
"Aku sudah menertibkan bandit-bandit yang ada di penjara itu." Kata Leon.
"Siapa pelakunya."
"Guillermo." Kata Leon.
"Dia ingin memperkeruh suasana."
"Aku tahu itu. Dia ingin maju dengan kekuatannya namun tidak memiliki cukup keberanian karena kita masih mengurung Yumna. Jadi dia hanya menduduki permasalahan kita dan membuatnya semakin keruh."
"Bagaimana selanjutnya." Tanya Leon.
"Kita biarkan saja dulu, aku butuh hari tenang untuk istriku, dia tidak boleh terlalu banyak berfikir."
"Bagaimana dengan Roberto? Informasi mengatakan sepertinya dia sedang berusaha untuk keluar dari Negara Vernecia."
"Mungkin dia akan menemui Guillermo, dan meminta kekuatan." Kata Harry.
"Halangi dia sebisa mungkin, aku sedang menginginkan hari tenang." Kata Harry berdiri dan pergi.
Tak berapa lama Zoland datang dan menyerahkan tabletnya.
Leon melihat foto tersebut, itu adalah foto tentang Jason yang menggendong Zunna.
"Jason mendaftarkan bayi itu, menjadi anaknya."
Leon tersenyum sinis.
"Biarkan saja, selama tidak membuat kekacauan." Kata Leon.
"Zoland, kamu punya ide untuk membereskan tikus ini?" Leon melihat potret-potret Roberto yang berada di pemukiman kumuh sedang mengais sampah.
Zoland menanggapi dengan senyuman, yang ditambahkan Leon mengumbar senyuman khas nya.
"Anda bosan?" Tanya Zoland.
"Ya..."
"Mungkin kita bisa bermain-main dengannya." Kata Zoland.
Leon memandangi foto ironis itu, ia ingat Roberto pernah meremehkannya dan menghina nya saat Roberto duduk di singgasana tertinggi.
"Satu hal lagi." Kata Zoland
"Katakan padaku."
"Tutup mulutnya dengan batu." Kata Zoland.
"Kamu benar-benar kejam." Kata Leon tersenyum sinis.
Sedangkan Harry yang menuju kamarnya ia melihat Alaris sibuk dengan berkas-berkas di depannya.
"Aku sudah katakan serahkan itu pada Brida dan Zoland." Kata Harry mengambil semua berkas yang ada di hadapan Alaris.
Para pelayan pribadi mundur dan pergi.
Sebenarnya Alaris memeriksa berkas-berkas itu karena ia sangat bosan, ia tidak tahu harus melakukan apa, beberapa hari ini Harry begitu sibuk mengurus bisnisnya.
__ADS_1
"Aku hanya bosan saja, kamu tidak ada di sampingku, itu adalah hal yang paling tidak menarik, terasa sepi dan dingin."
"Maafkan aku, istriku. Aku sangat tidak tahu jika kamu mengharapkanku datang, dan menemanimu." Kata Harry.
"Ya, tapi tidak apa-apa, setelah bisnis selesai aku akan menunggu." Kata Alaris.
Harry menyentuh pipi Alaris dan membelainya dengan ibu jarinya.
Kemudian Harry mencium bibir istrinya, ciuman yang hangat dan membara, sudah sangat lama Harry menahannya.
Harry seperti rubah jinak, ia kemudian duduk di dekat Alaris dan meletakkan kepalanya dengan lembut di bahu Alaris.
"Mari kita liburan istriku. Sepertinya menghirup udara segar di pegunungan akan bagus." Kata Harry.
Alaris menggeleng.
"Kenapa?"
"Aku disini bersamamu, sudah cukup." Kata Alaris.
"Jika aku tahu, kamu selalu menungguku, aku akan mengesampingkan bisnis san langsung datang padamu." Kata Harry manja.
Harry kemudian mencium leher jenjang Alaris dengan lembut, dan menggigit leher itu kemudian merembet dengan gigitan kecil di telinga Alaris. Napasnya yang hangat menyapu kulit putih Alaris, itu terasa menggelitik, Alaris menutup mata dan mendesahh secara alami.
"Aku sangat senang melihatmu, dan aku merindukan suara itu." Kata Harry
"Aku juga senang. Tapi kenapa kamu menjadi seperti anjing yang begitu jinak? Mengendus-endus ku seperti itu."
Harry tertawa pelan, mendengar kata-kata Istrinya.
"Kamu tidak mengerti istriku, betapa aku tersiksa karena menahan diri." Kata Harry.
"Kamu pasti sangat menderita." Kata Alaris.
Harry mengangguk pelan dengan bibir manyun cemberut.
Ekpresi itu sangat menggemaskan bagi Alaris.
Kemudian Alaris mencium, dan mengulumm pelan bibir Harry.
Ciuman itu sangat lama, dan begitu panas, hingga di dalam kamar yang luas itu hanya terdengar suara kecupan dari mulut-mulut mereka, dan Harry hampir kehilangan akalnya, ketika Alaris semakin menggoda dirinya dengan suaranya yang mengerangg indah.
Harry mendorong pelan bahu istrinya.
"Kali ini jika kamu menggodaku kamu tidak akan lepas dariku."
"Bagaimana jika kamu... Bertanya pada Arthur, bahwa kamu ingin melakukannya, bisa kah di lakukan dengan pelan." Kata Alaris malu dan memainkan telunjuknya di dada Harry.
Mendengar kata-kata Alaris, bahu Harry terangkat, dia tersenyum lebar dan bertanya.
"Bolehkah? Dengan pelan?"
"Sepertinya boleh." Kata Alaris.
Kemudian, Alaris memberinya ciuman di pipi dan meminta Harry untuk duduk di tempat tidur karena dia akan mengalami depresi lagi, jika hasratnya tidak di salurkan dengan benar.
"Ada sesuatu yang harus kukatakan padamu dulu, Harry."
__ADS_1
"Apa itu?"
Alaris dengan pelan membuka gesper Harry, jemari lentik itu terampil membukannya.
Lalu jemari Alaris naik membuka kancing kemeja Harry satu persatu.
"Bisakah kamu, memberiku satu pulau yang agak terpencil?" Tanya Alaris.
"Bahkan jika itu adalah 10 pulau, dan kamu bisa mendapatkannya, tapi kenapa?"
"Aku ingin membangun sebuah kastil untuk si kembar, kita tidak tahu hal apa yang akan terjadi ke depan, melihat semua insiden menimpa kita di masa kecil? Aku ingin berjaga-jaga membuatkan sebuah rumah yang aman untuk mereka berlindung." Kata Alaris.
Harry mengangguk, Alaris tidak tahu jika Harry telah memiliki beberapa bangunan di pulau-pulau miliknya dan itu akan menjadi tempat paling mewah dan tempat bersembunyi paling strategis.
"Kamu boleh melakukan semaumu, tapi kamu memiliki beberapa pulau dari asset Liam, itu sudah di serahkan di asset milikmu." Kata Harry heran.
Alaris menggeleng.
"Rasanya berbeda, aku hanya mau dari milikmu."
Harry tersenyum kecil.
"Dasar kelinci kecil yang licik." Kata Harry menarik dagu Alaris dan menciumnya.
Alaris sudah selesai membuka kancing kemeja Harry, kemudian Alaris mencium dada bidang Harry dengan lembut.
Alaris mendorong pelan suaminya untuk berbaring di atas ranjang, lalu ia duduk di atas paha suaminya.
"Istriku, kenapa kamu sekarang sangat liar dan semakin pintar menggodaku." Kata Harry tersenyum malu.
Alaris menurunkan risleting celana milik Harry, secara perlahan, dengan sedikit bantuan suaminya.
"Sayang..." Kata Harry mendesahh ketika Alaris mulai mencium perut sixpack milik Harry.
Harry menarik kedua lengan Alaris dan mereka saling menatap.
"Kamu tidak akan ku lepaskan karena telah bermain-main dengan ku."
Harry melumaat penuh bibir Alaris, dan tangan Alaris mulai meraba kesana dan kemari.
Itu membuat Harry semakin frustasi dan depresi, satu sisi ia tidak ingin menyakiti Alaris dan bayinya, satu sisi hasrattnya sudah sangat lama ia tahan dan ingin segera di salurkan, Harry ingin segera di puaskan.
Harry memutar tubuh Alaris dan kini istrinya berada di bawahnya, Harry menggigiti kecil seluruh tubuh Alaris, membuat tubuh Alaris merinding dan suaranya mendesahh keluar.
Harry melepaskan seluruh pakaian istrinya dan kemudian melakukannya dengan pelan, sangat pelan, ia tidak ingin membuat istrinya takut ataupun frustasi.
"Tidak apa-apa Harry, aku membaca banyak informasi. Itu tidak akan menyakiti bayinya jika kamu melakukannya dengan pelan."
Namun di luar dugaan, justru Alaris terlihat sangat tenang dan menenangkan, wajahnya yang penuh senyuman membuat Harry tidak lagi merasa ragu.
"Maaf istriku."
"Tidak apa-apa..." Alaris meremas lembut rambut Harry.
Harry memcium bibir istrinya dan kemudian membenamkan wajahnya di kedua dada istrinya dan membuat warna merah di sana.
Suara lenguhan dan mengerangg berasal dari mereka saling bersahutan, Harry telah menahannya cukup lama dan sekarang adalah waktunya ia dengan gantle melepaskannya.
__ADS_1
bersambung~