Pernikahan Rahasia

Pernikahan Rahasia
Bab 78 Pernikahan Rahasia


__ADS_3

Tania bisa bernafas lega karena Kevin sudah baik-baik dan Rini begitu telaten dalam merawat Kevin.


"Terima kasih, sayang. Kamu sudah menjaga Kevin." Tania memegang erat tangan Rini.


"Iya, Ma. Aku akan selalu menjaga Kevin. Mama tidak perlu berterima kasih karena aku senang melakukannya, Ma."


Kedua wanita itu berpelukan, ketika sedang menunggu Kevin yang sedang di dalam kamar mandi.


Keduanya masa berpelukan saat Kevin keluar dari kamar mandi. Dia begitu terharu karena dia dikelilingi oleh orang-orang yang begitu menyayanginya.


"Ma..." Tania menolah ke belakang dimana Kevin sedang berdiri.


"Kevin, syukur kamu baik-baik. Mama sangat cemas sekali." Tania bangkit lalu memeluk Kevin dan menuntunnya sampai tempat tidur.


"Banyak-banyak lah istirahat, tidak perlu memikirkan pekerjaan karena sudah ada Morgan yang mengurusnya." Tania memberikan nasihat, dia tidak ingin kalau Kevin kembali drop. Mengingat pernikahannya bersama Rini sudah di depan mata.


"Iya,Ma. Aku akan istirahat sekarang. Karena sudah ada Morgan yang akan meneruskan perusahan. Apa aku bisa bicara dengan Morgan, Ma?."


"Tentu saja, sayang. Tapi hanya sebentar karena kamu harus istirahat." Kevin mengangguk sambil tersenyum.

__ADS_1


Tania pergi keluar untuk memanggil Kevin dan memintanya masuk ke kamar Kevin.


"Aku akan baik-baik sayang, kamu harus baik-baik juga, jangan sampai kamu sakit." Kevin merentangkan tangan untuk memeluk Rini, Rini pun menghambur kedalam pelukan sang calon suami. Kevin mengecup pucuk kepala Rini dengan begitu sayang.


Morgan sampai menghentikan langkahnya kala melihat pemandangan manis di depan matanya. Dia bisa melihat dan merasakan kalau mereka begitu saling menyayangi dan mencintai.


"Aku sangat mencintai mu, Kevin." Rini mencium kening Kevin dengan begitu hangat. "Aku akan meninggalkan mu untuk bicara dengan Morgan. Aku akan menunggu di luar."


"Iya, sayang. Terima kasih. Aku juga sangat mencintai mu." Balas Kevin sebelum Rini meninggalkannya.


Rini berpapasan dengan Morgan, keduanya saling melepas senyum sebagai orang yang saling kenal.


Morgan berjalan mendekati Kevin, duduk di kursi yang ada di depan Kevin.


"Aku senang kau sudah sadar." Ucap Morgan membuka obrolan.


"Hem, terima kasih." Balas Kevin.


"Kau harus menjaga Mama, perusahaan dan Rini, meski sudah ada Papa Usman yang melakukannya."

__ADS_1


"Kau ini bicara apa?. Kau pasti sanggup menjaga semuanya karena kau akan kembali sehat. Kau harus ingat juga untuk segera menikahi teman ku." Morgan tidak suka mendengar Kevin berbicara seperti itu.


"Ngomong-ngomong mengenai Rini, meski pun kau sudah bilang sebelumnya, kalau kau sangat mencintai Diandra dan tidak akan pernah bisa hidup tanpa Diandra. Tapi aku rasa setelah kau tahu dan kenal lebih dalam dan lebih baik lagi tentang Rini, aku sangat yakin kau akan bisa mencintainya bahkan sanggup melebihi cinta kau pada Diandra." Balas Kevin.


"Aku rasa obrolan kita harus selesai. Kau harus banyak istirahat."


"Tolong bantu aku untuk menjaga dan mencintai Rini selama sisa waktu yang kau punya, Morgan!. Demi aku, Morgan!. Aku tidak pernah menyentuh Rini sedikit pun. Aku selalu menjaganya, Morgan. Dan sekarang aku minta, kau harus membahagiakan Rini dengan cara kau sendiri. Aku yakin kau pasti sanggup melakukan untuk ku dan Rini."


"Stop, Kevin!. Berhenti omong kosong!. Aku akan segera keluar, kau harus istirahat. Aku akan memanggil Rini supaya dia menemani kau di sini." Morgan segara pergi dari sana tanpa melihat dan mempedulikan Kevin. Dan dia meminta Rini untuk masuk supaya menemani Kevin. Morgan sendiri, dia lebih memilih keluar untuk menghirup udara malam kota Bogor.


Duduk di atas bebatuan besar yang ada dihalaman villa tersebut. Memandangi langit malam yang begitu cerah dengan bertaburan bintang.


Kembali terngiang apa yang telah dikatakan oleh Kevin beberapa saat lalu.


"Rini...Diandra...Diandra...Rini..." Batin Morgan.


Rasanya tidak mungkin jika dia akan dengan mudah mencintai Rini seperti yang dikatakan oleh Kevin.


"Bahkan detik ini pun aku masih sangat mencintai Diandra." Batin Morgan. Namun sejurus kemudian, bayangan tawa canda Rini dan kedua anak Diandra memenuhi isi pikirannya.

__ADS_1


Morgan menggeleng. "Tidak mungkin kalau sekarang aku bisa menerima wanita lain dalam hati ku, selain Diandra." Batinnya. Semua bayangan tentang Rini memenuhi isi kepalanya dari mulai mereka sekolah bersama dan sampai saat ini.


"Rini Kesuma Wulandari." Batin Morgan sambil menatap langit dan dia mendapati sebuah bintang jatuh.


__ADS_2