
Seperti biasa, dua hari sekali saat jam makan siang Dila menyempatkan mengunjungi ibunya di rumah sakit. Keadaan Ibunya masih saja sama, masih belum sadar.
"Ibu, apakah ibu tidak lelah tidur terus? bangunlah, bu!" ucap Dila sambil menggenggam tangan Ibunya.
"Siang, Nona," sapa dokter yang biasa merawat ibu Dila.
Dokter muda yang tampan dan berusia sedikit diatas Dila.
"Siang, Dok," balas Dila sambil berdiri.
"Keadaan ibu Ratna masih sama, apakah nona tidak menyerah saja?" tanya dokter itu.
"Tidak, Dok! Saya akan mengupayakan kesembuhan ibu saya," ucap Dila tegas.
"Anda tahu kan? Keadaannya sangat sulit," ucap dokter itu.
"Tolong usahakan kesembuhan Ibu saya, soal biaya, saya akan mengupayakannya." Dila tampak semangat mengatakan.
Dua tahun lebih dokter Indra menangani ibunya Dila, dokter Indra kagum pada kegigihan Dila. Diam-diam sang dokter memperhatikan Dila, dia selalu menandai hari apa saja Dila berkunjung. Namun Dila tak menyadari hal itu, karena dia terlalu sibuk dengan Zian dan sakit ibunya.
Dokter Indra berusia seumuran dengan Zian, dia adalah dokter penyakit dalam, karirnya melejit sejak muda. Namun hingga usianya sudah memasuki kepala tiga ia masih sendiri.
Suatu waktu ketika Indra mengabarkan pada Dila jika ibunya harus menjalani operasi jantung dua tahun lalu, saat itu Indra menyarankan agar Dila menyerah saja. Namun Dila bersikeras akan mencarikan biaya, Dila berpamitan pergi ketika hujan deras, Indra melihat Dila menahan tangisnya dan berlari keluar dari rumah sakit. Sejak saat itu ia memikirkan Dila, namun hingga dua tahun berlalu dokter Indra belum juga berani mendekati Dila.
Selama dua tahun bertemu Dila, tak pernah sekalipun Indra melihat orang lain bersama Dila, hal ini membuat Indra yakin jika Dila masih sendiri.
Namun beberapa waktu belakangan Indra sering berbalasan pesan dengan Dila. Tentu saja pembahasan hanya seputar keadaan Ibunya Dila. Setidaknya Indra lega, ada respon positif dari Dila. Dan baginya, hal itu adalah langkah yang baik.
"Nona, kulihat kamu dari kantor, apakah kamu sudah makan siang?" tanya Indra ada Dila.
"Panggil saja saya Dila," ucap Dila sambil tersenyum. "Nanti saya akan makan di perjalanan saja, roti dan jus sudah cukup," lanjut Dila.
"Tubuhmu sudah kurus, tidak baik kalau makanmu sedikit, maukah makan siang denganku?" tanya Indra membuat kedua alis Dila mengernyit tanda bingung, "ehm.. Maksudku ayo kita bahas soal ibu kamu sambil makan siang di kantin," ucap Indra segera karena tak ingin Dila salah paham.
"Oh, begitu? Baiklah,dok," ucap Dila. Lalu keduanya berjalan beriringan ke kantin rumah sakit.
Tentu saja ini hanyalah alasan Indra, membahas tentang ibunya Dila adalah cara pertama, selanjutnya Indra berharap agar Dila membahas apapun padanya.
*******
Kedekatan Zian dan Felisia semakin akrab, sering kali jam makan siang Felisia makan bersama Zian. Zian tak pernah mengadakan janji dengan Felisia, namun tiba-tiba saja Felisia selalu muncul di jam makan siangnya.
Zian sebenarnya risih, ia tak terlalu suka jika didekati seperti itu. Namun dia juga kesal terhadap Dila, tak pernah sekalipun Dila menemaninya makan siang.
Dengan sengaja Zian mengirimkan foto pada Dila jika ia sedang makan bersama Felisia, Zian ingin melihat tanggapan Dila, namun seperti biasa, Dila selalu bersikap biasa, seakan tidak ada apa-apa.
"Kenapa dia nggak marah sedikitpun?" gumam Zian sambil menutup gawainya setelah mengirimkan pesan pada Dila. Lalu Zian beranjak pergi dan tanpa menyentuh makanannya, hal ini membuat Felisia bingung.
"Ada apa?" tanya Felisia ketika melihat Zian hendak beranjak.
"Ada urusan mendadak, aku harus pergi," ucap Zian sambil melangkah pergi tanpa menghiraukan raut kekecewaan Felisia.
__ADS_1
Zian segera pergi menggunakan mobilnya, dia berbohong pada Felisia jika mempunyai urusan, ia sedang ingin menenangkan diri.
"Apakah dua tahun bersamaku dia tak merasakan apapun? Apakah memang hanya uang tujuannya bersamaku?" gumam Zian saat menyetir mobil. "Apakah lelaki tampan, mapan dan berkelas sepertiku ini tak ada artinya dimata Dila?" Zian tampak kesal, Dila sudah membuatnya linglung.
****
Dila merebahkan tubuhnya di ranjang selepas pulang kerja.
"Baru pulang?" tanya Zian sambil masuk ke kamar.
Dila seketika bangun, ia tak ingin terlihat lelah di depan Zian.
"Nggak usah bangun, kamu kelihatan lelah, lanjutkan tidurmu." Zian duduk di sofa di samping ranjang sambil melepas sepatunya.
"Sudah makan?"
"Nggak usah masak, aku mau keluar," ucap Zian bersiap ke kamar mandi. Zian tampak dingin pada Dila.
Dila memandang punggung Zian yang memasuki kamar mandi, Dila menggigit bibir bawahnya seakan menahan sesuatu di dalam hatinya.
"Kamu mau kemana?" tanya Dila sambil menyiapkan baju untuk Zian saat Zian keluar kamar mandi.
"Mau makan malam diluar sama rekan bisnis," jawab Zian sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Kamu sibuk sekali akhir-akhir ini," ucap Dila pelan.
"Kamu mau ikut?" tanya Zian.
Zian melempar handuk dan mengacak rambut Dila, "serius banget sih?" goda Zian sambil tertawa. Seketika wajah Dila menjadi muram, namun sedetik kemudian Dila tersenyum."Aku sebentar kok, cuma dinner aja, setelah selesai, aku akan segera pulang."
"Iya."
Zian memakai pakaian rapi, ia juga menyemprotkan parfum ke tubuhnya. Dila hanya menatap Zian.
"Kenapa? Kok kamu ngeliatin aku terus? Beneran ingin ikut?" tanya Zian karena menyadari Dila menatapnya.
"Nggak kok, aku di rumah saja," ucap Dila.
"Felisia sudah berangkat sepertinya, aku berangkat dulu ya," ucap Zian sambil membaca pesan di gawainya.
"Aku akan menunggumu, aku juga sedang ada tugas yang belum selesai dari kantor," ucap Dila sambil berjalan menuju kamar mandi.
"Oke, kamu nanti minta dibawain apa? Kamu kabari aja." ucap Zian sambil beranjak.
Dila bersandar di pintu kamar mandi setelah ia menutup pintunya. Ada kegelisahan yang tak dapat ia jelaskan. "Rupanya rekan bisnismu adalah Felisia," gumam Dila.
*******
Setelah membersihkan diri, Dila berbaring di ranjang, yang ia katakan tentang tugas kantor hanyalah alasan pada Zian. Beberapa kali ia mengintip jendela, seakan ada yang ia tunggu.
Drrttt..
__ADS_1
Gawainya bergetar, dengan cepat ia membaca layar gawainya.
"Halo."
"...."
"Ada apa, dok? ada sesuatu yang terjadi pada Ibu saya?" Dila tampak panik, karena kali pertama Indra menelpon, biasanya hanya menulis pesan.
Hening, Indra tak menjawab pertanyaan Dila.
"Halo, dok, halo?" Dila makin cemas.
"...."
Dila mendengarkan Indra berkata, ternyata tak ada hal buruk yang terjadi, Indra hanya bicara basa basi, bertanya hal-hal biasa.
Dila bersyukur akan hal itu, dia sempat berpikir jika saja ada kabar tentang ibunya. Namun ternyata Indra hanya mengajaknya mengobrol, dan Dila menanggapinya karena dia juga merasa suntuk menunggu kehadiran Zian.
Karena obrolan dengan Indra makin seru, hingga Dila tak sadar jika Zian sudah berada di rumah beberapa saat yang lalu, Zian berjalan menuju kamarnya, namun Zian berhenti saat mendengar tawa Dila dari depan pintu kamar. Zian mengepalkan tangannya, dia berpikir jika Dila akan menunggunya, namun ternyata Dila sedang asik bertelepon dengan orang lain.
Bukan tentang cemburu, namun Zian kesal karena Dila bercengkrama dengan orang lain terlebih jika itu lelaki lain di kamarnya.
Zian memasuki kamarnya, tepat ketika Dila menutup telponnya. Hal ini membuat Zian merasa jika Dila sedang menutupi siapa yang sedang menghubunginya.
"Sudah pulang?" tanya Dila.
"Sudah, kelihatannya kamu sedang senang menerima telpon itu," ucap Zian sinis.
Dila menoleh kearah Zian yang sedang berdiri di samping ranjang.
"Oh ya?" Dila tersenyum sinis, "kurasa kamu juga sedang senang menikmati makanmu dengan wanita lain," ucap Dila.
"Kenapa?" tanya Zian.
"Oh, bukan masalah, yang terpenting aku adalah istri sahmu, terserah kamu mempunyai beberapa wanita diluar, aku tak akan ikut campur," ucap Dila tegas.
Zian naik keatas ranjang, dia menatap wajah Dila, "jangan pernah menelpon lelaki lain di kamarku!" Zian menatap tajam pada Dila. Dila tak lagi menjawab, dia hanya diam karena dia tahu jika Zian sedang marah maka akan sulit menjelaskan.
Tatapan Zian terlihat penuh amarah, tubuh Dila bergetar karena merasa takut.
"Apa aku harus mengingatkanmu jika kamu adalah milikku?" tanya Zian sambil tersenyum licik.
"Mmm... Maafkan aku," Dila menunduk tak berani menatap Zian.
"Maaf? Kurasa kau tahu bagaimana seharusnya meminta maaf pada suamimu," ucap Zian sinis.
Dila hanya diam dan pasrah, ia tahu akan terjadi sesuatu padanya, dia tak berani melawan Zian, bagaimanapun dia masih membutuhkan biaya.
Tubuh Zian semakin mendekati Dila, Dila menutup kedua matanya karena takut dan jijik, hal ini lah yang membuat Dila membenci sosok Zian, dia begitu kasar dan memaksakan diri akan hubungan mereka.
*******
__ADS_1