
Dila menatap layar monitor di meja kerjanya, sesekali matanya menatap berkas di depannya.
"Kenapa Pak Aldo menyuruh kita mempelajari kasus lama ini sih?" gerutu Risa.
"Tau nih, bikin pusing aja," ucap Giska.
Dila mengabaikan keluhan dua temannya, matanya sudah terfokus dengan pekerjaan di depannya.
"Ngantuk," ucap Giska.
"Ngopi, yuk!" ajak Risa.
"Hayuuk." Sambut Giska dengan senyuman lebar.
"Dil, kamu mau minum nggak? Aku mau ke pantry." Risa berdiri hendak beranjak.
"Iya, berikan aku coffee latte aja," ucap Dila tanpa menoleh.
"Oke," ucap Risa lalu berjalan dengan Giska beriringan ke ruang pantry.
Mata Dila menjelajahi kata demi kata sebuah artikel di monitor yang ia baca. Tangan kirinya sibuk membolak - balik berkas, Dia benar-benar dalam posisi serius hingga Risa dan Giska datang membawakan kopinya Dila tak memperdulikannya.
"Dila, ini kopinya." Risa menaruh secangkir kopi di meja kerja Dila.
Dila bergeming, ia hanya fokus dengan layar monitor di depannya.
"Lihat apa sih, Dil?Serius banget." Giska tiba-tiba mendekatkan wajahnya di samping Dila, ia hendak melihat layar monitor laptop Dila.
Namun belum sempat Giska membaca, Dila sudah menutup laptopnya. "Bukan apa-apa." ucap Dila terlihat panik membuat dua temannya curiga.
"Aku ke ruang pak Aldo dulu," ucap Dila bergegas membawa berkasnya ke ruang atasannya.
Dila berjalan menuju ruang atasannya, sesampai di depan pintu Dila mengetuk pintu ada kacanya itu.
Tok tok
"Masuk." Terdengar sahutan dari dalam, suara Aldo.
Dila memasuki ruang kerja Aldo. Lelaki yang selama ini Dila segani karena selalu mendukung kariernya dalam dunia hukum.
Aldo terlihat membaca beberapa berkas di mejanya. Lelaki berkaca mata berusia sekitar hampir empat puluh tahunan itu meletakan berkasnya dan kini menatap Dila yang sedang berdiri di depan mejanya.
"Iya, Dila, katakan!" ucap Aldo.
"Saya sudah menyelidiki kasus yang anda kirimkan berkasnya pada saya kemarin, saya akan memberikan hasilnya secepatnya." Dila tampak tegas.
"Baiklah, saya akan berikan beberapa fasilitas yang kamu butuhkan selama penyelidikan, saya tunggu laporan kamu."
Dila mengangguk, lalu ia keluar dari ruang kerja atasannya. Membawa berkas tambahan, di tangannya ada sebuah berkas tebal, di halaman depannya tertulis sebuah judul, laporan keuangan Agus Bramantyo.
****
Giska, Risa dan Dila berjalan beriringan menuju sebuah restoran. Giska sedang berulang tahun, Risa memintanya mentraktir makan siang.
"Ke restoran suamimu aja Dil, pasti enak," ucap Giska sebelum berangkat tadi saat masih di kantor dan belum memutuskan akan makan dimana.
__ADS_1
"Jangan ah, aku nggak enak sama Zian, aku juga belum pernah diajak kesana," ujar Dila.
Giska dan Risa saling berpandangan, rasanya aneh jika istri pemilik restoran belum ke restoran suaminya.
"Ya udahlah, ini kan ultah aku, jadi aku aja yang cari tempat buat makannya." ucap Risa.
Dila menatap dua rekan kerjanya dengan tatapan merasa bersalah, "maafkan aku ya, kalian juga tahu, pernikahanku baru saja diumumkan, aku belum dikenalkan dengan karyawan restonya Zian, aku merasa nggak enak aja kalau kesana sebelum sama Zian."
"Nggak pa-pa, Dil, next time aja yak, ntar kamu yang traktir," ucap Risa sambil menepuk bahu Dila.
"Tapi pernikahan kamu baik-baik aja kan?" Giska tampak menyelidik.
Dila menunjukan ponselnya pada kedua rekannya, disana ada chat Dila dan Zian barusan. "So far, so good," ucap Dila sambil tersenyum.
Risa dan Giska melihat ponsel Dila, disana tertulis Dila dan Zian saling berbalas pesan dengan mesra.
"Hati-hati ya ,Dil, jagain dengan benar suami kamu, pelakor dimana-mana," ucap Risa sambil mengembalikan ponsel Dila.
"Iya, Dil, suami model Zian itu limited edition, jangan sampai diambil orang, kekepin!" Giska memeluk dirinya sendiri seakan memeluk seseorang.
Dila tertawa mendengar ucapan kedua rekannya. "Dah ah, yuk kita berangkat, laper." Ketiganya beranjak pergi bersama.
Restoran makanan seafood menjadi pilihan mereka. "Dil, kamu tadi ngapain dipanggil pak Aldo?" tanya Giska sambil mengaduk minumannya.
"Aku disuruh menangani kasus lama," ucap Dila.
Risa tertawa, "kayaknya pak Aldo dendam ke kamu nih," ujar Risa.
"Dendam?" Dila menatap Risa penuh tanya.
"Apaan, sih?"
"Pak Aldo kan kayaknya naksir kamu."
"Hah?"Dila meneguk minumannya.
"Tapi dulu sih, hahaha." Risa melirik kearah Giska. Seakan ia menyesal telah menggoda Dila dengan menyebut nama atasannya.
"Jangan ngomong sembarangan deh, Ris, ntar ada yang dengar dikira ada apa-apa beneran." Dila melirik kearah Giska yang pura-pura tak mendengar dan tampak sibuk dengan cumi-cumi di depannya.
Dila melotot kearah Risa saat Giska tak memperhatikan. Mungkin Risa lupa jika Giska naksir Aldo.
"Gis," Risa menatap Giska dengan tatapan mengiba.
"Apaan, sih? Aku uda nggak naksir pak Aldo kok," ucap Giska acuh.
Risa dan Dila saling menatap dengan tatapan tak mengerti.
"Aku uda punya gebetan baru. dia jauh lebih cool dari Pak Aldo, lebih muda juga pastinya dari Pak Aldo," ujar Giska sambil tersenyum.
"Beneran?" Tanya Risa sambil menatap Giska.
Giska mengangguk, "dia seorang sekertaris, dia tampan, cool, pokoknya keren lah."
"Wah. aku seneng dengernya. kalo uda jadian, ntar kita double date. yuk," ucap Dila sambil melirik kearah Risa.
__ADS_1
"Oh my God, berarti aku aja nih yang jadi jomblo," ucap Risa dengan wajah sedih dan disambut tawa Giska dan Dila.
"Hahhaha, buruan gih cari cowok. keburu tua lho," goda Giska.
"Atau. gebet tuh pak Aldo, Giska kan uda punya yang lain," goda Dila.
"Bener juga, buruan Risa, kamu sama Pak Aldo aja, kalian cocok lho," ucap Giska.
"Au ah, buruan makan! Ntar kita telat masuk bisa-bisa Pak Aldo marah."
"Makanya buruan deketin Pak Aldo, biar kalo kita telat nggak dimarahin," goda Giska.
"Giska!" teriak Risa membuat Dila dan Giska tertawa.
Tawa dan canda mereka bertiga yang cukup nyaring membuat beberapa pengunjung menoleh kearah mereka. Tak terkecuali sebuah sorot mata tajam bak elang. Pemilik netra itu terkejut ketika melihat salah satu diantara tiga wanita itu ada Dila. Ia menoleh ketika mendengar tawa khas yang ia kenal.
Mata bersorot tajam itu terus mengawasi Dila, meski di depannya ada orang lain yang sedang makan siang bersamanya. Jarak Dila dan dirinya tak begitu jauh, namun ada pembatas ruang sehingga jika tidak melihat dengan seksama maka tak bisa mengetahui siapa orang di meja seberang sana.
"Dila?" Seorang pria bertubuh tinggi dan tampan menegur Dila dan menepuk bahu Dila dari belakang.
Dila menoleh, begitu juga dengan dua rekannya. Wajah Dila yang semula ceria kini berubah masam, seakan ia takut.
"Apa kabar?" Lelaki itu bergeming di sisi Dila. Seakan berharap Dila mempersilahkan duduk dengannya karena kursi di sebelah Dila kosong.
"Baik." Dila menyibukkan diri dengan meminum minumannya.
Risa dan Giska tak memahami apa yang terjadi, keduanya ingin bertanya namun melihat ekspresi Dila yang cemberut, mereka tak berani bertanya.
"Maaf, ini acara traktiran ulang tahun rekan kerjaku, aku harap kamu jangan disini," ucap Dila sinis.
"Tentu saja, aku tak akan mengganggumu, aku hanya merasa heran saja, dimana ada aku kenapa selalu ada kamu? apakah ini yang namanya jodoh?" Orang itu tersenyum seakan ucapannya lucu.
Mata Dila menatap lelaki di depannya dengan tatapan penuh kebencian. Dila memegang garpu di depannya dan menancapkan di meja kayu dengan penuh tenaga, "pergi!" bentak Dila.
"Dila." Risa tampak takut dengan sikap Dila.
"Satya, pergi dari depanku!" bentak Dila lagi. Wajahnya tampak penuh amarah.
Satya tersenyum, "hubungi aku jika amarahmu padaku sirna, hubungi aku jika Om Zian sudah tak dapat memuaskanmu, hubungi aku jika kamu butuh kehagantan lain," ucap Satya sambil memberikan kartu namanya pada Dila, Satya meletakan disamping garpu yang Dila tancapkan di meja.
Dila tak menghiraukan penghinaan Satya, ia tak ingin serius resto melihatnya bersikap bar-bar.
"Aku selalu menunggumu, Dila." Satya mengusap rambut panjang Dila lalu segera beranjak. "Jaga diri baik-baik, Sayang." Satya melangkah pergi.
Mata Dila tampak berkas-kaca. Entah penghinaan seperti apa lagi yang akan ia dapatkan.
Giska dan Risa menggenggam tangan Dila, berusaha menguatkan Dila atas perlakuan Satya. Mereka baru menyadari jika orang yang membuat Dila kesal tadi adalah Satya, orang yang merusak pesta pernikahan Dila beberapa waktu lalu.
"Sabar, Dila," gumam Risa sambil menggenggam tanga Dila.
Dila menatap kepergian Satya, ia sebenarnya tak ingin berseteru terus-terusan dengan Satya seperti ini. Entah sampai kapan Satya bersikap seperti pecundang begini dan akankah Satya akan mengerti dan bersikap dewasa. Terlebih Dila akan memegang berkas perkara papa Satya.
Netra yang sedari tadi memperhatikan Dila diam-diam, kini tersenyum, lalu ia melanjutkan makan siangnya dengan riang bersama seseorang, tentunya bukan Dila.
,
__ADS_1