
Pagi yang menyejukkan, burung sudah bercicit di luar jendela mansion. William serta Alaris sudah saling memakan sarapan mereka dan sudah saling berhadapan di meja yang cukup panjang.
"Kamu tidak lupa kan, jika hari ini kita memiliki undangan pernikahan." Kata William.
"Iya, aku ingat."
'Aku tidak mungkin lupa, jika hari ini adalah pernikahan sepupu dari William, tidak masalah bagiku jika menghadiri acara tersebut, hanya saja pasti akan banyak perbincangan yang tidak nyaman bagiku. Tidak sedikit informasi masuk mengenai siapa teman-teman dari grup sosialita Dorothy yang tak lain adalah bibi dari William.'
"Alaris, aku harus memastikan agar kamu tidak terlalu dekat dengan Harry."
"Aku tahu."
"Dia pria yang sangat licik."
"Aku hanya membahas tentang sesuatu, dan itu masih tentang pekerjaan yang tidak ada hubungannya dengan perusahaan kita, tenang saja."
"Bukan hanya pekerjaan, dia selalu licik tentang semua hal." William mengiris daging dengan gerakan kesal.
"Aku mengerti masalah mu dengan Harry, dan aku pastikan kami berbicara masih berada di batas aman."
"Semoga." Kata William, sekali lagi pria itu mengiris dagingnya dengan sedikit bertenaga karena kesal.
Alaris melihat itu dan menghapus mulutnya menggunakan serbet bersih.
'Setiap sarapan dia selalu membahas hal-hal yang membuat semua makanan ini menjadi mubadzir.'
"Aku selesai, dan akan bersiap untuk undangan pernikahan itu."
Alaris undur diri dengan pelan dan meninggalkan William.
*****
Acara pernikahan tepat pukul 12 siang, William yang di dampingi Alaris sudah berdiri di barisan para undangan dan keluarga. Semua yang hadir menyaksikan bagaimana pernikahan sepupu dari William di gelar.
Para pasangan pengantin sedang berdiri dan saling bersumpah satu sama lain hingga akhirnya mereka saling memasangkan cincin dan saling mencium, terlihat begitu bahagia.
'Apakah itu yang di namakan pernikahan yang sebenarnya, mereka terlihat sangat bahagia, bahkan menangis karena terharu. Aku mengingat bagaimana saat itu William menikahiku, aku tersenyum karena memang harus tersenyum, aku bahagia karena seharusnya aku tidak boleh memperlihatkan wajah suram di hari pernikahanku. Aku pikir pernikahan hanyalah sekedar menjalin hubungan di dalam rumah. Namun sebenarnya ada banyak hal yang harus di perlakukan berbeda, tidak bisa di samakan dengan mengatur urusan di perusahaan.'
__ADS_1
Saat itu seperti biasa William dan juga Alaris selalu menjadi pusat perhatian, pasangan yang sangat serasi dan terlihat menawan kerap mencuri perhatian setiap mata orang yang ada.
Terlebih William yang memiliki postur tubuh tinggi, dan wajah tampannya, begitu pula Alaris yang bisa menandingi William. Alaris memiliki wajah cantik, ia juga bisa di bilang cukup tinggi.
"Kenapa kamu memakai sepatu yang tinggi, kamu sudah memiliki tubuh yang cukup tinggi." Bisik William.
"Aku hanya memadukan dengan gaun ku hari ini, lagi pula aku tidak menyaingi tinggi tubuh mu William, kepala ku masih berada sebatas leher mu, tidak ada yang mempermasalahkan hal kecil seperti itu."
"Tapi, beberapa orang di sini pasti ada yang mengira jika kamu ingin menyaingi tinggi tubuhku."
"Ini hari yang sakral William, akankah kita ribut di sini hanya karena masalah heels dan tinggi tubuh?" Bisik Alaris sembari tersenyum canggung.
'Akhir-akhir ini William selalu membuat topik yang mengundang pertengkaran, belum lagi sikap dan segala kritiknya kepadaku kerap membuat kami bertengkar.'
Akhirnya acara makan malam dengan keluarga besar pun di mulai. Semua duduk di kursinya masing-masing.
Meja panjang terbentang dengan kain putih yang menutupinya, saat itu mereka menggelar resepsi tertutup di sebuah gedung mewah kelas atas.
"Sudah hampir 1 tahun pernikahan kenapa kalian masih belum juga memiliki seorang anak." Sebuah kalimat meletup di mulut pedas Margareth.
Dorothy, bibi William terkejut hingga tersedak, bagaimana Margareth teman sosialitanya dengan seberani itu menimpalkan pertanyaan panas pada keponakannya, William.
Alaris melirik pada William sekilas yang sedang mengiris steak. Merasa William tidak akan menjawab Alaris berinisiatif lebih dulu.
"Baru 1 tahun, kami masih ingin menikmati masa-masa setelah menikah." Kata Alaris datar sembari meminum sampanye.
"Baru 1 tahun bagaimana, apa kalian tidak merasa bosan dan kesepian, sekarang ini harus pikirkan pewaris kalian, jika tidak di pikirkan akan banyak godaan di luar sana, apalagi jaman sekarang mulut pria tidak ada yang bisa di percaya, meskipun bukan hanya pria saja, banyak juga dari wanita yang mulai terang-terangan bermain dengan pria lain, dengan dalih bekerja. Kondisi seperti ini banyak sekali orang yang ingin masuk dan memecah...."
PYARR!
Margareth menghentikan kalimatnya, sedangkan tubuh Dorothy seketika gemetar.
Perubahan mimik wajah William sangat jelas menjadi masam dan gelap.
"Saya tidak sengaja menjatuhkan gelasnya." Kata William.
Kemudian seorang pelayan datang untuk membersihkan serpihan tersebut.
__ADS_1
"William, ada kamar untuk kalian menginap hari ini." Dorothy buru-buru berdiri dan mendatangi William serta Alaris, ia bermaksud ingin mendinginkan suasana panas saat itu.
"Kami tidak menginap, ada urusan mendesak, lagi pula sesuatu sudah terjadi, akan canggung jika kami tetap di sini."
"Tapi William, kalian datang dari jauh apa tidak lelah jika hari ini kalian pulang."
William tidak menjawab pertanyaan bibinya, ia justru berdiri dan meninggalkan ruangan itu, sedangkan Alaris juga mengikuti William setelah menundukkan kepala berpamitan pada Dorothy.
Dorothy terlihat sangat kesal, ia susah payah mengundang keponakannya dan berharap dia bisa menginap agar bisa bicara pada William tentang memasukkan menantu dan anaknya ke salah satu perusahaan baru milik William dan Alaris namun temannya justru membuat semuanya kacau.
Mata Dorothy memerah, menatap tajam penuh amarah pada Margareth.
"Seandainya ada sekolah, aku ingin mulutmu itu masuk di sekolahan itu."
"Ada apa Dorothy, kamu menyalahkanku, apa yang aku katakan salah? Aku hanya memberikan saran pada mereka. Lagi pula setiap kita melakukan pertemuan, kita selalu menyinggung dan membahasa keponakanmu yang belum juga mempunyai anak, dan tentang mengapa mereka belum memiliki anak, apakah mereka benar-benar saling mencintai."
"Kamu lebih baik diam dan mengurung dirimu di dalam goa jika otakmu terlalu bodoh, apa kamu benar-benar tidak tahu siapa yang sedang kamu berikan saran, meski dia keponakan ku tapi dia pemilik perusahaan Liam Grup!"
Mulut dan mata Margareth seketika terbuka lebar, ia menjatuhkan serbetnya di atas makanannya.
"Kalian tidak pernah bilang jika keponakanmu adalah... Pemilik perusahaan... Raksasa... Itu."
Tentu saja tubuh Margareth seketika gemetar, ia tidak bisa membayangkan akan bagaimana kelanjutan hidupnya dan keluarganya kelak karena telah menyinggung William Linevero.
"Ap ... Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya Margareth.
"Sekarang kamu baru takut? Kamu hidup kemana saja sampai tidak tahu bahwa keponakanku Pemilik Liam Grup! Lagi pula siapa yang kamu maksud kita, jelas aku dan yang lainnya tidak punya hubungan apapun denganmu!" Bentak Dorothy.
"Tap... Tapi aku anggota sosialita kalian..." Margareth ketakutan, wajahnya menjadi pucat pasi.
Semua orang tahu bagaimana nasib mereka jika menyinggung seorang William Linevero. Perusahaan yang mereka miliki sudah pasti akan pailid, bahkan yang paling buruk seluruh anggota keluarga akan menderita karena jatuh miskin dan di blacklist dari pinjaman bank manapun, sehingga mereka tidak dapat bertahan hidup kecuali menjadi gelandangan.
Malam itu dalam perjalanan pulang, William hanya diam tanpa sepatah kata yang keluar dari mulutnya, bahkan sesampainya di mansion William menjadi lebih dingin dan tidak menghiraukan Alaris.
William keluar dari mobil dan langsung menuju mansion selatan tanpa menunggu Alaris keluar dari mobil.
William meninggalkan Alaris begitu saja.
__ADS_1
bersambung~