
Rini dan Morgan sudah duduk bersebelahan di kursi meja makan. Pagi ini mereka menikmati sarapan dengan suasana yang cukup canggung. Setelah melewati malam yang cukup panas bagi mereka berdua tapi belum sampai menjebol gawang pertahanan Rini.
Tania dan Paman Usman cukup tahu dengan kondisi hubungan keduanya yang sepertinya mulai membaik.
"Sepertinya kamu sudah sehat ya, Morgan?. Tapi jangan langsung ke kantor juga, istirahat saja dulu di rumah, biar Rini bisa mengurus mu." Tania menggoda Morgan namun Rini yang malah menahan malu sebab Morgan bersikap biasa saja.
"Iya, Ma. Aku hanya sebentar ke kantor. Dan Rini akan ikut bersama ku. Ada beberapa berkas yang harus aku urus." Jawab Morgan sambil melirik kearah Rini baru menghabiskan makanannya.
"Betul, Rin?." Entah kenapa Tania suka sekali menggoda kedua anaknya.
"Iya, Ma." Jawab Rini begitu pelan, namun masih terdengar oleh mereka yang duduk di sana.
Tania dan Paman Usman tersenyum lebar, sekarang kedua anaknya itu memiliki hubungan baru yang lebih baik dari pada kemarin-kemarin.
Saat ini Rini dan Morgan sudah berada dalam satu mobil menuju kantor setelah berpamitan pada Tania dan Paman Usman.
"Kenapa Mama dan Papa terus saja menggoda kita?." Tanya Rini masih belum bisa menyembunyikan rasa malunya. Seolah Tania dan Paman Usman tahu apa yang dilakukan oleh mereka semalam.
"Apa mereka tahu?...kita...semalam..." Ucap Rini terputus-putus sambil melirik Morgan dengan malu-malu.
__ADS_1
"Menurut mu, bagaimana?." Morgan malah balik bertanya. Padahal Rini menginginkan jawaban yang serius. Rini mengerucutkan bibirnya, kesal dengan Morgan yang tidak menjawab serius pertanyaannya.
Morgan malah terkekeh geli melihat bibir yang pernah dinikmatinya itu dan kini berhasil membuatnya sangat candu.
"Bibirnya tolong biasa saja, Rin!." Ucap Morgan memperingati. Tapi Rini mengabaikan peringatan tersebut, membuat Morgan menepikan mobilnya di pinggir jalan namun aman bagi siapa pun.
"Kenapa kita berhenti di sini?." Tanya Rini memandang Morgan yang membuka sabuk pengaman. Lalu Morgan mendekatkan tubuhnya pada Rini.
"Bibir mu sangat menggoda dan aku ingin kembali menciumnya." Belum juga Rini protes dengan apa yang akan dilakukan oleh Morgan. Bibir Morgan sudah lebih dulu menempel di bibirnya.
Morgan langsung menggerakkan bibirnya, ******* bibir bagian atas dan bawah silih berganti. Melesatkan lidahnya saat bibir Rini terbuka, saling membelit dan bertukar saliva untuk beberapa saat sampai Rini mulai merasa kehabisan oksigen.
Blush
Rini merasa terbang ketika Morgan memanggilnya dengan sebutan sayang.
"Bibir mu sangat bengkak, sayang." Morgan mengusap bibir Rini yang bengkak dan basah.
"Kita berhenti di sini hanya untuk ini?." Tanya Rini sedikit protes namun dengan wajah yang memerah.
__ADS_1
"Apa kamu menginginkan lebih dari pada sekedar kita berciuman, seperti tadi malam?." Morgan semakin menjadi menggoda Rini, sampai Rini mencubit perut Morgan cukup kencang sehingga dia mengaduh kesakitan.
"Kenapa kamu bisa mesum begini, Morgan?." Rini kembali mencubit Morgan, tapi sekarang bagian lengan.
"Sakit sayang, cubitan kamu sangat keras. Satu kali cubit bayar pakaian ciuman yang super hot seperti tadi, bagaimana?."
"Morgan!." Ucap Rini sambil menutup wajahnya. Dia begitu malu mendengarkan Morgan bicara yang terjadi diantara mereka, meski itu semua benar adanya.
Hening untuk beberapa saat, baik Morgan dan Rini hanya saling pandang lalu kembali fokus pada apa yang ada di depan mereka. Tapi tidak lama kemudian, Morgan buka suara.
"Rin.."
"Hem..."
Morgan meraih kedua tangan Rini lalu menggenggamnya dengan begitu erat lalu mengecupnya.
"Maaf aku, maaf aku selama ini selalu menyakiti hati mu, mengabaikan mu dan tidak peduli pada perasaan mu. Tapi sekarang, sekarang...aku...sekarang..."
Drttt...Drttt...
__ADS_1