Pernikahan Rahasia

Pernikahan Rahasia
Bab 32 Pernikahan Rahasia


__ADS_3

Tari yang beberapa hari ini tidak mendengar kabar Diandra sejak kejadian Mama Mona mengetahui kebohongan dirinya dan Diandra. Hari ini Diandra sendiri yang menghubunginya dan memintanya untuk datang langsung ke Bogor.


Senandung riang gembira Rini terdengar sampai keluar dimana Morgan sudah menunggunya dari tadi.


Rini segera keluar setelah berpamitan pada kedua orang tuanya tanpa memberitahukan tujuannya mau kemana. Rini hanya bilang akan menemui Mama Mona.


"Morgan?." Air muka Rini begitu terkejut ketika Morgan sudah ada di depan rumahnya. Dia takut jika kepergiannya menemui Diandra diketahui oleh Morgan.


"Ada apa?." Tanya Rini datar.


"Tadi aku ke rumah Diandra, tapi di rumahnya tidak siapa pun. Aku hanya ingin memberikan ini untuk Diandra." Morgan menunjukkan kotak yang cukup besar tapi entah apa isi kotak tersebut.


"Tapi hari ini aku mau pergi. Aku juga enggak tahu kapan bisa ketemu sama Diandra karena setahu ku Diandra sedang mempersiapkan keberangkatannya ke Amerika." Balas Rini masih enggan untuk menerima kotak dari tangan Morgan.


"Masa kau tidak bisa menemui Diandra untuk ku?. Kau tahu sendiri bukan, aku begitu mencintai sahabat kau itu." Ucap Morgan memelas, berharap Rini bisa mengabulkan keinginannya.


Untung saja perasaan Rini perlahan sudah memudar untuk Morgan. Kalau tidak dia akan patah hati mendengarkan pengakuan cinta Morgan untuk Diandra.


Rini menghela nafas panjang lalu menerima kotak tersebut. Bukan karena apa dia mengambil kotak itu, supaya Morgan cepat bisa pergi dari rumahnya. Karena dia sudah terlambat hampir setengah jam untuk menemui Diandra di Bogor.


Morgan terlihat sumringah ketika dia pergi dari rumah Rini dengan mengendari mobilnya.


Setelah memastikan Morgan pergi jauh dari rumahnya, Rini segera memesan taksi online untuk dirinya.


Karena akses yang cukup mudah untuk sampai tempat tujuan, Rini sudah sampai di Villa Diandra.


"Rini..." Teriak Diandra kala melihat kedatangan sahabat karibnya. Dengan perut yang super besar itu Diandra berjalan menyambut kedatanganya. Rini yang tidak tega melihat hal itu langsung saja berlari menuju Diandra.


"Stop Diandra!. Jangan berjalan cepat begitu!. Aku ngeri melihatnya." Teriak Rini cukup kencang dan mempercepat langkahnya. Rini langsung saja memeluk Diandra ketika sudah ada dihadapannya.


"Kau semakin cantik dengan perut besar ini, Diandra!." Ungkap Rini sambil menatap lekat perut dari sahabatnya itu.


"Aku sangat merindukan mu!.' Ungkap Diandra memeluk Rini dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kau kenapa?." Rini melihat kedua mata Diandra sudah penuh dengan air yang siap terjun.


"Aku sangat butuh kau, Rini!. Aku butuh sahabat ku untuk mendengar setiap cerita yang tidak bisa aku sampaikan pada Mama dan Anggara." Air mata itu tumpah seketika. Rini menatap Anggara yang baru saja datang dan berdiri di belakang Diandra.


Rini sedikit menundukkan kepalanya sebagus tanda menghormati Anggara sebagai tuan rumah dan yang lebih tua.


"Aku akan selalu ada untuk kau, Di!. Sekarang kau bisa menceritakan semuanya pada ku. Tapi seperti biasa aku tidak bisa memberikan solusi apa pun untuk sahabat aku yang satu ini." Rini terkekeh karena begitu lah dia selama ini. Hanya pendengar setia bagi Diandra tanpa bisa membantunya.


Anggara memberikan kode pada Rini untuk membawa istrinya ke gazebo yah ada di samping Villa. Karena dua Minggu ini, di sana lah tempat Diandra menghabiskan waktunya dengan membaca buku tentang panduan ibu hamil, melahirkan serta menyusui.


"Ayo, Diandra!. Kita bicara di sana saja." Tunjuk Rini pada arah gazebo.


Anggara sudah membawa minum dan makanan untuk menemani Diandra dan Rini mengobrol sepanjang waktu.

__ADS_1


"Kalau ada apa-apa dan membutuhkan sesuatu kalian bisa memintanya langsung pada ku." Ucap Anggara pada kedua gadis itu.


Sebelum Anggara pergi, dia mengusap lembut pucuk kepala Diandra lalu mengecup perutnya.


"Baik-baik ya sama, Mommy."


Diandra hanya tersenyum samar sambil menatap kepergian Anggara.


"Aku rasanya tidak bisa untuk kehilangan Anggara dan bayi-bayi ku?." Tatapan Diandra kini fokus pada Rini setelah Anggara menghilang masuk ke dalam rumah.


"Aku ingin menjadi seorang wanita, istri dan Mommy yang utuh, Rin. Aku ingin menyusui ketiga bayi ku, aku ingin menemani dan merawat mereka." Diandra menumpahkan semua yang selama beberapa bulan ini disimpannya dalam hati. Tidak mungkin dia bisa membaginya dengan Anggara, yang jelas-jelas dia lah orang yang dia ceritakan. Dan Anggara sendiri tidak bisa memberinya jawaban yang memuaskan hatinya.


Mama Mona apalagi, sampai saat ini sudah puluhan telepon tapi tidak ada yang diangkatnya, atau pun pesan yang sudah dikirimnya tidak ada satu pun yang dibalasnya.


Sehingga Diandra harus menutup rapat semua ceritanya dari mereka, dan Rini lah yang merupakan sahabatnya yang akan bisa mendengar semua ceritanya.


"Aku sudah sangat mencintai Anggara dan ketiga bayi ku, Rin. Sekarang mereka adalah nafas dan hidup ku.


"Ketika mereka bergerak di dalam perut ku, ketika aku bisa mendengar detak jantungnya yang begitu kencang seolah mereka sedang memanggil ku, Mommy.


"Aku tidak tahu akan menjadi apa aku tanpa mereka?."


Sampai detik ini pun, Rini belum ada buka suara. Hanya untuk menimpali atau memberikan pendapatnya Dia begitu mendengarkan dengan seksama apa yang diceritakan oleh Diandra. Karena pendengar yang baik yang saat ini dibutuhkan oleh Diandra.


Hening seketika saat hujan mulai turun mengguyur villanya.


Tatapan keduanya jauh menerawang ke atas langit yang tidak bisa mereka lihat kereta begitu lebatnya hujan yang turun saat itu. Seakan mengerti dengan kesedihan yang dialami oleh Diandra.


"Hem...."


"Kalau aku sampai mengalami gangguan mental karena harus kehilangan mereka, apa kau masih mau bersahabat dengan ku?. Apa kau akan sering mengunjungi ku di rumah sakit nantinya?."


"Kau ini bicara apa, Diandra?. Hentikan omong kosong ini, Diandra!. Kau akan baik-baik saja!. Selamanya kau akan menjadi sahabat dan sahabat terbaik yang aku miliki!." Rini begitu tegas lalu memeluk Diandra dari samping.


"Kau wanita hebat dan kuat yang aku kenal, Diandra. Jadi semua apa yang kau takutkan itu semua tidak akan pernah terjadi. Kau mengerti?." Lanjut Rini memberikan pendapat dan semangatnya untuk sahabat yang sedang dalam masa-masa tersulit nya.


Tidak ada satu pun perkataan, pernyataan dan ungkapan Diandra yang tidak di dengar oleh Anggara. Semuanya terekam baik dalam otak Anggara.


Anggara duduk termangu di samping gazebo yang terhalang oleh pilar yang cukup besar. Sehingga Diandra mau pun Rini tidak akan mengetahui keberadaannya.


Begitu besar beban pikiran dan hati yang saat ini sedang ditanggung gadis yang belum genap berusia delapan belas tahun. Dan ini semua karena dirinya dan kesepakatan mereka.


Anggara melipat tangannya di dada, dengan pandangan yang menatap jauh di depan. Apa yang akan dilakukannya supaya Diandra tidak terlalu bersedih dengan masalah yang ada.


Ponsel Anggara tiba-tiba saja bergetar, dia merogoh saku celananya. Dia melihat nama Dad Andreas yang tertera pada layar ponselnya.


"Iya Dad." Sahut Anggara sambil berjalan menuju salah satu ruangan di dalam Villa tersebut yang dijadikannya sebagai ruang kerjanya.

__ADS_1


"Kau dan Regina harus datang ke Singapore besok. Kami ada pertemuan di sana." Jawab Dad Andreas dari sebarang sana.


"Mommy dan mertua kau juga ada di sana. Setelah dari Singapore kita akan mampir ke rumah kalian, paling dua atau tiga hari." Lanjut Dad Andreas.


"Ah iya Dad, tapi bagaimana kalau aku tidak bisa datang ke Singapore tapi aku akan menjamu kalian selama di sini." Anggara berusaha menolak perintah sang Dad Andreas.


"Pertemuan ini sangat penting untuk kau dan Regina. Dad bisa pastikan nilai saham kau akan naik seratus persen." Dad Andreas tidak bisa menerima penolakan Anggara.


"Kalau hanya Regina saja yang datang, bagaimana Dad?. Karena aku ada pekerjaan yang tidak bisa aku tinggalkan juga di sini." Anggara masih berusaha untuk tidak menghindari pertemuan di Singapore. Karena dia tidak ingin meninggalkan Diandra dan dia tidak bisa menitipkan Diandra pada siapa pun. Karena hanya dia yang bisa membuat Diandra aman.


"Kalian pasangan suami istri yang sangat ideal jadi tidak mungkin jika Regina datang sendiri tanpa kau. Kau ada saja-saja." Dad Andreas tetap menginginkan kehadiran keduanya bukan salah satu dari mereka demi saham perusahaan mereka.


"Kau harus bisa datang, Anggara. Dad akan menunggu kedatangan kau dan Regina. Kau bisa alihkan pekerjaan di kantor pada para asisten yang selalu berkeliling di kantor."


"Iya Dad." Tidak ada pilihan lain selain mengiyakan apa yang dikatakan oleh Dad Andreas. Sehingga sambungan telepon pun terputus dari sana.


Anggara mengusap wajahnya kasar, dia berusaha keras memikirkan bagaimana Diandra akan selalu ada bersamanya.


Tapi bagaimana caranya?.


Rini menempati salah satu kamar yang ada di dalam Villa tersebut karena Diandra yang memintanya untuk menginap. Anggara pun tidak keberatan karena dia melihat senyum Diandra kembali tersemat pada wajah cantiknya dengan kehadiran Rini di sana.


Usai makam malam, Diandra dan Rini melanjutkan lagi sesi curhatnya. Namun kali ini tidak seberat tadi siang. Karena Diandra tidak ingin memberikan pengalaman yang buruk pada Rini tentang pernikahan dan kehamilan.


Justru pada akhirnya Diandra membagikan cerita bahagianya menjadi seorang istri dan wanita hamil. Sampai Rini ingin segera menyusul Diandra, jika saja sudah ada jodohnya.


Rini sampai bisa ikut merasakan gerakan demi gerakan dari semua bayi-bayi Diandra. Dia begitu takjub dengan apa yang dilihatnya.


"Aku juga mau!." Ucap Rini gemas sambil terus mengelus perut Diandra.


Keduanya tertawa lepas tanpa beban, melupakan semua permasalahan dan kerumitan yang sedang menanti Diandra didepannya.


Sampai waktunya Diandra sudah menguap, tidak bisa menahan rasa kantuknya lagi. Dia pun pamit pada Rini dan membiarkan Rini untuk istirahat juga sama seperti dirinya.


"Mommy Di..." Sambut Anggara saat Diandra sudah masuk ke kamar mereka.


"Iya Dad, aku ngantuk banget."


"Ayo kita tidur."


Diandra melepas semua pakaian lalu menggantinya dengan lingerie yang sangat memiliki ukuran lebih besar dari tubuh mungilnya, dulu. Kalau sekarang lingerie itu begitu pas dengan perut besar Diandra.


Tidak lama Diandra pun hanyut dalam mimpi indahnya, meninggalkan Anggara yang masih berkutat dengan pikirannya. Apa yang harus dilakukannya untuk membawa Diandra ke hadapan publik.


Anggara mengelus lembut perut Diandra, diaman dia merasakan ada gerakan-gerakan halus di sana.


"Daddy akan melakukan apa pun demi kalian semua." Ucap Anggara memeluk erat tubuh Diandra.

__ADS_1


Dia begitu rindu dengan penyatuannya bersama Diandra. Karena setelah penyatuan mereka beberapa hari lalu di dalam kamar hotel milik Dokter Charles, mereka belum lagi bercinta karena Diandra selalu kelelahan dan dia pun tidak tega jika harus menambah rasa lelah pada sang istri.


"I Love You, Diandra!." Batinnya sambil memejamkan matanya menyusul Diandra ke alam mimpi. Berharap bisa bertemu di sana dan selamanya mereka akan tetap hidup bersama tanpa siapa pun yang akan menyakiti mereka semua nantinya.


__ADS_2