
Akhirnya setelah meminum obat, Alaris mampu berdiri, kemudian ia membersihkan dirinya. Hari sudah semakin sore, Harry tidak kunjung terlihat setelah makan siang bersama.
Alaris kemudian mengambil ponsel yang sudah lama ia simpan di dalam laci, sejak menikah dengan Harry dan sejak perusahaannya di ambil alih oleh Liam Grup, sepertinya ponselnya menjadi bersawang.
Namun ketika ia membuka ponselnya, mata nya terkejut melihat begitu banyak pesan masuk yang ia terima.
"Apa mereka mengucapkan selamat pernikahan? Bukankah sudah sangat terlambat." Kata Alaris.
Pertama-tama Alaris memeriksa setiap pesan, dan ternyata itu adalah ucapan selamat atas keberhasilannya mendapatkan asset dan perusahaannya kembali.
"Perusahaanku kembali? Bahkan Imperial Diamond menjadi milikku?" Kata Alaris.
"Apa yang sudah terjadi, selama aku tidur semalam?"
Alaris membuka berita di website dan topik William menjadi tranding dan pencarian paling banyak setelah Alaris Dwyne dan Harry Mac Linford.
"Astaga apa yang sudah terjadi pada William!" Kata Alaris.
Kemudian Alaris buru-buru keluar dari kamar dan menuju ruangan kerja Harry.
Dengan langkah cepat pikiran Alaris masih berlalu lalang, gaun piyama nya berkibar.
BRAK!
Alaris langsung membuka pintu ruangan kerja milik Harry tanpa mengetuk.
Saat itu, Harry, Zoland, Leon, serta Brida ada di sana.
Kemudian semuanya melihat ke arah wajah Alaris yang masih bernafas dengan cepat. Wajah Alaris yang nampak tegang.
"Nyonya..." Kata Brida.
"Nyonya Alaris silahkan duduk..." Kata Zoland.
"Istriku... Melihat sikapmu itu... Apa Kamu sudah tahu?" Tanya Harry.
'Aku tidak tahu mana kah yang lebih dulu harus ku tanyakan, apakah tentang perusahaan yang sudah kembali padaku? Ataukah William yang masuk ke penjara. Aku tidak tahu tapi aku sangat senang karena perusahaan Alhe Grup milik kedua orang tua ku pun kembali padaku, meski tidak semua assetnya dapat kembali tapi, aku sangat bahagia.'
Air mata mengalir di pipi Alaris, melihat Alaris menangis Harry berdiri dan hendak mendekat. Namun Alaris lebih dulu berlari dan menghamburkan dirinya dalam pelukan Harry.
__ADS_1
"Terimakasih, kamu adalah malaikat pelindungku." Alaris memeluk Harry dengan kuat dan menangis.
Zoland, Brida dan Leon kemudian keluar memberikan waktu untuk mereka bicara.
Harry menciumi Alaris yang menangis dan berulang kali mengatakan terimakasih.
"Aku hanya tidur semalaman hingga siang, bagaimana bisa perusahaan itu tiba-tiba kembali padaku." Kata Alaris.
"Apa ini mimpi? Apa aku belum bangun dari tidurku? Apa setelah bangun aku..."
Sebelum Alaris meneruskan kalimatnya, kemudian Harry mencium Alaris, itu hanya ciuman kecil. Tetapi dalam sekejap mata, Alaris menerimanya dengan liar dan membalik keadaan kemudian mengendalikan situasi.
Hingga ciuman itu bertahan sangat lama dan sangat panas, hingga akhirnya Alaris menyadarinya, bahwa ia sekarang berada duduk di atas paha Harry.
Posisi yang begitu nyaman. Perlahan Harry menurunkan piyama Alaris dan mencium bahu Alaris lalu menghisapnya kuat, kemudian Harry naik di leher Alaris dan membuat tanda merah di sana begitu banyak.
"Ini bukan mimpi..." Bisik Harry.
Kemudian Harry membaringkan Alaris di atas sofa, ciuman masih berlanjut, tak berhenti Harry menuruni leher Alaris dan mengecup dada putih Alaris.
Desahaan mulai terdengar, Alaris mulai tidak memiliki rasa canggung dengan Harry, kini ia sudah terbiasa dengan sentuhan Harry.
Tak mau kalah Alaris mendorong Harry dan duduk di atas paha Harry. Alaris kemudian mencium leher Harry dan membuat tanda merah di sana, cukup banyak dan cukup membuat Harry semakin tidak bisa menahannya.
Alaris mulai berfikir, apakah dia menjadi gila, karena setiap sentuhan Harry membuatnya ingin lebih dan lebih.
Setelah ciuman panas dan gerakan liar pasangan suami istri itu, Alaris memilih mengambil nafas sesaat, ia masih duduk di atas paha Harry. Keduanya saling menatap.
Kedua tangan Harry membelai paha Alaris kiri dan kanan. Mereka saling tersenyum kemudian Alaris melihat semua tanda yang ia ciptakan di leher Harry, membuat pria itu juga semakin tersenyum dan semakin menggoda Alaris.
"Aku senang kamu melakukam inisiatif ini, dan menindasku Istriku." Kata Harry sembari mengecup bibir Alaris.
Piyama Alaris sudah merosot sebagian namun sebagian masih menggantung di bahu kanan Alaris, sedangkan paha Alaris sudah terekspose karena posisi duduk Alaris yang di atas paha Harry.
"Apakah kamu ingin balas dendam padaku karena aku pernah meninggalkan seribu bekas tanda merah di tubuhmu?"
"Itu sepertinya ide bagus." Kata Alaris.
Kemudian jemari lentik Alaris membelai kepala Harry, menelusup setiap celah rambut di tengkuknya kemudian turun perlahan hingga ke dada Harry.
__ADS_1
Alaris dengan pelan dan penuh menggoda membuka kancing kemeja satu persatu milik Harry.
Sedangkan Harry membelai telinga Alaris dengan nakal, kemudian mengelus punggung Alaris membuat piyama Alaris merosot kebawah, lalu tangan Harry pun mencengkram pantatt Alaris dengan lembut.
Alaris tersentak, membuat tubuhnya maju dan merapat pada dada bidang Harry, dengan cekatan Alaris melepaskan kemeja Harry dan membuangnya.
"Kamu belajar dengan cepat, dan aku suka saat kamu menjadi garang seperti ini, tinggalkan bekas lebih banyak lagi di tubuhku Istriku, teruskanlah, kamu sangat mencintai tubuhku bukan?" Kata Harry.
Tangan Harry kemudian mengusap hidung, bibir, dan leher Alaris dengan jari-jarinya yang kuat.
Kemudian Alaris menggelengkan kepala.
"Aku ingin melihat bagaimana perusahaanku kembali, dan ingin melihat semua assetnya, apalagi ditambah dengan Imperial Diamond serta beberapa asset milik Liam Grup yang dulunya adalah Alhe Grup." Kata Alaris.
Kemudian Alaris turun dari pangkuan Harry dan membenarkan pakaian piyamanya.
"Baiklah, aku akan cuci muka dulu." Kata Harry dan pergi ke kamar mandi.
Cukup lama Harry berada di kamar mandi, sedangkan Alaris membaca dan memperlajari setiap dokumen yang ada di atas meja Harry.
Saat Alaris fokus dengan laporan dan angka-angka, Harry muncul dengan ekspresi sedih dan duduk di sebelah Alaris.
"Sayangku, Istriku, kamu seperti iblis penggoda yang suka bermain-main denganku, kamu memelukku dan membangkitkan ku, lalu kamu mengambil ku di telapak tanganmu dan memainkanku sesuka mu, tapi seolah kamu tidak serius dengan itu dan hanya ingin melihat bagaimana reaksiku terhadap godaanmu."
Alaris menaikkan alisnya dan sedikit mengerutkan dahi pandangan matanya juga polos, tapi Alaris merasa itu lucu.
'Tapi aku tidak menggodanya. Aku pun juga tidak pernah bisa tahan berada lama-lama di dekat Harry, rasanya jika di dekatnya aku hanya ingin bergumul dengannya sepanjang waktu.'
"Jika Yumna bisa mendengarmu, dia akan datang dan menyerahkan dirinya untuk membuatmu puas." kata Alaris.
Kemudian Harry tertawa, mendengar Alaris yang mengatakannya tanpa melihat Harry dan fokus pada dokumen-dokumen di tangannya.
Alaris melihat Harry dengan bingung. Meskipun itu lelucon, tapi hanya Harry yang paham, Harry tertawa terbahak-bahak. Alaris kemudian menutup mulut Harry dengan telapak tangannya.
'Aku suka dia menertawakan leluconku. Tidak ada orang yang mengerti dan bereaksi terhadap leluconku, karena meski pun aku melucu tetap saja wajahku terlihat dingin, selama ini tidak ada yang paham dengan lelucon ku.'
Merasa lebih baik, senyum muncul secara alami di wajah Harry yang tampan dan manis.
bersambung~
__ADS_1