
Alaris masih dalam keadaan tidur pulas, siang itu matahari tidak terlalu terik, namun cukup untuk memberikan kehangatan di dalam ruangan kamar, sinar itu masuk melalui tirai-tirai putih yang melambai perlahan tertiup angin sepoi-sepoi melalui jendela yang besar
Tiba-tiba hidung Alaris yang sangat peka mencium aroma lezat, aroma kuat itu muncul dan melintasi pikirannya kemudian merangsang perutnya yang menimbulkan rasa lapar.
Namun, Alaris masih tidak memiliki keinginan untuk bangun, Alaris masih merasa mengantuk dan hal itu bertabrakan dengan keinginan menikmati sesuatu yang aromanya benar-benar membuat perutnya lapar.
Alaris menggelengkan kepala berulang kali karena aroma itu semakin pekat di dekat hidungnya, kepulan asap hawa panas dari makanan itu pun menyentuh wajahnya.
Pada akhirnya dengan sangat malas namun juga merasa lapar, Alaris terbangun karena mendengar tawa yang khas dan seksi, suara itu serak dan lembut serta hangat.
"Harry?" Kata Alaris menatap Harry dengan senyuman.
Setelah mata Alaris terbuka sepenuhnya, ia melihat Harry berdiri membawa troli yang berisikan begitu banyak makanan.
Alaris tersenyum.
"Makanan sebenyak itu, apa kamu sendiri yang membawanya?" Tanya Alaris.
Harry mengangguk dan duduk di tepi ranjang.
"Ayo sarapan."
"Jam berapa ini?"
"Tepatnya tengah hari." Kata Harry.
"Itu bukan sarapan lagi." Kata Alaris.
"Kamu tidur dengan nyenyak dan pulas, aku tidak tega membangunkanmu."
Harry kemudian mengambil piyama dan membantu Alaris duduk, kemudian Harry memakaikan piyama itu pada Alaris.
'Aku sudah tidak merasa canggung dengan hal-hal intim seperti ini, dan aku sangat bahagia Harry selalu perhatian padaku.'
"Apa kamu mendorong troli makanan itu sendiri?"
"Ya, siapa lagi?"
Harry kemudian membuka beberapa tutup saji nya yang berwarna keemasan.
Alaris melihat suaminya dengan keheranan, Harry kemudian mengambil spagetti dan menyuapkan pada Alaris.
Dengan patuh Alaris membuka mulut dan memakannya, Harry kemudian bertanya dengan senyuman bangga, dan lebar, wajahnya yang tampan sangat jelas karena sinar matahari yang terang.
"Bagaimana rasanya istriku?"
"Seperti kemarin, enak sekali." Kata Alaris.
"Aku adalah kokinya." Kata Harry.
"Kamu koki terbaik." Kata Alaris.
__ADS_1
"Aku senang jika kamu menyukai masakanku." Kata Harry.
'Banyak bangsawan tidak tahu cara memasak. Dia benar-benar pria yang luar biasa. Dan pria seperti itu tadi pagi berlutut di lantai dengan wajah penuh putus asa dan ketidak berdayaan. Dia berlutut dan meminta maaf padaku.'
Saat Alaris merenung dan memikirkan kejadian tadi pagi ketika Harry begitu terlihat putus asa, Harry kembali menyendokkan spagetti.
"Aku membuatkan soup, apa kamu mau?" Tanya Harry
Alaris mengangguk.
Lalu Harry mengambil semangkuk sup dan menyuapi Alaris lagi.
"Kenapa kamu melakukan semua ini Harry?"
Harry menatap Alaris heran. Alisnya mengerut tanda tidak mengerti dengan kalimat Alaris.
"Kenapa kamu selalu baik padaku, bahkan memberikanku makan, memasak untukku, menyuapi ku makan."
"Tentu saja karena aku mencintaimu."
Alaris mengenyit.
"Sejak kecil hingga besar aku tidak pernah merasakan apa itu cinta, dan tidak tahu seperti apa itu cinta, hingga aku menikah dengan William, ku pikir sepasang suami istri kontrak yang hanya atas dasar kejasama perusahaan akan tetap melakukan hubungan dan tanpa ada batasan, tapi ternyata bayanganku salah, sekarang aku menikah denganmu pun, bayangan yang ada dalam benakku tetap salah."
"Apa bayangan yang ada di dalam benakmu tentang pernikahan?"
"Ku pikir menikah hanya sekedar tidur bersama dan bekerja bersama, aku tidak tahu jika hal-hal seperti ini juga ada, dan semua hal yang kamu lakukan meski itu adalah hal kecil, tapi bagiku itu hal yang berdampak sangat besar dan membuatku terpana bahagia."
"Ketika seseorang jatuh cinta, semua hal yang ia lakukan adalah ketulusan dan tanpa paksaan, ia akan melakukannya dengan sepenuh hati. Meski pasangannya ceroboh, meski sisa makanan ada di sekitar mulutnya, lalu sang pria menjilatnya itu pun akan terasa sangat nikmat." Kata Harry dengan suara rendah.
Wajah Harry sangat tampan, dan itu membuat Alaris silau.
"Aku beruntung mendapatkan suami yang tampan."
"Aku tahu, kamu sangat menyukai wajah dan tubuhku." Kata Harry tertawa.
Alaris pun menahan tawanya dan hanya tersenyum.
"Harry? Sifat hangat mu ini berasal dari siapa?" Tanya Alaris.
Harry diam sejenak.
"Aku tidak yakin dari siapa, karena kedua orang tuaku sama sama hangat, meski ayahku keras dan dingin, tapi dia hangat terhadap anak-anaknya, kedua orang tua ku tidak pernah segan memperhatikan anak-anaknya, apalagi perihal makanan, jika aku atau Hendric tidak mau makan mereka selalu bersedia untuk menyiapkan makanan apa yang kami sukai, dan mereka juga tidak pernah canggung atau malu menyuapi kami."
"Aku merasa tidak terlalu dekat dengan Hector, tetapi dia selalu memperhatikan apakah aku makan dengan baik, apakah aku bahagia. Tapi aku yang tidak pernah bertanya padanya, apakah dia bahagia, bagaimana dia menjalani kehidupannya ketika orang tua kami meninggal, yang ada Hector lah yang selalu melindungi ketika semua orang menyalahkan ku dan membullyku atas kecelakaan itu."
"Ah, kalau di pikir mungkin Hector adalah pria yang mengedepankan emosi, tapi dia sangat menyayangi kakaknya, aku mendapat kabar popularitas Hector melesat tinggi, dia terkenal di kalangan wanita, banyak yang menyatakan cinta padanya." Kata Harry.
"Bernarkah?" Tanya Alaris.
"Kapan-kapan aku akan membawamu ke negara Amarka untuk menemui Hector." Kata Harry.
__ADS_1
"Jadi Harry, jika kita memiliki bayi, aku yakin kamu akan menjadi ayah yang hebat." Kata Alaris.
Seketika wajah Harry muram, tangannya mengepal, kemudian Alaris memeluk Harry.
"Aku berharap kita memiliki banyak anak, agar suasana semakin semarak." Pinta Alaris.
"Ya, aku juga menginginkannya." Harry menelan ludahnya dan membalas pelukan Alaris.
Harry tidak mampu dan tidak tega mengatakan bahwa efek obat terlarang itu adalah mempengaruhi kesuburannya, Harry cukup khawatir untuk masalah impoteen dan kesuburan nya.
"Alaris..." Tanya Harry kemudian ia melepaskan pelukannya dari Alaris.
Alaris menatap wajah tampan Harry.
"Apapun yang terjadi, aku tidak ingin kehilangannmu, apapun keinginanmu aku akan memberikannya. Aku janji padamu."
Alaris mengangguk tanda mengerti.
Setelah cukup lama akhirnya Harry dan Alaris selesai makan, kemudian Alaris kembali beristirahat dan para pelayan mengambil troli makanan,
Tiba-tiba pintu di ketuk dan itu adalah dokter Arthur , ia datang untuk memeriksa keadaan Alaris.
"Apakah masih sakit Nyonya?" Tanya Arthur.
Alaris diam.
'Ini memalukan, bagaimana aku bisa menjelaskan kondisi tubuhku yang ku rasakan sekarang pada pria yang bukan suamiku.'
"Sudah lebih baik." Kata Alaris.
Meski tubuhnya masih terasa sedikit kaku dan sakit, namun ia tidak ingin mengatakannya pada Arthur karena malu.
"Saya akan meresepkan obat, anda akan memiliki energi lagi." Kata Arthur.
"Terimakasih." Kata Alaris.
Harry terus berada di samping Alaris dengan menggenggam tanga Alaris.
Setelah pemeriksaan itu selesai, Arthur dan Harry keluar.
"Arthur, aku akan menjalani check up kesehatan berkala seperti usulmu, tapi rahasiakan ini dari semuanya, apalagi yang paling penting rahasiakan dari Alaris."
Arthur nampak terkejut, awalnya Harry menolaknya dan tidak mau membahasnya, namun sekarang Harry justru memintanya.
"Anda tidak memberitahu Nyonya Alaris efek dari obat terlarang itu?"
"Aku tidak ingin membuatnya sedih, dan aku tidak mau mengecewakannya, dia bersemangat ingin memiliki banyak anak." Kata Harry murung.
Arthur mengangguk mengerti, siapa yang telah membuat Harry menentukan pilihan.
bersambung~
__ADS_1