Pernikahan CRAZY RICH

Pernikahan CRAZY RICH
YUMNA


__ADS_3

Tok Tok Tok !


Pintu di ketuk.


"Tuan Harry ada yang harus anda temui." Kata Zoland dari balik pintu.


"Apakah tamu penting?" Tanya Harry masih di dalam ruangan.


"Sepertinya ini harus anda tangani sendiri." Balas Zoland lagi.


"Pergilah aku tidak apa-apa."Kata Alaris.


"Benar tidak apa-apa?" Tanya Harry.


"Melihat mood mu sudah kembali aku tidak cemas lagi." Kata Alaris.


Harry tersenyum dan mencium bibir Alaris.


"Apakah aku harus berhenti bekerja saja? Dan setiap hari kita bermesraan?"


"Kamu jangan asal bicara, temui dia, mungkin tamu itu membawa kabar penting masalah perusahaan." Kata Alaris mendorong pelan suaminya ke pintu.


Dengan berat dan malas Harry pergi membuka pintu.


"Aku mencintaimu." Kata Harry.


Alaris tersenyum tersipu malu, karena dilihat oleh Zoland, kemudian hanya menunduk tanda mengerti.


Kemudian Harry pergi ke ruang kerjanya dengan bernyanyi-nyanyi kecil.


'Apa dia Bipolar?' Kata Zoland dalam hati.


'Sebentar sedih sebentar lagi bahagia.'


"Zoland, katanya Alaris cemas dan mengkhawatirkanku." Kata Harry tertawa dan tersenyum lebar.


"Senang melihat anda kegirangan tuan, semoga anda selalu girang walaupun setelah anda masuk ke dalam ruangan kerja." Kata Zoland dengan peringatan.


Kemudian Zoland membuka pintu ruangan kerja Harry.


Wajah Harry yang awalnya di penuhi oleh suasana hati yang senang dan gembira, mendadak raut wajahnya menjadi gelap, seolah awan hitam bergumul di atasnya, dan petir menyambar-nyambar.


"Saya ada di luar Tuan." Kata Zoland dan menutup pintu.


"Bagaimana kamu bisa membiarkannya masuk ke dalam ruangan kerjaku." Wajah iblis Harry keluar.


"Saya akan memeriksa siapa pengkhianat yang ada di kastil Emperor. Saat saya hendak mengusirnya, tapi katanya ini terkahir kalinya ia akan menemui anda, dan akan pergi ke prancis. Saya permisi." Bisik Zoland.


Zoland menunggu di luar dan menutup pintu.


"Ada apa?" Tanya Harry dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.


"Aku ingin memberikanmu selamat Harry."


"Tentang?"


"Pernikahanmu."

__ADS_1


"Yumna, pernikahan ku sudah berjalan kemarin." Kata Harry.


"Bukankah baru kemarin, sekarang masih belum terlambat untuk mengucapkan selamat, dan lagi, aku di kurung di sebuah ruangan saat akan menghadiri pernikahanmu, apa kamu mengira aku akan merusak pesta pernikahanmu." Kata Yumna.


"Aaa... Sejujurnya iya." Kata Harry.


"Aku terluka Harry, kenapa kamu sangat susah di temui, dan lagi, untuk mengucapkan selamat pun aku tidak bisa karena banyak yang menghalangi aku bertemu denganmu." Kata Yumna.


"Jangan basa-basi, katakan apa maumu." Kata Harry dengan wajah gelap.


"Sekali saja, berikan aku kesempatan untuk bersulang denganmu." Kata Yumna dan menuangkan alkohol ke masing-masing gelas.


Yumna menyodorkan 1 gelas pada Harry.


"Aku tidak pernah minum alkohol."


"Satu tegukan saja Harry, dan aku janji akan mengatakan pada Ayah untuk melepaskanmu, aku akan mengatakan pada ayahku untuk tetap mendukungmu."


Harry diam dan hanya melihat gelas wine yang ada di tangan Yumna.


"Harry, aku tidak meracunimu, aku bersungguh-sungguh, setelah kita bersulang atas pernikahan mu, aku akan pergi ke perancis, dan aku akan bilang pada ayah bahwa aku sudah merelakanmu."


Harry masih diam.


"Bukankah kamu butuh dukungan presiden agar mendapat dukungan kekuatan dari Negara Slyvedonia agar bisa menekan Negara Vernecia? Lagi pula bukankah kamu ingin mencalonkan diri menjadi presiden Negara Slyvedonia? Kamu butuh ayahku dan para pengikut ayahku." Tanya Yumna.


Harry kemudian mengambil gelas wine itu.


"Penuhi janjimu." Kata Harry kemudian meneguk wine itu.


"Ya... Harry, hanya satu tegukan itu sudah cukup bagiku." Kata Yumna tersenyum.


"Alaris..." Kata Harry mengguncangkan kepala dan membuka serta menutup matanya.


Gelas itu jatuh dan pecah di lantai.


Tubuh Harry mulai memanas. Wajah Yumna kembali dan Alaris menghilang. Kemudian berganti lagi menjadi wajah Yumna.


"Tidak... Sialan... Obat apa yang kamu taruh di minumanku."


"Tenang saja Harry, lebih tepatnya aku menaruhnya di dalam botol, dan kita akan terbang bersama." Kata Yumna.


Kemudian Yumna meminum sedikit wine nya agar tubuhnya ikut memanas. Baru beberapa detik Yumna sudah merasakan tubuhnya memanas, ia membuka seluruh pakaiannya, dan mendesahh liar, kini pakaiannga hanya tersisa pakaian dalam.


"Alaris?" Tanya Harry.


"Kenapa kamu tiba-tiba ada disini istriku?"


Harry memandang Yumna yang ia kira adalah Alaris, dengan wajah bertanya dan dengan heran, semakin lama jantung Harry semakin berdebar kencang begitu matanya melihat tubuh Yumna yang tinggal memakai pakaian dalam.


Harry menelan ludah, tak kuasa bisa menahan gejolak dalam dirinya, namun obat itu belum sepenuhnya mempengaruhinya. Sosok Alaris itu tiba-tiba menghilang berubah menjadi sosok Yumna.


Kemudian Harry mendorong wanita itu.


"Aahh... Harry itu sakit."


Wajah Alaris terlihat kembali sedang merajuk pada Harry.

__ADS_1


Tiba-tiba Harry mendekat dan mengangkat tubuh Yumna yang ia lihat adalah Alaris, Harry tidak bisa tidak memperdulikannya.l, itu adalah wajah istrinya.


Harry kemudian menekan jantung dan dadanya, pupil matanya semakin tidak bisa di koordinasi, otaknya merasakan distorsi , Harry mencengkram dadanya.


‘Apa yang sedang terjadi?’ Nafas Harry tersengal.


Yumna tersenyum dan melingkarkan kedua tangannya ke dalam tengkuk Harry, Yumna juga menelan ludah melihat Harry yang terlihat semakin tampan.


"Kamu mengatakan kepadaku bahwa kamu tidak pernah mencintaiku, sekarang kamu sudah dalam sangkar ku."


Harry terus menatap wajah Alaris namun berubah menjadi Yumna.


Harry memukul kepalanya, juga, seolah-olah dia ingin menyangkal sesuatu, dia menggelengkan kepalanya dan menggigit bibirnya.


Yumna menarik tubuh Harry agar lebih mendekat.


Harry sadar ini bukan hal yang seharusnya terjadi, dia terpengaruh dalam obat yang aneh, Harry kemudian mundur selangkah, tetapi wajahnya masih merah.


"Harry, ini aku..." Kata Yumna.


Yumna berubah kembali lagi menjadi Alaris.


Berulang kali Yumna memanggil Harry dengan suara seksi yang mengundang, ia juga menggeliat manja.


Harry menekan wajahnya dengan telapak tangannya yang besar, wajahnya yang memerah dengan telapak tangannya yang mencengkram kemudian Harry menggertakkan giginya.


"Wine itu, kamu memberikannya obat apa..." Kata Harry dengan kesulitan.


Harry semakin bertingkah aneh dan jantungnya berdebar tak terkendali.


Dengan susah payah lagi Harry ingin memberikan ultimatumnya lagi.


"Yumna!"


Tapi suara yang Harry keluarkan justru sesuatu yang membuat Yumna semakin dahsyat menginginkannya. Suara seksi yang parau namun juga ada aksen ketegasan.


Harry merasa sangat putus asa ketika dia menyadari bahwa suaranya sendiri di luar kendalinya. Sementara itu, Yumna semakin gencar ingin mengambil Harry, ia masih sangat sadar karena Yumna hanya meminum wine nya sedikit, Yumba juga merasa sangat senang mendengar suara yang seksi itu keluar dari mulut Harry.


Mata Harry menatap Yumna, namun ia tidak dapat berbuat apapun, Harry ingin menatap dengan ganas dan mengeluarkan sisi iblisnya, namun obat itu semakin mengikatnya dan justru tatapan yang penuh gairah muncul.


Yumna sangat memimpikan momen ini selama ia bertemu pertama kalinya dengan Harry di pesta ulang tahunnya. Harry datang karena permintaan Sang Presiden. Sekarang Yumna akan menggunakan kesempatan ini dengan baik.


Yumna mengelap keringat dingin di dahi dan di leher Harry, perbuatan itu membuat Harry semakin kesulitan, ia tidak mampu mendorong Yumna karena tubuhnya tidak mau mendengarkan perintahnya, dengan jemari Yumna, keringat itu di sapu.


"Ini seperti mimpi bagiku." Kata Yumna


"Aku ingin menikmatinya perlahan. Ini sangat menyenangkan melihatmu bertekuk lutut pada gairah yang tersiksa untuk mendapatkanku." Kata Yumna.


Yumna mengangkat tangannya yang gemetar dan perlahan membuka kancing kemeja milik Harry.


Harry menggeleng namun Yumna berubah kembali menjadi Alaris, tangan besar yang kekar Harry mencengkaram kembali wajahnya sendiri.


"Aku akan membantumu membuka pakaian." Kata Yumna.


Harry tidak bisa bergerak, tidak mampu menahan, tidak kuat mendorong, dan tidak juga bisa menghindar, ia merasa seolah-olah dia dalam keadaan kelumpuhan yang memiliki gairah bagaikan banteng.


Tubuhnya berada di luar kendalinya.

__ADS_1


bersambung~


__ADS_2