Pernikahan CRAZY RICH

Pernikahan CRAZY RICH
MENGHADIRI PERNIKAHAN WILLIAM DAN AXELLA


__ADS_3

Pagi-pagi Alaris sudah bangun untuk menyerahkan berkas dan dokumen yang akan di berikan pada Harry.


Alaris berinisiatif untuk langsung menaruh di ruang kerja Harry, karena mungkin Harry belum bangun dan tidak ingin mengganggunya.


Meskipun kamar mereka saling terhubung namun itu akan membuat situasi menjadi canggung jika Alaris mengetuk melalui pintu depan, dan jika Alaris mengetuk melalui pintu dalam itu akan semakin canggung.


Alaris berjalan perlahan menuju ruangan kerja Harry, di sana terlihat para pelayan yang sedang berdiri di depan ruangan kerja Harry.


'Apa mereka akan membersihkan ruangan kerja? Kenapa hanya saling berbisik. Apa ada masalah?'


"Kalian ingin membersihkan ruangan kerja milik Harry?"


"Ah.. Iya nyonya... Tapi... Itu... Sudah seminggu lebih Tuan Harry selalu tidur di ruangan kerja dan selalu bangun siang, kami selalu tidak enak jika kami tetap membersihkannya, takut akan menganggu." Kata salah satu pelayan.


"Apa biasanya seperti ini?"


"Tidak pernah Nyonya, ini terjadi baru minggu-minggu ini..."


Alaris mengangguk.


"Aku akan bertanya pada Zoland." Kata Alaris.


Kemudian Alaris pergi mencari Zoland, dan ia dapati sekretaris pribadi Harry itu sedang berada di taman belakang untuk mengecek sesuatu bersama para pengawal.


" Tuan Zoland..." Sapa Alaris.


"Kita lanjutkan nanti, dan tetap sesuai arahan Tuan Harry sebelumnya." Kata Zoland pada para pengawal.


"Selamat pagi Nyonya Alaris."


"Ini sudah cukup siang." Kata Alaris.


"Aa..." Kata Zoland mengerti.


"Kenapa Harry tidur di ruang kerja?" Tanya Alaris.


"Itu..."


"Apa dia selalu begitu?"


"Tidak pernah,... Ini karena..."


"Kenapa? Tubuhnya akan sakit jika dia selalu tidur di sofa."


"Sebenarnya, Tuan Harry sedang menahan dirinya."


"Menahan diri? Kenapa? Dan untuk apa"


"Tuan sedang menahan diri dari anda Nyonya."


"Saya?" Alaris terkejut.


"Lebih baik anda menanyakan sendiri pada Tuan harry, bukan ranah saya menjelaskannya."


"Menjelaskan tentang apa?" Suara Harry tiba-tiba ada di belakang Zoland dan Alaris.


"Tuan... Anda sudah bangun? Saya permisi." Zoland pun pergi.


"Kamu membawa berkasnya?" Tanya Harry yang melirik dokumen di tangan Alaris.


"Aaahh... Iya." Alaris melihat berkas yang masih ia bawa.


"Ayo ke ruang kerjaku. Kita akan langsung menghabisi Liam Grup."


Harry mengajak Alaris menuju ruangan kerja, dan saat itulah para pelayan sudah menyelesaikan pekerjaan mereka.

__ADS_1


Ruang kerja Harry sangat rapi, bukan hanya itu banyak cahaya matahari masuk karena hampir sebagian ruangan itu hanyalah terdiri dari jendela-jendela besar.


Harry duduk di sofa dan Alaris masih berdiri.


"Kamu tidak duduk?" Tanya Harry.


"Kenapa kamu tidur di sini?" Tanya Alaris.


"Aaa...."


"Ada apa Harry, kamu sedang memiliki masalah sehingga tidur di sini? Zoland bilang itu karena aku."


"Zoland sialan. Apa aku harus menambah jam kerjanya, membiarkan dia sama sekali tidak usah tidur." Kata Harry.


( "Hatcii...!!! Pasti Tuan Harry sedang mengumpati ku." Kata Zoland menggosok hidungnya yang gatal. Zoland sedang berada di taman bersama para pengawal. )


"Sebenarnya... Aku tidak bisa tidur karena kamar kita saling terhubung. Aku selalu memikirkanmu, sedang apa kamu di dalam kamar, apakah sudah tidur, atau kah masih terjaga, aku berusaha untuk tidak membuka pintu penghubung, tapi tetap saja semakin aku menahannya semakin aku ingin membukanya dan semakin ingin menemuimu."


Wajah Alaris yang dingin mendadak berubah me jadi memerah.


'Seharusnya aku tidak menanyakannya kan?'


"Tidurlah seperti biasa kamu tidur di kamarmu Harry, aku tidak ingin kamu sakit."


"Tidak bisa, aku selalu merindukanmu."


"Kalau begitu kita tutup saja pintunya dengan semen."


"Baiklah..."


"Kamu akan menutup pintu penghubungnya dengan semen?"


"Tidak, aku akan tidur di kamarku, pintu penghubung akan tetap berada di sana. Tapi tolong kunci pintunya, karena sekali saja kamu membuka pintunya, aku tidak akan membiarkanmu menutup pintu nya lagi. Dan Tentu saja kamu tidak akan bisa mencegah ku lagi." Kata Harry.


"Aku akkan..." Kata Alaris sedikit tersedak.


Alaris duduk dan meminum air itu.


"Aku... Hanya sedikit terkejut, dan merasa bersalah, karena aku, kamu tidur di sini.".


"Lupakan itu dulu, kita bahas lagi nanti, bukankah hari ini kita harus menghadiri pernikahan."


"Aaa.. Kamu benar. Kenapa aku bisa lupa."


Harry tersenyum.


"Itu berarti, mereka sudah tidak terlalu penting di dalam hati dan pikiranmu, sehingga kamu bisa lupa."


'Benarkah, mereka sudah tidak penting bagiku?'


******


Alaris sudah siap dengan pakaian dress cantik sepanjang lutut dengan rambut pajang yang tergerai, tubuh itu benar-benar tegap dan ramping namun juga berisi.


Sedangkan Harry, pria tampan yang tinggi dan memiliki tubuh berorot sempurna pun sudah siap dengan pakaian setelan jas rapi, tak lupa dilehernya memakai neck scarves membuat Harry semakin terlihat gantle.


"Leon akan menyusul, bersama Brida." Kata Harry.


"Benarkah? Aku sedikit khawatir, sudah beberapa hari aku tidak melihat Brida."


"Tenang saja."


Alaris berfikir sejenak.


"Baiklah kalau kamu berkata seperti itu."

__ADS_1


Mobil melaju membawa mereka menuju bandara dan menggunakan pesawat, setelah terbang menempuh beberapa jam akhirnya pesawat sampai juga di Negara Vernecia.


Alaris melihat jalanan ibukota yang selalu ia lalui. Tatapannya seolah kosong.


"Inikah yang di namakan akrab tapi merasa asing."


Harry membelai rambut Alaris.


"Jika kamu ingin lebihblama di sini, kita akan menentap beberapa hari, ini tempat kelahiranmu, kamu pasti rindu." Kata Harry.


"Entahlah... Kita punya banyak pekerjaan di Slyvedonia." Jawab Alaris.


Mobil memasuki area taman gedung dan berhenti di depan Lobby, semua pengawal memberikan perlindungan dari para wartawan yang hendak bertanya.


Tampilan Alaris yang segar, energik, dan mempesona membuat semua orang terpukau, apalagi sosok Harry yang tampan dan tinggi di samping Alaris membuat pasangan itu menjadi pusat perhatian.


"Pestanya lumayan megah." Kata Harry.


"Bukankah ini berlebihan, terlalu megah."


"Menurutku belum apa-apa, kamu akan lihat bagaimana pesta pernikahan yang akan ku persembahkan untukmu besok."


Alaris hanya diam dan mengangguk, mereka berjalan dan duduk di tempat yang sudah di sediakan.


Beberapa menit kemudian Leon datang dengan wajah yang nampak segar, di sampingnya juga ada Brida yang tampil cantik mempesona.


"Apa itu benar-benar Brida." Kata Alaris.


"Sepertinya Leon memang tertarik pada Brida, pasti Leon yang membuatnya tampil berbeda."


"Brida memang cantik, di balik kacamata tebalnya, ternyata Leon memang jeli." Kata Alaris.


"Kamu sedang memuji siapa?" Harry menjentikkan jarinya di dahi Alaris.


"Aaw... Kamu..."


"Aku cemburu. Saat kamu memuji pria lain." Bisik Harry di telinga Alaris dan mengigit kecil.


Wajah dan telinga Alaris sontak berubah menjadi merah semerah semangka.


"Aku sedang pikirkan bagaimana nanti akan menghukummu." Bisik Harry lagi.


"Nyonya Alaris. Apa anda sakit?" Tanya Brida yang sudah sampai di dekat kursi mereka.


"Aa.. Tid... Tidak." Kata Alaris malu.


Harry hanya tersenyum jail.


"Dasar licik." Kata Leon.


Harry hanya menatap Leon dengan tatapan tajam, meski tatapan itu hanya sekedar gurauan.


Mereka semua pun duduk dan mendengarkan acara yang sudah di mulai.


Beberapa patah kata di ucapkan dari perwakilan William.


"Apa ini, acaranya begitu membosankan." Kata Leon pada Brida.


"Bukankah kekasih anda akan menikah, kenapa Tuan Leon tidak memasang tampang sedih." Sahut Zoland.


Harry tersenyum kecut.


"Lain kali kita tukar posisi." Kata Leon pada Zoland.


Alaris ingin menanyakan keadaan Leon, namun ia tahu, itu hanya akan menambah rasa tidak senang pada Harry, melihat semua sudah bercanda Alaris menyimpulkan bahwa Leon sudah lebih baik.

__ADS_1


bersambung~


__ADS_2