Pernikahan Rahasia

Pernikahan Rahasia
Bab 122 Pernikahan Rahasia


__ADS_3

"Kenapa Mommy tidak berunding dengan ku dulu kalau mau Anggraini yang menjadi guru les anak-anak?." Tanya Anggara saat sudah sampai di rumah. Anggara merasa akan ada sedikit jarak dengan Mama Mona karena kehadiran Anggraini di tengah-tengah mereka.


Sebenarnya sudah sejak dari kantor Anggara ingin bertanya pada Diandra mengenai hal Anggraini, tapi karena takut menimbulkan banyak pertanyaan dari Diandra, jadi Anggara menahannya sampai tiba lah dia di rumah dan langsung bertanya pada istrinya.


"Aku kira Daddy akan setuju, bukannya anak-anak sudah sangat cocok dengan ibu Anggraini?. Jadi aku kira itu akan lebih bagus lagi." Jawab Diandra sambil menyiapkan makanan untuk Anggara.


"Bukan masalah setuju atau enggak Mommy, tapi dibicarakan dulu seharusnya bersama ku." Anggara mulai menyantap makanannya sambil memandangi wajah cantik istrinya yang semakin berisi.


"Apa Daddy keberatan dengan ibu Anggraini?." Wajah Diandra seketika menjadi sendu, sepertinya dirinya salah dalam mengambil keputusan.


"Ada beberapa guru yang bagus juga yang bisa kita pertimbangkan bukan hanya satu orang saja. Tapi kalau Mommy sudah memilih Anggraini, ya sudah." Mau mendebat seperti apa pun pada akhirnya Anggara mengembalikan semuanya pada Diandra. Dari pada dirinya harus melihat istrinya bersedih dan alamat tidak mendapatkan jatah. Lebih baik Anggara mengiyakan saja.


Sedangkan di tempat lain, berulang kali Adam mengecup perut polos Mama Mona. Sebab baru saja mereka selesai bercinta sampai tiga kali.

__ADS_1


"Apa benar di sini belum ada anak kita?." Adam menatap intens wajah wanita yang sedang mengandung anaknya tapi belum mau mengakuinya.


Mama Mona hanya menggeleng lalu memudahkan tangan Adam dari perutnya. Kemudian dia bangkit dan memakai kembali lingerie nya.


"Bagaimana bisa kamu berpikir kalau aku hamil?. Aku wanita yang sudah berumur dan sulit memiliki anak lagi."


Adam menatap tidak percaya pada wanita itu, setelah tadi siang dirinya yang ditemani oleh Yuda menemui dokter yang mengatakan dirinya sedang mengalami kehamilan simpatik. Tidak mungkin dokter itu berkata bohong jadi di sini pasti Mama Mona yang sedang membohonginya.


Adam membawa keluar semua testpack itu dengan wajah yang begitu sumringah. Lalu dia menaruhnya di depan Mama Mona yang sedang duduk manis ruang tengah.


"Kenapa harus menyembunyikan dari ku?." Adam memegangi wajah Mama Mona lalu mengecupnya bibirnya.


"Pantas saja dari tadi kamu meminta ku untuk bermain pelan, tidak seperti biasanya." Goda Adam setelah melepaskan ciumannya.

__ADS_1


Mama Mona hanya diam saja sambil memperhatikan kegembiraan Adam dengan kehamilan dirinya.


"Setiap pagi aku yang mengalami mual muntah karena bayi kita. Tapi tidak apa-apa, asalkan kamu dan bayi kita sehat-sehat." Adam kembali mengecup perut Mama Mona.


"Apa ada sesuatu yang kamu ingin kan atau bayi kita mungkin?." Tanya Adam ingin memastikan kalau ibu dan calon bayi mereka mendapatkan yang terbaik.


"Tidak ada, aku tidak ingin apa pun." Mama Mona bangkit lalu menuju meja makan dan Adam hanya mengekor.


Mama Mona mengambil sisa makanan yang ada di dalam kulkas lalu menghangatkannya, Adam segera menghentikan Mama Mona yang sudah menyalakan kompor.


"Kita makan di luar saja atau aku belikan yang baru, yang ini jangan di makan lagi." Adam tidak mau kalau Mama Mona dan bayi mereka kenapa-kenapa gara-gara makanan yang dihangatkan.


Mama Mona manatap sebal pada Adam, tingkahnya terlalu lebay.

__ADS_1


__ADS_2