Pernikahan CRAZY RICH

Pernikahan CRAZY RICH
PERNIKAHAN CRAZY RICH : HARRY MAC LINFORD DAN ALARIS DWNYE


__ADS_3

Akhirnya hari pernikahan Harry dan Alaris pun tiba.


Tak kalah mewah, gedung yang di pakai begitu luas dan bertabur berlian di langit-langitnya. Memancarkan cahaya yang berkilauan.


Puluhan mobil-mobil mewah seperti bugatti, rolls-royce, ada pula porsche berjajar rapi, dan yang tak kalah menarik berjajarnya mobil-mobil koenigsegg, mobil mewah yang dilapisi oleh gabungan serat karbon dan berlian. Belum lagi jajaran mobil mewah mercedez benz.


Tiang-tiang penyangga pun di hiasi oleh blue diamond. Tak kalah menarik seluruh perkakas alat makan terbuat dari lapisan emas.


Di dalam kamar yang luas dan mewah, Alaris menatap dirinya dalam pantulan cermin, berdiri dengan tubuh tegak dan tubuh ramping.


Gaun itu begitu pas di tubuh Alaris yang sempurna, gaun itu memiliki lengan yang kecil dan hanya terbuat dari kain yang tipis dan transparan, memperlihatkan seluruh tangan Alaris yang kecil dan estetik hingga bahunya menunjukkan kesempurnaan.


Tekanan dan emosi serta kecemasan menyerbu tubuh Alaris.


Alaris membayangkan dirinya yang akan menjadi istri Harry, dengan semua kekayaan yang di miliki Harry ia tidak akan pernah kesulitan dari segi ekonomi, dan kekuatan pertahanan pengawal milik Mac Linford akan mampu melindunginya, namun Alaris hanya menginginkan ketulusan Harry Mac Linford padanya.


"Nyonya Alaris, anda terlihat tegang dan cemas. Anda mengerutkan kening dan mondar mandir." Kata Brida.


"Perasaan ini berbeda dengan pernikahan ku bersama William, kenapa aku begitu gugup, aku bahkan mampu menyelesaikan masalah dengan para pebisnis handal tapi sekarang aku seperti makhluk kecil yang lemah." Kata Alaris.


"Saya akan menjaga agar acara ini berjalan lancar."


"Bagaimana aku?" Tanya Alaris.


"Anda sempurna."


"Tidak bagaimana gaunku, dan make up ku."


"Sangat sempurna Nyonya." Kata Brida.


"Aku takut menjadi bahan cemohan, dan akan mempermalukan Harry, itu membuatku cemas dan sedih. Lalu aku juga sudah meminum obat yang di resepkan Arthur agar bisa tidur lebih awal, karena semua mengatakan tidur nyenyak akan membuat kulit terlihat lebih sehat dan riasan terlihat lebih baik." Kata Alaris menarik nafasnya dalam-dalam.


"Nyonya..." Brida datang mendekat dan menggenggam kedua tangan Alaris.


"Anda sangat cantik dan anggun seperti seorang malaikat, banyak yang mendoakan anda bahagia, Tuhan merestui pernikahan ini dan semua akan berjalan dengan baik dan membawa kebaikan bagi diri anda dan Tuan Harry."


"Terimakasih untuk segala dukunganmu Brida." Kata Alaris.


"Anda akan bahagia dan baik-baik saja Nyonya, anda sangat cantik." Kata Samantha.


"Terimakasih Samantha."


"Anda seperti ratu Nyonya. Tidak bisa di bandingkan dengan wanita itu." Kata Emily.


"Kamu memang pintar memuji Emily." Kata Alaris.


Sekarang Alaris mulai tenang, namun masalah yang lain datang, kesemutan mulai menyerang di setiap otot tubuh Alaris, semua itu di karenakan Alaris tidak berani duduk, ia tidak ingin membuat gaunnya kusut.


"Kenapa sangat lama." Kata Alaris.

__ADS_1


Tak berapa lama pintu di ketuk dan Samantha membukannya.


"Kakak..." Kata Hector memanggil dengan wajah merah.


Pria itu terpesona pada kakaknya sendiri.


"Kamu sangat cantik dan memiliki aura yang berbeda." Kata Hector lagi mendekat.


Alaris kemudian melihat dirinya lagi memalui pantulan cermin yang berdiri di sampingnya.


'Aku berusaha sekuat tenaga agar tidak mempermalukan diriku sendiri dan juga Harry, tidak mau kejadian seperti pernikahan Axella terjadi padaku.'


"Kamu berbeda Alaris, wajahmu bersinar." Kata Hector.


"Benarkah ini aura kakakku?"


'Benarkah? Aku terlihat berbeda, inikah yang dinamakan pernikahan yang sebenarnya ketika hati yang menginginkan? Dan yang jelas aku sangat menyukai penampilan ku dalam gaun pengantin ku. Gaun pengantin yang modern.'


Gaun pengantin yang di pakai Alaris terkesan glamor dan berkelas. Meskipun Alaris telah mencobanya sebelumnya, sekarang tampilannya jauh lebih menakjubkan karena Alaris memakainya dengan rambut yang di tata serta wajah yang di rias.


"Ayo..." Kata Hector memberikan lengannya.


Saat Alaris berbalik dan gaun Alaris menyibak, seketika membuat suara Sreett, lalu cahaya menyinarinya dan gaun itu berkilauan seolah bertabur bubuk berlian.


"Astaga ini menakjubkan, anda sangat mengagumkan Nyonya. Semua orang akan memberkati anda." Kata Samantha.


'Ini semua karena Harry, dia memiliki perusahaan berlian yang terbesar dan membuat gaunku memang sengaja di beri taburan bubuk berlian.'


Alaris dan Hector berjalan perlahan, hingga kini mereka sampai pada ujung karpet Altar.


Semua tamu terhormat dan bangsawan sudah berkumpul di aula, mereka pun sudah berdiri. Terlihat William dan Axella juga menghadiri dan sudah berdiri di paling depan.


'Aku dan Harry sudah saling mengikat janji, kami selalu merasa sudah menjadi suami istri, upacara hari ini akan menjadi formalitas saja tapi ternyata ini membuatku sangat cemas.'


"Gugup?" Tanya Hector.


"Ya, tak bisa ku bayangkan lagi beginikah rasanya pernikahan yang sesungguhnya, aku ingin pingsan."


Hector tersenyum mendengar kalimat kakaknya.


"Aku juga mendengar jantungmu di gebuk seperti mau perang."


Alaris mencubit pinggang Hector, membuat Hector tersenyum.


"Cepatlah berikan aku keponakan yang banyak dan lucu-lucu."


Seketika Alaris menatap wajah Harry yang menatap nya juga, Harry berada di ujung karpet tepat di atas altar, Alaris terbesit dan membayangkan, itu semua karena Hector menyebutkan ia ingin keponakan yang lucu-lucu.


Wajah Alaris berubah menjadi merah delima.

__ADS_1


Kemudian sang pengawal mengatakan bahwa Alaris sudah boleh masuk.


Hector menggandeng pelan kakaknya. Mereka memasuki dan berjalan di atas karpet merah yang membentang, karpet itu di taburi oleh bunga-bunga.


Di sisi lain, Alaris tak pernah melepaskan pandangannya dari mata Harry, begitu pun Harry yang selalu ingin tertawa bahagia melihat Alaris yang begitu cantik seperti peri baik, ia tidak pernah menyangka mimpinya menjadi kenyataan. Memiliki Alaris menjadi istrinya.


Mata Harry berarir dan ia ingin menangis.


'Astaga apakah Harry menangis.'


Namun senyuman cerah Harry tetap tercurah pada Alaris. Mata hijau yang bening dan memancarkan cahaya kelembutan bagi Alaris.


Kegembiraan itu begitu jelas tercermin dalam ekspresi Harry, Alaris sendiri saking bahagia juga harus menahan tawa, hingga Alaris benar-benar berusaha keras untuk mengendalikan otot-otot wajahnya.


'Astaga boleh kah aku tertawa dengan keras, hatiku begitu bahagia, entah apa yang telah merasuki ku, tapi ini kebahagiaan yang luar biasa.'


Bersama Hector, Alaris berjalan dan berjalan terus menerus. Jalan pengantin wanita, Jalan di mana Alaris hidup sendiri tanpa Harry.


Jalan yang pernah Alaris lalui sebelum bersama Harry, jalan yang terjal saat bersama William, penuh sakit dan luka.


Sebelum pikiran pahit kembali muncul, Harry mengulurkan tangannya menyambut Alaris.


Mereka saling menatap dan saling melempar senyuman satu sama lain. Mereka berdiri saling menatap.


"Saya, Harry Mac Linford menerima Alaris Dwyne sebagai istri saya dalam suka dan duka."


Imam Besar berdecak kagum sejenak ketika dia melihat Harry melakukannya dengan baik sendiri. Harry mengambil kalimat sang Imam.


Apalagi aura kuat yang memancar dari Harry membuatnya semakin percaya bahwa Harry adalah sosok yang bermartabat.


Harry kemudian bertanya pada Alaris.


"Apakah Alaris Dwyne mau menerimaku sebagai suami?"


"Aku menerima mu Harry." Kata Alaris dengan tersenyum.


Harry dan Alaris saling pandang, Harry memeluk pinggang Alaris dengan lembut dan mendekatkan tubuh mereka, ciuman itu lembut dan sensual, penuh hasrat dan penuh keinginan yang kuat untuk saling melepaskan kerinduan.


Pada saat yang sama sorak-sorai pecah lebih keras dari sebelumnya.


Setelah melepaskan ciuman, Alaris melirik ke arah aula. Alaris melihat William keluar dan meninggalkan Axella yang bersungut masih duduk di kursinya.


'Ada apa dengan mereka. Kenapa William meninggalkan Axella sendirian?'


Menyadari istrinya melihat pria lain, tepatnya mantan suaminya, Harry kemudian mengulurkan tangan kekar nya, ia menarik dagu Alaris dengan lembut.


"Cukup lihat aku istriku." Kata Harry tersenyum kedua mata indah itu menatap Alaris.


Kemudian Harry kembali mencium bibir Alaris, Harry memeluk Alaris lebih erat lagi, hingga suara tepuk tangan yang ramai pun seolah tidak lagi mereka dengar.

__ADS_1


bersambung~


__ADS_2