Pernikahan CRAZY RICH

Pernikahan CRAZY RICH
ZADITH DAN CHIA


__ADS_3

Mobil sudah mengantar Zadith dan Chia sampai di apartmen.


Chia pun memapah Zadith, di bantu sang sopir.


Setelah masuk ke dalam apartmen, Zadith berbaring di ranjang.


"Mana kotak obatnya?" Tanya Chia panik.


"Kenapa tidak ke dokter saja, padahal aku berniat mengantar mu ke dokter!" Kata Chia.


"Tidak perlu, ini hanya luka memar yang biasa, aku pernah terluka lebih parah, dan bisa ku tangani tanpa dokter." Kata Zadith berusaha melepaskan bajunya.


Chia membawa kotak obat dan menaruh di dekatnya, dengan sigap kemudian Chia membantu Zadith melepaskan bajunya.


"Sepertinya, kalau kakak-kakakmu ketemu denganku lagi mereka akan langsung membunuhku, apalagi jika mereka tahu aku keluar dari kamarmu."


"Tenang saja, aku sudah menyuruh orang kepercayaanku untuk menghapus rekaman cctv dan mematikan cctv saat kamu keluar."


Zadith mengangguk.


"Tapi, apa alasan mu memilih sekolah biasa, dan merahasiakan siapa dirimu sebenarnya."


Chia yang sedang menyeka luka memar dan akan memberikan salep luka memar terdiam.


"Jika kamu tidak ingin menceritakannya tidak masalah bagiku, aku akan tetap menjaga rahasia ini, tenang saja." Kata Zadith.


"Aku lelah selalu di banding-bandingkan dengan kakak-kakakku, di sekolahan bangsawan tidak ada yang benar-benar tulus padaku, lihat saja aku, penampialanku, sikapku, semua nya tidak mencerminkan putri bangsawan dan aku memilih untuk merahasiakan siapa diriku sebenarnya lalu meminta untuk bersekolah di sekolahan umum biasa, tapi kedua kakak dan ayahku sudah terlanjur sangat tidak percaya dengan semua orang yang ada di dekatku, kamu tahu, semua temanku kebanyakan adalah pria, dan ayah serta kakakku selalu menyewa preman untuk menakuti mereka."


"Ku rasa, memang seperti itu." Kata Zadith.


"Apanya yang seperti itu."


"Kamu... Sangat energik dan lain dari kebanyakan putri bangsawan."


"Ohya!" Chia menempelkan salep dengan menekannya.


"Aaooh....!!" Pekik Zadith.


"Sakit bukan, jadi jangan macam-macam dengan mulut mu itu!" Kata Chia.


Zadith tertawa kecil dan memegangi perutnya yang sakit, ia tidak dapat menahan tawanya.


"Kamu seperti rumput liar yang ingin tumbuh subur sesuai kemauannya, kamu berbeda namun itulah yang menjadikan kamu indah."


Kemudian Zadith mengambil beberapa helai rambut Chia.


"Kamu... Cantik... Dalam versimu sendiri." Kata Zadith.


Perlahan Zadith menarik pinggang Chia ke dalam pelukannya, dan mencium bibir Chia.


Ciuman lembut yang hangat dan sangat halus.


Setelah ciuman itu, mata mereka saling memandang. Wajah Chia merona merah.


Zadith tersenyum kecil lagi, ia terlihat begitu tampan.


"Apa maksudnya ini?" Tanya Chia.


"Bagaimana kamu tidak tahu apa maksudnya jika seorang pria mencium wanita?" Kata Zadith santai.

__ADS_1


"Aku bukan wanita murahan!" Kata Chia.


"Siapa yang bilang kamu murahan, aku bilang kamu cantik dalam versimu, dan aku tertarik padamu, sejak saat itu..."


"Saat itu?"


"Saat kita terjebak di dalam almari bersama, kamu selalu ada di dalam pikiran ku."


Chia menggigit bibirnya karena ia tidak bisa menahan rasa bahagianya, ia merasa bahwa sedang terbang ke surga. Imlni adalah pertama kalinya ia memiliki perasaan aneh itu.


"Mana rayuannya?" Tanya Chia.


Zadith kemudian mengangkat tubuh Chia dan mendudukkannya di pahanya.


"Aku tidak pandai merayu." Kata Zadith.


"Bersyukurlah karena aku tidak gila rayuan dan pujian." Sahut Chia.


"Jika tangan yang hina ini melukaimu, inilah ganti yang akan ku berikan. Lembut bibirku mencium mu."


Zadith kemudian mencium lagi bibir Chia.


Zadith memeluk punggung Chia, sedangkan Chia merangkul tubuh Zadith.


Luka lebam tak lagi Zadith rasakan, kini hanyalah gelora api membara atas nama cinta yang sedang berkobar dalam dadanya.


"Sepertinya, aku tidak akan canggung lagi." Kata Chia.


"Karena itu mungkin kita harus lebih sering melakukan pemanasan." Zadith tersenyum.


"Kamu...!" Seru Chia.


"Itulah mengapa aku menyukaimu, kamu jujur dan apa adanya, ku rasa kita akan cocok, dan akan memerankan pentas romeo dan juluet dan baik." Kata Zadith.


"Mungkin mulai besok aku bisa berlatih denganmu, di sini, aku sudah meminta ijin pada ibuku."


"Itu ide yang bagus, daripada aku menyamar menjadi wanita, aku seperti turun wibawa." Kata Zadith tertawa kecil.


"Tapi kamu sangat cantik saat menyamar menjadi wanita."


"Apa kita akan kencan seperti itu untuk menghindari mata-mata ayah dan kakakmu?" Tanya Zadith.


Chia tertawa.


"Itu mungkin bisa menjadi solusi."


Zadith menekan dahi Chia dengan dahinya.


"Ku rasa, aku akan betah di negara ini dan tidak akan berpindah lagi."


"Memangnya kamu sering berpindah-pindah?"


Zadith mengangguk.


"Awalnya iya, aku sudah beberapa kali pindah negara dan sekolah, aku merasa tidak nyaman."


"Aku senang jika kamu tidak akan pindah lagi, tapi... Aku melihat naskah romeo dan juliet, aku pikir Romeo itu mesum."


Zadith tertawa, lagi-lagi ia mendengar kalimat jujur dari Chia yang membuatnya gemas.

__ADS_1


******


Saat itu Harry menemui istrinya namun ternyata istrinya tidak ada di dalam kamarnya.


Harry mencari-cari hingga ke dalam kamar mandi, namun tetap tidak menemukannya.


"Istriku..." Panggil Harry.


Kemudian secara tidak sengaja Harry menyenggol kotak hitam yang Alaris terima, itu adalah pemberian William.


Kotak hitam itu jatuh ke lantai, beberapa foto berhamburan, dan itu adalah foto-foto yang belum Alaris tunjukan pada Harry.


Harry melihat foto-foto yang tergeletak di atas lantai tanpa mengambilnya, itu adalah foto-foto Harry bersama Princess Aiko.


Begitu banyak foto Harry dengan Princess Aiko, tepat di kaki Harry, sepatu hitamnya bahkan hampir menginjak foto-foto itu.


Tak berapa lama Alaris masuk dan melihat semua isi kotak hitam berhamburan.


"Harry..."


"Aku tidak percaya, masih ada cerita William di kehidupan bahagia kita, dia masih mengusik kita dengan mengirimkan foto-foto yang tidak penting ini, kamu menyembunyikannya dari ku apakah karena kamu percaya dengan William Istriku?" Wajah Harry menjadi sedih dan pucat.


"Bukan... Kamu salah paham Harry, aku tidak menunjukkannya karena aku merasa tidak ada yang perlu di cemaskan. Suamiku adalah presiden dan sudah seharusnya selalu beramah tamah dengan para tamu negara." Kata Alaris.


"Aku bersyukur kamu bisa mempercayai ku bahkan tanpa mendengarkan penjelasanku Istriku, terimakasih."


Harry maju dan memeluk Alaris, ia menginjak foto-foto yang masih tersebar di atas lantai.


Wajah Harry menjadi muram dan suram, pelukannya begitu erat pada Alaris.


"Sayang?" Tanya Alaris.


"Ya?"


"Apa mood mu sudah lebih baik?" Tanya Alaris.


"Mood ku selalu baik untuk istriku." Harry tersenyum lebar dan hangat.


"Eugene sepertinya sedang bimbang, Pangeran Altaf berniat menjodohkan Chia dengan adik sepupunya, bicaralah pada Eugene." Kata Alaris.


"Aku akan bicara padanya, sebagai seorang ibu kamu pasti juga memiliki pandangan?"


"Tentu saja, aku hanya ingin mengatakan padamu, biarkanlah anak-anak memilih jalan apa yang ingin mereka tempuh asalkan mereka bahagia." Kata Alaris.


Harry tersenyum dan mencium Alaris.


Pria itu menuju kamar anak pertamanya Eugene, saat itu Eugene sedang mengamati beberapa dokumen di mejanya, sembari ia mengompres lebamnya dengan alat kompres yang di dalam nya sudah berisi bongkahan-bongkahan es.


Saking seriusnya, Eugene sampai tidak mendengar ayahnya masuk.


"Kamu sibuk." Sapa Harry.


"Aah.. Ayah." Eugene hendak berdiri.


Namun Harry mengisyarakan bahwa tidak apa-apa untuknya tetap duduk, lalu Harry duduk di depan Eugene.


"Aku sudah mendengar tentang lamaran yang di tujukan untuk adikmu." Kata Harry.


bersambung~

__ADS_1


__ADS_2