
Mama Mona menangis haru bercampur rasa tidak percaya kala map berwarna merah itu sudah dibacanya sampai beberapa kali. Tidak ingin ada kesalahan dalam membaca atau mengerti isi dalam map tersebut. Perjuangannya selama bertahun-tahun ternyata tidak sia-sia hingga perusahaan yang dirintisnya dengan cucuran keringat dan air mata kini kembali dalam genggaman tangannya.
"Mama tidak salah kan, Diandra?. Mama takut ini hanya mimpi, sayang." Masih bergetar kedua tangan yang memegangi kuat map tersebut. Ingin mempercayai kebenaran itu tapi Mama Mona masih takut akan kekecewaan.
"Benar, Mama. Dad Andreas dan Mommy Isabel melakukan ini semua untuk Mama dan kita semua. Pasti sulit sekali bagi Dad Andreas dan Mommy Isabel mengembalikan kedua perusahaan itu di tengah-tengah kesulitan keuangan yang sedang merekaa hadapi saat ini." Diandra meyakinkan Mama Mona bahwa itu nyata adanya bukan mimpi.
Setelah menerima dan mendengarkan semua penuturan Diandra. Dan kini Mama Mona dan Diandra keluar dari kamar, ikut bergabung dengan Dad Andreas, Mommy Isabel dan Anggara.
Mama Mona menyampaikan rasa terima kasihnya pada kedua orang tua Anggara atas apa yang telah mereka lakukan untuk dirinya. Bahkan Mama Mona sampai menangis terharu dan Mommy Isabel sampai memeluknya sambil ikut menangis juga.
"Maaf kan kami, Mona. Hanya itu yang bisa kami kembalikan pada mu." Ucap Mommy Isabel dalam pelukan Mama Mona.
"Iya, Mona. Hanya itu yang bisa aku usahakan."
Pelukan keduanya terlepas, baik Mama Mona dan Mommy Isabel saling menghapus air matanya masing-masing.
__ADS_1
"Tidak Isabel, Andreas, ini sudah lebih dari pada cukup. Terima kasih kalian sudah mengembalikannya pada ku. Aku sudah sangat bahagia. Terima kasih." Balas Mama Mona.
"Kamu bisa ikut membantu ku untuk membesarkan perusahaan ku kembali. Itu pun kalau kamu mau, dan cucu-cucu kita akan selalu ikut kita setiap harinya." Mama Mona menawarkan kehangatan pada hubungan mereka setelah mengalami hal buruk terjadi sebelumnya. Namun sekarang sudah membaik dan sangat jauh lebih baik.
"Lalu aku dan Diandra bagaimana kalau ketiga anak kami selalu bersama kalian semua?."
"Kalian membuat adik untuk mereka." Jawab Mama Mona dan Mommy Isabel bersamaan yang diakhiri dengan gelak tawa dari mereka.
Mereka tidak menyangka sebelumnya jika mereka akan sampai pada titik ini. Kebahagiaan tidak melulu soal uang, harta dan kekuasaan. Hidup sederhana seperti ini saja sudah banyak menghadirkan kebahagiaan dalam hidup mereka.
Kuncinya bersyukur untuk apa pun yang dimiliki.
"Bagaimana keadaan kedua orang tua mu?." Tanya Tania usai menghabiskan makanannya.
"Mereka baik-baik. Tapi mereka masih bersedih karena Regina yang harus berakhir tragis." Ucap Morgan mengelap mulutnya dengan tissue.
__ADS_1
"Iya, kami turut berduka cita atas kepergian Regina yang sangat mendadak. Semoga saja dia sudah tenang."
Morgan hanya mengangguk.
"Oh ya, Kevin. Sudah sejauh mana persiapan pernikahan kau dan Rini?."
"Em...sudah mencapai 50-60 persen. Karena ada WO jadi aku tidak terlalu memusingkannya."
"Bagus lah, aku ikut senang. Kau sudah menemukan belahan jiwa dan akan membina rumah tangga."
"Kau sendiri, bagaimana dengan Eliana?."
Morgan tersenyum sambil mengusap wajahnya.
"Eliana terlalu mengekang, aku tidak bisa bergerak bebas. Lagian hati ku masih terpaut pada orang lain."
__ADS_1
"Ingat, Morgan. Orang lain yang kau maksud adalah istri orang dan sudah memiliki anak. Kenapa kau tidak mencoba untuk membuka hati pada wanita lain?."
"Hanya Diandra yang aku mau, kalau pun aku tidak bisa mendapatkan Diandra, lebih baik aku sendiri seumur hidup."