Pernikahan CRAZY RICH

Pernikahan CRAZY RICH
AXELLA MEMBUAT ULAH DI MANSION


__ADS_3

Alaris terkejut dengan cepat ia berdiri menjaga jarak, bukan karena takut, tapi itu adalah reflek alamiah ketika melihat seorang wanita yang sekarang ada di tengah-tengah hubungan antara dia dan William. Wanita yang membuat menara pernikahannya goyah.


Apalagi ini pertemuannya lagi dengan Axella yang sudah sangat lama setelah ia menolong wanita itu dan menyelamatkannya bahkan Alaris menghancurkan perusahaan milik Reed.


Begitu juga Emily yang sifat dan sikapnya masih meletup-letup seperti anak remaja pada umumnya.


Kamu!!! Beraninya kamu ada di sini!!!" Teriak Emily.


"Lily..." Alaris mengingatkan agar Emily tidak berteriak dan bertindak kasar.


"Maafkan saya nyonya." Emily memasang wajah menyesal.


"Apa anda sedang tersesat?" Tanya Samantha.


"A.. Aku melihat bunga yang bagus, jadi ingin memetiknya. Ahh itu bunganya..." Kata Axella.


Sontak Axella merebut bunga yang sedang Alaris bawa, membuat semua orang melotot, begitupun Alaris membuatnya terkejut dengan keberanian Axella.


"Benar-benar tidak memiliki sopan santun!" Bentak Emily.


"Sa... Saya Axella, kekasih tuan William, dan saya selalu ingin melihat taman ini, karena taman yang di sini jauh lebih indah dan lebih besar dari taman yang selalu saya kunjungi." Kata Axella tersenyum lebar.


Semua orang diam, memiliki pikiran yang sama, kenapa Axella memperkenalkan dirinya pada orang yang telah menyelamatkannya.


"Kenapa kamu memperkenalkan dirimu. Apa kamu sedang berpura-pura atau kamu sedang menghina kami?" Kata Brida.


Axella menyipitkan alisnya, ekspresinya polos dan seolah menggambarkan tatapan yang tak mengerti.


"Bukankah orang yang baru saja bertemu seharus nya saling memperkenalkan diri?" Jawab Axella.


"Apa!! Baru bertemu? Kamu gila ya dasar wanita ini!" Emily semakin panas dan emosi.


"Emily, jaga sikapmu, ada banyak pelayan dan pekerja taman yang melihat kita." Kata Alaris.


Alaris melihat para pekerja yang membangun taman saling melirik dan penasaran ada kegaduhan apa, bahkan Leon pun ikut memandangi mereka dari kejauhan.


Samantha kemudian menarik nafas dalam-dalam mencoba menahan marah.


"Oh anda Axella, saya ingat itu anda adalah kekasih tersembunyi dari Tuan William. Tapi, bukankah anda seharusnya tahu, jika anda di larang ke sini, anda di larang menginjakkan kaki di mansion bagian utara dan segala yang ada di wilayah utara, anda sudah memiliki semua yang ada di mansion selatan, apa yang ada di sana itulah yang anda dapatkan kenapa masih menginginkan milik orang lain." Sambung Samantha dingin.


"Saya... Saya mungkin... Lupa." Jawab Axella menunduk sedih dan menyesal.


Saat itu Axella masih berdiri di dekat bunga-bunga yang indah milik Alaris, dengan masih memegangi bunga yang ia rebut dari tangan Alaris.


Alaris menekan pelipisnya, dan hendak pergi.


"Tunggu dulu." Axella dengan cepat menggapai tangan Alaris, menggenggamnya dengan kedua tangannya, dengan mata bersinar dan penuh harap.


Dengan cepat Alaris reflek menarik tangannya, ia tidak sengaja menepis nya dengan kasar, membuat Axella terkejut dan memasang mimik wajah takut serta hendak menangis.

__ADS_1


"Sa... Saya hanya ingin berteman. Saya kesepian dan tidak memiliki teman bicara di tempat saya."


"Bukankah ada para pelayan, ajaklah mereka bicara." Kata Alaris.


"Saya ingin berbicara dengan anda... Wajah anda cantik dan sangat bersinar, seperti saya. Mungkin kah kita bisa menjadi saudara kakak beradik?"


Para pelayan pribadi Alaris terpaku hampir saja mereka meloncat dari tempat nya dan menjambak wanita yang berdiri di hadapan Alaris itu.


Mereka juga ingin sekali menampar dengan tangan yang kuat karena amarah mereka siap meletup, itu terlihat dari wajah para pelayan pribadi Alaris yang sudah memerah.


Apalagi Emily yang sudah berkacak pinggang tidak sabar sembari menarik nafas dalam-dalam berulang kali, mengipas-ngipasi wajahnya dengan tangannya, membuat dada dan perutnya naik turun dengan mulut mengerat.


"Apa saya bilang, dia bodoh! Apa kamu pura-pura hilang ingatan! Kamu tidak mengenali siapa Nyonya Alaris!" Teriak Emily.


Axella menatap sedih dan menggeleng pelan.


Emily kemudian reflek mendorong Axella karena sangat emosi.


"Aaakk...!! Sakit, kenapa anda mendorong saya, anda menyakiti saya." Teriak Axella.


"Itu balasan yang tidak seberapa untuk wanita bodoh seperti mu!" Teriak Emily.


"Siapa yang kamu bilang bodoh itu." Suara rendah yang mengerikan tiba-tiba menimbrung dari belakang.


Tubuh Emily jelas meremang, ia tidak berani melihat suara siapa yang ada di belakangnya. Namun dengan cepat berbalik dan menunduk hingga membungkukkan tubuh dan punggungnya.


"Ma.. Maafkan saya tuan." Kata Emily menyesal dan ketakutan, Emily menunduk dan tidak berani mengangkat kepala.


"Aku bertanya siapa wanita yang kamu sebut bodoh." Tanya William lagi.


Tanpa melihat Alaris, William berjalan melewatinya, pria itu kemudian mengangkat tubuh Axella dengan pelan agar berdiri dan membersihkan daun-daun kering yang ada di pakaian Axella.


"Aku akan menghukum siapapun yang berkata kasar dan menghina orang lain, seharusnya kamu di didik lebih keras oleh majikanmu, bukankah pelayan pribadi adalah wajah sang majikan?" Kata William menyindir dan melirik pada Alaris.


Saat itu Alaris paham dari kalimat William, namun William telah salah paham, ia pikir Emily berbicara seperti itu karena mengikuti cara bicara majikannya yang tak lain adalah Alaris.


"Pelayan pribadi adalah wajah dari majikan, aku atau kamu yang menghukumnya." Kalimat William kali ini lebih tegas pada Alaris.


"Aku sudah katakan tidak boleh ada orang asing yang menginjak bagian wilayah ku, kenapa kekasihmu masih berkeliaran di sini." Kata Alaris.


"Lalu bagaimana tentang kamu yang juga memasukkan para pria asing ke mansion?" William menunjuk para pekerja pria yang sedang menyelesaikan taman.


"Mereka pekerja dan hanya melakukan pekerjaannya, mereka mencari uang."


"Ya, tanpa persetujuanku." Sanggah William.


"Kamu telah memberikanku kewenangan penuh. Kamu lupa?" Balas Alaris.


William kemudian kesal karena kalah berdebat.

__ADS_1


"Bukankah seharusnya kamu memberitahunya, siapa aku dan statusku di mansion ini. Tidak adil jika hanya pelayan pribadiku saja yang di hukum, mereka sama halnya dengan kekasihmu yang tidak tahu apapun. Emily mungkin tidak tahu siapa wanita ini. Apa kamu juga akan menghukum wanita ini karena ketidaktahuannya terhadapku. Itu akan adil, lagi pula dia juga melanggar aturan dengan datang ke mansion utara." Kata Alaris membalas.


William mengernyitkan dahi, dan bertambah kesal karena kembali kalah berdebat dengan Alaris.


"Jika kamu diam, masalah ini selesai sampai di sini." Kata Alaris


Axella memandang pada William yang penuh harap. Seolah meminta perlindungan lebih.


"Tanyakan pada kekasihmu William, apakah dia benar-benar tidak mengenalku." Kata Alaris lagi.


"Lily, kita kembali ke dalam, ada banyak bunga yang harus kita rangkai." Sambung Alaris pergi diikuti para pelayan dan sekretarisnya.


Sedangkan William memeluk Axella yang masih ketakutan.


"Nyonya!" Teriak Axella.


Kemudian Alaris berhenti namun belum berbalik badan.


"Tentu saja saya mengenal anda, dan semua orang juga mengenal anda, anda adalah pemilik Perusahaan berlian, wajah anda selalu tampil di tv, bukan saya saja yang mengenal anda tapi seluruh dunia pasti mengenal anda, tapi saya tidak pernah mengenal anda secara pribadi, ini adalah pertama kali saya bertemu anda, maafkan saya yang sudah lancang, lain kali saya akan berhati-hati." Kata Axella dengan gugup namun juga lantang.


Emily, Samantha dan juga Brida menganga mendengar kalimat Axella.


"Tidak akan ada lain kali, cukup sekali kita bertemu, dan aku tidak ingin bertemu lagi denganmu. Jangan pernah muncul lagi di hadapanku." Kata Alaris masih memunggungi Axella dan William.


"Alaris! Kamu memang berhati dingin dan kejam, kalimatmu sangat tidak sopan pada Axella yang masih lugu dan belum mengerti apapun!" Kata William.


"Ya, aku yakin dia sangat polos." Kata Alaris.


Kemudian Alaris pergi bersama para pelayan pribadi dan sekretarisnya yang menahan kedongkolan mereka.


"Apa kamu baik-baik saja?"


"Ya... Tapi dia sangat menakutkan, mata nya begitu dingin dan..."


"Axella, aku sudah katakan padamu, ada daerah yang tidak boleh kamu lalui, apalagi di mansion bagian utara."


"Tapi kenapa, saya adalah kekasih anda..." Axella semakin menangis.


"Nanti akan ku beritahu kenapa, tapi kamu harus janji untuk patuh."


"Bukankah saya juga nyonya di sini." Axella cemberut dan sedih.


"Bagaimana jika aku buatkan susu cokelat untukmu, apa kamu mau?"


"Yang manis." Rajuk Axella.


"Sangat manis seperti kamu..." William mencubit pipi Axella.


Ketika mereka berada di jalan setapak yang berbelok, Alaris sedikit melirik dengan ekor matanya pada William dan Axella, mereka terlihat sangat mesra. William juga selalu tertawa dan menggoda Axella.

__ADS_1


bersambung~


__ADS_2