
Axella menggelengkan kepala, lalu mengamati sekelilingnya. Wajahnya memucat, dan matanya menjadi gelap karena ketakutan. Lingkungan terasa menjadi sunyi senyap bagi Axella. Meski sebenarnya itu masih sangatlah ramai. Telinga Axella seolah tidak bisa mendengar apapun karena keterkejutannya dan ketakutannya.
"Aku melihatmu Axella, sekarang kamu lebih menawan dan di perlakukan selayaknya wanita. Kamu akan memilih Axella, memberikanku ijin keluar masuk Mansion untuk menemuimu, atau membiarkanku menemui calon suamimu dan semua khayalanmu rontok, lalu kamu kembali bersamaku lagi." Bisik Reed di telinga Axella yang masih terduduk di lantai.
Reed kemudian membersihkan pecahan gelas yang ada di lantai sembari menatap penuh peringatan pada Axella, senyuman yang selalu di benci Axella kini benar-benar ada di hadapannya.
"Dengan cara apapun hubungi aku." Kemudian Reed menyelipkan kartu namanya di jemari Axella.
"Waktumu hanya 3 hari."
Tiba-tiba Reed terkejut, seseorang menarik bajunya dan membuat Reed kelabakan.
Mata Axella membulat penuh, itu adalah Leon.
"Kamu menakutinya! Singkirkan tangan kotormu!" Teriak Leon.
"BUG!"
Leon memukul perut Reed dan kemudian menolong Axella yang masih terduduk di lantai. Leon melepaskan jas nya dan memakaikan pada Axella yang masih kebingungan.
"Maaf aku datang terlambat karena memiliki urusan yang sangat penting. Apa kamu baik-baik saja? Kamu mengenal pria itu?"
Axella menatap Leon terkejut dan dengan cepat menggelengkan kepala, dengan segera Axella meremas kartu nama dan menggenggamnya agar tidak terlihat.
Reed kemudian tertawa terbahak-bahak.
"Aku memeliharamu saat kamu masih sekecil ini Axella." Reed menunjukkan jari dan ibu jarinya sekecil itu.
"Dan kamu bilang tidak mengenalku? Kamu pasti tidak akan pernah lupa dengan malam-malam yang selalu kita lalui bersama."
"Dia sepertinya mabuk. Kenapa ada pramusaji yang mabuk di sini." Kata Leon pada Axella.
Reed kemudian hendak menggapai Axella namun Leon maju dan memukul nya lagi.
"BUG BUG!!"
Leon mengendrukan dasinya, membuka kancing kemeja paling atas dan menggulung lengannya, saat itulah Axella merasakan bahwa ia benar-benar merasa di lindungi, saat itu jantungnya berdetak begitu keras seperti di remas, Leon terlihat begitu tampan dan memikat hatinya.
Kemudian Leon memerintahkan para pengawal untuk mengeluarkan Reed dari ruangan itu.
"Kamu aman sekarang." Kata Leon dan mengajak Axella pergi ke dalam ruangan yang lain agar bisa menenangkan diri.
"Kita hanya berdua di sini, katakan apa yang sebenarnya terjadi." Leon duduk di depan Axella yang masih ketakutan.
Axella menundukkan kepala dan tangannya masih gemetar menggenggam kartu nama Reed.
"Kita adalah teman kan?" Tanya Leon.
"Kenapa kamu meninggalkanku, aku kesusahan di sini."
__ADS_1
"Maafkan aku Axella, ada yang harus ku urus, dan itu adalah masalah yang sangat penting."
"Apakah lebih penting dari pada aku!" Axella mengigit bibir bawahnya dan menangis.
"Jangan menangis." Leon mengusap pipi Axella dengan ibu jarinya.
"Kamu membuatku kesusahan, kenapa kamu menyarankanku berpura-pura menjadi teman masa kecil Harry, dan semua orang menertawaiku karena kebodohanku."
"Tapi, bukankah kamu sekarang bisa lega William melamarmu di depan semua orang?" Kata Leon.
"Kamu tidak mengerti maksudku Axella, Harry adalah orang yang kejam, dia tidak akan pandang bulu entah itu pria atau wanita, dia akan menjatuhkannya ketika menyinggungnya, saat kamu di permalukan oleh Harry, William tidak akan diam saja, dan kamu lihat hasilnya, dia melamarmu di depan semua orang. Aku menyaksikan siaran langsungnya. Semua media kini menyiarkan berita besar itu."
"Benarkah?" Mata Axella menjadi berbinar.
"Ya. Lalu kamu masih meragukanku?"
Axella menggeleng.
"Ku pikir kamu hanya menjebakku tapi kamu juga memukul Reed demi aku." Kata Axella dengan pipi merah.
"Jadi namanya Reed." Kata Leon.
Axella terperangah karena kelepasan.
"Tidak apa-apa, ceritakanlah, aku akan menjagamu."
"Sebenarnya aku... Dia adalah... Seseorang yang telah menyiksaku." Axella menutup wajahnya dan menangis.
"Ceritakan pelan-pelan."
Ketika Axella menutup wajahnya dan berada di dalam dada bidang Leon, pria itu menepuk pelan punggung Axella, namun wajahnya yang lembut tiba-tiba berubah menjadi dingin dan sinis, sangat acuh tak acuh.
Axella kemudian menceritakan kehidupan kelamnya pada Leon, tanpa ada yang di tutupi.
*****
Di ruangan yang lain dimana William berada bersama para tamu Vip.
"Tuan, anda harus turun dan melihat." Kata Jason bergegas.
William melihat Jason ketika Jason berbisik dan menyampaikan pesannya, Jason terlihat sangat serius. Kemudian William turun diikuti oleh Jason.
William serta Jason hanya melihat pemandangan dimana Leon memukul Reed dan mengusirnya, merwka melihat dari kejauhan dan memperhatikan bagaimana Leon membawa Axella ke ruangan tertutup.
Setelah menunggu agak lama, dan para tamu mulai tenang, William menyusul Axella yang berada di ruangan itu.
TOK TOK TOK!
Leon kemudian membuka pintu, terlihat William dengan wajah dingin.
__ADS_1
"Axella kita pulang."
"Kenapa? Aku masih ingin di sini." Rengek Axella.
"Kamu harus istirahat."
"Tidak, pestanya belum selesai." Kata Axella.
"Aku tunggu di mobil, Jason akan menemanimu." Kata William dan pergi meninggalkan Axella.
"Pergilah, dia pasti sedang cemburu."
"Cemburu?" Tanya Axella.
"Karena kita dekat. Selamat Axella, William sangat mencintaimu." Kata Leon.
Wajah Axella berbinar dan bersemu merah, dia tidak menyangka hanya dengan menggunakan kecantikannya, dia bisa mengambil segalanya, bahkan William dan Leon.
Axella kini merasa sangat bangga pada dirinya.
Setelah kepulangan William dan Axella, Alaris kembali ke pesta di aula besar, dan tidak melihat dimana William.
Kemudian Emily, Samantha serta Brida datang menemuinya.
"Nyonya saya menyampaikan pesan dari Tuan William bahwa beliau pulang lebih dulu bersama Axella."
"Kenapa secepat itu?" Tanya Alaris.
Biasanya di pertengahan pesta suasana agak lebih tenang tidak terlalu heboh namun suasana di aula besar bahkan lebih semarak dari pembukaan di awal pesta.
"Apakah terjadi sesuatu?" Tanya Alaris lagi merasa ada yang agak janggal.
Orang-orang berbicara dan saling tertawa dengan suara yang sangat antusias dan energik.
"Apakah sesuatu yang menarik terjadi? Aku sudah berada di balkon terlalu lama bersama Harry, jadi aku tidak tahu apapun."
"Sesuatu yang sangat menarik terjadi." Emily tertawa geli.
Lubang hidung Emily membulat dan berkobar seperti banteng karena kegembiraan, lalu menyantap makanannya untuk melanjutkan dan kemudian melanjutkan ceritanya.
Samantha hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah kanak-kanak Emily yang bangkit lagi, namun dia juga tidak bisa menyembunyikan kepuasan yang ada dalam dirinya.
"Anda benar-benar tidak tahu Nyonya? Tuan Leon memukul seorang pria demi Axella." Kata Lily riang.
"Itu adalah Reed Nyonya. Reed menemukan Axella." Kata Greisy yang datang belakangan.
"Reed? Bagaimana bisa dia datang!" Alaris tersentak.
"Reed menyamar menjadi pramusaji Nyonya." Kata Brida.
__ADS_1
"Reed berteriak bahwa dia melakukan malam-malam indah bersama dengan Axella, dan sudah memeliharanya dari kecil, sayangnya tidak ada media saat itu dan hanya orang-orang yang hanya mendengarnya, tapi semua tamu di sini sekarang tahu siapa Axella." Kata Emily.
bersambung~