
Negara Vernecia
Leon sampai di Mansion The Kingham, ia sekarang adalah pemilik sah dari mansion tersebut.
Beberapa pengawal dan pelayan juga sedang sibuk pada pekerjaan mereka masing-masing.
Leon menyusuri koridor dengan menyentuh dinding kayu berplitur mewah.
"Ayah dan ibu pasti bangga kan?" Kata Leon.
"Anakmu ini bukan lah banci yang tidak punya masa depan." Kata Leon lirih.
"Tuan Leon... Para pelayan bertanya anda ingin menempati kamar yang sebelah mana agar mereka bisa menaruh barang-barang anda." Kata Brida.
Leon berbalik dan langsung memeluk Brida.
Tubuh mereka saling menempel satu sama lain.
"Ini saatnya kamu berhenti memanggilku Tuan." Bisik Leon hidung mereka bersentuhan.
Brida menelan ludahnya dan menatap wajah tampan Leon, leher jenjang putih itu benar-benar halus dan menjadi bagian kesukaannya.
Leon tersenyum tipis dan menggendong Brida, semua pelayan menunduk dan tidak berani menatap.
"Tu.. Tuan... Leon apa yang anda lakukan!" Teriak Brida.
"Apa yang aku lakukan? Kamu akan melihatnya."
Leon membawa masuk Brida ke dalam kamar.
Ruangan dan dekorasi seluruh mansion telah Leon ubah menjadi seleranya.
Saat itu ranjang berukuran besar seperti di istana menerima tubuh Brida.
"Aku tidak tahu kenapa kamu menarikku sampai sejauh ini, aku pikir tidak akan ada yang bisa memikat hatiku." Kata Leon.
Kemudian Leon membuka kaca mata tebal milik Brida, wajah cantik itu benar-benar bersinar. Jemari panjang Leon yang memiliki kulit putih membuka satu persatu kancing kemeja Brida.
"Aku memiliki mata yang jeli, kamu cantik dan menawan, kamu sengaja menutupi kecantikanmu dengan menggunakan kacamata." Leon melihat kacamata itu dengan wajah penasaran.
"Benarkah saya cantik?" Tanya Brida.
"Kamu seperti malaikat." Kata Leon.
Kemudian pria itu mencium bibir Brida, dengan pelan Brida mendorong tubuh Leon.
"Sa... Saya.. Tidak mau menjadi tempat permainan anda, seperti wanita-wanita lain." Kata Brida.
Kemudian Brida turun dari ranjang dan membenarkan kemejanya.
Leon menggapai pergelangan Brida, dan mencegah Brida pergi dari kamar. Leon kemudian memeluk Brida dari belakang.
"Aku benar-benar tidak mengerti kenapa justru gadis seperti mu yang memikat hatiku, aku banyak menjelajahi wanita, tapi kamu benar-benar rumit, seperti puzzle yang susah di tebak. Kamu adalah gadis yang penuh teka-teki." Kata Leon.
"Apa karena itu anda penasaran pada saya? Dan ingin bermain-main dengan saya?"
__ADS_1
"Tidak." Kata Leon tegas.
Brida melenguhkan nafas pasrah.
"Percayalah, saat aku mengalami penyakit itu, yang muncul hanyalah mual dan sangat tidak enak di perut, lalu hanya kamu yang bisa membuatku lebih baik, aku menantikanmu sejak lama, kamu bersembunyi dengan baik, jika saja aku menemukan mu lebih dulu, pasti aku tidak akan menderita sepanjang hidupku, selama ini aku hanya bisa merayu para wanita bangsawan yang bersih agar aku bisa mengalihkan perhatianku pada penyakit ini." Kata Leon.
Brida hanya diam.
"Sudah saat nya kamu memberiku jawaban Brida." Kata Leon.
Kemudian Leon memutar tubuh Brida dan menarik dagunya pelan.
"Aku ingin menikahimu, apa kamu bersedia?" Tanya Leon.
Brida terkejut, hampir saja ia pingsan, itu adalah pernyataan yang tidak boleh untuk bahan candaan bagaimana sekarang ia mendengarnya dari seorang Leon.
Siapa yang tidak akan bahagia, dan gembira sampai rasanya ingin mati jika di lamar oleh pria seperti Leon. Wajah tamoan, tubuh tinggi, kulit bersih putih, kaya raya, memiliki kekuasaan. Namun...
"Anda play boy, pintar merayu, dan sekarang anda menang, saya sangat terpikat oleh rayuan anda." Kata Brida menggigit bibirnya dan air mata nya mengalir.
Leon mengusap air mata Brida dengan kedua ibu jarinya dan kemudian mencium Brida, dengan pelan dan kelembutan.
Setelah ciuman itu, Leon menatap penuh keyakitan.
"Kamu meminta apa dariku agar kamu bisa percaya padaku Brida." Kata Leon.
Brida menggelengkan kepalanya pelan, ia juga tidak mengerti.
Kemudian Leon pergi mengambil sebuah gunting dan memberikannya pada Brida, gadis itu tidak mau menerimanya namun dengan paksa Leon mengambil tangan Brida dan meletakkan gunting itu di telapak tangannya.
"Tusuk aku." Kata Leon.
Leon mengarahkan runcingnya gunting itu tepat di dadanya, dengan masih menggunakan tangannya dan menggenggam tangan Brida.
"Kamu tidak percaya padaku kan." Kata Leon.
Pria itu semakin menekannya, dan darah mulai keluar.
"Tuan Leon apa yang ada lakukan!" Teriak Brida.
"Karena kamu tidak percaya aku membuktikannya dengan darah yang akan terus mengalir." Kata Leon.
"Ini berlebihan, apa anda sudah gila!" Teriak Brida dan melemparkan gunting itu hingga jauh membentur dinding lantai.
"Aku bisa gila karena kamu tidak percaya padaku, kamu adalah penyelamatku, tapi kamu tidak mau bertanggung jawab padaku, setelah aku sekarat kamu akan meninggalkanku." Kata Leon.
"Aku tidak akan meninggalkan anda, karena itu berhenti bersikap bodoh!" Teriak Brida.
Leon memeluk Brida dengan erat.
"Jadi apa jawabanmu."
Brida akhirnya mengangguk pelan.
"Apa?" Tanya Leon melihat wajah Brida.
__ADS_1
"Saya bersedia menikah dengan anda, tapi sebelum itu mari kita obati lukanya dulu." Kata Brida.
Leon mendesahh lega.
Kemudian pria itu tanpa instruksi melepaskan baju kemeja putihnya.
Tubuh mulus yang putih itu pun terpancar bersinar, cahaya terang yang menyilaukan mata Brida.
'Astaga, kulit putih mulus itu, apa dia keturunan Elf.' Batin Brida sembari menutupi matanya dari kilauan cahaya yang menyilaukan.
"Kamu terpesona?" Tanya Leon tersenyum.
"Bukan saatnya bercanda, anda sangat berlebihan menyakiti diri sendiri!" Kata Brida mengambil kotak p3k.
"Ini belum seberapa." Kata Leon yang diam ketika Brida mulai membersihkan lukanya.
"Aku pernah melukai diriku jauh lebih buruk, sangat buruk. Tapi saat itu Harry langsung membawaku ke rumah sakit, Harry adalah bagian terpenting dalam diriku."
Brida menelan ludah nya ia tidak ingin bertanya sesuatu yang membuat luka lama menjadi menganga kembali.
"Kamu tidak ingin bertanya?" Tanya Leon.
Brida menggeleng.
"Aku menerima mu, semuanya. Terlepas bagaimana masa lalu mu aku menerimamu, anggap saja aku sudah mengetahui semuanya dan aku menerimannya." Kata Brida.
"Tapi, masa lalu ku jauh lebih mengerikan daripada yang orang kira, kamu tidak akan jijik padaku kan?" Tanya Leon.
Brida membalut lukanya dan menggelengkan kepala.
"Aku bersyukur, itu adalah kamu yang mencintaiku, aku pun memiliki masa lalu yang mungkin akan membuatmu terkejut." Kata Brida.
"Kamu mau bercerita?" Tanya Leon.
Brida berhenti sejenak. Lalu kembali mengingat masa-masa di mana itu ketika ia masih bekerja sebagai karyawan magang di perusahaan Alaris.
"Anda bertanya kan? Kenapa saya selalu memakai kacamata?" Tanya Brida.
Leon mengangguk.
"Semasa menjadi karyawan magang semua pria yang ada di perusahaan Nyonya Alaris selalu menganggu saya, jadi saya memutuskan untuk mengubah penampilan saya, sebenarnya semua itu sudah terjadi ketika saya duduk di bangku sekolah, namun yang paling parah adalah ketika saya berada di perusahaan Nyonya Alaris, beberapa mencoba untuk mengambil keuntungan dari saya, untungnya Nyonya Alaris datang tepat waktu dan menolong saya saat itu." Kata Brida meremas kemejanya.
"Apa mereka sudah di hukum?" Tanya Leon membelai kepala Brida.
"Jika belum di hukum, aku bisa dengan mudah mencari mereka... Dan..."
"Mereka sudah di hukum oleh Nyonya Alaris, dulu Nyonya adalah wanita berdarah dingin yang kejam tanpa ampun, para pria itu langsung di jerat dengan hukum pidana. Dia tidak percaya di perusahaan yang telah ia rintis ada kotoran seperti mereka."
Leon mengangguk pelan.
"Tapi... Aku masih penasaran dengan mereka yang telah menganggumu, mungkin aku akan bermain sebentar dengan mereka." Kata Leon.
Sedikit demi Leon mendekat dan mencium bibi Brida.
Kemudian membaringkan tubuh Brida di atas ranjangnya yang lembut.
__ADS_1
"Aku janji tidak akan lagi ada orang yang berani menyentuhmu dengan lancang, aku tidak akan mengijinkan siapapun menyentuhmu, karena kamu adalah istriku." Kata Leon.
bersambung~