Pernikahan CRAZY RICH

Pernikahan CRAZY RICH
"KITA MENIKAH"


__ADS_3

Alaris berjalan-jalan di temani Harry, melihat-lihat taman belakang yang luas.


"Ini terlalu indah, dan sayang jika tidak di abadikan." Alaris mengeluarkan ponsel dan memotretnya.


"Kamu akan menikmatinya setiap hari." Kata Harry.


"Apa taman ini Leon juga yang menggarapnya."


Harry menaikkan kedua alis pertanda iya.


Mata Alaris kemudian tak sengaja melihat Leon yang sedang berbicara dengan Zoland.


"Aah itu Leon..." Kata Alaris.


Alaris baru saja ingin melangkah kan kakinya dan ingin menyapa Leon, namun dengan cepat Harry menggapai tubuh Alaris memeluknya dari belakang dengan satu tangan besarnya lalu berbisik di telinga Alaris.


"Mungkin mereka sedang sibuk." Bisik Harry.


Itu benar-benar seperti pelukan dari belakang dan ciuman di telinga.


Alaris melepaskan dirinya dan memiliki wajah yang sangat merah.


"Orang lain akan melihat kita." Kata Alaris malu dan melepaskan diri dari pelukan Harry.


"Mereka semua tahu kalau kamu adalah calon istriku."


Alaris tertegun.


"Aku sudah mengumumkan sebelumnya jika aku akan membawa calon istriku dan mereka harus patuh pada mu." Kata Harry.


Alaris masih diam tertegun, namun suara di belakang cukup mengejutkannya.


"Anda pasti terkejut saya ada di sini dan membantu Harry mengeluarkan anda dari Mansion." Kata Leon berbicara dari belakang.


Dengan cepat Harry menarik tangan Alaris untuk mendekat dengannya.


"Posesifmu berlebihan, Tuan Harry." Ledek Leon.


"Untuk orang sepertimu." Kata Harry.


Leon tertawa, berbeda dengan Harry, wajahnya masih datar dan tak berekspresi.


"Anda tidak berniat kembali ke mansion The Kingham bukan?" Tanya Alaris.


"Ya saya harus kesana. Menemui kekasih saya." Leon tertawa kecil dan terlihat bahwa kalimatnya terasa begitu menggelikan bagi dirinya sendiri, seolah itu adalah lelucon yang menghibur.


Harry hanya tersenyum getir dan sinis. Tatapan matanya seolah memperingatkan Leon.


"Kekasih?" Tanya Alaris.


"Ahh... Saya berteman dengan seorang pelayan di sana saking dekatnya kadang saya menyebutnya sebagai kekasihku." Leon menyeringai nakal.


Namun Harry tidak peduli dengan seringai nakal Leon.


"Ayo kita jalan-jalan lagi." Ajak Harry.


"Tapi...."


"Leon orang sibuk, dia akan mengurus sesuatu." Kata Harry.


Kemudian Harry menggandeng tangan Alaris dan hendak membawanya pergi.


"Saya permisi Tuan Leon." Kata Alaris.


"Ya, hati-hati Alaris, mungkin lebah atau semut kecil pun akan diinjak mati oleh Harry, jika mereka berani menempel padamu." Kata Leon tersenyum.


Alaris hanya mengernyitkan kedua alisnya, bahwa apakah itu peringatan baginya bahwa Harry adalah pria yang benar-benar kejam.


"Jangan dengarkan kata-katanya, dia selalu mengeluarkan kalimat tidak berguna." Kata Harry.


"Bukankah kalian berteman?" Tanya Alaris.

__ADS_1


"Ya."


"Aku masih penasaran, apa kalian tidak akur? Apa dulu kalian pernah memperebutkan wanita? Atau semacamnya? Harta atau sesuatu yang lain mungkin?"


"Tidak pernah." Kata Harry singkat.


Melihat Harry tidak terlalu peduli menanggapi masalah Leon membuat Alaris semakin penasaran.


"Tapi kenapa Leon masih pergi ke mansion The King..."


Belum sempat Alaris menyelesaikan kalimatnya Harry menarik tubuh Alaris dan mencium bibir Alaris kembali.


Ciuman yang cukup lama dan sangat dalam, membuat Alaris terkejut dan kwalahan, apalagi saat itu dia dalam posisi tidak memiliki pertahanan.


Sebelum Alaris kehabisan nafas, Harry melepaskannya, namun tangan kekar berotot itu masih memeluk tubuh Alaris.


"Berhenti membicarakan pria lain." Senyuman Harry lebar namun itu senyuman yang seperti peringatan bahwa ia tidak menyukai pembahasan itu.


Alaris hanya mengangguk pelan, namun saat itu matanya terkejut melihat sosok yang tidak asing.


"Itu dia..." Kata Alaris dan melepaskan diri dari pelukan Harry.


Namun orang yang Alaris kenali justru ingin menghindarinya.


"Hector... Berhenti." Alaris mengejar dan berlari.


Namun Hector terus berlarian.


"Hector!" Alaris berteriak dan menangkap adiknya.


Nafas Alaris kembang kempis, tangannya mencengkram kerah baju adiknya.


"Sebentaaar... Sebentaaar... Sudah cukup larinya.... Kenapa kamu lari." Kata Alaris terengah.


"Maafkan aku kak..." Kata Hector mengiba.


Seketika Alaris terkejut kenapa Hector meminta maaf.


Alaris menemukan adiknya, keluarga satu-satunya yang selalu membuat onar di sekolahan, berkelahi dan membolos, namun kini Hector meminta maaf atas kejadian yang menimpa kakaknya. Hector bukan pria yang bisa meminta maaf.


"Maafkan aku karena perbuatanku, William menjadi menceraikanmu." Kata Hector.


"Adikku..." Alaris memeluk Hector sembari menangis.


"Kamu keluargaku satu-satunya, aku merindukanmu, aku khawatir padamu, syukurlah kamu baik-baik saja...." Air mata Alaris mengalir.


Alaris memeluk Hector begitu erat dan sangat lama.


"Kamu tidak marah padaku?" Tanya Hector.


Kemudian Alaris melepaskan pelukannya.


"Aku marah tapi bukan padamu, aku marah pada diriku sendiri, kenapa aku menikahi orang yang tidak bisa menjaga adikku." Kata Alaris menghapus air matanya.


"Bukankah aku yang membuat pria badjingan itu menceraikanmu."


"Memang seharusnya berpisah. Bukan karena kamu." Kata Alaris meredam perih hatinya.


"Tapi perusahaan Aldawn?"


"Aku akan memikirkannya." Kata Alaris.


Hector memeluk Alaris lagi.


"Hei sedang apa kamu di sini?" Tanya Alaris.


"Aku mengendap-endap mengikutimu, aku rindu padamu. Tapi Harry tahu aku mengikuti kalian, jadi aku ingin pergi dan justru tertangkap oleh mu." Kata Hector.


"Sejak kapan kamu mengikuti kami?"


Hector diam dan tidak menjawab, wajahnya menunjukkan raut yang malu dan salah tingkah.

__ADS_1


"Sejak saat aku menciummu." Lanjut Harry menyela.


"Jadi..." Alaris membulatkan matanya.


'Jadi apa Hector melihatku berciuman dengan Harry, jadi...'


"Aku sudah besar dan mengerti, jangan melihatku seperti anak kecil lagi." Kata Hector.


"Bagiku kamu selalu anak kecil yang sangat kecil dan nakal." Kata Alaris.


"Aku sekarang bekerja di perusahaan milik Harry. Jadi aku sudah besar, jangan menganggapku seperti anak kecil lagi Alaris, meskipun aku adikmu, tapi tubuhku lebih besar darimu, aku lah yang selalu melindungi mu saat mereka semua menjahili dan menyakitimu."


"Siapa yang sudah besar? Mana ada anak laki-laki berusia 25 tahun berkelahi dengan wanita." Kata Alaris santai.


"Dia bukan wanita, dia iblis. Lagi pula jika ada orang yang menyakitimu aku tidak akan diam saja meskipun itu wanita atau orang tua sekalipin." Kata Hector.


Alaris menelan ludahnya, ingatannya kembali pada sosok Axella yang ia selamatkan.


'Benarkan sosok cantik yang pernah ku selamatkan adalah iblis?'


"Aku mendengar kamu sudah tiba di Kastil Emperor, dan aku sangat khawatir apa kamu baik-baik saja, dan sekarang aku sudah bertemu denganmu Alaris, aku sudah tenang, selama di sini Harry sangat baik padaku, bahkan memberikanku pekerjaan, mempercayakanku memimpin dan memiliki jabatan yang cukup tinggi, aku akan kembali bekerja." Hector pergi dan melambaikan tangannya.


Alaris menempelkan telapak tangannya di dahinya.


"Kamu sakit?" Tanya Harry yang ikut menempelkan tangannya yang besar di dahi Alaris.


"Aah... Tidak, aku hanya merasa lega, tapi juga cemas, apa dia akan bekerja dengan baik, sifatnya masih sangat emosian."


"Dia belajar banyak dari kejadian kemarin, dia pasti tidak ingin menyusahkanmu, dia menyalahkan dirinya berkali-kali, katanya dia sangat marah karena terlalu menyayangimu, dia hampir saja membunuhnya jika ia tidak mengingat wajahmu yang paling dia sayangi."


Alaris menitikkan air matanya lagi, dan Harry memeluknya.


"Kamu hebat Alaris."


"Tidak, aku masih lemah."


"Kamu harus memilih, jangan terlalu lama memutuskan."


Alaris menarik nafas dan ia masih bersandar di bahu besar Harry.


"Aku memilih kamu menghancurkan Liam Grup."


Harry melihat pada Alaris.


"Kamu yakin?" Tanya Harry.


"Lebih baik Aldawn hancur dari pada dimiliki oleh mereka." Kata Alaris.


"Tapi aku bisa mengakuisisi Liam dan Aldawn menjadi milikmu lagi."


Alaris menggelengkan kepalanya.


"Aku membenci Liam seluruh yang berkaitan dengan Liam."


Harry membuang nafasnya.


"Tapi kamu tetap harus menikah denganku, itu akan menjadi pukulan yang berat bagi William."


"Aku menerima itu juga."


"Apa?" Harry melihat pada Alaris yang tak percaya pada pendengarannya.


"Kita menikah." Kata Alaris.


Sedikit demi sedikit Harry tersenyum, kemudian menjadi senyuman yang lebar, lalu tawa, namun tawanya mengandung air.


Alaris melihat itu.


'Apa dia menangis bahagia?'


bersambung~

__ADS_1


__ADS_2