
Aroma masakan tercium hingga ke seluruh penjuru rumah, tak terkecuali ke kamar Zian, apalagi sepertinya Dila lupa menutup pintu kamar, sehingga aroma masakan Dila masuk ke kamar dengan bebas.
Zian yang sedang memakai kemeja untuk bersiap bekerja tersenyum ketika indra penciumannya merasakan harumnya masakan Dila. Dila memang pandai mengambil hatinya, selain pandai memasak, Dila selalu menurut dengan semua ucapan Zian, tak pernah Zian mendengar Dila mengeluh atau marah. Tentu saja Zian juga berusaha membuat Dila bahagia, ia juga selalu memanjakan Dila, ia memberikan semua keinginan Dila, rumah, mobil, apapun itu, karena bagi Zian uang bukanlah masalah.
Zian, lelaki berusia tiga puluh satu tahun, ia adalah pemilik restoran yang tersebar di beberapa kota di Indonesia. Dia juga berwajah tampan dan cerdas. Tidak sedikit wanita yang akan jatuh hati padanya, namun Zian bukanlah lelaki yang mudah menjalin hubungan dengan wanita, jika sudah satu, maka ia akan menjaganya. Baginya memiliki banyak wanita hanya akan membuatnya pusing.
"Sedang masak apa, Sayang?" tanya Zian sambil memeluk Dila dari belakang ketika Dila sedang asik membolak-balikkan masakanannya di penggorengan.
Dila pura-pura bermuka masam, "aish,, jangan peluk-peluk dulu, aku belum selesai, nanti gosong lho," ucap Dila.
Zian yang melihat wajah Dila masam membuatnya makin gemas, ia memberikan kecupan di pipi Dila. Lalu ia berjalan kearah meja makan, untuk duduk dan menunggu Dila menyiapkan makanan untuknya.
"Tunggu sebentar ya, Sayang, ini sudah matang kok," ucap Dila sambil menaruh ayam kecap buatannya ke piring.
Tampak Dila begitu gesit menyiapkan sarapan untuk Zian, Zian memperhatikan tingkah istrinya, ia tersenyum. Meski sepele, ia tampak begitu bahagia melihat Dila yang penampilan sedikit berantakan karena terlalu sibuk memasak.
Beberapa potong ayam sudah berpindah ke piring, lalu dengan sigap Dila mengisi piring Zian dengan nasi.
"Ini Sayang, aku kupas apel dulu ya, kamu makan dulu, ya." Dila berdiri hendak mengambil buah ke kulkas. Namun belum sempat Dila beranjak, Zian menarik tangannya, hingga Dila terduduk kembali di kursinya lagi.
"Temani aku makan, nanti saja aku kupas sendiri apelnya," ucap Zian sambil tersenyum.
"Hmm,,, baiklah," Dila menuang nasi ke piringnya sendiri dan makan bersama Zian.
Setelah selesai sarapan, Dila membersihkan bekas piringnya, sedangkan Zian menyiapkan beberapa berkasnya.
"Sayang, nanti aku mungkin agak telat, ada rapat para direktur kepala cabang," ucap Zian sambil merapikan dasi dan bersiap berangkat.
Dila berjalan mendatangi Zian, ia berdiri tepat di depan Zian, ia membantu merapikan dasi Zian. "Baiklah, aku nggak masak buat makan malam kalau gitu," ucap Dila sambil merapikan dasi Zian dengan hati-hati.
Zian menatap wajah cantik istrinya, "nanti aku belikan makanan diluar, atau kalau kamu keburu lapar, kamu bisa pesan makanan online," ucap Zian masih dengan menatap Dila.
__ADS_1
Dila mendongakkan kepalanya, ia tampak memerah karena Zian menatapnya. "Jangan menatapku terus, bisa meleleh," goda Dila sambil tersenyum.
Zian tersenyum, "kamu kerja hari ini?" tanya Zian.
"Iya, berangkat jam delapan,"
"Apa perlu aku berangkatnya nunggu kamu siap-siap?" tanya Zian.
Dila menggeleng, "aku akan berangkat sendiri, seperti biasa."
"Baiklah, aku berangkat dulu," ucap Zian lalu mengecup kening Dila.
Setelah Zian pergi, Dila segera bersiap untuk bekerja. Ia bekerja di sebuah firma hukum. Meski Zian memberikannya materi yang banyak, namun Dila tak mau berdiam diri saja. Dan Zian juga tak melarang, asalkan Dila bisa membagi waktu.
Dila mematut dirinya di depan cermin, tampak wajah cantik berambut panjang dan berbadan tinggi langsing bak model. Pantas saja jika Zian memilihnya, tak akan mudah mendapatkan istri seperti Dila. Apalagi Dila tipe wanita penurut dan pekerja keras. Pandai menempatkan diri dalam berbagai situasi.
Pernikahan yang sudah berjalan hampir dua tahun itu tak pernah memiliki konflik berarti. Meski sering Zian tak pulang ke rumah, Dila tak pernah mempermasalahkan, ia sadar jika Zian memiliki berbagai kesibukan. Soal anak, Dila memang belum menginginkannya, ada alasan khusus untuk hal itu. Dan Zian tak mempermasalahkannya, asalkan Dila selalu bersamanya, itu sudah cukup.
[Nanti makan malam diluar saja, ya!]
Isi pesan Zian.
Zian memang sering kali membuat moment romantis dengan Dila.
[Iya, Sayang😘]
Dila memberikan banyak emotikon love seakan-akan dia benar-benar bahagia, padahal wajahnya nampak datar saat mengetik pesan itu.
[Kamu dandan yang cantik, nanti aku jemput]
Pesan dari Zian lagi.
__ADS_1
[Oke, anything for you 💕💕💕]
Balas Dila. Lalu ia melelahkan gawainya di meja rias, ia melanjutkan make up wajahnya yang sempat tertunda karena berbalasan pesan dengan Zian.
Dila tersenyum saat menatap wajahnya, namun senyumnya terlihat getir. Ia menggigit bibir bawahnya, matanya tampak penuh kesedihan.
Ardila Nanda Putri. Wanita berusia dua puluh lima tahun, wanita yang cerdas dan cantik. Ia menjadi istri Zian sejak berusia dua puluh tiga tahun.
Namun pernikahan yang penuh keromantisan dengan Zian bukanlah pernikahan impiannya. Ia memang diperlukan bak putri raja oleh Zian, tak pernah Zian bersikap buruk pada Dila. Namun Dila sedih, dia harus pura-pura bahagia dengan kehidupannya karena yang sedang ia jalani sekarang ini hanyalah pernikahan kontrak, bukan pernikahan resmi. Namun pernikahan ini tanpa batas waktu yang pasti, karena dalam perjanjiannya mereka akan bercerai jika Zian yang menginginkan. Dan entah itu sampai kapan.
Untuk itu, Dila berusaha untuk menjaga agar mood Zian tak jelek, ia berusaha menuruti apapun yang diinginkan Zian. Termasuk selalu memasang wajah ceria, meski hatinya sedang sedih.
Terkadang juga saat makan atau ke mall, Dila ta sengaja bertemu dengan Zian, dia akan berpura-pura tak melihat. Begitu juga Zian, ia akan melewati Dila begitu saja, seakan mereka tak kenal.
Namun jika bertemu di rumah, tentu saja sangat bertolak belakang, Dila dan Zian akan tampak romantis, seakan-akan pernikahan mereka bahagia.
Tak banyak yang mengetahui tentang pernikahan mereka, dari pihak Zian, dia sudah yatim piatu sejak lulus SMA, namun ia mendapat warisan yang banyak, Namun kakaknya Zian sudah tahu, dan Zian tak ambil pusing jika Kakaknya akan menyebarkan hal ini. Toh, kakaknya tidak begitu perduli dengan kehidupannya. Sedangkan Dila, dia mengaku pada Zian jika ia juga yatim piatu.
Kehidupan mereka berjalan tanpa hambatan, mereka bisa merahasiakan pernikahan mereka. Dila berpikir, jika sampai pernikahan mereka diketahui publik, yang paling dirugikan adalah dirinya, media akan selalu mengeksposnya, karena Zian adalah orang yang penting, jika Zian diketahui menikah dengan wanita kalangan biasa, maka banyak pihak yang akan mengecam dan berusaha memisahkannya. Dan karena hal itu akan membuat Dila tak lagi memiliki ATM berjalan seperti Zian.
Matre, bukan?
"Sudahlah, kita rahasiakan saja, aku nggak mau kamu lelah menghadapi wartawan dan netizen," ucap Dila suatu waktu saat Zian pernah menawari untuk mengekspos hubungan mereka ke publik.
"Kenapa? Apa kamu malu punya suami sepertiku?" tanya Zian.
"Aku nggak mau banyak musuh, nanti akan banyak yang membenciku dan memusuhiku, sehingga akan banyak pihak yang membuat kita bercerai," jelas Dila. "Aku belum siap kamu ceraikan, makan apa aku nanti," ucap Dila dengan manja. Ia sudah terbiasa seperti wanita rendahan di depan Zian.
Menggoda dan merayu, agar Zian semakin memujanya. Tentu saja Zian setuju saja dengan ucapan Dila, baginya tak ada ruginya juga. Toh selama ini Dila tak pernah sekalipun ketahuan selingkuh. Dila selalu berusaha mengambil hati Zian, sehingga tak ada yang perlu dicemaskan.
Dila bersiap ke kantor, ia tak mau menggunakan mobil pemberian Zian, ia lebih memilih menggunakan ojek online. Hal ini yang terkadang membuat Zian marah, karena menurut Zian, kurang nyaman jika Dila harus menggunakan transportasi umum. Namun Dila sering kali menjelaskan, jika dirinya lebih nyaman begini.
__ADS_1
********