
"Brida batalkan acara ulang tahun ku malam ini." Kata Alaris.
"Tapi nyonya..."
"Batalkan saja, aku akan bicara dengan William mengenai Hector."
"Baik Nyonya."
Samantha dan Emily sangat takut, Greisy yang merasa geram ingin sekali mencungkil mata Axella.
Namun Greisy tidak bisa berbuat apapun tanpa persetujuan Alaris.
Alaris kemudian berjalan dengan tatapan kosong dan wajah dingin, Alaris menuju ruang kerja William, namun William tidak ada di sana, dengan inisiatifnya Alaris pergi ke mansion selatan dan menuju kamar Axella.
Ketika tiba di depan kamar Axella, Alaris menghentikan langkahnya, ia ingin mendengarkan apa yang akan Axella katakan pada William, saat itu pintu terbuka lebar.
"Apa Axella baik-baik saja dokter?" Tanya William.
Dokter sedang memeriksa tubuh dan perut Axella, lalu memeriksa kondisi bayinya.
Dengan ekspresi serius di wajah William, pria itu tidak bisa menahan diri. William benar-benar tidak sabar dan tidak tenang.
Axella memandang dokter dengan matanya yang basah dan bengkak karena terlalu banyak menangis.
"Apakah anakku baik-baik saja dokter? Aku sangat takut."
William mendecakkan lidahnya khawatir dan frustasi.
"Anakku sehat kan Dokter? Anak ini sangat penting dan sangat berharga bagi saya." Kata Axella lagi memohon.
"Kamu jauh lebih penting daripada bayi nya Axella."
"Tapi William...
"Berhenti berdebat Axella dan jangan terlalu banyak berfikir, tenang lah dan rileks." Kata William, dia yang justru terlihat panik dan frustasi namun menginginkan orang lain tenang.
Dokter mundur lalu menjawab dengan sedih.
"Saya sudah mengatakannya sebelumnya, jangan ada tekanan pada Nona Axella, ataupun membuatnya stress." Kata sang dokter.
"Apa Axella terluka?" William menjawab dengan tajam.
"Bukan itu tuan. Anda harus sangat berhati-hati pada tahap awal, dan dia tidak kuat secara fisik. Cobalah untuk menghindari situasi seperti tadi, kalau tidak dia bisa keguguran."
William marah dan menendang sofa. Axella takut dan dengan air mata yang mengalir dia menggenggam selimut lebih erat.
__ADS_1
William memejamkan mata dan mengatur napas dalam sebelum berbicara agar lebih tenang.
Dokter kemudian keluar, dan terkejut melihat Alaris, namun dengan cepat Alaris menempelkan telunjuknya di depan mulutnya, kemudian sang dokter menundukkan kepala dan pergi berlalu.
"Axella. Perhatikan kata-katamu saat ada di depan Hector. Dia adalah pria yang cepat marah. Aku akan menuntutnya sebagai tindakan yang membahayakan orang lain, di akan di hukum dan di penjara."
Alaris yang mendengarnya seketika membuat dadanya terasa sakit seperti dihujami pisau.
Axella mengernyitkan kedua alisnya.
"Memperhatikan kata-kataku William?"
"Apa kamu menyinggung masalah ku dengan Alaris? Aku mendengar dari seseorang, kamu mengatakan tentang kesehatan Alaris, yang tidak bisa memberikan anak padaku."
"A-ah tidak... Aku tidak mengatakan itu, aku mengatakan jika Nyonya Alaris juga bisa membesarkan dan menganggap anakku sebagai anaknya, kita akan menjadi satu keluarga yang harmonis"
Axella dengan cepat dan yakin menggelengkan kepalanya.
"Nyonya Alaris sendiri yang bilang, bahwa dia tidak ingin kehilangan perusahaannya yang berharga, dan tidak akan rela jika kelak anakku menjadi pewaris Liam grup." Kata Axella lagi.
"Alaris adalah wanita yang sangat menjaga citranya, dia dengan sangat ekstrem menjaga nama baiknya. Bagaimanapun kalian bertemu dengan pertengkaran Alaris tidak pernah memperpanjangnya dan lebih memilih untuk tidak terlibat apapun." Kata William membela Alaris.
Axella memerah mendengar jawabannya. Alih-alih berpihak pada Axella, William justru melindungi citra Alaris. Perasaan tidak nyaman dan cemburu berkobar di dalam dada Axella. Pada tingkat ini, sepertinya Axella justru terjatuh sendiri karena menghina Alaris.
"Nyonya Alaris selalu memandang ku dingin dan rendahan, mereka bahkan tidak mau menolongku ketika perut ku sakit, aku kesakitan dan meminta pertolongan pada mereka namun pandangan mereka seolah jijik denganku."
William berusaha menenangkannya.
Axella merasa kini posisinya sedang di ragukan oleh William. Axella tidak mau hidup sebagai wanita seperti dulu, di penjara, di rantai, di siksa, kedinginan, dan di penuhi hari-hari yang menakutkan saat melayani Reed di atas ranjang yang terkutuk itu.
Axella membayangkannya saja sudah sangat muak dan bertekad tidak akan mau menjadi seperti itu lagi, dia sudah sampai di titik tertinggi.
Jantung Axella menjadi panas. Dia merasa bahwa dia sudah ditinggalkan oleh William, dan William tidak percaya lagi padanya.
"Tidak boleh seperti ini." Kata Axella.
William melihat pada Axella, ia mengerutkan keningnya.
"Hector mendorongku." Kata Axella berbohong.
"Benarkah? Ucapanmu bisa di pertanggung jawabkan Axella? Ada banyak saksi di sana, semua pelayan melihat mu dan Hector. Aku akan memeriksa cctv jika Hector benar-benar mendorongmu."
Axella tidak memikirkan semuanya dengan jernih, ia langsung mengatakan itu karena ia terdesak, William tidak lagi percaya pada kata-katanya.
"Pokoknya aku sangat takut padanya, apa kamu mau kehilangan anakmu, karena aku stress melihat kemarahan dan kemurkaannya?" Kata Axella.
__ADS_1
"Kamu lupa apa yang dokter katakan?" Kata Axella lagi.
"Jika Hector tidak menyakiti fisikku, tapi dia menyakiti mentalku, dia mendorong semua psikis ku jatuh dan membuat anakku dalam bahaya!" Axella kembali meluncurkan tuduhan-tuduhannya pada Hector.
Tatapan William berubah menjadi sekeras baja.
"Orang itu selalu seperti itu, dia selalu meluapkan amarahnya seolah dia yang paling jagoan, sekarang dia akan mengerti dia sedang berurusan dengan siapa, apa dia akan menyombongkan diri lagi." Kata William.
"Apa dia akan lama di penjara?" Tanya Axella.
"Dia akan mendekam lama, akan ku buat dia sangat lama dipenjara. Sekarang Jason sedang mengurusnya di sana."
"Lalu Nyonya Alaris, dia pasti akan tetap melindungi adiknya, apalagi dia juga tidak berusaha menolongku saat aku meminta pertolongannya?" Tanya Axella.
"Aku akan mengajukan perceraian dengan Alaris, dia harus siap menerima konsekuensi itu, dia harus tahu ini semua akibatnya memiliki adik yang tempramental, apalagi dia juga hanya diam melihatmu kesakitan, dia pasti berharap kamu keguguran dan aku akan membuat Aldawn menjadi anggota Liam Grup, dia akan pergi tanpa membawa sepeser uang pun."
Alaris yang mendengar itu kakinya menjadi lemas, ia menyangga tubuhnya menggunakan tangannya yang ada di dinding. Alaris mencoba sesabar mungkin dan tidak ingin terlibat apapun karen ia tahu William akan mengambil Aldawn.
Kemudian Alaris kembali dengan perasaan hampa, itu adalah perusahaan yang susah payah ia bangun, itu adalah hasil kerja kerasnya, tidak makan dan tidak tidur.
Sekembalinya di kamar Alaris kemudian terduduk dengan muram.
"Bagaimana Nyonya." Tanya Brida.
"Hubungi Harry sekarang." Kata Alaris.
Semua yang ada di dalam ruangan itu bertanya-tanya apa yang telah terjadi, apakah Alaris bertengkar hebat dengan William ataukah Axella baru saja mengeluarkan kalimat pedas yang membuat Alaris tersinggung.
Namun, selama ini Alaris bukanlah wanita yang gampang tersulut hanya dengan kalimat-kalimat Axella.
"Sudah tersambung Nyonya." Kata Brida.
"Ya Alaris."
"Bisakah aku meminta tolong padamu? Ini tentang adikku dan yang satu lagi tentang perusahaan Aldawn." Kata Alaris.
"Apa itu?"
"Aku meminta tolong keluarkan adikku dari penjara, dan aku memintamu untuk membantuku mengambil kembali Aldawn, karena William akan mengajukan perceraian. Dia akan menuntut seluruh aset Aldawn menjadi bagian dari Liam Grup."
Semua yang ada di dalam ruangan kamar Alaris terkejut dan hampir pingsan.
"Astaga... Tuan William memang sudah gila." Kata Emily.
"Axella si ular itu bagaimana jika aku menghabisinya saja." Kata Greisy
__ADS_1
"Kenapa semuanya menjadi seperti ini." Kata Samantha.
bersambung~