
Dengan berat hati Diandra pergi ke rumah sakit bersama Mama Mona tanpa Anggara.
Sepanjang perjalanan Diandra tidak ada hentinya berbicara pada ketiga bayinya yang beberapa jam lagi akan lahir ke dunia ini.
Mama Mona hanya tersenyum melihat tingkah lucu Diandra, diusianya yang masih cukup muda sudah harus menjalani pernikahan dan melahirkan bayi kembar.
"Kamu akan menjadi wanita hebat, Di. Mama selalu berdoa untuk itu." Perih jauh di lubuk hati Mama Mona. Yang tanpa sepengetahuan Diandra, dia menyeka air matanya.
Sampai di rumah sakit, Diandra segera di sambut oleh team medis yang akan membantu Diandra melahirkan. Bahkan Diandra segera di bawa ke ruang bersalin.
"Apa boleh nanti Anggara menemani ku di sini?." Tanya Diandra pada Dokter Charles dengan perasaan yang tidak menentu, karena selain ini pengalaman pertama, operasi pertama dan dia harus menunggu dengan harap-harap cemas kedatangan Anggara yang tidak bisa dihubunginya sejak tadi.
"Boleh, Mommy muda." Jawab Dokter Charles sambil meminta pada semua team medis untuk dipersiapkan segala sesuatunya dengan cepat.
Diandra memejamkan matanya, mengalir lah air mata dari ekor matanya. Dia menyadari jika hal ini adalah akhir dari segalanya dengan semua yang berhubungan dengan Anggara.
"Aku masih berharap kamu bisa datang untuk menemani dan menemui ku untuk yang terakhir kalinya."
Suster yang melihat hal itu pun, memberitahu Dokter Charles. Dokter Charles hanya menarik nafas dalam lalu segera mempersiapkan Diandra untuk segera mengeluarkan ketiga bayinya.
Setelah puluhan menit berlalu. Dalam keadaan setengah sadar, Diandra dapat mendengar suara tangisan dari bayi yang yang pertama di ambil dari dalam perutnya, selang beberapa detik berikutnya terdengar lagi suara tangisan bayi yang kedua. Yang kemudian di susul oleh suara tangisan bayinya yang ketiga.
"Biar kan aku melihat wajah ketiga bayi ku sebelum mereka di bawa pergi." Ucap Diandra dengan begitu lirih, sehingga bisa dipastikan tidak ada orang yang mendengar ucapannya.
Setelah itu dia tidak dapat mendengar tangisan ketiga bayinya, hanya saja beberapa team medis sedang mengobrak-abrik perut yang sudah kempes.
Pikiran Diandra benar-benar kosong, tidak tahu harus di isi dengan apa. Karena saking banyaknya persoalan dalam hidup menjadikan Diandra lebih memilih untuk melupakan satu persatu tentang itu semua.
__ADS_1
Karena rasa kantuk yang tidak bisa ditahannya lagi, Diandra begitu pasrah dan menerima kedua matanya untuk terpejam.
Entah sudah berapa lama Diandra tertidur pulas di atas brankar. Satu jam, satu hari, satu Minggu, satu bulan, satu tahun atau mungkin dirinya tidak akan pernah bangun lagi. Meninggalkan mereka yang sudah meninggalkannya seorang diri di meja operasi tanpa kata pamit.
"Bangun kan aku Tuhan, jika aku sanggup menahan rasa sakit ini!."
Tapi rupanya Diandra masih bisa bangun, setelah hampir dua jam tertidur, menatap ke sekeliling ruangan. Berharap dia bangun dari mimpi buruk yang sangat menyakitkan. Namun rupanya mimpi buruk itu terbawa sampai alam nyata.
Sesak di dada, itu yang bisa dirasakan oleh Diandra ketika menatap Mama Mona yang mengembangkan senyum penuh ketulusan yang sanggup menghangatkan tubuh dan meringankan bebannya.
"Aku sudah baik kan, Ma. Kapan kita akan keluar dari sini?." Tanya Diandra begitu tenang.
"Setelah kondisi mu membaik, kita akan segera pulang, sayang."
Diandra merasakan nyeri yang teramat luar biasa di bagian kedua dadanya.
"Ma, bagaimana dengan Asi ku?." Lagi-lagi Diandra begitu tenang bertanya sesuatu yang sangat erat kaitannya dengan ketiga bayinya.
Dia segera menemui suster dan meminta bantuan untuk memerah susu Diandra dengan alat supaya cepat dalam pengambilan ASI nya.
Banjir, baju Diandra sudah basah dengan air susu yang begitu banyak keluar dari kedua ***********.
Suster dengan telaten membantu Diandra dalam memompa ASI nya.
Diandra menunduk sambil membelakangi sang Mama yang berdiri di belakang suster. Air matanya begitu deras membasahi kedua pipinya.
"Siapa pun nantinya kalian di luar sana yang meminum susu ASI ini, semoga kalian menjadi anak yang selalu bahagia selamanya bersama kedua orang tua kalian." Batin Diandra sambil mencoba menghapus air mata yang masih saja keluar. Entah apa yang dia tangis kan saat ini.
__ADS_1
Ya, Diandra akan menyumbangkan ASI nya melalui rumah sakit ini setelah dari ketiga bayinya tidak ada yang membutuhkannya karena sudah di bawa pergi entah kemana.
Cukup banyak susu yang di hasilkan dari kedua payudara Diandra, sanggup mencapai sepuluh botol berisi 180 ML.
Selama tiga hari berada di rumah sakit, sudah ada banyak ratusan botol yang berhasil Diandra sumbangkan untuk para bayi yang orang tuanya mengalami kesulitan dengan produksi ASI nya.
Hari ini Diandra akan pulang. Dia membereskan semua perlengkapan yang ada di meja. Dia melihat ponsel lalu membukanya, masih beharap akan adanya keajaiban. Tapi rupanya malah kepahitan yang harus ditelannya lagi dan lagi.
Dimana ada sebuah pesan masuk yang berasal dari ponsel orang yang sangat diharapkan kedatanganya, kemarin. Pesan singkat itu berisi jika dirinya sudah di talak empat hari yang lalu. Beserta sebuah video yang memperlihatkan Anggara dan Regina yang sedang bercinta beberapa hari sebelum dirinya melahirkan.
Diandra menggigit bibir bawahnya dengan sangat kuat hingga tanpa terasa bibir itu mengeluarkan darah segar.
"Apa yang kamu lakukan, Diandra?." Mama Mona membuka mulut Diandra dan segera meminta bantuan pada suster.
Bukan hanya Diandra yang merasakan sakit, tapi begitu juga dengan Mama Mona. Bahkan Mama Mona yang jauh lebih merasa sakit melihat Diandra yang begitu hancur tanpa sisa.
"Maaf kan Mama, Di!. Mama tidak bisa menyelamatkan kamu dari kehancuran ini." Ucapnya terisak.
Ibu dan anak itu saling memeluk, memberikan kekuatan dari sisa-sisa ketidakberdayaan yang mereka miliki.
Sementara itu, Anggara menatap nanar ketiga bayi yang baru dilahirkan oleh wanita yang sudah membawa utuh dirinya pergi.
"Kau sudah menjadi ayah dari ketiga anak mu yang begitu lucu dan sangat menggemaskan." Mommy Isabel berdiri di samping Anggara.
Buliran bening itu jatuh di hadapan Mommy Isabel. Anggara membiarkannya jatuh membasahi jas yang dipakainya.
"Aku begitu tidak berdaya menghadapi kekuatan dan kekuasaan yang dimiliki uang dan kalian semua. Aku sudah menjadi pria yang buruk untuk seorang wanita baik yang aku cintai dan Ayah yang jahat bagi ketiga bayi kami." Anggara menundukkan kepalanya begitu dalam.
__ADS_1
"Lupakan Diandra!. Hdup lah dangan baik untuk ketiga anak mu. Mereka menjadi tangung jawab mu, mereka yang kelak akan memimpin perusahan besar."
Dengan lelehan air mata Anggara menatap sinis pada sang Mommy. "Aku kira, Mommy bisa memahami ku. Tapi rupanya Mommy sama saja dengan yang lainnya." Mommy Isabel tidak marah dengan apa yang dikatakan sang putra. Dia malah tersenyum sambil pergi menemui Dokter spesialis anak.