
Air hujan membasahi baju Dila, dengan setengah berlari ia menuju taksi online yang ia pesan barusan. Dila melempar pandangan kearah kafe tempat Satya berada, ia bisa melihat Satya dibalik kaca yang basah. Satya masih duduk dan menikmati air hujan dibalik kaca.
"Breng**k," gerutu Dila, lalu ia masuk ke dalam mobil.
Mata Dila memanas, ia mencoba menenangkan hatinya atas perkataan Satya, menjijikan sekali semua hal yang keluar dari mulut Satya bagi Dila.
Dila mendengus, ia meraih ponsel di dalam tas ketika mendengar ada sebuah pesan. Mata Dila membulat seketika setelah ia membaca pesan itu.
****
Mentari pagi menemani kegiatan Dila, sedari pagi ia sibuk menyiapkan sarapan untuk Zian.
"Kamu nggak ke kantor?" tanya Zian saat masuk ke dapur.
Ia menyesap kopi buatan Dila lalu duduk di meja makan. Penampilannya sudah terlihat rapi berbeda dengan Dila, Dila sejak pagi sudah sibuk di dapur.
"Iya, habis ini aku bersiap." Dila menata piring di meja. "Kamu berangkat duluan aja, aku mampir ke rumah sakit dulu."
"Oke." Zian menatap wajah Dila yang sedang sibuk menuangkan nasi ke piring Zian. "Bagaimana perkembangan kasus yang kamu tangani?"
Dila menoleh, menatap Zian, "kamu mau bantuin?" Menghentikan aktifitasnya.
"Bantu apa?"
"Temukan ayahku!"
Mata Dila tampak menatap Zian penuh harap.
"Ayah?" tanya Zian.
"Jika ayah sudah tiada, bukankah seharusnya ada makamnya?"
Zian menoleh kearah lain, menatap langit-langit dapur. Mencoba mengartikan arah pembicaraan.
"Mungkin saja ia meninggal atau mungkin ia menghilang, itu yang aku pikirkan." Dila duduk di kursi di depan Zian. Menatap Zian dengan mata basah. Entah karena menahan rindu pada ayahnya atau bersedih karena status asalnya yang belum jelas.
"Apa saja yang kamu ketahui tentangnya?" Kini Zian menatap wajah Dila.
Dila menggeleng, "tak ada."
__ADS_1
Zian menatap Dila dengan iba. Bagaimanapun kebahagian Dila sangat berarti bagi Zian. Melihat Dila bersedih membuat dirinya juga menderita.
"Jika ibu kamu sadar, tentu semua ini adalah hal yang mudah."
"Belum tentu, jika memang ibu menginginkan aku mengenal ayahku, pasti sejak kecil ibu sudah mengenalkan aku dengan ayahku, meski tak harus bertemu, kupikir dengan cerita atau foto, itu sudah lebih dari cukup." Mata Dila tak lagi mampu menahan bulir beningnya. Tangis Dila pecah.
"Sepertinya ada yang sengaja di sembunyikan, kenapa aku tak boleh mengetahuinya?" Dila menutup wajahnya dengan tangannya sendiri. Terisak.
Zian berdiri, mendekati Dila dan merengkuh Dila dalam dekapannya. Zian tak tahu harus menjawab apa, dia hanya merasakan kesedihan yang Dila rasakan.
"Aku ingin tahu, siapa sebenarnya keluargaku."
Zian membelai rambut Dila, berusaha membuat Dila tenang dan nyaman. Air mata Dila membasahi kemeja Zian.
"Aku tak bisa mengetahui darimana aku berasal, siapa aku?" Suara Dila terdengar tersenggal-senggal.
"Kumohon Zian, bantu aku!"
Dila terisak, Dila tampak begitu putus asa.
Ucapan Dila seakan menghentakan Zian dari kesadarannya. Suara yang terdengar pilu menyayat hati Zian, hingga tanpa sadar ada sebuah pondasi yang roboh di hati Zian. Pondasi yang selama ini bangun dengan hati-hati.
***
Aldo menikmati cemilan di depannya. "Kenapa kamu membahas pekerjaan disini?"
"Aku sudah cukup stres dengan urusan kantor, aku ingin rileks."
Zian mengamati Aldo yang masih sibuk mengunyah.
"Hidupku menjadi stres karena kamu membuka kasus ini."
Aldo tertawa.
"Katakan, siapa?" Wajah Zian tampak serius membuat Aldo menghentikan tawanya.
"Sorry bro, bukannya aku nggak mau berbagi informasi, tapi ini menyangkut kerjaan aku, aku sudah berjanji menjaga privasi klienku."
Dengan hati-hati Aldo mengucapkan. Dia tak ingin Zian tersinggung.
__ADS_1
"Istriku menjadi sensitif sejak menangani kasus ini, menyebalkan!" Zian menyesap kopi pesanannya.
"Istrimu berbakat, Zi."
"Dia sangat profesional dan sigap menjalankan pekerjaannya."
Zian tersenyum tipis, "baru sadar kalo istriku begitu mengesankan?"
Tawa mereka pecah.
Meski Zian tak mendapat jawaban dari Aldo, Zian menghargai keputusan Aldo. Dan Zian akan berusaha untuk mencari tahu sendiri.
*****
"Jadi bagaimana kondisi ibu sekarang?" tanya Dila. Selepas pulang kerja ia menyempatkan menjenguk ibunya. Ia tak jadi mengunjungi ibunya pagi, melainkan sore.
Mereka sedang berada di ruang kerja Indra. Ruang bercat putih, khas rumah sakit.
"Tak banyak berubah, harapan untuk sembuh sepertinya semu, masih sama dengan penuturanku dulu." Indra membaca laporan medis ibunya Dila.
Dila mengusap wajahnya dengan frustasi. Indra hanya memperhatikan tak berani berkata banyak. Dia hanya memandang Dila yang tampak lelah dan sedih..
Dila mengangkat wajahnya, "terima kasih." Dila beranjak. Meninggalkan Indra yang merasa prihatin dengan kondisi ibunya Dila.
Sudah bertahun-tahun ibunya Dila koma. berkali-kali Indra mengatakan jika harapan untuk sembuh sangatlah sulit. Namun Dila masih bersikeras untuk merawat ibunya.
Dila berjalan menuju halaman rumah sakit, ia menggeser jari ke ponselnya. Memesan taksi online.
Tak lama sebuah mobil berhenti di depan Dila, setelah memastikan jika mobil itu taksi online yang ia pesan, Dila segera masuk.
Dila bersandar di kursi penumpang, tubuh dan jiwanya letih beberapa hari ini. Pikirannya terkuras memikirkan siapa dirinya sebenarnya. Dila memejamkan matanya, perjalanan menuju rumahnya masih agak lama, dia ingin beristirahat sebentar.
"Pak, nanti jika saya ketiduran, tolong bangunkan, ya!" pesan Dila pada driver.
"Iya, Non," ucap sopir itu tanpa menoleh. Fokus pada kemudinya.
Mata Dila terpejam, hingga beberapa saat kemudian Dila benar-benar tertidur. Dila tak menyadari jika mobil yang naiki membawanya ke tempat lain. Bukan pulang ke rumah.
Di lain tempat, Zian resah karena menelpon Dila namun tak ada jawaban. Ponsel Dila tak bisa di hubungi. "Dila, apakah kamu baik-baik saja?" Zian bertanya pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Dila terbangun. Ia mengucek matanya, melihat keadaan sekeliling. Dia terperanjat, "dimana aku?" tanya Dila saat menyadari jika dia tak berada di rumahnya.
****"*******