
Alaris terbangun, itu sudah pukul 3 sore dan suaminya masih berada di sampingnya dengan menyangga kepalanya menggunakan satu tangan.
Wajah tampan itu tersenyum puas.
"Kelinci kecil yang licik, aku tahu kamu juga menginginkannya." Kata Harry dengan suara rendah.
Alaris menarik selimut hingga batas dadanya.
Harry kemudian menggigiti kecil bahu Alaris, dan mereka saling tertawa.
"Aku belum mandi. Badanku lengket." Kata Alaris.
"Seperti biasa aku yang akan memandikanmu."
Harry turun dari ranjang, pria itu masih dalam keadaan telanjangg, Alaris melihat betapa kokohnya punggung atas dan pinggang Harry.
'Pahatan maha sempurna, seperti peri.' Batin Alaris.
"Sayang, kamu terus menatapku, aku mengerti kamu tidak dapat melepaskan pandanganmu padaku, tapi memandangiku seperti itu dapat ku simpulkan jika kamu menggodaku lagi."
Harry masih membelakangi Alaris ia mengambil piyama dan memakainya lalu menyimpul talinya di pinggangnya yang besar.
Alaris berdehem, karena malu.
"Wajahku tidak akan habis, dia adalah milikmu dan kamu boleh melihatnya sepuasmu." Bisik Harry dan kemudian mengangkat tubuh Alaris ke dalam gendongannya.
"Astaga..." Pekik Alaris yang sontak mengalungkan kedua tangannya di leher besar Harry.
Pria itu berjalan menuju kamar mandi dan menaruh Alaris di bathup, kemudian mengambil sabun dan shampoo kesukaan istrinya.
Harry melihat bunga mawar di diatas meja marmer dan menaburkan mawar itu di atas tubuh Alaris.
Kemudian Harry melepaskan piyaman dan seketika teronggrok di atas lantai marmer.
Harry masuk perlahan dengan kakinya yang kuat dan penuh otot, memeluk Alaris dari belakang.
Dengan pelan Harry memandikan Alaris dan menyabun punggung istrinya.
Suasana itu tenang, namun juga berdesir di jantung Alaris, ini bukan hal pertama baginya suaminya memandikannya, tapi mengapa ia masih saja gugup dengan perlakuan Harry.
"Sayang... Bagaimana jika kita mencobanya di sini, waktu itu saat di apartmen emperor kita gagal melakukannya." Bisik Harry di telinga Alaris.
Seketika Alaris membulatkan mata, dan merasakan sesuatu sudah bergerak liar di bawah sana.
"Harry... Tanganmu." Kata Alaris mengigit bibir bawahnya.
"Kamu tidak penasaran bagaimana rasanya?" Tanya Harry.
Alaris diam saja, namun tubuhnya tidak dapat berbohong, ia menyadarkan punggungnya di dada Harry, dan mendongak menggigit bibirnya, ia menaruh kepalanya di tubuh bidang suaminya.
Tangan Harry aktif membelai kesana dan kemari, lenguhan nafas Alaris semakin memburu dengan permainan jari Harry.
Kedua tangan kekar itu berada di area paling sensitif milik Alaris, satu nya berada di dada Alaris dan satunya berada di selangkangann milik Alaris lalu masuk di bagian yang paling sensitif.
"Berhenti...." Kata Alaris.
"Harry, ada panggilan masuk, lihat monitor suaranya." Kata Alaris dengan sedikit terbata.
Harry melihat monitor suara di kamar mandi menyala, ia turun dari bathup dan menekan tombolnya.
Monitor itu terpasang di mana saja ketika bawahan Harry tidak dapat menjangkau ruangan, ketika hal darurat terjadi, para bawahan akan menghubungi Harry dari sana.
__ADS_1
"Tuan Maaf menganggu, tapi... Guillermo datang." Kata Zoland.
Harry melihat Alaris yang masih menunggunya.
"Suruh menunggu, aku sedang memandikan istriku." Kata Harry.
Alaris menutup mulutnya, wajahnya merah merona seperti tomat yang matang.
Kemudian Harry mematikan tombolnya.
"Kenapa kamu memberikan alasan itu."
"Lalu alasan apa lagi istriku, aku memang sedang memandikanmu." Kata Harry tersenyum.
"Ayo selesaikan mandimu." Kata Harry.
"Kamu bisa menemuinya, dan tinggalkan aku, biarkan aku mengurus mandiku sendiri."
"Kamu jauh lebih penting."
Harry masuk lagi ke dalam bathup dan memandikan Alaris lagi.
"Tapi untuk apa presiden Negara Slyvedonia menemui mu Harry?"
Harry berhenti menyabun.
"Sayang, kamu tidak perlu memikirkan hal itu, cukup pikirkan aku, dan bagaimana ini akan berlanjut?"
Alaris menaikkan alisnya.
"Tidak... Tidak... Harry!"
Kemudian Alaris duduk di atas paha Harry, dan itu membuat Harry semakin memanas.
"Presiden sedang menunggumu sudah cukup bermain-main."
"Tidak sebelum aku mendapatkanmu lagi." Kata Harry mengecup dada Alaris.
"Ayo Istriku, kamu yang akan memimpin." Harry tersenyum nakal.
Alaris tersenyum.
"Sudah cukup, aku sudah selesai mandi." Kata Alaris turun dari bathup.
Harry mendengus kecewa dan cemberut, Alaris melihat wajah sedih Harry, dan itu sangat menggemaskan, sangat menyenangkan selalu menggoda Harry, ekspresinya sangat lucu seperti anak kecil.
Harry juga turun dari bathup dan memeluk Alaris dari belakang.
"Aku akan membuat Zoland bekerja lembur dan memberikannya hukuman untuk bekerja lebih dari 24jam!" Kata Harry dendam.
"Baiklah aku akan melepaskanmu kali ini." Kata Harry mengecup tengkuk istrinya dengan sedikit lama.
"Kenapa kamu memberinya hukuman sekejam itu, dia juga butuh waktu untuk kepentingan pribadinya." Kata Alaris menepuk-nepuk wajahnya pelan setelah memakai pelembab di wajahnya.
Alaris memandangi tubuhnya dan tubuh Harry yang sama-sama telanjanng di depan cermin. Tubuh Harry yang jauh lebih tinggi darinya, tanpa sehelai benang menutupinya, Alaris kembali teringat saat pertama kali mereka bertemu. Bagaimana pertemuan pertemannya yang sangat berkesan. Harry berlutut di depannya.
Harry masih menggelayut manja di bahu istrinya, lalu tangan kekarnya membelai perut Alaris.
"Aku akan menjadi ayah yang baik." Kata Harry.
Alaris tersenyum dan mengambil mantel.
__ADS_1
"Aku percaya kamu akan menjadi ayah dan suami yang baik." Kata Alaris memakaikan mantel pada Harry dan berjinjit mencium bibir Harry.
Kemudian ia mengambil mantel dan ia pakai sendiri untuk dirinya, kemudian Harry membantu menyimpul talinya.
"Pergilah, tidak baik membuat seorang presiden menunggu."
"Aa... Karena pesona istriku, aku hampir melupakannya." Kata Harry.
Alaris menggeleng kan kepalanya.
Harry keluar dengan masih memakai mantel handuk, ia menemui Presiden Guillermo yang sudah menunggu lama.
"Kamu bisa sampai di sini, sepertinya kaki mu sudah berfungsi normal." Kata Harry duduk dengan ketus dan sinis.
Kaki Guillermo yang di tembak oleh Harry sidah semakin sembuh.
"Beri tahu keinginanmu, dan bebaskan putriku."
"Aku tidak memiliki keinginan, semua bisa kudapatkan sendiri." Kata Harry.
"Lalu kenapa kamu terus saja mengurungnya!" Teriak Guillermo.
"Bukan aku, tapi itu adalah Zoland. Dia yang mengurung putrimu." Kata Harry.
Harry mengulurkan tangannya, dan menunjuk pada Guillermo, dan Zoland memberikan tablet miliknya pada Guillermo.
"Untuk mengobati rasa rindumu, kamu boleh melihatnya, Zoland sudah memotretnya." Kata Harry.
Guillermo melihat foto putrinya.
Itu adalah Yumna, putrinya yang ia anggap paling cantik sedunia, memiliki rambut panjang yang lebat dan selalu bersikap manis padanya.
"Anakku... Putriku... Kamu di perlakukan seperti anjing." Kata Guillermo.
Terlihat Yumna duduk bersimpuh, dengan kedua pergelangan tangannya di rantai dan kakinya juga di rantai.
Banyak bekas-bekas lebam dari tubuhnya, itu karena bandit-bandit yang selalu bermain-main dengan tubuhnya.
"Kamu biadap Harry!!!" Teriak Guillermo.
Harry menggelengkan kepalanya.
"Sudah ku katakan. Bukan aku, itu ulahnya." Harry menunjuk pada Zoland.
Zoland masih berdiri tanpa ekspresi.
"Jadi jika kamu ingin berdiskusi masalah putrimu bicaralah dengannya." Kata Harry berdiri.
Guillermo manahan segala amarah dan emosi yang hampir meledak di kepalanya.
Jika saja Yumna tidak di penjara pastilah Guillermo sudah mengamuk entah apa yang nantinya akan menimpannya tapi Guillermo sangat ingin meluapkan emosinya.
"Kamu sia-sia menemuiku Guillermo, bicaralah pada Zoland, ku beritahu sesuatu dia sangat tidak suka di suap, jadi berdiskusilah dengan baik, jangan sekali-kali menyuapnya itu akan menjadi sebuah hinaan baginya."
Harry menepuk bahu Zoland dengan agak kuat, dan berbisik kecil di telinga Zoland.
"Kamu berhasil membuat ku gagal menjenguk bayi-bayiku, jangan harap kamu bisa istirahat, ambil lemburmu dengan bangga diri atas apa yang telah kamu lakukan, dasar penganggu." Bisik Harry.
"Baik Tuan Harry." Kata Zoland yang menangis dalam hati.
bersambung~
__ADS_1