
William tidak berhenti bicara saat ia menginginkan Alaris, wajahnya terlihat putus asa, dan yang membuat Alaris terkejut adalah.
'Apakah William menangis? Untukku? Agar aku mau kembali ke sisinya?'
CEKLEK! Pintu di buka oleh seorang petugas.
"Waktu kunjung habis." Kata petugas itu.
"Alaris, beehati-hatilah dengan Harry, mungkin dia akan marah karena tahu kamu menemuiku, jika dia menyakitimu, tinggalkan dia dan kembali lah padaku."
Kemudian petugas itu membawa William pergi, dengan wajah penuh kesedihan William kembali masuk ke dalam dan meninggalkan Alaris.
Wajah Alaris dingin tanpa ekspresi apapun, namun hatinya tidak tega, tapi bagaimanapun itu, William harus menanggung segala tindakannya di masa lalu.
'Apakah Harry akan menyakitiku jika dia tahu aku menemui William? Apa Harry akan marah dan akan menyiksaku?'
Alaris kemudian kelaur dari ruangan kunjungan.
Jason memasang wajah seolah ingin mendengar sesuatu dan berharap Alaris memberikan suatu informasi.
"Aku akan bicara pada Harry untuk memindahkan William ke penjara VIP." Kata Alaris.
"Apakah Tuan William baik-baik saja?" Tanya Jason.
Alaris diam sejenak.
"Dia sepertinya kesulitan dengan semua tekanan yang Harry lakukan, aku tidak tahu kebenarannya, tapi ku harap dia tidak mengatakan tanpa dasar, akan tetap aku tanyakan hal ini pada Harry, apakah dia terlibat dengan kasus William di tempatkan di penjara ini." Kata Alaris.
"Terimakasih Nyonya. Terimakasih sudah mau datang menjenguk Tuan William." Kata Jason menunduk.
"Aku juga akan membantumu mencari Gloria." Kata Alaris.
Jason mendelik kaget.
"Dia adik sepupumu, aku hanya menawarkan bantuan sebisaku, itupun jika kamu bersedia."
Jason memikirkannya, matanya ke kiri dan ke kanan, ia merasa sangat malu terhadap Alaris mengingat masa lalu tentang apa yang telah ia dan William lakukan pada Alaris.
"Saya..."
"Pikirkan dulu baik-baik." Kata Alaris.
"Ayo Brida, kita kembali."
"Baik Nyonya."
Alaris keluar, saat itu matahari di pantai begitu terik dan Alaris sudah sangat menahannya selama ada di dalam ruangan yang panas.
Tiba-tiba ketika Alaris hendak masuk kedalam mobil, tubuhnya terhuyung, Brida langsung menahan tubuh Alaris dari belakang.
"Nyonya, apa anda sakit?" Tanya Brida.
"Aku hanya sedikit lelah, di sini sangat panas, sepertinya aku dehidrasi."
"Kita akan menuju apartmen lebih dulu Nyonya, saya akan menghubungi manager Apartmen Emperor."
Alaris hanya mengangguk.
Setelah perjalanan panjang, dan Alaris terus memijit-mijit pelipisnya, mereka akhirnya sampai di Apartmen Emperor.
Alaris turun di papah Brida.
Seorang manager dan penangung jawab Apartmen Emperor menyambut Alaris.
"Selamat siang Nyonya Alaris." Sapa sang manager.
__ADS_1
Semua karyawan juga berbaris dan menunduk.
"Maaf, karena tubuh Nyonya Alaris sedang tidak baik saya akan langsung membawanya ke dalam." Kata Brida.
"Silahkan..." Manager menunjukkan kamarnya.
Itu adalah presidential suite, kamar termewah yang ada di lantai paling atas dan hanya di tempati oleh Harry.
Alaris masuk dan duduk di atas ranjang besar bak ranjang yang ada di istana.
"Saya permisi Nyonya, sebentar lagi akan ada jamuan yang datang ke sini." Manager itu menunduk dan undur diri.
Alaris kemudian berbaring.
"Nyonya akan saya bantu mengganti piyama." Kata Brida.
"Aya, itu lebih baik, aku hanya ingin tidur." Kata Alaris.
Kemudian Alaris duduk kembali dan Brida mengganti pakaian Alaris dengan piyamanya.
Setelah selesai, tak butuh waktu lama, Alaris sudah tertidur di atas ranjangnya, sedangkan jamuan baru tiba.
"Nyonya Alaris sedang tidur taruh saja di sana." Perintah Brida.
"Baik Nyonya."
Setelah beberapa saat berlalu, ponsel Brida bergetar, itu adalah Harry.
"Tuan Harry..." Jawab Brida.
"Manager apartmen menghubungiku, Alaris berada di Negara Vernecia dan sedang di apartmen Emperor."
"Be... Benar Tuan."
'Apa Nyonya Alaris tidak bilang pada Tuan Ha**rry bahwa Nyonya menemui Tuan William?'
"Apa Tuan Harry marah?" Brida meremas ponselnya dengan erat dan melihat ke arah Alaris yang sudah tidur pulas seperti bayi.
Melihat bagaimana kejamnya Harry, Brida semakin gusar, cemas dan merinding.
Selama beberapa jam Brida tidak bisa istirahat, bahkan ia tidak bisa konsentrasi dengan berkas yang ada di hadapannya, Harry tidak berbicara sepatah katapun, dan langsung menutup telfonnya.
Brida melihat lagi ke arah Alaris, dia masih tidur, padahal hari sudah sore.
TING TONG!
Terdengar suara bel pintu.
Brida melihat siapa yang datang dari layar monitor. Pria tampan dengan mantel panjang dan syal di lehernya.
"Astaga Tuan Harry!!!"
Dengan buru-buru Brida membuka pintu dan mundur.
"Tuan Harry..." Sapa Brida.
Zoland berada di belakang.
"Dimana istriku." Tanya Harry.
Zoland membantu melepaskan mantel dan syal milik Harry, kemudian jas milik Harry juga.
"Ada di dalam kamar sedang tidur Tuan." Kata Brida.
"Kalian pergi." Perintah Harry dengan dingin.
__ADS_1
"Baik Tuan." Brida sangat khawatir, ia melirik sedikit. Namun hanya terlihat punggung Harry yang besar dan kekar menuju ke dalam kamar Alaris.
Kemudian Zoland pergi di susul dengan Brida yang tidak tenang.
Harry masuk ke dalam kamar, melihat istrinya sedang tidur. Pria itu kemudian membuka dasi dan menggulung lengan kemejanya.
Sebenarnya Alaris sudah bangun dan mendengar Harry datang, namun entah kenapa ia tidak ingin membuka mata, ia mendengar Harry datang tapi dia hanya ingin terus berpura-pura untuk tetap tidur.
Harry mendekat dan duduk di kursi tanpa sandaran, tepat di samping ranjang Alaris.
Kemudian tangan kekar itu mengelus pelan kepala Alaris.
"Kamu bersenang-senang hari ini Istriku?"
Alaris masih memejamkan matanya.
'Dia tahu aku mengunjungi William? Apa dia sedang menyidirku, bahwa aku bersenang-senang dengan William?'
Harry menghela nafas, itu terdengar cukup berat.
Tak berapa lama ponselnya bergetar, Harry kemudian mengangkatnya.
"Katakan."
'Siapa yang menelfonnya, aku tidak mendengar apa yang di bicarakan.'
"Hm... Aku tidak mau mengotori tangan ku ataupun tangan para pengawal kepercayaanku dengan darah kotor dan menjadi pembunuh, tidak perlu membunuh Roberto, biarkan dia seperti tikus yang berkeliaran, berikan sedikit demi sedikit kejutan agar dia merasa cemas, dan tidak memiliki tempat berlindung, tapi jangan membiarkannya mati, itu terlalu mudah, menyiksanya saat dia tidak ingin hidup dan mati pun sulit adalah hal paling menyenangkan." Kata Harry.
Alaris menutup mulutnya.
'Benarkah yang bicara itu adalah Harry? Jadi, apa yang William katakan adalah kebenaran?'
Alaris menelan ludahnya.
Kemudian Harry mengakhiri panggilan, dan menaruh ponselnya di atas meja. Pria itu melepaskan jam tangan mewahnya dan kemejanya.
Perlahan, Harry naik ke atas ranjang dan memeluk Alaris dari belakang.
"Aku merindukanmu.. Berani nya kamu pergi tanpa meminta ijin dariku Istriku... Para pengawal Kastil memberitahuku, pelayan pribadimu memberitahuku, dan aku masih bisa menahannya, menunggu kamu menghubungiku. Hingga akhirnya Manager Apartmen menghubungiku dan aku tidak tahan menahan diri untuk menyusulmu. Kamu tidak menghubungiku satu hari ini. Apa yang harus ku lakukan jika kamu dalam bahaya, kamu menemui mantan suamimu dan aku tidak bisa menahanmu, apa kamu merindukannya dan berfikir ingin membantunya? Apa kamu ingin kembali ke sisinya? Lalu meninggalkanku, apa sekarang kamu melihatku dengan buruk, apakah kamu melihatku sebagai pria sampah?"
Harry berbisik lembut di belakang kepala Alaris lalu menciumnya, Harry juga memeluk Alaris dari belakang dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Baru ku tinggal mengurus pekerjaan sebentar saja, kamu sudah nakal, kita lihat nanti saat kamu bangun hukuman apa yang pantas untukmu."
Harry berulang kali mengecup leher Alaris. Menyesap dan membuat tanda merah di tengkuk Alaris. Kemudian turun ke bahu belakang dan menciuminya.
Alaris menggigit bibirnya dan meremas jemarinya, tubuhnya tampak menegang merasakan merinding dan nikmat.
"Apa kamu sudah bangun istriku... Apa aku menganggu istirahatmu sayangku? Tapi bukankah kita harus bicara dan ada sesuatu yang harus kamu jelaskan padaku?"
Tangan kekar Harry maju dan membuka ikatan piyama Alaris, perlahan Harry menurunkan piyama Alaris dan punggung ramping Alaris terekspose.
Harry masih mengecup setiap punggung Alaris perlahan kecupan itu turun dan sampai di pinggang belakang.
"Harry..." Desahhh Alaris.
"Istriku... Bisa jelaskan kenapa kamu pergi tanpa meminta ijin."
Harry memutar tubuh Alaris dengan pelan, kini Harry berada di atas tubuh Alaris.
Mata mereka saling menatap, Alaris terkejut, alih-alih Harry marah dan membencinya, ia justru melihat tatapan sayu dan wajah sedih dari Harry, bahkan Harry berbicara padanya dengan lembut. Padahal baru beberapa menit lalu, Alaris mendengar suara iblisnya yang tidak berperasaan.
'Apa Harry sedang berakting?'
'Apa setelah aku memberitahunya dia akan mengeluarkan sosok iblisnya padaku?'
__ADS_1
bersambung~