
Kecelakaan hebat pun tidak bisa dielakkan lagi. Mobil yang mereka tumpangi mengeluarkan kepulan asap yang cukup pekat. Hingga orang-orang yang berada di lokasi kejadian segera membantu Anggara dan Regina yang masih berada di dalam mobil, sebelum mobil itu meledak.
Untung saja keduanya bisa dikeluarkan dengan cepat, sebab pada detik berikutnya mobil itu meledak dengan maha dahsyat.
Ambulan yang tadi dihubungi oleh orang yang ada di sana sudah datang dan segera mengangkut Anggara serta Regina, membawanya ke rumah sakit terdekat.
Sementara itu di tempat lain, di Villa yang ditempati oleh Diandra dan ketiga anaknya. Mereka sedang berada di dalam kamar anak-anak. Mereka mencoba menghubungi ponsel Anggara karena tiba-tiba saja Katherine menangis histeris sambil memanggil Anggara.
Mama Mona dan Rini sampai ikut turun tangan menenangkan Katherine. Namun masih belum juga berhenti dari menangis.
Hingga sudah hampir dua jam lamanya Kathrine menangis, untung saja kedatangan Kevin dan Paman Usman mampu mengalihkan tangisan Katherine.
"Oh, Princess. Kenapa sayang?." Tanya Kevin sambil menggendong Katherine di dalam pelukannya.
Jayden dan Hayden mengikuti Kevin dan Rini yang berjalan kearah kolam renang. Meninggalkan Diandra dan Paman Usman.
"Tuan Andreas meminta kau untuk datang ke perusahaan sebagai partner kerja bukan sebagai menantu atau pun dua orang yang sedang berkonflik."
__ADS_1
"Apa Tuan Andreas sedang ada di sini?."
"Iya."
Hening untuk beberapa saat, entah apa yang sedang Diandra pikirkan sat ini. Hingga suara Paman Usman kembali terdengar, mengembalikan fokus Diandra pada apa yang sedang mereka bicarakan.
"Kau harus mampu untuk bersikap tenang dan mampu berpikir dengan jernih saat mengambil keputusan untuk masa depan kau dan anak-anak."
"Aku tidak tahu, Paman Usman. Mungkin aku akan mengajak Mama untuk menemui Tuan Andreas."
"Kapan aku harus menemui Tuan Andreas?."
"Besok pagi."
Paman Usman berpamitan karena sudah tidak ada yang ingin dibicarakannya pada Diandra. Namun tiba-tiba saja langkah Paman Usman harus terhenti kala Diandra menanyakan kabar dari suaminya.
"Apa Anggara baik-baik saja?. Apa ada kabar dari Anggara?." Tanya Diandra penuh selidik. Karena tidak mungkin Anggara tidak menghubunginya.
__ADS_1
"Baik, Tuan Anggara sangat baik. Tuan Anggara sedang sibuk dengan perusahaan yang ditinggalkan Tuan Andreas. Kau bersabar saja, nanti juga Tuan Anggara pasti menghubungi kalian."
"Ok, aku senang kalau Anggara baik-baik saja. Terima kasih, Paman."
Paman Usman mengangguk lalu kembaki melanjutkan langkah kakinya.
Sementara itu di kota Paris, Morgan dan kedua orang tuanya tidak percaya dengan apa yang terjadi pada Regina. Regina harus meninggal karena kecelakaan tersebut. Sedangkan Anggara sendiri mengalami luka pada kedua kakinya. Namun Dokter belum melakukan pengecekan secara menyeluruh.
"Kenapa Kak Regina begitu bodoh untuk mengakhiri semuanya. Sementara Anggara yang ingin dibawanya pergi malah masih hidup." Gumam Morgan lirih tapi masih sanggup di dengar oleh kedua orang tuanya.
"Apa maksud kau, Morgan?." Tanya Mommy Lydia dan Dad Willi bersamaan.
"Katakan, Morgan?. Apa yang kau ketahui?."
"Kak Regina ingin jika mereka mati bersama, tapi malah Kak Regina yang tidak beruntung. Malah dia yang harus mati."
Mommy Lydia terjatuh ke atas lantai lalu tidak sadarkan diri mengetahui kenyataan pahit ini.
__ADS_1