Pernikahan Rahasia

Pernikahan Rahasia
Sembilan Belas


__ADS_3

Zian duduk di dalam mobil, "Dila, apakah kamu baik-baik saja?" tanya Zian pada dirinya sendiri. Mobil yang Zian kemudikan tiba di sebuah rumah, Zian keluar dari mobilnya dan masuk ke dalam rumah itu.


Dengan kasar Zian menekan bel, sesaat kemudian pintu terbuka, "Om Zian?" tanya Adis setelah membuka pintu.


"Papa kamu dirumah?" tanya Zian.


"Ada. Masuk, Om." Zian dan Adis berjalan beriringan setelah Adis menutup pintu.


"Adis kangen sama Om." Gadis  menunjukan ekspresi sedih. Zian memahami, pasti Adis merindukannya. Tapi hubungan seisi rumah Adis dengan Zian sedang tidak baik sehingga Adis takut bermain ke rumah Om-nya.


Zian tersenyum, "kamu main kerumah."


Adis mengangguk.


"Aku panggilin papa dulu ya, Om." Adis berlari meninggalkan Zian yang sudah duduk di ruang tamu.


Tak lama terdengar langkah kaki mendekat.


"Ada angin apa, adik iparku mencariku?" Tyo tampak tersenyum dibuat-buat. Di sisi Tyo ada Rima. 


"Ada apa, Zi?" tanya Rima.


"Aku ingin bicara dengan kak Tyo, Kak." Rima yang menyadari jika pasti suatu hal yang penting, perlahan mengundurkan diri dan memilih ke kamar.


"Jangan sampai aku mendengar kalian bertengkar." Rima meninggalkan suami dan adiknya.


Setelah merasa tak ada orang lain selain dirinya dan Tyo. Tyo mulai mengawali pembicaraannya. Tyo duduk di depan Zian.


"Katakan!" Wajah Tyo tanpa ekspresi. Tak seramah tadi. Inilah wajah asli Tyo, dingin.


Tyo tak ingin membuang waktu lagi, dia tahu jika pasti ini adalah hal yang sangat penting bagi Zian.


"Dimana Hendra?" 

__ADS_1


Wajah Tyo mendadak tegang. Namun tampak Tyo mencoba tampak tenang.


"Istrimu menyuruhmu bertanya padaku?" Tyo menyalakan api untuk rokoknya. Tampak Tyo menyembunyikan kegelisahannya.


"Sudah cukup aku berurusan dengan Satya, kini kamu juga ikut menanyakan hal itu juga." Wajah Tyo menjadi dingin. "Satya terus menanyakan sosok Hendra padaku, membuatku pusing saja kelakuan kalian ini."


"Hubunganku dengan Hendra sudah lama berakhir, aku tak tahu bagaimana keadaannya, entah dia bahagia dengan keluarganya ataukah mati." Tyo menatap wajah Zian. Menekankan kata mati membuat Zian menyadari jika Tyo sedang menunjukan sesuatu padanya.


"Baiklah, katakan Hendra sudah meninggal, lalu siapa wanita di foto ini?" Zian menunjukan sebuah foto Tyo dengan ibunya Dila.


Tyo mengamati foto itu. Wajahnya menegang.


*****


Siang itu, dua puluh tujuh tahun yang lalu. Ratna tergesa-gesa berjalan menuju stasiun. Dengan wajah sedih dia menarik kopernya sambil sesekali mengusap peluh yang menetes.


"Rat, Ibu lelah." Wanita tua yang memanggil dirinya ibu pada Ratna itu tampak lelah dan pucat.


Ratna berhenti berjalan, memandang ke sekeliling mencari tempat beristirahat. "Kita kesana ya, Bu." Ratna menunjuk sebuah kedai di dalam stasiun.


"Ibu istirahatlah dulu." Ratna membeli sebotol air mineral dan sebungkus roti. Meski perut belum terisi sejak pagi, ia enggan membeli makanan. Bukan karena tak selera, namun tak ada uang untuk membelinya.


Ratna meminta ibunya untuk memakan roti itu. Meski perutnya belum terisi apapun, ia tak ikut makan. Cukup ibunya. 


"Makanlah, Bu." Ratna memberikan sebuah roti dan air minum yang ia beli tadi.


"Mari kita bagi." Wanita yang berusia senja itu membagi roti kecil di tangannya. Dengan cepat Ratna menolak. 


"Jangan, Bu! Aku tadi sudah makan sepotong roti ketika membelinya." Ratna berbohong.


Getir.


Kehidupan Ratna yang sejak dulu getir dan penuh perjuangan. Sejak kecil tak memiliki ayah, kemiskinan sudah menjadi hal biasa baginya. Ratna harus melewati ujian hidup yang begitu pahit sejak kecil.

__ADS_1


Sebenarnya Ratna sudah hampir menemukan kebahagiaan. Ia memiliki seorang sahabat yang sangat menyayanginya. Tyo namanya. Tyo sering membantu Ratna. Meski Tyo bukanlah orang kaya, namun Tyo dan Ratna berjuang bersama.


Kedekatan yang terjalin sejak lama membuat keduanya memiliki perasaan lain. Mereka saling menyukai.  Bahkan Tyo menyatakan perasaan suka pada Ratna. Gayung bersambut, Ratna ternyata juga menyukai Tyo sejak lama. Rencana indah tersusun hampir sempurna. Karier  Tyo mulai terarah, mimpi untuk hidup bersama seakan sudah di depan mata.


Namun beberapa waktu terakhir tiba-tiba Tyo meninggalkan Ratna. Bahkan yang lebih menyakitkan, ternyata Tyo sudah memiliki istri. Tak cukup hanya itu, istri Tyo yang mengetahui jika Ratna adalah wanita istimewa Tyo sedang berusaha mencari Ratna. Karena hal itu, maka Ratna mencari tempat tinggal baru. Itupun atas saran Tyo, Tyo ingin menjauhkan Ratna dari bahaya, karena Rima, istri Tyo, bisa berbuat sesuatu yang buruk jika sampai menemukan Ratna.


Karena itu, Ratna harus pergi ke tempat baru, tempat yang sudah Tyo siapkan. Karena beberapa waktu terakhir, Ratna di teror oleh beberapa orang, hidupnya dalam ancaman. 


Namun entah mengapa, hingga hampir jam keberangkatan kereta, sosok Tyo belum juga muncul.


****


Dila mengedarkan pandangannya sejauh matanya memandang. Ia masih di dalam mobil yang ia tumpangi tadi.Namun  ia berhenti di sebuah tempat parkir sebuah basemant.


Dila mengucek matanya, mencoba mengenali lingkungan yang ia tempati. Namun ia tak mengenal tempat ini. Dila mencari ponselnya di dalam tas, saat menemukannya Dila berdengus kesal. Ponselnya kehabisan baterai. 


"Ish, kenapa disaat begini baterai ponsel malah habis," gumam Dila kesal.


Dila turun dari mobil, netranya waspada mengawasi sekitar. 


"Nyonya, silahkan masuk!" Seorang lelaki menggunakan setelan jas dan berkaca mata hitam tiba-tiba ada di depan Dila. Dila terkejut.


"Kemana?" Dengan sedikit ketakutan Dila membalas ucapan lelaki di depannya.


"Ikuti saya!"


"Ini perintah Tuan, Nyonya akan aman." Lelaki itu berbicara tanpa ekspresi.


Lelaki misterius itu berjalan lebih dulu. Dila mengikutinya di belakang dengan ragu-ragu. Dila takut jika mengikuti orang itu justru dirinya dalam bahaya.


"Tuan? Tuan siapa?" Dila mendahului lelaki misterius itu sehingga langkah lelaki itu berhenti.


"Tuan Zian."

__ADS_1


Tanpa ekspresi lelaki itu melanjutkan langkahnya lagi meninggalkan Dila yang berdiri mematung karena bingung.


__ADS_2