Pernikahan Rahasia

Pernikahan Rahasia
Duabelas


__ADS_3

Sore hari setelah pulang kerja, Dila menyempatkan berkunjung ke rumah sakit tempat ibunya dirawat. Dila lebih santai mengunjungi ibunya karena Zian sudah mengetahui perihal ibunya.


"Aku akan mengunjungi ibuku, nanti aku agak terlambat pulangnya," ucap Dila sewaktu menelpon Zian.


"Kenapa kamu nggak bilang dari tadi? Aku bisa menemani kamu," ucap Zian.


"Aku tahu kamu ada rapat, kamu rapat aja, aku nggak mau mengganggu kerjaan kamu."


"Baiklah, nanti aku jemput ya, sekalian kita dinner diluar." 


"Ide yang bagus, oke sampai nanti," ucap Dila sambil menutup teleponnya.


Kini Dila sudah duduk di sisi ranjang ibunya dirawat, Dila mengecup pipi ibunya yang masih saja belum sadar.


"Ibu, aku ingin engkau segera bangun, bu, dua minggu lagi anakmu akan melangsungkan resepsi." Dila mulai bercerita pada ibunya meski ibunya belum sadar.


"Bu, apakah semua ini benar? Apakah Zian ingin mengekspos hubungan ini karena dia mencintaiku?aku benar-benar takut mencintainya, bu."


"Dia tiba-tiba saja menginginkan hubungan ini diumumkan, aku benar-benar tak percaya jika semua orang akan tahu tentang pernikahan kami."


Dila menggenggam tangan ibunya dengan lembut, "aku akan berusaha agar tak mencintainya, bu. Aku sadar jika ini semua hubungan timbal balik saja, semoga saja ini langkah yang benar." 


Lama Dila berada di ruang rawat ibunya, ia mengatakan semua yang ia rasakan meski ia tahu jika ibunya tak dapat menghiburnya. Bagi Dila mengatakan saja sudah cukup.


Dila mengecup kening ibunya, dia beranjak keluar ruangan. Dila terkejut ketika membuka pintu bertemu dengan Indra.


Dila tersenyum menyapa,"sore, dok," sapa Dila.


"Jadi benar jika kamu istrinya Zian?" tanya Indra tanpa memperdulikan sapaan Dila.


"Tak kusangka Zian seterkenal ini?" Dila memberikan sebuah undangan untuk Indra, Indra menerima tanpa membacanya.

__ADS_1


"Semoga kamu bahagia," ucap Indra lalu pergi meninggalkan Dila tanpa sempat Dila mengucapkan terima kasih.


Indra dan Zian berpapasan, Zian sudah tiba beberapa saat lalu. Namun keduanya tak saling menyapa.


"Sayang, sudah selesai?" tanya Zian saat melihat Dila. Indra sempat menoleh, lalu ia meneruskan langkahnya.


"Ayo kita pergi," ucap Dila lalu melangkah pergi bersama Zian.


****


"Aku merasa dokter yang merawat ibumu menaruh hati padamu," ucap Zian sewaktu di perjalanan.


"Kenapa kamu berfikir seperti itu? Hubungan kami hanya dokter dan pasien, dan pasien itu kebetulan ibuku."


Zian menoleh sebentar kearah Dila, wajah Zian tampak tak senang," kamu ini bodoh apa polos sih?" 


"Kenapa aku mempunyai suami cemburuan begini?" desis Dila.


"Kamu nggak percaya denganku?" 


"Entahlah, keberadaanmu diantara lelaki lain membuatku tak bisa mengontrol emosiku."


"Mungkin aku terlalu cantik," canda Dila, namun Zian tak terlihat tersenyum.


"Kak Rima  menelponku tadi," ucap Dila berharap Zian tak membahas Indra lagi.


"Kenapa kamu mengangkatnya? Seharusnya kamu abaikan saja" ucap Zian tampak tak suka. Dila merasa salah memilih topik.


"Bagaimanapun dia kakakmu, aku nggak mau kamu terus-terusan seperti ini dengan kakakmu ataupun keluargamu." 


"Dia wanita jahat, sama seperti Tyo, sekarang Satya juga sepertinya."

__ADS_1


"Sudahlah, jangan berprasangka pada mereka, tidak kah kamu lelah bermusuhan seperti ini?" Dila menatap Zian yang sedang menyetir.


"Terlebih jika masalah Satya, kamu jangan menganggapnya musuh, aku dan dia nggak pernah ada hubungan spesial, aku nggak mau gara-gara aku kamu menambah daftar musuhmu." Dila tersenyum pada Zian.


"Seperti yang kukatakan tadi, aku nggak bisa menahan diriku jika melihatmu dekat dengan lelaki lain, termasuk Satu, aku nggak peduli meski dia keponakanku." Zian tampak kesal.


"Satya melihatmu bukan sebagai tantenya, dia melihatmu sebagai wanita, wanita spesial!"


"Jangan menatapku seperti itu! aku bisa nggak fokus," ucap Zian saat menyadari Dila menatapnya dengan tersenyum.


"Lalu, bagaimana denganmu? Kamu melihatku sebagai apa? Wanita? Wanita ****** atau wanita..." Belum selesai ucapan Dila tiba-tiba mobil Zian dipinggirkan dan berhenti.


Dila menyandarkan kepalanya di bahu Zian, "kalau gini bikin nggak fokus juga kah?" goda Dila.


"Kenapa berhenti?" Dila mengangkat kepalanya namun Zian menarik kepala Dila lagi.


"Tetaplah begini, aku menyukainya," gumam Zian membuat Dila tersenyum. Zian memeluk Dila.


"Aku melihatmu sebagai wanita spesial, jangan katakan dirimu sendiri dengan sebutan wanita ******," bisik Zian sambil mendekap tubuh Dila.


"Apakah kamu benar-benar mencintaiku?" gumam Dila dalam dekapan Zian.


Zian mengeratkan pelukannya,"jangan bertanya lagi! kamu akan melihat dan merasakan sendiri bagaimana besarnya perasaanku padamu," bisik Zian diiringi alunan lagu Yoon Mi-rae Always di mobil Zian.


"Berhenti menganggap dirimu wanita lain di hidupku, berhenti menanyakan bagaimana perasaanku, berhenti bersikap jika pernikahan ini hanya pernikahan rahasia!" Zian berbisik.


Dila menggigit bibir bawahnya karena merasa terkejut dan tak menyangka jika Zian bersikap semanis ini. 'Maafkan aku ibu, aku sangat mencintainya,' batin Dila.


Zian melepas pelukannya, ia menatap mata Dila. "Kita sudahi semua ini, kita sudahi pernikahan rahasia ini, aku ingin menunjukan padamu juga ke semua orang, jika kamu milikku, dan aku milikmu." 


Dila tersenyum dan mengangguk, lalu mereka kembali berpelukan lagi seakan-akan lama tak bertemu. Mereka melepaskan semua perasaan yang mereka pendam selama ini. 

__ADS_1


"Aku mencintaimu, Zian," bisik Dila, lega rasanya ia mengatakan hal ini pada Zian. Kata yang lama ia simpan sendiri kini berhasil ia ucapkan di depan Zian


__ADS_2