
William menatapku dengan tidak percaya, lalu memberikan senyum hampa.
"Kamu memang tidak memiliki hati nurani, dingin dan sangat egosi."
Alaris kini merasa sia-sia dia mengeluarkan kalimat yang ada di dalam hatinya pada William, karena William memang tuli telinga dan hilang akal juga perasaannya mati.
"Tidak peduli seberapa besar kamu membenci Axella, tapi bayi itu adalah anak yang belum lahir, bayi itu tidak berdosa dan kamu tetap membenci nya juga. Aku penasaran apa kamu bahkan menganggapku sebagai seorang suami atau tidak..."
Tetapi sebelum kata-kata William berlanjut, sebuah pukulan yang keras melayang pada wajahnya. Kalung yang di genggam William pun terlempar, sedangkan William tumbang di atas lantai marmer yang dingin.
Itu adalah Harry Mac Linford.
"Haa... Aku benar-benar sudah menahannya dari tadi, tapi mulutmu yang sangat menyebalkan itu membuatku tidak sabar." Kata Harry.
William kemudian bangkit dan melayangkan pukulannya, namun kemudian Harry menangkis dan memblokir tangan William lalu menekuknya ke belakang.
"Berhenti!"
Mendengar teriakan Alaris Jason, Leon dan para pengawal berdatangan, para pelayan pun ketakutan dan memeganggi sapu serta alat pel yang mereka bawa.
Jason yang datang kemudian ingin memukul Harry, namun Austin melindungi dan menangkap Jason, lalu para pengawal pun di block oleh Leon.
Alaris melangkah maju dan ingin melerai Harry serta William.
William terlihat tidak terlalu mahir dalam bela diri, namun tubuh berotot Harry pastilah sudah bisa menunjukkan bahwa Harry jauh lebih mahir dalam hal beladiri.
Akhirnya Alaris mampu memisahkan William dan juga Harry, lalu Jason dan Austin juga berpisah, tetapi mereka semua masih terus saling menatap.
Ketegangan mereda hanya sedetik, dan kemudian keributan kembali berkobar.
William diam-diam mengambil kursi dan memukul Harry.
Kepala Harry berdarah, kepalanya bocor.
Alaris terkejut dan membulatkan mulutnya.
"Astaga William apa yang kamu lakukan."
"Kamu memang badjingan!" Harry maju dan mengambil kerah milik William memukulnya hingga bertubi-tubi.
Axella yang datang terlambat berteriak melihat William di pukul habis-habisan bahkan para pengawal tidak dapat memisahkannya.
Jason dalam cengkraman Austin, sedang Leon menahan Axella.
Pelayan mundur dari tempat kejadian.
Beberapa pengawal Harry juga masuk dan mulai datang ke sisi Harry.
Sementara pengawal milik William yang lain mengepung.
Masing-masing dari mereka mengeluarkan pistol.
Harry menatap dengan santai melihat para pengawal saling mengacungkan pistol.
"Suruh pengawalmu menurunkan senjata atau aku akan membunuhmu." Kata Harry.
__ADS_1
William yang sudah babak belur hingga tanganya patah meminta semua menurunkan pistolnya.
William memberi perintah kepada para pengawal untuk mundur namun para pengawal tetap pada tempatnya.
Alaris kemudian berteriak.
"Aku memerintahkan kalian semua untuk mundur! Semuanya tanpa terkecuali!"
Alaris melihat darah di kepala Harry yang mengalir hingga ke bagian bahu, kemeja putihnya berubah menjadi merah.
"Kamu tidak perlu khawatir. Aku pernah terluka lebih parah dari ini." Kata Harry.
Suasana masih panas, Harry menerima sapu tangan dari Alaris dan mengelap darah yang mengalir di pelipisnya.
"Sudah selesai semuanya pergi." Kata Alaris.
William mendecakkan lidahnya dan menahan kesakitannya. Namun, William tampaknya, sepenuhnya masih di kelilingi rasa amarah.
"Yah, sepertinya Harry dan Austin memiliki hati untuk Alaris. Benar begitu bukan?"
"Aku memiliki hati atau tidak apa kamu peduli, bahkan kamu tidak peduli bagaimana perasaan Alaris ketika kamu membawa selingkuhanmu. Kenapa kamu sekarang peduli siapa yang akan mencintai Alaris!"
"Apa?!"
"Apakah masuk akal untuk meminta pasanganmu untuk bersikap ramah pada selingkuhanmu, apa itu masuk akal kamu meminta Alaris merawat dan menjaga selingkuhanmu seperti adiknya sendiri, apa kamu juga waras meminta Alaris menerima bayi yang lahir dari perselingkuhan?"
Axella berlinang air mata saat mendengar kalimat Harry.
"Perselingkuhan?!"
"Aku sudah melamar Axella secara resmi!"
"Tapi apakah Alaris setuju? Apakah kamu meminta pendapat Alaris, apakah kamu bertanya tentang perasaan Alaris." Kata Harry
William diam, dia mulai berfikir apakah Alaris merasa sakit hati? Apakah Alaris menangis? Apakah Alaris merasakan itu semua? Namun selama ini Alaris hanya menunjukkan wajah dinginnya yang tak berperasaan.
Axella datang dan memeluk William yang mulai goyah akan kebenaran kalimat Harry.
Saat itulah William melihat Axella memakai kalung yang sama persis dengan apa yang dia berikan pada Alaris. Lalu William melihat kalung yang tergeletak di atas lantai marmer, kalung itu putus, dan Alaris memiliki luka di lehernya. William sadar Alaris sempat memakainya.
Kini William mengerti kenapa Alaris membuang kalung pemberiannya.
Berangsur-angsur William lebih tenang.
"Ayo pergi." Kata William dengan lesu.
Kemudian semua pengawal dan juga Jason pergi meninggalkan ruang tengah.
Sedangkan Alaris meremas kedua tangannya, memanggil para pelayan pribadinya.
"Panggil dokter!" Kata Alaris.
Harry hanya tersenyum melihat kekhawatiran Alaris.
Leon dan juga Austin masih di sana, menunggu dan berjaga.
__ADS_1
Pelan-pelan Alaris membawa Harry ke kamarnya untuk melakukan perawatan, Alaris panik mengambil kotak obat dan membukannya dengan tangan gemetar ia membersihkan darah yang ada di kepala dan leher Harry.
Pria itu duduk dengan santai di atas ranjang milik Alaris.
"Aku kesini ingin memberitahukan bahwa aku sudah membawa pulang adikmu, tapi justru mendengar perdebatanmu dan juga William, maafkan aku sudah ikut campur, aku tidak tahan dengan kalimat pria itu." Kata Harry.
"Adikku? Hector? Dimana dia sekarang?" Kata Alaris cemas.
"Dia aman, dia berada di kastil Emperor." Kata Harry.
Alaris merasa lega dan bisa tenang.
"Terimakasih Harry, aku sangat berterimakasih, aku benar-bebar berhutang budi padamu." Kata Alaris.
"Lalu bagaimana kamu menbalas hutang budimu padaku?" Tanya Harry.
"Apa?"
"Aku bertanya bagaimana kamu akan membalasku?" Harry melihat wajah Alaris dan menatapnya lekat-lekat.
Wajah Harry yang tampan membuat Alaris menjadi merona.
"Lepaskan bajumu, darahnya akan membekas jika tidak segera di bersihkan."
"Baiklah."
Kemudian Harry membuka kemejanya, dan kini Alaris menyesali perkataannya agar Harry membuka bajunya.
Tubuh berotot dan kekar itu membuat Alaris semakin salah tingkah, apalagi perawakan Harry yang tinggi dan juga wajah tampannya membuatnya semakin terlihat sempurna.
"Dok... Dokter akan segera datang." Kata Alaris
Namun Harry memegang pergelangan tangan Alaris.
"Kamu belum menjawabku Alaris, bagaimana kamu akan membalasku? Aku menempatkan adikmu dengan aman dan menjaganya."
"Kamu ingin aku membalasmu dengan apa?" Kata Alaris.
"Kamu bertanya padaku? Jika aku mengatakannya apakah kamu akan setuju?"
Alaris kemudian berbalik dan melihat pada Harry, ia juga melihat bagaimana tangan besar yang kuat dan kokoh itu mengenggam pergelangan tangannya dengan lembut.
Alaris mengangguk.
"Kamu ingin aku membalasmu dengan cara apa?"
Harry berdiri kemudian tangan Harry terulur maju dan menyentuh pipi Alaris dengan lembut, ia mendekatkan wajahnya pada wajah Alaris. Mata mereka saling menatap satu sama lain.
Debaran jantung Alaris semakin kencang, jantungnya seolah semakin di remas. Hawa panas menyelimuti tubuhnya, seolah ia menginginkan lebih dekat lagi pada tubuh Harry yang sempurna.
"Menikahlah denganku. Alaris." Kata Harry menatap mata Alaris dengan mantap.
Tangan kekar yang besar dan berotot masih menyentuh pipi Alaris dengan hangat, sedangkan tangan Harry yang satunya menggenggam pergelangan tangan Alaris.
Sedikit demi sedikit Harry mendekatkan bibirnya. Sedikit demi sedikit Harry mendekatkan tubuhnya dan akhirnya tubuh mereka saling menempel, bibir mereka pun hanya berjarak beberapa inch.
__ADS_1
bersambung~