
'Bagaimanapun William tahu atau tidak tahu, menyadari ataupun tidak menyadari bahwa Axella adalah seorang wanita yang sudah di gunakan oleh bangsawan lain kata lain wanita tidak bersih, walaupun dia tahupun, aku tidak berpikir William akan membenci Axella.'
'William telah membawanya, karena keadaannya yang menyedihkan dan keinginan kuatnya untuk melindungi Axella, apalagi dengan wajah Axella yang cantik dan terkesan sangat polos, William jatuh cinta pada kecantikan itu, yang aku yakini adalah meskipun Axella orang biasa, orang rendah yang kotor, ataupun bangsawan kurasa William akan tetap mencintainya. Dia akan mencoba melindungi Axella dari ejekan dan segala gangguan.'
'Dan yang paling aku tahu pada diriku sendiri adalah, aku tidak mau tahu apa yang akan terjadi, dan aku tidak ingin terlibat dengan Axella, apapun yang menyangkut Axella aku tidak mau terlibat.'
"Nyonya Alaris."
Pikiran Alaris yang sedang jauh dikembalikan oleh suara sapaan yang tidak asing baginya.
"Aahh... Tuan Austin Harold." Kata Alaris terkejut.
"Maaf saya terlambat, dan selamat atas kesuksesan Imperial Diamond." Kata Austin.
Wajah Austin terlihat sedih dan dengan mata panjang yang tajam serta kulit berwarna sawo matang yang sehat, dia menggerakkan kepalanya dengan ekspresi kusam, seolah-olah dia menemukan segalanya terasa melelahkan. Entah apa yang telah terjadi namun Alaris yakin itulah yang membuatnya terlambat datang.
"Dan juga, selamat anda sudah menemukan teman masa kecil anda, saya melihat siaran langsungnya, dan saya... Saya tidak tahu harus mengatakan apa tentang Tuan William." Kata Austin.
Alaris masih diam.
"Saya menghentikan perjalanan saya kesini dan hanya duduk di dalam mobil dengan sangat lama, saya menyaksikan siaran langsung itu, semuanya. Tuan Harry memperlakukan anda begitu hangat, kisah kalian berdua sangat menyentuh hati saya, dan saya kemudian menyaksikan bagaimana Tuan William melamar wanita lain yang sama sekali tidak cantik, itu adalah sebuah kemunduran baginya, bahkan kecantikannya tidak bisa di bandingkan dengan anda." Kata Austin.
"Itu sudah menjadi keputusan William." Kata Alaris.
"Dan jika anda membutuhkan bantuan, saya akan menjadi orang yang paling depan melindungi anda." Kata Austin lagi.
"Kamu pasti kecewa, karena orang yang akan melindungi nya paling depan adalah saya." Tiba-tiba entah muncul dari mana Harry mendekat di samping Alaris dan tersenyum.
Senyuman Harry lebar namun itu lebih terlihat sebagai sebuah peringatan.
"Semua keputusan ada di tangan Nyonya Alaris bukan dirimu." Kata Austin melihat pada Harry.
Kini mata Austin serta mata Harry saling menatap, tidak ada yang mau mengalah.
Emily yang menikmati makanannya pun terperangah, melihat para pria yang sedang berlomba ingin melindungi Alaris.
Suasana menjadi sangat sunyi dan canggung, namun Austin dan Harry belum juga berhenti saling menatap.
"Aaah... Dokter Arthur, anda sudah datang." Kata Alaris yang ingin mencairkan suasana.
"Selamat atas pesta besar ini, Imperial Diamond memang layak mendapatkan kesuksesan." Kata Arthur.
"Terimakasih Dokter Arthur."
__ADS_1
"Selamat Tuan Harry, anda menemukannya, apakah Nyonya Alaris sudah mengingat nya bahwa andalah teman masa kecilnya, dia sempat mengira saya yang menjadi teman masa kecilnya. Meskipun saya ingin."
"Ya, itu harapanmu, kamu mengikuti kemana ayahmu pergi, bahkan ketika dia memeriksa kesehatanku dan Alaris. Kemudian kamu selalu datang kerumah sakit dan mengikuti kami dari kejauhan karena Alaris tidak mau berteman denganmu, sekarang kamu mengikuti jejak ayahmu dan menjadi dokter."
"Aku tidak ingat itu." Kata Alaris.
"Apakah anda masih bermimpi buruk." Tanya Arthur.
"Ya... Bagaimana anda bisa tahu?" Tanya Alaris.
"Karena sejak kecil anda selalu bermimpi buruk dan Tuan Harry selalu menemani anda, tepat di samping tempat tidur anda." Kata Arthur.
"Kakak, kenapa hanya diam saja?" Tanya Arthur.
"Kakak?" Semua orang terkejut kecuali Harry yang sudah tahu.
"Haha Haha... Kalian pasti terkejut, saya dan Austin adalah kakak beradik, kakakku ini sangat pemalu. Apakah harus ku bantu mengatakannya, bahwa akhir-akhir ini kamu sakit demam?" Kata Arthur dan menepuk punggung Austin.
"Jangan sembarangan." Kata Austin.
Ekspresi kaku bercampur malu terlihat di wajah kulit sawo matang Austin yang memerah.
"Anda sakit demam?" Tanya Alaris.
"Sejujurnya...." Kata Arthur.
"Kami akan menikmati pestanya." Kata Austin.
Arthur tertawa terbahak-bahak.
Harry sebenarnya sudah tahu kenapa Austin demam, namun Harry hanya diam saja, bahwa Austin sangat merindukan Alaris hingga membuatnya jatuh sakit.
"Aku iri, dulu ketika Hendric masih hidup, aku dan dia selalu bercanda seperti itu." Kata Harry.
Alaris hanya bisa menatap iba dan sedih pada Harry.
******
Di dalam kediaman Mansion The Kingham, Axella berbaring miring dan memeluk boneka beruangnya yang sebesar dirinya, kepalanya berada di lengan William.
Sedangkan William memeluk tubuh Axella, sesekali pria itu membelai lembut perut Axella yang belum terlihat besar, lalu berpindah pada rambut Axella dan membelainya dengan penuh kasih sayang.
"Jangan pernah mendengarkan dan percaya pada kata-kata Harry, dia adalah pria biadabb yabg tisak tahu aturan sopan santun, dia terkenal kejam juga dia seperti seorang banci yang bisa menyakiti wanita."
__ADS_1
"Aku tidak tahu dia orang yang seperti itu." Kata Axella.
"Tidak apa-apa Axella, tapi lain kali jangan pernah berurusan dengannya. Apa kamu mengerti? Hm?" Kata William dengan lembut.
"Tapi itu bukanlah salahku..." Kata Axella.
"Tentu saja, Harry lah yang membuatnya agar kamu terlihat bersalah, karena dia selalu menganggap dirinya adalah kebenaran."
Axella berbalik dan memeluk William.
"Tapi aku senang kamu melamarku di depan semua orang."
"Aku juga senang, aku harap kamu akan selalu senang dan bahagia, jangan memikirkan sesuatu yang membuatmu sedih." Kata William.
"Lalu masalah Leon aku juga tidak mau kamu terlalu dekat dengannya."
Axella tersenyum mengingat kalimat Leon kembali, bahwa William cemburu.
"Aku dan Tuan Leon hanyalah teman baik, jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkannya."
"Meskipun begitu aku tetap saja tidak tenang jika kamu berada di dekatnya."
"Baik aku akan menuruti mu." Kata Axella membaringkan kepalanya di atas dada William sambil tersenyum.
"Adalagi, sebentar lagi ulangtahun Alaris, dan akan ada pesta kecil dengan undangan yang sedikit karena ini sifatnya pesta pribadi, aku harap kamu tetap berada di mansion selatan."
"Tidak bisakah aku menjadi salah satu dari mereka? Aku juga ingin mengucapkan selamat lalu memberikan kado padanya." Kata Axella.
"Alaris dan aku sudah membuat undangan itu dan tinggal menyebarkannya."
"Tolonglah tambah 1 kursi lagi untukku William. Ku mohon, itu hari spesial miliknya seharusnya dia menerima banyak doa, hanya menambah 1 kursi lagi untukku." Axella merajuk.
William masih diam.
"Aku calon istrimu, dan akan menjadi pemilik mansion ini juga kan? Jadi aku tidak membutuhkan undangan, aku hanya harus datang saja bukan begitu?" Tanya Axella.
"Meski begitu, ada sesuatu yang harus kamu tahu batasnya Axella." Kata William menghela nafas dan menggosok bahu Axella.
Tetapi Axella, dia terus menangis, menunggu William mengubah kata-katanya. Namun, tidak peduli berapa lama dia menunggu, itu tidak terjadi. William tetap diam.
"Jadi, pada akhirnya aku tetap tidak boleh pergi kan!"
"Maafkan aku, Axella. Jangan menangis. Aku akan bertanya pada Alaris."
__ADS_1
William menghapus air mata di pipi Axella dan kemudian mereka saling memeluk.
bersambung~