
Beberapa hari berlalu Alaris semakin risau kemana Brida pergi.
Samantha dan Emily juga hanya saling memandang karena mereka pun tidak tahu kemana Brida pergi.
"Nyonya apa kita lapor polisi saja." Kata Emily.
"Tapi Harry menanggapi santai dan justru terkesan menenangkanku, kalau benar terjadi apa-apa pada Brida dia pasti akan bertindak kan." Kata Alaris.
"Atau mungkin Nona Brida sedang melakukan tugas yang diperintahkan oleh Tuan Harry tanpa sepengetahuan anda Nyonya."
"Aku akan menanyakannya lagi pada Harry."
Alaris berjalan melewati lorong koridor mewah yang panjang, di temani para pelayan pribadinya di belakang. Langkah itu panjang dan tergesa-gesa.
Alaris hampir mencapai pintu, namun pintu itu telah terbuka sedikit.
"Apa Leon susah sembuh?" Tanya Harry.
"Jauh lebih baik, berkat Brida yang selalu ada di sampingnya."
"Semua rumor dan gosip memberitakan bahwa Leon adalah pemikat dan perayu handal pada wanita memang benar, tapi tidak untuk berhubungan dengan wanita kotor kelas rendahan. Apa aku terlalu kejam padanya, apa aku terlalu egois padanya, demi tujuanku dia sekarang menderita." Kata Harry.
"Saya rasa meski anda tidak memberikan tugas itu pada Leon, dia tetap akan membantu anda dengan cara itu."
"Apa yang dokter katakan." Tanya Harry.
"Tidak banyak, hanya memberikan obat tidur, selebihnya Nona Brida yang bisa menyelesaikannya."
"Aku yang salah. Telah menempatkan Leon di posisi itu, untuk merayu Axella. Semua demi agar tujuanku mendapatkan Alaris tercapai."
Alaris mundur dengan menutup mulutnya.
'Apa yang mereka bicarakan.'
"Tuan, anda sangat mencintai Nyonya Alaris, bahkan itu sejak anda masih kecil, dan tuan William telah menyia-nyiakan permata yang anda jaga selama ini, anda hanya ingin membuat Nyonya Alaris bahagia di sisi anda, tentu saja Leon pasti tidak akan tinggal diam demi kebahagiaan anda."
"Aku sudah sangat menganggapnya saudaraku."
"Begitupun pasti Tuan Leon, sejak anda menyelamatkannya, Tuan Leon tidak akan pernah hanya tinggal diam demi kebahagiaan anda."
"Wanita itu benar-benar... Bahkan setelah aku membunuhnya, luka trauma yang dia buat masih menyiksa Leon."
Alaris membelalakkan mata mendengar kalimat bahwa Harry pernah membunuh seseorang. Kaki Alaris gemetar.
__ADS_1
'Wajah tampan polos dengan senyuman yang selalu di perlihatkan padaku, apakah itu hanyalah topeng semata, perlakuan Harry yang lembut dan hangat padaku apakah juga hanya topeng? Jadi rumor tentang Harry yang kejam itu tidak semuanya salah, tapi seperti Harry memang memiliki 2 sisi kepribadian.'
'Lalu sebenarnya hubungan yang seperti apa Harry denga Leon.'
"Nyonya anda tidak masuk?" Tanya Samantha.
Harry dan Zoland terkejut, dan secara bersamaan memutar tubuh melihat pada pintu yang belum di tutup.
"Maaf atas kecorobohan saya Tuan."
Harry menelan ludahnya, sampai mana Alaris mendengar percakapan mereka.
Harry berjalan menuju pintu, dan melihat Alaris yang gemetar.
Zoland kemudian mengerti dan pergi. Sedangkan Harry meminta agar Alaris untuk masuk.
"Kamu pasti terkejut." Kata Harry menatap lembut Alaris.
"Melihat mu seperti ini, pasti kamu mendengar semuanya." Kata Harry.
Kemudian Harry mengajak Alaris duduk.
"Aku akan menceritakan sesuatu padamu.'
Harry berhenti sejenak mengingat masa masa itu.
Alaris melihat pada Harry dengan penasaran.
"Dia tidak mau menjawabnya, namun suatu hari aku datang ke mansionnya, aku ke kamarnya, aku terkejut bagaimana seorang wanjta sedang menyiksanya, bagaimana dia seperti dijadikan pemuas nafsu oleh wanita itu dengan cara mengerikan."
"Apa..." Alaris menutup mulutnya.
"Leon melihatku dan kemudian marah, kenapa aku harus melihat itu semua. Kami berdebat hebat, kemudian saat aku ke mansion nya kembali, aku menemukan nya seperti itu lagi, aku sangat marah dan menembaknya."
Alaris menutupi mulutnya.
"Ternyata wanita itu adalah pengasuh Leon sejak kecil. Leon memang sangat tamoan dan cantik bahkan kulitnya putih mulus, siapa yang tidak akan teetarik padanya. Sedangkan orang tua Leon tidak pernah berada di rumah, semenjak kejahatan itu terbongkar orang tuanya menjadi depresi dan bunuh diri, mereka menyalahkan diri mereka yang terlalu sibuk bekerja, saat itulah Leon menjadi jijik dengan wanita kotor seperti Axella. Namun demi mendapatkanmu, Leon tetap bersedia membantuku."
"Lalu kenapa Leon menjadi perayu?"
"Dia ingin menghilangkan sesuatu yang dia anggap bau, setiap kali ia merasa kan trauma dan phobia itu kambuh, dia merasa bau badan wanita itu masih menempel padanya dan akan sebanyak mungkin mengalihkannya dengan merayu wanita-wanita bangsawan yang masih bersih."
"Lalu Brida, apakah akan menjadi salah satu dari wanita yang akan jatuh dalam rayuan Leon! Aku tidak menerima semua ini."
__ADS_1
"Kamu salah Alaris." Harry menggenggam tangan Alafrs dan mencegah Alaris pergi.
"Leon memang merayu wanita- wanita bangsawan yang bersih, namun hanya sekedar merayu, bukan memiliki hubungan kontak fisik, dan ini pertama kalinya Leon bisa lebih tenang saat berada di samping Brida." Kata Harry menjelaskan.
"Aku tidak mengerti."
"Singkatnya Leon butuh Brida untuk melupakan apa yang pernah Leon alami bersama Axella."
"Tapi, aku tidak akan tinggal diam jika Leon menyakiti hati Brida."
"Menyakiti atau tidak, jika Brida tidak bersedia dia tidak akan menemani Leon, dan semua keputusan ada pada mereka berdua."
Alaris hanya diam.
"Kamu masih memikirkan sesuatu?"
"Aku hanya berfikir dan menerka, orang seperti apa kamu sebenarnya." Kata Alaris.
"Aku adalah orang yang sangat mencintaimu, dan tidak akan menyakitimu, meskipun kamu mendengar kekejamanku, aku tidak akan pernah menyakitimu meski itu hanya kalimat umpatan."
"Aku mendengar di luar sana kamu begitu kejam, aku sempat tidak mempercayainya karena kamu sangat lembut padaku, kamu hangat dan selalu tersenyum, tapi kamu menyembunyikan sifatmu yang lain dariku?"
Harry tertawa dan memeluk Alaris
"Mana mungkin aku bisa memperlihatkan sesuatu yang akan membuatmu takut."
Alaris kini mengerti, bahwa Harry memiliki 2 sifat, yaitu sifat yang hangat dan selalu melindunginya, dan murka untuk orang yang menganggu keluarganya, mungkin itulah yang sementara bisa Alaris tangkap dari sisi berbeda Harry yang tersembunyi.
"Kamu jauh lebih tenang?" Tanya Harry.
"Ya.."
"Undangan pernikahan William dan Axella susah ku terima, mungkin aaja kamu juga sudah mendapatkannya, kamu mau pergi?" Tanya Harry yang masih memeluk Alaris.
"Menurutmu apakah kita harus pergi ke acara pernikahan mereka?" Alaris mendongak dan menaruh dagunya di dada Harry.
Harry tersenyum melihat wajah menggemaskan Alaris.
"Kamu selalu saja menggodaku."
Alaris menaikkan kedua alisnya tanda tak mengerti.
Harry mendesaahkan nafas panjangnya dan mengecup dahi Alaris pelan.
__ADS_1
"Menurutku kita harus pergi ke acara pernikahan mereka, karena itu juga sekaligus untuk memperlihatkan pada mereka dan pada banyak orang jika kamu tidak terpengaruh dengan itu, dan menunjukkan jika kita adalah pasangan yang bahagia." Kata Harry.
bersambung~