
Axella sedang berada di kamarnya, wanita itu sehari-hari hanya berbaring memeluk boneka beruangnya yang besar, ia tidak bersemangat dan tidak bisa mengerti kenapa hidup William menjadi seperti ini, jika saja dulu Axella bertemu lebih dulu dengan Harry pasti dia akan menjadi ratu yang sebenarnya.
"Seharusnya, sekarang aku ada di posisi Alaris, menjadi istri Harry, karena aku berasal dari Negara Slyvedonia." Geram Axella.
Wanita itu tanpa sadar mencabuti bulu-bulu boneka beruang tersebut hingga ia terperanjat dan gelagapan ketika seorang pelayan datang bertemu dengannya.
"Nyonya, ada yang ingin menemui anda." Kata pelayan pribadi Axella yang bernama Gloria.
"Kenapa tidak ketuk pintu!" Bentak Axella.
"Maafkan saya Nyonya." Gloria menunduk takut.
"Siapa dia!" Tanya Axella.
"Saya tidak tahu Nyonya, tapi..." Gloria menjawab dengan ragu.
"Tapi kenapa!"
"Tapi dia bilang bahwa, dia adalah ayah anda." Kata Gloria dengan gemetar dan menunduk.
"Kamu becanda ya! Kamu mau di pecat! Aku sudah yatim piatu! Suruh dia pergi! Bagaimana para pengawal membiarkan pria asing masuk!" Teriak Axella.
"Ta... Ta... Tapi... Nyonya..."
"Kamu masih membantah! Suruh pergi! Aku yatim piatu, dia pasti hanya akan meminta uang!" Teriak Axella.
"Ba... Baik Nyonya."
Kemudian pelayan itu pergi, namun tidak di sangka saat Gloria mengatakan Axella tidak ingin bertemu membuat sang pria marah dan masuk dengan berlari mencari kamar Axella.
BRAKK!!!
"Akhirnya aku menemukanmu.... Axella.... Anakku..."
Seorang pria paruh baya dengan rambut sebagian sudah memutih tersenyum di ambang pintu.
Axella yang melihat pria itu berdiri dengan angkuh, jelas membulatkan mata, wajahnya terkejut, ia memegang perutnya, langkahnya tiba-tiba mundur dan bersandar di meja.
Kaki Axella terasa lemas.
Meski ia berpisah sejak kecil, meski ia dijual oleh ayahnya sejak kecil, namun wajah pria yang paling ia benci itu masih sangat jelas terukir di ingatannya, wajah pria yang paling ia benci, wajah pria yang seharusnya melindungi nya namun justru pria itu lah yang menghancurkan hidupnya.
"Siapa yang mengijinkan pria asing ini masuk!!!" Teriak Axella.
Semua pelayan mundur takut, dan hanya Gloria yang berani menjawab maju.
"Maaf Nyonya, kami sudah mengusirnya namun tuan ini mengamuk dan menyusup."
"Mana para pengawal!" Teriak Axella masih memegang perutnya.
"Tuan Jason merumahkan sebagian pengawal Nyonya, dan beberapa sibuk entah kemana, kami dengar para pengawal mendapat tugas penting dari Tuan Jason. Di mansion tidak ada pengawal Nyonya."
Axella menelan ludahnya, keringatnya mulai bercucuran, dadanya terasa sesak.
"Jika kamu tidak mau bicara pada ayah, kamu akan tahu akibatnya Axella."
Axella melihat Gloria yang terkejut ketika mendengar pria di hadapanya menyebutkan kata Ayah dengan percaya diri, apalagi Axella terlihat tertekan.
"Tinggalkan kami." Kata Axella.
"Baik Nyonya."
__ADS_1
Kemudian Gloria keluar dan menutup pintu.
"Bagaimana kabarmu anakku, sepertinya keadaanmu menjadi sangat baik." Kata pria itu.
Axella masih diam dan melihat dengan tatapan benci.
"Kamu menatap ayahmu yang telah susah payah membesarkanmu dengan tatapan seperti itu?"
"Gonzales, aku sudah menganggapmu mati, bahkan sejak aku lahir." Kata Axella.
"Aku kecewa, tanpa aku kamu tidak akan menjadi sekarang."
Axella memasang wajah sinis.
"Jika aku tidak menjualmu kamu tidak akan berakhir di sini dan tetap menjadi anak seorang petani."
"Kamu pemabuk! Setelah ibu meninggal kamu langsung menjualku, bahkan sejak ibu masih ada pun kamu sudah menyakiti perasaan dan tubuhku, kamu pikir aku lupa meski itu terjadi ketika aku masih kecil? Bahkan kamu tidak pantas di sebut ayah." Kata Axella meremas gunting yang ada di sampingnya.
Gonzales melihat itu.
"Kamu ingin membunuhku?" Tanya Gonzales.
"Ya."
"Baiklah, bunuh aku... Jika kamu mampu." Gonzales berjalan sedikit demi sedikit mendekati Axella.
"Berhenti!" Kata Axella.
Namun Gonzales tidak peduli ia terus melangkah.
"Aku bilang berhenti dan diam di sana!" Teriak Axella lagi menodongkan gunting ke depan.
Namun Gonzales tetap maju dan tersenyum sinis.
Axella mengarahkan guntingnya ke wajah pria itu, wajah ayahnya.
Pipi Gonzales berdasar.
Gonzales tersenyum.
"Inilah kamu, kamu mewarisi darah ayahmu, kamu memang iblis Axella, setelah merebut suami orang, kamu berniat membunuhku, kamu memang anakku, karena ibumu juga mati di tanganku menggunakan gunting yang untuk memanen buah. Ha... Ha... Ha..." Gonzales tertawa terbahak-bahak.
"Aku bukan anakmu!!!" Teriak Axella.
"Berikan aku uang Axella, kamu juga harus bertanggung jawab pada wajahku yang sudah kamu lukai."
"Tidak akan!"
"Kalau begitu aku akan memberitahu jika anak yang kamu kandung bukanlah anak dari William!" Seringai iblis keluar dari wajah Gonzales.
Axella melotot.
"Kamu bicara omong kosong! Ini adalah anak William!!!"
"Benarkah? Bukankah kamu selalu berhubungan dengan Reed?"
Wajah Axella semakin gelap dan marah.
"Dia selalu memakai pengaman." Kata Axella ragu.
"Kamu pikir begitu? Seorang Reed yang tidak bisa di puaskan? Hingga memberikanmu obat perangsangg?" Kata Gonzales.
__ADS_1
Wajah Axella mendadak takut dan ragu.
"Apa kamu pikir aku tidak tahu jika kamu pernah menggugurkan janin karena Reed menghamilimu, bagaimana jika anak yang kamu kandung sekarang juga anak dari Reed, dan William tahu, apakah kamu masih bisa tinggal di mansion sebesar ini?"
Mata Axella mulai bergerak kesana kemari, ia memandangi lantai, namun kegusaran jelas ada di wajahnya.
Takut, cemas dan segalanya ada di dalam benak Axella.
"Berikan aku uang dan aku akan tutup mulut."
Axella masih diam kebingungan, ia menggigiti kuku jempolnya, dan gemetar.
"Berikan aku uang Axella, aku akan diam." Kata Gonzales.
"Berapa!" Kata Axella.
"Untuk menginap, setidaknya 500juta."
"Sebanyak itu!"
"Aku harus membeli rumah, tidak mungkin aku terus menginap di hotel."
Axella kebingungan dan mencari perhiasan di almari, kemudian melemparnya ke arah Gonzales.
Pria tua itu tertawa dan menyembunyikan perhiasan ke dalam bajunya.
"Aku akan menjadi ayahmu yang baik dan melindungi mu Axella, tenang saja aku akan tutup mulut." Kata Gonzales.
Kemudian Gonzales pergi dengan membawa perhiasan di dalam bajunya.
Gloria pun masuk dan melihat Axella duduk di lantai lemah
"Nyonya? Anda baik-baik saja?" Tanya Gloria.
Axella kemudian melihat wajah Gloria dengan tatapan kebencian, keringat mengucur deras di dahi dan tubuh Axella.
"Semua ini gara-gara kamu! Kenapa kamu membiarkannya masuk, kamu sengaja kan! Kamu pasti suruhan Alaris, pasti dia menyuruhmu untuk membuat ku stress dan kehilangan anakku!!!" Teriak Axella.
Kemudian Axella berdiri dan mengambil sebuah kursi berbentuk persegi yang ada di depan meja riasnya.
Kursi itu ringan dan tanpa sandaran, kemudian Axella mengayunkannya dengan sekuat tenaga pada Gloria, dan langsung mengenai kepala Gloria.
Gloria terjatuh di lantai, kepalanya bersimbah darah, benar-bebar darah yang banyak.
Axella bernafas cepat dan kembali sadar.
"A... Apa yang sudah ku lakukan." Axella panik.
Wanita itu melihat pintu yang tertutup namun tidak di kunci, kemudian Axella dengan cepat berlari dan mengunci pintu itu.
Melihat Gloria tidak bergerak, membuat Axella semakin takut.
Axella menendang tubuh Gloria berulang kali.
"Hey!!"
"Bangun!!"
"Jangan pura-pura mati!"
Namun Gloria tidak bangun, darah mengalir dan terus mengalir, Axella mundur karena darah itu seolah ingin mengejar dan menyentuh kakinya.
__ADS_1
bersambung~