
Kehidupan rumah tangga Dila dan Zian menjadi lebih hangat. Mereka melakukan berbagai kegiatan tanpa peduli tatapan orang lain lagi.
Tentang honeymoon mereka tak memikirkan, toh pernikahan sudah berjalan dua tahun. Dila berat meninggalkan ibunya jika harus bepergian jauh. Zian tak keberatan, dia tak ingin memaksakan keinginannya. Bahkan kini Zian ikut mendampingi Dila jika mengunjungi ibunya hingga rela membolos kerja demi berada di sisi Dila.
"Jangan bilang kamu sengaja ikut karena nggak mau lihat aku bertemu dengan dokter Indra," ucap Dila menggoda Zian saat berjalan dari halaman rumah sakit.
"Kamu mau aku cekik?" Zian memasang wajah garang membuat Dila tertawa.
Dila dan Zian memasuki ruangan ibunya Dila, beberapa saat keduanya tibalah jam kunjungan dokter, tentu saja mereka bertemu Indra.
"Pagi, dok," sapa Dila. Indra hanya mengangguk dan sibuk memeriksa ibunya Dila.
Zian hanya memperhatikan di sofa yang berada di kamar rawat, Zian mengganti ruang rawat mertuanya menjadi kamar VVIP.
Indra tak banyak bicara saat memeriksa, tak seperti biasa, Dila menjadi merasa canggung, namun dia memahami karena sekarang ada Zian yang tak berhenti menatap Dila dengan tatapan tajam dan seperti hendak benar-benar ingin mencekiknya jika ia berbicara tidak penting dengan Indra. Ruang rawat itu seakan mendadak dingin karena keberadaan Zian.
"Permisi," ucap Indra saat selesai memeriksa ibunya Dila. Zian yang masih duduk di sofa berpura-pura sibuk dengan ponselnya tak menjawab ucapan Indra.
Setelah Indra beranjak, Dila duduk bersama Zian, "bagaimana keadaan ibu?" tanya Zian saat Dila baru saja duduk. Zian kini ikut memanggil ibunya Dila dengan sebutan 'ibu'.
"Tetap saja begini, entahlah kapan ibu akan membuka matanya."
"Apa perlu aku bawa ibu ke rumah sakit di luar negeri?"
"Nggak, Yank, disini aja, aku yakin nanti juga ibu akan sembuh, pelayanan disini juga bagus kok," ucap Dila.
"Terserah kamu, kalau ada apa-apa kamu bilang aja ke aku, ya."
Dila tersenyum dan menyentil hidung mancung Zian dengan lembut. "Siap, pak bos," goda Dila.
"Tapi aku punya satu permintaan ke kamu," ucap Zian, kali ini wajahnya tampak serius, ia menatap Dila.
Dila mengernyitkan kedua alisnya, "ada apa?"
Zian menatap mata Dila dan menggenggam erat tangan Dila, "aku ingin anak dari kamu."
"Anak?"
Zian mengangguk, "iya, aku ingin kita memiliki keturunan, aku tahu selama ini kamu selalu berusaha agar kita tak memiliki anak, tapi kali ini aku sungguh-sungguh, aku ingin kita punya bayi." Zian tersenyum seakan membayangkan bayi di depannya.
Dila tersenyum lalu memeluk Zian, "tentu saja, kita akan segera memiliki bayi," ucap Dila disambut senyuman Zian.
"Kamu bahagia kah dengan aku?" ucap Zian membalas pelukan Dila.
"Aku bahagia, aku sangat bahagia," ucap Dila.
"Jangan pernah meninggalkan aku, apapun yang terjadi."
Dila melepas pelukannya, menatap heran pada Zian, "kenapa aku harus meninggalkanmu, Yank? Kamu sudah memberiku kebahagian, apa aku punya alasan lain untuk meninggalkanmu?"
"Misalkan aku tiba-tiba miskin?"
Dila tersenyum, "kalau hanya soal harta bukan masalah besar, yang penting kamu selalu menyayangiku," ucap Dila sambil memegang kedua pipi Zian sambil tersenyum.
__ADS_1
Zian kembali merengkuh tubuh Dila, "terima kasih, Sayang," bisik Zian. "Aku akan selalu menyayangimu."
Lengkungan senyum terukir dari sudut bibir Dila, sejak memutuskan menyatakan perasaannya pada Zian, dia dapat tersenyum setiap hari, kini ia merasa hatinya bertaburan kebahagiaan. Ia bisa menikmati cintanya pada Zian, dan ia mendapatkan balasan cinta bertubi-tubi dari Zian. Zian mampu mengikis semua tangis dan kesedihannya.
Namun dibalik kebahagiaan Dila dan Zian, ada hati yang terluka yang sedang mendengar percakapan mereka dari luar ruang rawat.
******
Mata Zian terbuka perlahan saat Dila membuka gorden di kamarnya, sinar mentari pagi tanpa permisi memasuki tempat dimana mereka melepas penat.
Rambut panjang Dila diikat asal, wajah tanpa make up itu tersenyum saat melihat Zian menutup wajahnya dengan guling karena merasa silau.
"Sudah siang, bangun," ucap Dila sambil berjalan menuju nakal di dekat ranjang, ia tampak memeriksa ponselnya. "Aku siapkan sarapan dulu." Wanita cantik itu berjalan menuju dapur. Langkah kakinya perlahan tak terdengar dari arah kamar karena sudah menjauh, membuat Zian kembali melanjutkan mimpinya.
Dila menyiapkan sarapan untuk Zian di dapur. Pagi ini ia hanya membuat nasi goreng, dengan gesit tangannya mengiris berbagai sayuran untuk tambahan. Selama hampir lima belas menit di dapur, Dila belum melihat sosok Zian keluar kamar.
"Sayang, udah siang, buruan!" teriak Dila dari dapur namun tak ada jawaban dari Zian. Dila mendesah sambil mematikan kompornya, lalu ia berjalan ke kamar memeriksa suaminya, namun Zian sudah tak tampak diatas ranjang, dia sedang berada di kamar mandi karena terdengar suara air terbuka. Dila segera berjalan kearah almari, menyiapkan pakaian untuk Zian.
Terdengar suara pintu kamar mandi yang berada di kamar terbuka, Zian muncul di balik pintu, "sudah selesai masaknya?" hanya dengan lilitan handuk Zian berjalan keluar kamar mandi.
"Sudah, aku akan mandi, tunggu aku di meja makan." Dila bergerak menuju kamar mandi.
Setelah Dila masuk kamar mandi tampak Zian bergegas membuka ponselnya yang lain yang ia sembunyikan di dalam tas kerjanya. Zian tampak mengetikkan sesuatu sesaat setelah mendengar suara air tanda Dila mulai mandi.
Netra Zian mengawasi pintu kamar mandi, kemudian ia melanjutkan menyentuh ponselnya, ia tampak terburu-buru. Bahkan ia belum mengganti handuk yang ia kenakan dengan baju yang sudah disiapkan Dila.
Setelah merasa cukup dengan ponselnya, dengan segera Zian memasukan ponselnya di tas kerjanya. Tentu saja sudah dengan keadaan silent mode. Zian bergegas mengganti handuk dengan baju, ia tak ingin Dila bertanya apapun. Zian berusaha secepatnya berganti baju sebelum Dila selesai mandi. Tak perlu waktu lama, Zian selesai dengan berganti baju dan merapikan penampilannya didepan cermin.
Tepat ketika Zian menyisir rambutnya Dila keluar dari kamar mandi, Zian bisa melihat wajah Dila yang tersenyum lewat pantulan kaca di depannya. Tiba-tiba Zian merasa terluka melihat senyum Dila yang tulus itu, segera Zian sibuk dengan melanjutkan menyisir rambutnya lagi.
"Oke." Zian membuat huruf O dengan menautkan telunjuk dan jempolnya lalu ia berjalan meninggalkan Dila menuju dapur.
Beberapa menit Dila berada di kamar, setelah merasa rapi ia segera bergegas ke dapur. Sejak mengumumkan pernikahan dengan Zian, kini ia bekerja berangkat bersama.
Zian tampak duduk di depan meja makan menunggu Dila, tampak pandangan Zian menembus keluar kaca jendela di ruang makannya. Tampak wajah tampannnya sedang memikirkan sesuatu yang serius.
Dila duduk di depan Zian, mereka hanya terpisah meja, "makan yuk, Yank." Dila mulai memasukan nasi goreng kedalam mulutnya. Zian tampak menyantap dengan semangat, "masakan kamu selalu memanjakan lidahku," gumam Zian sambil mengunyah makanannya.
Dila tersenyum mendengar ucapan Zian, "udah deh, jangan gombalin aku pagi-pagi, bisa-bisa kita nggak jadi ke kantor lho," canda Dila.
"Wah, aku jadi penasaran, apa yang akan kamu lakukan kalau kita nggak jadi ke kantor?" Zian memasang wajah serius membuat Dila tertawa.
"Udah-udah, buruan gih selesain makannya," ucap Dila tampak malu karena sudah menggoda Zian.
Zian tersenyum menatap wajah cantik istrinya, pagi ini Dila mengenakan blus warna coklat muda, rambut panjangnya diikat, Dila tampak hanya mengenakan cream perawatan tanpa bedak, hanya saja Dila memakai lipstik dan sedikit goresan pensil alis untuk merapikan alisnya. Di mata Zian, Dila tak pernah terlihat jelek, meski tanpa make up sekalipun Dila tampak cantik. Bahkan ketika Dila tertidur pulas, diam-diam Zian sering menatap wajah polos Dila tanpa Dila ketahui.
Setelah menyelesaikan makan, Dila dsn Zian berjalan beriringan masuk mobil. Dila tampak membaca sebuah berkas yang ia bawa dari dalam kamarnya tadi.
"Ada masalah?" tanya Zian sambil menyalahkan mesin mobilnya.
Mata Dila membaca isi berkas itu dengan serius, "entahlah, aku juga baru membacanya, tapi ini masalah lama sih, aku heran aja, kenapa dibahas lagi."
Zian melajukan mobilnya, "memang kasus apa sih? Sampai-sampai wajah cantik kamu berubah menjadi seserius ini." Zian mencubit pipi Dila membuat Dila menutup berkas di depannya dan melemparkan berkas beserta tas nya ke kursi belakang. Kini Dila memencet hidung mancung Zian lalu mencubit pinggang Zian.
__ADS_1
"Eh, eh, awas ya pembalasanku," ucap Zian sambil menyetir. Tawa mereka terdengar ke seisi mobil yang mereka naiki karena Dila terus menggoda Zian.
"Udah. Yank, aku nyetir ini, ampun, ampun," ucap Zian sambil menunjukan wajah memelas.
"Oke, aku ampuni, tapi nanti traktir makan siang ya," ucap Dila.
"Oke, oke." Zian mengatakan tanpa memikirkan ucapan Dila. "Apa? Makan siang?" Zian tiba-tiba teringat sesuatu.
"Iya, makan siang, kenapa?"
"Tumben." Tatapan Zian masih fokus kedepan memecah jalanan ibu kota Jawa timur.
"Ya sudah kalau nggak mau." Dila mengalihkan pandangannya ke luar kaca pintu mobil. Wajahnya tampak kecewa.
Tangan Zian meraih tangan Dila yang berada diatas paha. "Mau dong, Sayang, tapi jangan nanti ya." Zian meraih tangan Dila lalu mencium jemari Dila. "Aku sudah ada janji dengan yang lain."
Dila meraih tangannya, "iya, nggak pa-pa." Entah kenapa Dila menjadi manja dan mudah tersinggung, padahal bukankah ini perkara biasa?
"Jangan cemberut, please!" Kali ini mobil berhenti karena sedang berada di perempatan dan lampu sedang merah. Zian menatap wanita di sampingnya yang sedang menyandarkan kepalanya di pintu. Zian mendekati Dila, "Sayang, nanti kita makan malam bersama, aku akan menjemput sepulang kerja nanti."
Dila menoleh, Zian terus mendekatinya hingga kepala Dila benar-benar bersandar di pintu mobil tak ada ruang untuk bergerak meski hanya sejengkal, wajah mereka kini sangat dekat, nafas Zian membelai wajah Dila menciptakan sensasi hangat. "Jangan telat ya, aku pulang jam lima." Akhirnya wajah muram Dila kembali merona. Bagaimanapun ditatap Zian sedekat itu membuatnya senang.
Zian tersenyum, tangannya mengusap rambut Dila yang sedang diikat, perlahan menjelajahi wajah Dila. Mata Dila terpejam ketika wajah Zian hanya berjarak tak sampai dua senti. Zian pun memejamkan matanya dan bibirnya bersiap menyentuh bibir Dila.
Tiiiiiin.
Lampu hijau menyala.
Terdengar klakson dari mobil belakang meraka membuat Dila dan Zian tersadar dan kembali duduk normal di posisi masing-masing.
"Shit!" umpat Zian.
Dila menutup wajahnya menahan malu dan tawa, Zian kembali melajukan mobilnya menuju kantor Dila. Tawa Dila yang sudah dicoba ditahan masih terdengar membuat Zian makin kesal.
"Udah, jangan ketawa!" Wajah Zian tampak kesal makin membuat Dila gemas. "Kamu juga tadi mengharap banget kan? Aku lihat kamu juga uda merem." Kali ini Dila berhenti tertawa, ia merasaa terpojok.
"Apaan sih, GR!" Dila berpura-pura memperhatikan kendaraan yang lalu lalang di sekitarnya.
"Halah, malah kamu keliatannya yang ngarep banget," goda Zian.
"Au ah." Wajah Dila cemberut tentu saja Zian membuat Zian terkekeh.
"Udah, jangan marah, udah sampai nih." Mobil Zian memasuki halaman kantor Dila bekerja. "Ntar kita lanjutin dirumah."
Dila mencubit pinggang Zian, "apaan, sih." Wajah Dila memerah karena godaan Zian. Dila meraih tas dan berkasnya di kursi belakang.
"Sekarang juga nggak pa-pa sih kalau kamu mau," goda Zian sambil mengerlingkan mata pada Dila. Namun Dila membalas dengan melotot dan mengerucutkan bibirnya.
"Berangkat, gih!" Dila membuka pintu mobil.
"Oke, sampai nanti, ya!" Zian mencium kening Dila sesaat sebelum Dila keluar dari mobil.
"Hati-hati." Dila menutup pintu mobil setelah keluar lalu melambaikan tangannya sambil tersenyum dan dibalas dengan bunyi klakson mobil Zian.
__ADS_1
Zian kembali mengemudikan mobilnya, ia merogoh tas kerjanya yang baru saja ia letakkan di kursi sampingnya setelah Dila keluar dari mobil. Dan sebuah ponselnya ia keluarkan dari dalam tas kerjanya.
Sambil menatap kedepan Zian meraih ponselnya, ia menggeser layar ponselnya. Ia memasang earphone di telinganya. "Halo," ucap Zian disambungan teleponnya. "Kirimkan alamat, aku akan datang siang ini." Rahang Zian tampak mengeras.