zanna.


Melihat ibunya melamun Zanna kemudian membuka makanan yang ia beli di sebuah rumah makan pinggir jalan.


Axella mengangguk pelan.


"Bagaimana kabar ayahmu?" Tanya Axella.


Yang di maksud ayah bagi Zanna adalah Jason, dan Axella serta Jason sepakat untuk merahasiakan siapa sebenarnya ayah kandungnya, karena ayah kandungnya pernah ingin melenyapkannya.


"Ayah masih bekerja keras di ladang, setiap hari banyak wanita muda yang menggodanya, cepatlah keluar dari sini ibu, agar ayah tidak lagi di ganggu oleh para wanita-wanita itu." Celoteh Zanna dengan polos.


"Itu karena ayahmu baik." Kata Axella.


"Ayah juga tampan, dia sangat kuat." Kata Zanna.


"Kamu menyayanginya?"


"Iya aku menyayangi ayah dan menyayangi ibu juga." Zanna tersenyum lebar.


"Zanna..."


"Ya ibu..."


"Kamu tidak ingin sekolah?" Tanya Axella.


Senyuman Zanna memudar.


Axella menunggu jawaban sang anak dengan penasaran.


"Aku ingin ibu, tapi sekolah tidak semudah itu juga, aku harus membaur dengan mereka yang memiliki kehidupan normal, sedangkan aku, apakah aku memiliki kehidupan normal? Ku rasa tidak." Kata Zanna.


"Maafkan ibu Zanna..." Axella berhenti makan dan murung.


"Aaah... Ibu... Jangan bersedih, Aku baik-baik saja, lagi pula jika aku sekolah aku tidak bisa mengantar makanan ini ke sini."


"Tapi, aku selalu khawatir ketika kamu harus bolak balik menempuh perjalanan yang sangat jauh untuk ke sini." Kata Axella.


"Tidak apa-apa ibu, aku tinggal naik bis, menyeberang dan berjalan sedikit lalu sampai di sini." Kata Zanna.

__ADS_1


Axella tersenyum dengan wajah sedih, melihat kegigihan Zanna. Meski dia adalah putrinya, tapi sifatnya sangat jauh berbeda dengan Axella.


bersambung~


__ADS_2