Pernikahan CRAZY RICH

Pernikahan CRAZY RICH
PERINTAH KURUNGAN DARI WILLIAM UNTUK ALARIS


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Alaris sudah siap untuk pergi ke kantor, Emily dan juga Samantha berjalan di belakang Alaris untuk mengantar sampai di pintu depan.


Brida sudah siap dan menunggu di depan mobil.


"Nyonya Alaris, Tuan Williak sudah menunggu anda di ruang makan."


Semua terkejut, setelah sekian lama dan hubungan juga merenggang kenapa tiba-tiba William mengajak untuk sarapan bersama.


"Brida katakan pada Harry untuk memundurkan pertemuan hari ini." Kata Alaris.


Kemudian dengan diikuti Jason dan Brida di belakang, Alaris menuju tempat makan.


Jason membuka pintu dan di sana William sudah menunggu.


Alaris masuk dan duduk di tempat biasanya. Menu sudah terhidang berjajar dan tertata rapi di atas meja.


"Ayo makan." Kata William.


Alaris hanya menyentuh sedikit soupnya dan tidak memakan yang lainnya.


"Kamu tidak suka menu makanannya?" Tanya William.


"Apa yang ingin kamu bicarakan William, aku memiliki jadwal lain." Kata Alaris.


"Kamu memiliki janji? Dengan Harry atau Austin."


"Dengan siapapun itu tidak ada hubungannya dengan mu."


"Baiklah. Aku sudah memikirkannya Alaris." William mengambil air dan meminumnya. Menunggu agak lama dan mengambil nafas panjang, ia mengatakan nya dengan hati-hati.


"Mari kita bercerai saja."


Alaris masih memiliki ekspresi tenang. Tidak terkejut dan masih seperti biasa, menanggapi dengan wajah dingin.


"Kamu tidak terkejut?" Tanya William.


"Tidak. Aku menerima gugatan perceraianmu." Kata Alaris Dwyne dengan tersenyum penuh ketenangan tak tergoyahkan. Namun seperti biasa, senyuman di wajah Alaris tersirat dingin.


Kini justru William lah yang di buat terkejut.


"Kamu benar-benar menerimanya?"


Semburat kelegaan jelas terpancar di wajah William Linevero yang sebelumnya terpampang lekukan-lekukan ketegangan. Namun kelegaan itu juga bercampur dengan raut wajah sedih.


"Ya, aku menerimanya. Aku sudah tahu kamu akan mengajukan gugatan cerai."


"Darimana kamu tahu?" William menekuk alisnya.


"Darimana aku tahu itu tidak penting, jika kamu ingin bercerai dengan ku, ada 2 syarat yang harus kamu penuhi."


"Syarat? Apa itu katakan saja."


"Pertama bersihkan nama adikku Hector, cabut tuntutanmu padanya, agar dia benar-benar bisa bebas tanpa jaminan siapapun."


Sudut bibir William berkedut, meskipun William sendiri sudah menduganya namun ia tidak percaya Alaris menggunakannya sebagai syarat perceraian. William merenung sangat lama namun akhirnya ia mengangguk.

__ADS_1


"Lalu yang kedua?"


"Yang kedua, kamu tidak boleh menyentuh aset Aldawn, dan aset Imperial Diamond akan di bagi menjadi 2."


"Itu tidak mungkin."


"Apanya yang tidak mungkin." Tanya Alaris.


"Aldawn sudah masuk ke dalam cengkraman Liam Grup, dan Imperial Diamond adalah milikku." Kata William.


"Aldawn adalah milikku William, aku yang membangun dan merintisnya, aku bekerja keras dengan semua tenagaku. Kamu tidak punya hak untuk mengambilnya."


"Ya, jadi untuk itulah aku menikahimu. Untuk mengambil Aldawn."


Alaris menggigit bibir dan menggertakkan giginya, bila ia menuruti emosi yang sudah membara yang ada di dalam dirinya, pasti ia sudah menusuk William dengan pisau yang sedang di genggamnya.


"Berarti kita akan bertemu di pengadilan." Kata Alaris.


"Kamu tidak akan mampu melawanku."


"Aku pemilik Aldawn!" Teriak Alaris.


Ini pertama kalinya Alaris berteriak, suaranya memekik keras memenuhi seluruh ruangan dan bergema.


"Ternyata kamu memiliki emosi, kamu bisa berteriak." Balas William santai dam dingin.


"Kamu tidak boleh mengambil perusahaanku William." Kata Alaris.


"Aku menyesal Alaris, tapi itulah tujuanku menikah denganmu."


Alaris menggigil, air matanya mengalir.


"Kamu akan menyesal dengan keputusanmu." Peringat Alaris.


Alaris membuang pisaunya di lantai dan hendak pergi meninggalkan ruangan itu.


Sebelum Alaris meraih handle pintu, William juga berdiri dan mengejar Alaris, lalu menarik tangan Alaris, mendorong Alaris hingga membentur pintu.


Mata mereka saling menatap, dengan mata sendu dan mata basah Alaris hanya bisa membiarkan dirinya terpojok di pintu oleh tindakan William.


"Aku tidak akan menceraikanmu jika kamu memohon padaku Alaris. Memohon padaku dan aku akan mengabulkan semua permintaanmu."


"Memohonlah Alaris "


William menatap mata basah Alaris yang kemerahan.


"Jika kamu tidak mau memohon, katakan padaku bahwa kamu mencintaiku. Meski pun itu bohong, tapi sekali saja katakan bahwa kamu mencintaiku."


Alaris diam, air matanya kini tetap tidak bisa ia tahan, dengan mata membara menatap William Alaris berkata,


"Aku membencimu William, sangat membencimu."


William yang memojokkan Alaris di sudut pintu hanya bisa mengangguk, tangannya mengepal di pintu.


BRAK!!

__ADS_1


Pukulan itu melayang di pintu dan tepat di samping telinga Alaris. Membuat Alaris menutup mata.


Brida yang menunggu di luar terkejut dan bahu nya tersentak, ia kemudian melihat pada Jason, lalu ingin masuk namun di tahan oleh Jason. Pria itu merentangkan sebelah tangannya menghalangi Brida.


Sedangkan di dalam ruangan William yang kalut, dengan perasaan amarah dan pikiran yang di selimuti oleh emosi pria itu meraih kepala Alaris dengan paksa, ia ingin menciumnya secara paksa.


"Lepaskan! William lepaskan!"


William masih terus berusaha ingin mencium Alaris, memeluk dan memcengkram pergelangan Alaris. Hingga pintu berbunyi dan bergemuruh karena tindakan itu. Brida semakin khawatir dan tidak sabar melihat pintu bergoyang dan menimbulkan suara.


"William lepaskan aku!" Teriak Alaris.


Kemudian William tersadar dan melepaskan Alaris, pria itu perlahan menarik diri dan membenarkan kemejanya.


"Dengar Alaris, selama perceraian belum selesai kamu akan tetap di sini, di dalam mansion dan tidak boleh keluar."


"Apa?" Alaris menatap sangsi.


"Kamu akan di kurung di mansion."


"Kamu mau mengurungku?"


"Ya."


"Itu tidak akan terjadi."


"Bisa."


"Kamu tidak berhak melakukan itu!" Pekik Alaris.


"Aku sangat berhak melakukannya, karena aku masih suamimu! Setujui perceraian tanpa syarat apapun."


"Aku selesai berdebat denganmu William kita akan bertemu di pengadilan." Geram Alaris.


"Kamu akan jatuh sebelum kita berada di pengadilan, Aldawn akan menjadi milikku dan akan ku berikan pada Axella sebagai kado pernikahan."


"Kamuu...." Alaris kehilangan kata-katanya.


Alaris tidak sanggup lagi berdebat, suaranya seolah hilang, kepalanya mendadak pusing.


"Biarkan aku pergi." Kata Alaris lemah.


William mundur beberapa langkah, dan Alaris menghapus air matanya, bersikap senatural mungkin.


Setelah Alaris keluar Brida memastikan apakah Alaris baik-baik saja.


"Apa Tuan William menyakiti anda Nyonya?" Tanya Brida.


Alaris hanya menggeleng, lehernya sakit, tidak mampu berbicara apapun.


"Jason, perintahkan semua pengawal untuk berjaga, jangan memberi jalan pada Nyonya Alaris Dwyne untuk keluar dari mansion." Perintah William.


Alaris berbalik dan menatap William dengan mata sayu. Brida melihat pada wajah lelah Alaris.


"Tutup semua portal yang ada di sekitaran Mansion, awasi Nyonya Alaris dan jangan ijinkan dia menerima tamu siapapun, bahkan jangan biarkan Nyonya Alaris pergi kemanapun. Ini adalah perintah kurungan baginya." Kata William pada Jason dan para pengawal.

__ADS_1


"Baik tuan."


bersambung~


__ADS_2