Pernikahan CRAZY RICH

Pernikahan CRAZY RICH
BOOMERANG BAGI AUSTIN HAROLD


__ADS_3

Alaris kembali ke kamarnya, ia merasakan sensasi aneh lagi di dalam dirinya.


Pikiran Alaris malang melintang dengan kalimat Austin dan penolakannya.


'Apa dia sangat pemalu?'


Alaris menjadi gelisah karena ia belum pernah mengalaminya sebelumnya, bahkan ia tidak mengingat kenangan satupun, agar ia bisa mempelajari sesuatu.


Sore harinya setelah mandi seperti biasanya, Samantha menyisir rambut Alaris, dan Alaris melihat dari pantulan cermin di hadapannya.


Pemandangan itu, gerakan itu, dan posisi itu membuatnya seperti terserang kilatan tajam di kepalanya.


Tiba-tiba kepalanya terasa berdenyut, itu sangat sakit dan nyeri, sekilas demi sekilas, gambar buram demi gambar buram yang ada di kepalanya kembali, itu adalah ingatan yang datang ketika ia berada pada posisi itu.


"Aaah...." Kata Alaris memegang kepalanya.


"Ada apa Nyonya?" Samantha panik.


"Nyonya kenapa?" Emily bersujud di depan Alaris.


Mereka saling menatap.


"Apa aku pernah mengalami ini sebelumnya." Kata Alaris lemah.


"Nyonya mari istirahat." Samantha memapah Alaris menuju ranjangnya.


Tepat waktu, Austin masuk ke dalam kamar Alaris dan melihat wajah Alaris sangat pucat, keringat dingin mengucur di dahinya.


"Apa yang terjadi?" Austin panik dan langsung berada di dekat Alaris, memegang tangan Alaris.


Alaris menggelengkan kepala.


"Mungkin hanya terlalu lelah." Kata Alaris.


"Ada apa sebenarnya?" Austin melihat pada Emily dan Samantha.


Namun, 2 pelayan itu diam, mereka berfikir, kejadian itu harus di sembunyikan dari Austin karena dia pasti akan menghambat tujuan Tuan Harry yang mengirim mereka untuk membantu penyembuhan Nyonya Alaris.


Lagi pula, dengan cepat Alaris juga memegang lengan Austin. Mencegah Austin untuk bertanya lebih lanjut.


"Aku hanya kelelahan mungkin pengaruh kehamilan yang semakin besar." Kata Alaris.


Austin memasang wajah sedih, kemudian ia mencium dan mengecup lembut bibir Alaris.


Sontak saja membuat, Samantha dan Emily geram, namun sebisa mungkin mereka menutupi dengan wajah ramah dan senyuman yang canggung.


Setelah itu Samantha dan Emily berdiskusi di dalam kamar mereka.


"Kita harus melaporkan ini pada Tuan Harry" Kata Samantha.


"Aku rasa, sedikit dorongan yang agak besar tidak apa-apa, semua itu akan menstimulasi dan mengingat kenangan-kenangan lama, lalu membuat Nyonya Alaris bisa sembuh lebih cepat." Kata Emily.

__ADS_1


"Menurutku juga begitu." Kata Samantha.


"Aku kesal dengan semua pelayan di sini, mereka memata-matai kita seperti kita akan mencuri saja!" Kesal Emily.


"Mungkin itu perintah Tuan Austin. Mungkin dia takut kita melakukan sesuatu."


"Aku kesal dan membencinya, apalagi ketika dia mencium Nyonya!" Geram Emily.


"Ssst...!!! Pelankan suaramu, di sini bahkan dinding saja bisa mendengar dan berbicara." Kata Samantha.


Emily nampak kesal dengan semua yang ada di kastil itu, tapi demi majikan kesayangan dia harus bertahan di sana sampai Nyonya nya sembuh.


"Tuan Austin akan menerima pembalasannya jika Nyonya sembuh." Kata Samantha.


******


Beberapa hari berlalu dengan tenang, Samantha serta Emily mulai terbiasa dengan perilaku Austin dan Alaris yang kadang mereka saling mengecup dan mencium.


Tiba-tiba Alaris membuka mulut dan mulai berbicara pada para pelayannya setelah ia selalu diam.


"Apa kalian mengenal Tuan Leon dengan dekat, dia membawa kalian kemari, aku penasaran kalian dari penyalur mana, kalian trampil sekali?" Tanya Alaris.


"Aaahh.. Anda juga mengenal Tuan Leon Nyonya?"


Alaris ingat, bahwa 3 pria yang bertamu tidak pernah menyebutkan nama mereka di depannya, namun anehnya lidah Alaris begitu saja mengucapkan bahwa yang membawa mereka datang adalah Leon.


"Aku tidak tahu, jika dia benar-benar bernama Leon." Kata Alaris menelan ludahnya dan menjadi kikuk.


"Apa anda juga mengenal Tuan Harry Nyonya?" Tanya Samantha.


"Tuan Harry memukul Tuan Austin?" Tanya Emily terkejut.


"Lupakan, aku sudah merawat luka lebamnya dan itu sudah sembuh, aku hanya belum bisa memaafkannya saja." Kata Alaris.


Samantha dan Emily terdiam, lalu mereka paham dan mengangguk memasang wajah simpatik untuk Austin meski itu hanyalah kepura-puraan.


"Sudah selesai nyonya." Kata Samantha.


"Wah anda terlihat sangat cantik dan muda Nyonya!" Pekik Emily.


Kalimat itu kembali membuka ingatannya, ia seperti pernah mendengar pujian Emily jauh sebelum hari ini.


Alaris mengernyitkan sebelah matanya, itu sakit yang menusuk di kepalanya.


"Nyonya... Apa kepala anda pusing lagi?" Tanya Samantha.


"Tidak, ayo, antar aku makan malam, Austin pasti sudah menunggu.


Saat sampai di meja makan yang mewah dan ruangan yang luas, Alaris memandang Austin yang terlihat agak berbeda lagi dari kemarin.


Dia biasanya mengenakan pakaian yang nyaman dan praktis, tetapi hari ini pakaiannya jauh lebih rapi dan mewah, lalu rambutnya juga disisir rapi di tata dengan cermat, postur itu menekankan rahangnya yang kuat. Ketika Alaris meliriknya, mata mereka saling bertemu. Dan yang pasti, mata Austin basah lagi.

__ADS_1


"Apa kamu baik-baik saja Honey?" Tanya Alaris.


Austin kemudian memasang wajah sedih dan muram, benar-benar tidak terlihat baik-baik saja.


Ketika akhirnya mereka sendirian, karena para pelayan pribadi Alaris sudah pergi, Austin akhirnya berbicara dengan suara keras, seolah-olah kelelahan karena menahan diri terlalu lama.


"Alaris, kamu sangat cantik dan aku sangat merindukanmu, sejujurnya aku tidak kuat lagi menahannya, aku sangat ingin melihatmu lagi dan lagi, namun setiap kali aku melihatmu, aku ingin menciummu, setelah itu, setiap kali kita berciuman, aku selalu menginginkan lebih dan lebih. Aah... tidak, dengarkan. Jangan dengarkan racauanku, aku sangat frustasi akhir-akhir ini, mari kita lanjutkan saja untuk makan."


Austin panik, wajah nya kembali mali, dan ia tidak mau merusak suasana hati Alaris dengan racauannya.


Segera setelah bombardir kata-kata yang keluar dari bibir Austin itu muncul, Austin mengambil garpu dan pisau hendak makan.


"Apakah sesulit itu jika kita saling dekat?" Tanya Alaris meraih tangan Austin.


"Aku adalah istrimu, sudah sewajarnya jika kita dekat dan tidur bersama, apakah ada sesuatu yang sedang kamu sembunyikan, kenapa kamu memilih untuk menahannya?" Tanya Alaris.


'Mata Austin terlihat putus asa, namun juga menyiratkan bahwa kalimatnya adalah sebuah kejujuran yang sangat menyiksanya, dan aku pertama kalinya melihat bahwa mata manusia dapat setidak berdaya itu'


Tetapi bagi Alaris perilaku Austin saat ini tetaplah terlihat aneh baginya, apa yang salah dengan hubungan suami istri yang mereka jalin? Alaris terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


'Jika benar Austin takut karena bayi ini, mungkin aku bisa membantunya dengan cara lain?'


"Aku akan membantumu melampiaskannya tanpa kita melakukan hubungan badan." Kata Alaris.


Saat itu Austin sedang minum dan seketika ia memuncratkan airnya dan tumpah kembali ke gelasnya.


Austin terbatuk-batuk mendengar kalimat Alaris, wajahnya sangat merah padam. Austin juga mendadak sangat malu.


"Honey, ada apa? Kamu baik-baik saja?"


"Ya, aku hanya terkejut, maafkan aku, tapi sejujurnya aku yakin itu tidak akan berhasil." Austin tersenyum canggung.


"Oh … Apakah kamu punya solusi lain?" Tanya Alaris polos dan lugu.


Tatapan mata Alaris yang penuh harap agar Austin segara menjawab, membuat pria itu tertawa pelan dan malu.


"Kamu sangat menggemaskan, bagaimana bisa aku melupakanmu dan melepaskanmu, kemudian aku akan hidup sendiri tanpamu. Aku sudah terbiasa hidup bersamamu." Austin membelai kepala Alaris.


"Jadi, mari kita hidup bersama selamanya." Ajak Alaris.


Sekali lagi Austin tersenyum malu.


"Kamu sangat manis dan cantik, bagaimana ini, aku bisa mati di sini." Kata Austin sedih lalu mengecup jemari Alaris.


"Lalu... Apakah kamu ingin aku menutupi wajahku?"


Alaris menatapnya dengan cemas, tetapi Austin justru tertawa lagi, ia lalu menggelengkan kepalanya.


"Tidak perlu, aku hanya akan semakin tersiksa jika tidak melihatmu. Lagi pula itu tidak akan berhasil, karena wajahmu sudah terukir di sini dan di sini."


Austin menunjuk kepala dan hatinya dengan tangan yang masih menggenggam tangan Alaris.

__ADS_1


"Ayo makan." Ajak Austin.


bersambung~


__ADS_2