Pernikahan CRAZY RICH

Pernikahan CRAZY RICH
MALAM PERTAMA? : WILLIAM MENGINGINKAN ANAK DARI ALARIS


__ADS_3

Sore itu, Alaris sudah berada di ruangan kerja milik William.


'Apa dia akan memukulku? Wajahnya terlihat sangat marah dan tidak bisa di intervensi dengan apapun.'


"Aku pikir sudah jelas sekarang Alaris. Setengah tahun lamanya aku pergi, dan para serigala datang mencarimu, 2 orang pria dari Negara Slyvedonia. Satunya adalah pria paling licik dan salah satunya lagi perayu ulung para wanita, dan terkenal playboy. Apa sifat tersembunyimu adalah memiliki selera untuk berhubungan dengan orang asing? Lebih tepatnya, berselingkuh."


"Omong kosong apa yang kamu katakan William!" Suara Alaris menegang dengan volume yang cukup tinggi dan penuh penekanan.


'Spekulasi yang William lihat dari sudut pandangnya jelas tidak bisa di hentikan, ia menganggap benar apa yang sudah dilihat oleh matanya, meskipun aku memberikan pembelaan itu tidak akan ia terima sama sekali.'


"Alaris, aku yakin kamu tidak memiliki banyak pengalaman dengan pria, selain dengan diriku."


"Lalu kamu? Apakah kamu bangga memiliki banyak pengalaman dengan para wanita."


"Alaris!" Wajah William berkedut.


"William?" Alaris menantang dengan suara datar dan tenang.


"Aku mengajakmu kesini bukan untuk berdebat, dan setelah lamanya kita tidak bertemu aku tidak menginginkan pertengkaran."


'Bukan ingin berdebat? Tetapi dia justru mengeluarkan kalimat-kalimat tuduhan yang memicu perdebatan dan pertengkaran.'


"Ku pikir kamulah yang sedang menghindariku, apa itu juga salah."


"Sejujurnya, awal nya iya." Kata William.


"Kenapa?" Tanya Alaris.


William berjalan mendekat di hadapan Alaris.


"Aku sudah memikirkan semuanya Alaris."


Mereka saling memandang, Alaris masih tidak mengerti sedangkan William memiliki wajah memohon.


"Aku menginginkan seorang bayi Alaris."


Wajah Alaris terkejut, ia menatap pada wajah William yang terlihat sedih.


"Kita sudah menikah lebih dari 1 tahun dan kamu masih tidak pernah mengijinkanku menyentuhmu." Wajah William semakin nampak sedih.


"Tapi kamu bisa menyentuh orang lain, contohnya saat malam dimana kamu mabuk."


"Maksudmu wanita yang mengantarku pulang malam itu?"


"Ya."


William kemudian mengeluarkan kartu nama yang ada di lacinya dan memberikannya pada Alaris.


"Aku tidak pernah menyentuhnya, jika kamu tidak percaya tanyakan sendiri padanya, aku mengusirnya."


Alaris menerima itu dan melihat namanya.


"Kamu masih menyimpan kartu namanya?" Alis Alaris naik satu.


"Aku hanya lupa belum membuangnya."


"Benarkah?"


"Jika kamu tidak percaya, kamu bisa tanyakan pada Jason."


"Dia sekretarismu, sudah pasti dia akan mengatakan hal yang baik tentangmu."


"Kalau begitu silahkan cek cctv, saat aku kembali ke kamar, aku langsung mengusirnya."


Alaris diam.


"Ayo, kita cek cctv bersama." Ajak William.


"Tidak perlu William. Jadi, selama ini aku salah paham padamu?"

__ADS_1


William mengangguk pelan.


"Jadi, apakah sekarang kamu memberikan ku izin untuk menyentuhmu?"


Alaris diam.


"Aku menginginkan seorang anak pewaris Alaris, anak kita berdua, berikan aku kesempatan itu, dan mari kita wujudkan." William menyentuh kedua lengan Alaris dengan lembut.


"Hm?" William mendesak Alaris.


"Baiklah." Alaris menunduk dan menyetujuinya.


"Benarkah? Kamu setuju?" Mata William berbinar.


Alaris mengangguk malu.


"Kita akan lakukan sekarang? Kamu siap?"


Alaris mengangguk lagi.


Hari sudah semakin malam, saat itu Alaris sedang mandi dan mempersiapkan diri.


Emily berjalan ke dapur dan memerintahkan koki untuk memasak masakan yang membuat bertenaga.


"Memangnya kenapa Lily?" Tanya Gerald sang koki.


"Karena Tuan William dan Nyonya Alaris akan menciptakan makhluk baru." Kata Lily tersenyum.


"Apa maksudmu?" Gerald tidak mengerti.


"Mereka akan membuat adonan, bukan di dapur melainkan di tempat lain yang kedap suara." Sahut koki lain.


"Aahh..." Gerald akhirnya mengerti.


Kemudian Lily kembali ke kamar Alaris dan Samantha sudah merias Alaris yang memiliki wajah berbinar.


"Apa makanan sudah di siapkan Lily?" Tanya Samantha.


"Mereka sedang membuatnya, tenang saja." Kata Emily.


Setelah berhias cukup lama Alaris berjalan menuju kamar dimana ia akan bertemu dengan William.


"Nyonya jangan gugup." Kata Samantha.


"Ti tidak."


Alaris tahu, meski ia menjawab tidak semua orang yang melihatnya pasti sangat curiga kenapa Alaris begitu kaku dan gemetar.


Setelah sampai Alaris masuk ke dalam kamar, dan para pelayan pribadi menutup pintu, sedangkan William sudah berada disana dengan beberapa makanan yang sudah di siapkan.


"Kenapa Nyonya bersikap seolah-olah ini malam pertama ya. Nyonya gugup dan malu." Celoteh Emily.


"Diamlah, akhir-akhir ini kamu yang terlalu banyak bicara." Kata Samantha.


Samantha dan Emily pergi meninggalkan tempat itu, sedangkan Alaris yang ada di dalam kamar merasa canggung, ia harus bersikap bagaimana, wajahnya sudah merah semerah lobster yang di rebus.


William berdiri dan berjalan mendekat. Meraih tubuh Alaris ke dalam pelukannya, lalu menggendongnya dan membaringkannya di atas tempat tidur.


"Terimakasih karena kamu mengijinkanku menyentuhmu Alaris."


"Aku tidak tahu harus melakukan apa." Kata Alaris dengan berbisik.


"Diam dan rasakanlah." Bisik William di telinga Alaris.


Di ruang tengah, Brida baru saja tiba di Negara Vernecia dan langsung menuju mansion The Kingham, wajahnya penuh dengan kepanikan, gelisah pun sudah menjalar di seluruh kepala. Brida mencari Alaris dengan tergesa-gesa.


Melihat Samantha dan Emily, Brida langsung menghampiri.


"Dimana Nyonya, kenapa panggilanku tidak ada yang menjawab." Brida bertanya dengan menggenggam erat lengan Emily.

__ADS_1


Wajah Brida sudah sangat merah dan panik.


"A... Ada dengan Tuan William, di dalam kamar." Kata Emily takut.


"Ada apa Nona Brida." Tanya Samantha.


"Apa mereka, mereka akan melakukan...!!!"


Brida berlari dan menuju kamar dimana William dan Alaris berada.


Sedangkan Samantha dan Emily pun mengejar.


"Nona, anda tidak boleh mengganggu." Kata Samantha menarik tangan Brida dan menahannya.


"Tapi ini adalah informasi yang sangat penting." Kata Brida.


"Kenapa tidak besok saja, mereka baru saja akan akur." Kata Emily.


"Tidak bisa, ini harus di ketahui sekarang oleh Nyonya."


Brida ngotot, namun tubuhnya tetap di tahan oleh Samantha dan juga Emily.


"Anda tidak boleh menganggu mereka Nona. Kami akan berjaga di sini, dan ini adalah perintah dari Nyonya Alaris bahwa tidak ada yang boleh mendekati kamar itu." Kata Emily.


"Hey... Hey... Ada apa ini ribut-ribut."


Suara itu terdengar santai dan itu adalah Leon.


"Tuan Leon, saya harus bertemu dengan Nyonya Alaris sekarang."


"Apa tata krama anda sudah hilang, berani mengganggu dan membuat keributan di sini." Jason tiba-tiba datang dan memberikan tatapan intimidasi pada Brida.


"Saya punya berita penting untuk Nyonya Alaris." Kata Brida.


"Jika itu penting, kenapa tidak sekarang saja, berikan waktu beberapa menit baginya untuk bertemu dengan Nona Alaris, toh mereka suami-istri bisa melakukan kemesraan kapan saja." Kata Leon datar dan santai.


"Anda tidak berhak berbicara di sini Tuan Leon." Tangkas Jason.


"Tapi melihat orang yang paling di percaya oleh Nona Alaris begitu ketakutan dan panik, pasti itu adalah informasi yang sangat penting, saya di sini hanya sebagai pihak penengah. Ingat, Brida adalah tangan kanan Nona Alaris." Kata Leon menyandarkan bahunya di dinding mansion sembari bersedekap santai.


Jason menarik nafas kesal, wajahnya sangat tidak bisa dikondisikan.


"Kenapa Tuan Jason? Apa ada sesuatu yang anda takutkan?" Leon mendatangi Jason dan menatap dengan tajam.


"Seharusnya, saya menyapu kotoran yang berada di mansion sejak saya melihat anda." Kata Jason.


"Sayangnya kotoran juga bisa berguna sebagai pupuk, dan membuat tumbuhan menjadi subur. Tidak ada di dunia ini yang di ciptakan menjadi sia-sia." Leon sudah semakin serius.


Saat mereka sibuk adu mulut, Brida menerobos dan berlari menuju kamar, Brida menggedor-gedor pintu dan memanggil Alaris.


BRAK


BRAK


BRAK


"Nyonya Alaris, ada yang harus anda dengar, ini adalah berita buruk!" Brida berteriak-teriak sembari menggedor-gedor kamar.


Hingga tangan Brida kemerahan dan memar, Brida tidak berhenti di sana.


BRAK


BRAK


BRAK


"Nyonya Alaris, saya mohon keluarlah." Brida sudah merasa lemah putus asa.


bersambung~

__ADS_1


__ADS_2