Pernikahan CRAZY RICH

Pernikahan CRAZY RICH
AUSTIN TERSIKSA DENGAN PERMAINANNYA SENDIRI


__ADS_3

Beberapa hari setelah insiden pemukulan itu Alaris berusaha untuk merawat Austin, namun selalu saja ia merasa bahwa Austin sedang menghindarinya.


'Ini, aneh, kami suami istri, tapi dia selalu menghindar dariku, bahkan kami tidak pernah tidur bersama, apa dia benar-benar ingin menjauh dariku?'


'Jika Austin tidak menyukaiku tapi kenapa dia masih bersikap hangat dan malu-malu padaku?'


Pagi itu, Alaris mengetuk pintu kamar Austin dan pria itu membukanya.


Austin hanya memakai piyama yang tidak di ikat, membuat dada bidangnya yang berwarna kecoklatan ter ekspose.


Mata Austin membelalak, ia pikir itu adalah pelayan.


"A... Aku tidak tahu itu kamu. A.. Ada apa?" Tanya Austin gagap dan membetulkan piyamanya.


"Boleh aku masuk." Kata Alaris.


"Si... Silahkan." Kata Austin membuka pintu lebih lebar dan kemudian menutup pintunya ketika Alaris sudah ada di dalam.


Alaris meletakkan baskom berisi air dingin dan duduk di atas ranjang Austin.


Mereka saling pandang, Austin tidak faham apa yang Alaris mau.


"Duduk." Perintah Alaris.


Kemudian Austin duduk di atas ranjang dengan jarak yang agak jauh, ia hati-hati meletakkan pantattnya dan memberi jarak.


Alaris menghela nafas, ia sadar bahwa Austin sangat menjaga jarak.


"Aku akan mengompres lukanya lagi." Kata Alaris mengambil handuk dingin dari baskom.


"Tidak. Ti... Tidak perlu, ini akan sembuh dengan cepat."


Alaris menatap tajam pada Austin, pertanda pria itu tidak boleh menolak karena ia sudah membawakan handuk dingin.


Alaris melihat wajah Austin dari dekat, dan kembali mengamati, wajah yang pria itu miliki adalah wajah merah dan mata lembab. Ekspresi lucu dan ragu seorang pria yang seperti ingin tahu... Seperti apa sebenarnya kegembiraan itu?


Tiba-tiba Alaris melihat pupil mata Austin melebar, hidung merah, bibir bergetar, ketika Alaris membelai pipi Austin dengan handuk dingin.


"Austin? Apa sangat sakit?" Tanya Alaris.


"Panggil aku Honey." Kata Austin menelan ludahnya kasar.


"Honey." Kata Alaris menuruti perintah Austin.


"Sial! Jangan dengarkan aku Alaris, kamu harus pergi." Austin berdiri menjauh dan meremas kepalanya.

__ADS_1


"Austin? Ada apa denganmu?"


"Panggil aku Honey! Aaahh!!! Sialan!!! … tidak, tolong pergi saja Alaris. Aku mohon. Aku benar-benar akan meledak."


Alaris memandang dan mendengarkan Austin dengan kebingungan, dan Alaris berdiri hendak mendekat.


"Stop di sana!" Kata Austin tegas.


"Ada apa? Kita suami istri." Alaris mulai kesal.


"Aku benar-benar tidak dapat menahannya lagi jika kamu terus-terusan seperti ini Alaris, aku mohon ini demi kebaikan bayi di dalam perutmu." Tubuh Austin bergetar hebat, pria itu memutar tak mau melihat Alaris dan menempelkan kepalanya di dinding, sedangkan kedua tangannya mengepal, urat-urat tangan itu terlihat sangat keras.


"Aku sangat mencintaimu sampai aku mau mengambil risiko atas semua perbuatanku. Entah itu kapan, tapi dia pasti akan benar-benar membunuhku jika aku melewati batasnya!" Austin membenturkan dahinya di dinding.


"Dug!"


"Dug!"


"Honey!" Alaris memeluk Austin dari belakang agar pria itu berhenti.


"Aaah..." Kesakitan di dahinya hilang dan justru suaranya menjadi suara erangan ketika Alaris memeluknya dari belakang.


"Astaga... Kamu membuatku tersiksa. Saat aku melihatmu, yang kulihat hanyalah bibir, leher, dan matamu yang indah, dan ketika aku bernafas... Parfum apa yang kamu gunakan? Itu sangat luar biasa, ingin sekali aku...." Austin berbalik badan dan memeluk Alaris dengan sekuat tenaga.


Alaris masih diam tak mengerti apa yang di maksud oleh Austin, bukankah mereka adalah suami dan istri lalu kenapa Austin harus menahannya?


Austin masih dalam upaya untuk membendung segala ocehannya yang akan terus mengalir dari mulutnya, menutup matanya dan menekan pelukannya pada Alaris.


Sesuatu sudah bergejolak di bawah sana, Austin mulai bergerak dan bergesek dengan irama, erangan indah keluar dari mulut Austin ketika tubuh Alaris menempel di tubuhnya.


“Ini sangat bahaya untuk situasinya sekarang, jadi tolong pergi. Jika aku melewati batas, orang itu akan membunuh ku dan keluargaku, maafkan aku telah membuat semuanya menjadi berantakan, tapi percayalah, aku sangat mencintaimu, rasa cintaku dan rasa sakit hatiku, telah membutakan mata dan pikiranku. Aku akan segera baik-baik saja. Lalu aku bisa kembali padamu seperti biasanya. Tapi sebelum itu, berilah aku sedikit waktu untuk menenangkan diriku." Kata Austin lalu ia mencium leher Alaris dan menyesapnya.


Alaris melihat banyak keringat telah menetes di tubuh Austin, kulit Austin yang kecokelatan, membuatnya tampak jauh lebih seksi dan menantang.


Meski Alaris tidak mengerti apa yang di ucapkan Austin, namun pada akhirnya ia mengangguk, yang ia tahu adalah sekarang Austin sedang tersiksa, dengan kehadirannya.


Ketika pergi dari kamar Austin, saat itu, Alaris memilih untuk duduk di ruangan tengah di lantai satu.


Alaris melihat patung dirinya tanpa sepatah katapun, matanya sesekali berkedip pelan, ia seolah sedang melamun dengan mata yang kosong.


Hingga ia di kejutkan oleh sapaan seorang pelayan jika ada yang ingin menemuinya.


"Nyonya, ada yang ingin bertemu dengan anda." Kata Pelayan itu.


Alaris mengangguk lalu melihat, itu adalah pria yang kemarin, namun bukan pria yang memukul Austin, hanya salah satu di antara mereka.

__ADS_1


"Selamat pagi Nyonya Alaris, bagaimana keadaan anda?" Tanya Leon.


"Baik." Kata Alaris dingin.


"Apa Tuan Austin sudah memberitahu jika anda akan mendapatkan 2 pelayan pribadi yang handal dalam segala hal, bahkan sangat bisa mengerti apa yang anda inginkan?"


"Belum."


"Aa... Mungkin tuan Austin lupa." Kata Leon tersenyum lebar.


Alaris kemudian duduk kembali di sofa nya dan mengamati dengan seksama pelayan pribadi yang akan bekerja dengannya.


Pagi itu Emily dan juga Samantha sampai di Kastil milik Austin dengan wajah tegang, mereka berdua sangat paham, bahwa saat ini keadaan tidak berpihak pada Tuan mereka, dan syukurnya mereka dapat diajak bekerja sama.


Alaris yang duduk di sofa memandangi mereka dengan tatapan hampa.


'Kenapa orang-orang ini juga terasa akrab.'


"Nyonya kami yang akan melayani anda kedepannya, untuk semua keperluan pribadi serahkan saja kepada kami." Kata Samantha.


Di banding kan Emily, Samantha jauh lebih tegar menerima bahwa Alaris tidak mengingat mereka.


Kemudian Alaris hanya mengangguk, dan meninggalkan mereka di lantai bawah.


"Nyonya..." Lenguh Emily.


Samantha menggosok punggung Emily, agar gadis itu tegar.


"Kalian ingat tugas apa yang sudah Tuan Harry berikan." Kata Leon.


"Ya, tuan, sedikit demi sedikit kami akan menstimulasi Nyonya."


"Tapi ingat untuk secara perlahan, jangan sampai mempengaruhi kondisi kehamilan." Kata Leon.


"Baik Tuan." Kata Samantha dan Emily mengangguk.


"Baiklah, aku ada pekerjaan lain." Kata Leon dan mulai memasang cctv di setiap sudut lantai bawah dengan gerakan luwes tanpa menimbulkan kecurigaan.


"Sisannya kalian pasang di ruangan-ruangan yang akan di gunakan Austin, aku tidak bisa menjangkaunya, itu di lantai atas, tapi kalian pasti bisa." Bisik Leon.


"Baik tuan."


Kemudian Leon pergi kembali ke kastil Emperor.


bersambung~

__ADS_1


__ADS_2