
"Franz!
Jason membuka pintu rumah dengan sedikit kasar.
Rumah itu kecil namun terlihat bersih dan terawat, terletak di desa tepatnya pinggiran Ibu kota Vernecia.
Saat itu Franz sedang membersihkan pakaian-pakaiamln dan barang-barang sang adik bersama Mike.
Jason terkejut melihat barang-barang Gloria, pandangan matanya menyorot pada pigura kecil dimana Gloria si gadis kecil tersenyum kegirangan di tengah-tengah Franz dan Jason.
Jantung Jason seolah ingin meledak, otaknya langsung di penuhi kenangan-kenangan masa kecil mereka.
"Kamu tidak jadi marah?" Tanya Franz.
Jason mendengus kesal, ia tadinya ingin marah, sangat marah dan meminta penjelasan dari Franz, namun melihat foto ceria masa kecil Gloria, membuat Jason duduk dan mengambil pigura itu.
"Kemana kamu akan membawa barang-barang Gloria?" Tanya Jason.
"Aku akan menyimpannya di kotak peti, tidak akan ku buang, ini adalah kenangan yang tersisa dari Gloria." Kata Franz.
Jason mengangguk pelan.
"Maaf, karena aku memilih jalan yang bersebrangan denganmu Jason." Kata Franz.
"Tuan Leon menghubungiku, dan memberikan mayat Gloria, itu adalah peti terindah yang pernah aku lihat, peti itu memiliki kaca kristal dan dihiasi oleh brlian-berlian yang sangat indah, apalagi kaca kristal itu begitu bening dan sangat mewah, membuat Gloria seperti wanita bangsawan yang sedang tidur dengan pulas." Kata Franz.
Jason menelan ludahnya.
'Jadi bukan Nyonya Alaris yang menyelamatkan mayat Gloria dari perdagangan gelap. Apa itu perintah Harry?'
"Aku tidak bisa memberikan apapun pada Gloria, bahkan peti dan makam yang baik untuknya, jadi Tuan Leon memberikan peti yang mewah, makam pribadi di kawasan elite, dan aku menyanggupi syaratnya." Kata Franz.
Jason melihat Franz.
"Setidaknya Axella juga ikut di hukum, dan di hari terakhirnya aku hanya bisa memberiakan tempat yang nyaman untuknya tidur selamanya, aku hanya bisa melakukan apa yang aku mampu untuk Gloria. Aku menyanggupi syarat Tuan Leon, karena hanya ini yang aku bisa berikan pada Gloria, setidaknya mayat Gloria di perlakukan dengan baik."
"Tuan Jason, Franz hanya ingin memberikan yang terbaik untuk Gloria." Kata Mike menimpali.
"Aku mengerti, tidak apa, meski kita berada di jalan yang berbeda, meski kita berseberangan, kita akan tetap menjadi saudara kan." Kata Jason menepuk punggung Franz.
Franz menghapus air matanya.
"Kamu adalah kakak yang baik untuk Gloria." Kata Jason.
"Setidaknya, mayatnya di perlakukan baik, tidur dengan baik dengan kemewahan dan di tempatkan di makam yang indah." Kata Franz menghapus air matanya.
Pria itu menangis sesenggukan.
"Bagaimana aku memberitahu ayah dan ibu tentang Gloria, mereka sudah tua. Ayah ibu maafkan aku, yang tidak becus menjaga Gloria." Tangisan Franz semakin menjadi ketika ia teringat kedua orang tuanya.
__ADS_1
Ingatan Franz kembali pada saat dimana ia dan Gloria ingin pergi merantau ke Kota, saat itu mereka berpesan pada Franz agar selalu menjaga sang adik.
Mata Jason juga berkaca-kaca, lehernya tercekat sakit, ia merasa gagal melindungi adik sepupunya.
"Aku gagal melindunginya maafkan aku." Kata Jason terbata.
Malam itu adalah malam tersunyi bagi mereka yang di tinggalkan, namun dari kesunyian mereka ada malam yang lebih sunyi dan gelap.
Itu adalah malam sunyi yang gelap di pemukiman kumuh. Tempat pembuangan sampah, tempat daur ulang sampah-sampah yang ada di Negara Vernecia.
Seorang pria tua yang sudah beruban, dengan rambut-rambut tumbuh berantakan di dagunya, pria tua itu memukul tikus yang ada di dekatnya.
BUG!
Ciitt... Ciitt Ciitt...
BUG
Ciit..Ciitt...Ciit...
Tikus itu berguling-guling kesakitan dan akhirnya mati, darah berceceran di sekitar kepalanya.
Tangannya kemudian mengambil sebuah makanan kembali dan menyuapkan ke dalam mulutnya.
Roberto, ya pia itu adalah Roberto yang pernah bergelimang harta dan tidur di atas menara emas.
"Pria itu memang lemah, aku sudah salah memilihnya, ku kira dia akan menjadi yang terkuat."
"HOWEEEK!!!"
"Brengsek kamu William!!! Dasar payah!!! Aku sudah bilang jangan berurusan dengan cinta dan wanita tapi dia tidak mau mendengarkan dan sekarang lihat apa yang sudah terjadi. Nikahi Alaris buat dia mencintaimu dan tinggalkan dia saat depresi ambil perusahaannya, itu sangat mudah!!! Dasar idiot."
Roberto memuntahkan makanannya, dan mengelap mulutnya.
"Yaa.. Sebelum si preman bangsatt itu datang mengacaukan semua urusanku, Harry Mac Linford, dia tidak paham juga setelah aku menghabisi saudara kembarnya, dendamnya padaku pasti sangat menyiksa ubun-ubun dan hatinya. Hahahahha!!!"
"Tunggu dulu, apa ada cctv atau rekaman di sini? Tunggu... Tunggu.... Ahh itu dia."
Roberto mengambil sebuah radio butut dan memukul-mukul radio itu menggunakan kayu yang sebelumnya untuk memukul tikus.
Setelah puas melampiaskan amarahnya, ia duduk bersandar, sebuah terpal yang ia buat sendiri untuk sebagai rumah baginya, di dalam sana hampir terlihat atau berbentuk seperti gua yang remang-remang. Lampu di tempat pembuangan sampah berwarna orange membuat pemandangan itu semakin ironis.
"Aku sudah mulai tidak waras, aku harus mencari cara, agar tidak depresi dan gila, itu yang mereka inginkan." Kata Roberto yang kembali sadar pada dirinya sendiri.
Pikiran Roberto mulai ambigu, antara sadar dan depresi.
Sejenak merenung seseorang tiba-tiba datang menghampirinya.
"Hey!!! Ada sesuatu, ini makanlah." Kata orang itu.
__ADS_1
Menghirup aroma yang menggairahkan indra pengecapnya menari-nari, aroma sedap dan makanan hangat itu membuat perutnya yang lapar bergejolak Roberto membuka bungkusan itu dan langsung melahapnya.
Dengan tangan kotor ia mengambil nasi dan menyantap roti dengan rakus.
"Enak?" Tanya sang pemberi makanan.
Roberto diam dan hanya memakan dengan brutal.
"Pelan-pelan kamu akan tersedak, aku tidak akan bertanggung jawab jika kamu mati tersedak pengemis." Kata orang itu.
Roberto tidak mengindahkan kalimat orang itu dan terus memakan dengan brutal hingga mulutnya yang masih penuh terus ia jejali makanan.
"Aku mengantar makanan itu kepadamu, katanya itu dari Tuan Leon. Kamu kenal Leon? Leon Neils Muller." Kata orang itu lagi.
Semua daging dan roti di dalam mulut Roberto keluar.
"Dan dia juga berpesan padamu, jika kamu harus hati-hati, bisa saja makanan itu beracun.."
Roberto menuntahkan makanannya.
"HUWEEKK!!!"
"Apa sekarang kamu merasa pusing? Mual atau sesuatu yang lain? Mungkin jantungmu berdebar?"
Roberto mengangguk.
"Tolong..."
"Tolong aku..."
"Perutku sakit, berikan aku minum." Kata Roberto menyeret tubuhnya mendekati pria yang telah memberinya makanan.
Si pria itu tertawa terbahak-bahak.
"Lihatlah bagaimana sebuah kalimat kebohongan bisa mensugesti orang begitu cepat, sayangnya apa yang aku bilang barusan hanyalah kebohongan, kamu tahu? Tuan Leon akan marah jika dia tahu kamu membuang makanan yang ia berikan. Astaga..." Pria itu tertawa.
Roberto menelan ludah nya.
Kemudian pria itu mengguyurkan air minum di atas kepala Roberto.
"Ini untuk menjernihkan kepalamu. Kamu akan segera bertemu dengan Tuan Leon, santai saja."
Kemudian pria itu membuang botol minumnya dan pergi meninggalkan Roberto.
"Brengsek!!! Aku harus pergi mencari tempat persembunyian lagi, tapi bagaimana aku harus menghindari para polisi lebih dulu agar dapat tempat persembunyian baru!!!"
"Semua pulau yang ku miliki sudah di sita, aku bisa keluar dari mansion yang memiliki pulau di luar Negara Vernecia pun karena aku menyelinap di kapal nelayan, sekarang aku harus pergi kemana lagi, seolah di dunia ini tidak ada tempat untuk bersembunyi, seolah aku terlihat kecil di bawah telapak tangan sang dewa." Kata Roberto.
"Tidak... Aku harus tahu siapa saja musuh Harry dan Leon, jadi aku akan bersekutu dengan mereka untuk mendapatkan kekuatan."
__ADS_1
bersambung~