Pernikahan Rahasia

Pernikahan Rahasia
Delapan


__ADS_3

Hari libur yang dinanti tiba, setelah menghabiskan waktu seharian untuk berkencan di berbagai tempat di Malang, Dila dan Zian kembali kerumah beraktifitas seperti biasa.


Masih teringat jelas betapa romantisnya sikap Zian pada Dila, Hal ini tentu saja membuat Dila merasa terlena, bagaimanapun hanyalah Zian yang paling dekat denganmu, meskipun pernikahan yang sedang mereka jalani hanyalah sekedar pernikahan diatas kertas.


Melihat sikap manis Zian, ingin sekali rasanya Dila mengatakan kebenaran tentang alasannya mau dinikahi Zian. Namun tiba-tiba Dila takut, dia takut jika ia mengatakan alasannya adalah karena untuk ibunya, mengingat ibunya sedikit lagi akan sembuh, maka Zian akan menyudahi hubungan ini setelah ibunya Dila sembuh. Apalagi melihat Zian mempunyai hubungan dekat dengan Felisia, rasa-rasanya Zian tak akan ragu menceraikan Dila.


Dila menjadi dilema, di satu sisi ia ingin mengatakan kebenarannya, namun ia takut Zian menceraikannya. Bagi Dila, bukan tentang uang lagi, namun perasaan yang ada dihatinya sudah tak bisa dibendung lagi, ia tak ingin kehilangan Zian.


****


Baru saja Dila dan Zian tiba di rumah, terdengar bunyi bel pintu berbunyi. Bi Sarmi asisten rumah tangga mereka membukakan pintu untuk tamu itu, tamu yang ternyata adalah Satya.


Saat itu Dila di kamar, sedangkan Zian sedang di ruang kerja sedang mengecek laporan dari asistennya.


"Hai, Om, aku ganggu?" tanya Satya tiba-tiba muncul di ruang kerja Zian.


Zian menoleh, "eh kamu, Sat, masuk!" ajak Zian.


Satya memasuki ruang kerja Zian yang berada di samping kamar Zian dan Dila.


"Habis darimana?" tanya Zian sambil mengecek laptopnya.


"Dari rumah," ucap Satya sambil memperhatikan seisi ruangan kerja Zian. Satya tersenyum ketika tak melihat sebuah foto Dila satu pun.


'Sepertinya apa yang dikatakan mama jika pernikahan mereka hanyalah diatas kertas ada benarnya.' batin Satya.


"Sayang, kamu tahu dimana kunci almari?" Dila tiba-tiba muncul di ruang kerja Zian. Dila terkejut karena ada Satya, apalagi Dila sedang mengenakan baju tidur seksi. "Maaf, aku nggak tau jika ada tamu, permisi," ucap Dila.


Zian berdiri, ia berjalan mendekati Dila yang sedang berdiri di pintu ruang kerjanya. "Ini kuncinya, tadi lupa terbawa," ucap Zian sambil menyerahkan kunci almari pada Dila. Tiba-tiba saja Zian memberikan sebuah ciuman pada Dila di depan Satya. Dila terkejut sehingga tak sanggup menolak


Satya terkejut melihat Dila berpakaian seperti itu ditambah lagi Zian dan Dila memamerkan kemesraan didepannya. Tanpa sadar tangan Satya mengepal menahan amarah dihatinya.


Beberapa saat kemudian Dila mendorong tubuh Zian, lalu berlari ke kamarnya. Bagaimanapun Dila tak pernah bermesraan di depan orang lain, terlebih itu Satya, orang yang pernah berarti dalam hidupnya.


Zian tersenyum saat Dila pergi, "istriku memang pemalu," ucap Zian pada Satya. Satya tersenyum tipis menanggapi ucapan Zian. "Maafkan aku, kamu harus memanggil wanita seumuranmu tante." Zian tertawa menggoda Satya. "Tapi dia wanita yang cantik bukan?" tanya Zian sambil kembali duduk di kursi kerjanya.


Satya terkejut dengan pertanyaan Zian, ia tak mampu menjawab.


"Dila adalah tantemu, mungkin mamamu mengatakan padamu jika Dila adalah wanita yang buruk, kuharap kamu jangan ikut-ikutan."


"Tentu saja nggak, aku sudah tahu jika Dila adalah wanita yang baik, dia tidak seburuk yang dikatakan orang-orang," ucap Satya tegas hingga membuat Zian menoleh dan menatap Satya.


"Ucapanmu seakan-akan mengenal Dila saja," ucap Zian membuat Satya menyadari jika ia sudah kelepasan bicara. "Panggil dia tante." Zian menekankan kata 'tante'.


"Aku hanya melihatnya sekilas saja, lagian pendapat mama kan karena dia kurang suka saja sama Di.. Eh tante, mama hanya merasa hubungannya dengan Om menjadi lebih jauh karena kehadiran tante," ucap Satya.


"Aku nggak peduli apa pendapat mamamu, kamu tahu sendiri jika dari dulu hubunganku dengan mama dan papaku kurang baik."

__ADS_1


Di ruangan lain, wajah Dila memerah karena sikap Zian yang tiba-tiba agresif apalagi ada Satya di depannya.


"Kenapa Alvin kesini? Zian juga kenapa tiba-tiba bersikap agresif, memalukan!" gumam Dila sambil mengisi wajahmu sendiri dengan kasar.


"Ya Tuhan, kenapa harus Alvin yang menjadi keponakan Zian?" gerutu Dila.


******


Hari berganti hari, Satya ikut bergabung di perusahaan Zian, dia memang dari dulu ingin belajar banyak dari Omnya, ia lebih nyaman dengan Zian daripada papanya sendiri. Memang sejak remaja hubungan Satya dengan papanya kurang harmonis, sehingga Satya lebih dekat dengan Zian.


Dan karena Satya bergabung dengan Zian, maka Satya sering berkunjung ke rumah Zian dengan dalih ingin belajar. Tentu saja dia sering bertemu Dila. 


"Kenapa keponakanmu sering kesini? Aku nggak nyaman kalau ada orang luar sering kesini," ucap Dila pada Zian saat hendak tidur.


"Kenapa? Bukankah sudah kukatakan sebelum Satya datang ke Indonesia jika dia akan sering kesini?" 


Dila tak mampu membalas ucapan Zian, memang Zian sudah mengatakan hal ini sebelum Satya pulang ke Indonesia. Namun Dila tak menyangka jika Satya yang dimaksud adalah Alvin. Dila juga tak mungkin menjelaskan pada Zian jika dirinya dan Satya pernah dekat.


Sore ini Dila terlambat pulang, dia berkunjung ke tempat ibunya, kondisi ibunya kembali buruk, ia kembali tak bisa merespon. Tentu saja Dila menjadi khawatir. 


Indra tampak berusaha keras memberikan pelayanan terbaiknya pada ibunya Dila, namun kondisi ibunya Dila tak banyak berubah.


"Maafkan aku, aku akan berusaha lebih baik lagi," ucap Indra pada Dila. Dila memberikan semangat pada Indra, hal ini justru membuat Indra merasa bersalah karena tak dapat memberikan hasil terbaik untuk Dila.


Jam di tangan Dila menunjukan pukul delapan malam. Dila menjadi cemas karena pasti Zian akan menunggunya.


"Aku pulang dulu ya, dok, nanti kalau ada apa-apa kabari aja," ucap Dila sambil beranjak dari kursi di samping ranjang ibunya Dila. Hari ini Indra bisa menemani menjaga ibunya Dila karena Indra sudah tak ada jadwal.


Namun tiba-tiba saat berjalan, ada seorang anak kecil berlari-lari, dia tak sengaja menabrak tubuh Dila, Dila yang tak cukup siaga menjadi oleng dan hampir jatuh, namun dengan sigap Indra menopang tubuh Dila hingga Dila berpegangan pada lengan Indra seakan berpelukan.


Sesaat kedua netra mereka beradu, Indra membiarkan posisi ini hingga Dila yang berusaha melepaskan diri dari pelukan Indra.


"M.. Maaf," ucap Dila sambil menunduk karena malu. "Terima kasih, aku pergi dulu." Dila mempercepat langkahnya karena ia malu dilihat banyak orang. Dila segera naik taksi yang sudah dipesannya sebelum keluar dari rumah sakit.


Dila memasuki rumahnya setelah tiba dirumah, ia mencari sosok Zian, bukan karena rindu, tapi Dila takut Zian mengajaknya berdebat karena pulang kemalaman. Dengan langkah pelan-pelan dan hati-hati Dila menuju kamarnya.


"Darimana kamu?" tanya sebuah suara yang sangat Dila hafal, suara Zian, ketika Dila tiba di ruang tamu.


Dila menghentikan langkahnya, dia mengambil nafas panjang untuk menenangkan dirinya.


"Jawab, Dila!" Zian berjalan mendekati Dila.


Zian menatap wajah Dila yang menunduk, "apakah kamu bisu? Jawab Dila!" Zian tampak menahan amarahnya.


"Aku dari,, dari,, rumah,,," ucap Dila terbata, dia mencoba mencari alasan terbaik.


"Apakah kamu habis bertemu dengan lelaki lain?" tanya Zian sambil memegang dagu Dila agar Dila menatap wajahnya.

__ADS_1


Jantung Dila berdetak lebih kencang,dia tak tahu kenapa Zian berpikir seperti itu.


"Lihat ini!" Zian menunjukan sebuah gambar di ponselnya, disana terlihat Dila sedang di peluk Indra saat hampir jatuh tadi.


Dila terkejut dengan foto itu hingga mulutnya terbuka namun tak bisa berkata-kata untuk menjelaskan.


"Dasar ******!" Zian menampar pipi kiri Dila.


Tubuh Dila terhuyung ke belakang karena kuatnya tamparan Zian. Dila meringis sambil memegangi pipinya karena merasa sakit. Saat Dila hampir jatuh tiba-tiba Satya datang dan menopang tubuh Dila.


"Jangan kasar dengan istrimu, Om!" bentak Satya, baru kali ini Satya berani membentak Zian.


Zian mendorong Satya sambil menarik tubuh Dila. "Jangan ikut campur!" Zian menarik tangan Dila. "Biar aku urus ****** ini!" 


Dila menangis karena sikap dan ucapan Zian yang kasar. 


"Jangan panggil dia seperti itu!" Satya tampak marah mendengar kata '******' untuk Dila.  Tiba-tiba Satya menarik tangan Dila. "Dila, jangan diam saja diperlakukan seperti ini!" ucap Satya pada Dila.


"Brengsek!" Zian memberikan sebuah tonjokan pada Satya. Terlihat memar di pelipis kiri Satya. Satya tak mau kalah, dia melawan Zian sehingga mereka berdua di depan Dila.


Dila bingung dengan semua yang terjadi, dia tak bisa ambil sikap atas kejadian ini. Dia melihat kedua lelaki yang pernah dekat dengannya berduel di depannya.


"Sudah! Hentikan!" Teriak Dila namun keduanya tak mau mendengar.


"Tolong berhenti!" Dila berteriak sambil menangis.


Tak ada yang mau  mendengar dan berhenti berkelahi. Dila sangat kebingungan, ia tiba-tiba berlari dan memisahkan keduanya yang tengah berkelahi sehingga tanpa sengaja Dila terkena pukulan dari Zian hingga tubuhnya terlempar ke lantai.


"Dila!" teriak Zian karena melihat Dila terjatuh dan pingsan. 


Zian dan Satya berhenti berkelahi dan berlari untuk melihat keadaan Dila. Terlihat wajah Dila memar dan berdarah.


"Dila, bangun Dila!" Zian memeluk tubuh Dila yang tak sadar. "Maafkan aku Dila! Maafkan aku! Sadar Dila! Bangunlah!" Zian tampak panik dan kacau.


"Satya, siapkan mobil untuk mengantar Dila!" teriak Zian pada Satya, Satya menurut dan melupakan pertengkaran dengan Zian, ia lebih mementingkan keadaan Dila.


Dalam beberapa saat ketiganya sudah berada di rumah sakit. Namun rumah sakit yang berbeda dimana ibunya Dila dirawat.


Wajah Satya dan Zian tampak cemas saat menunggu Dila ditangani dokter. Mereka sudah tak memikirkan perkelahian mereka lagi, mereka tampak gelisah dan kacau.


Zian berjalan mondar mandir menanti pintu dibuka. Ia sangat menyesal telah melukai Dila. Sedangkan Satya duduk di kursi tunggu sambil menunduk memegangi kepalanya. Dia juga sangat mengkhawatirkan keadaan Dila.


Tak lama pintu terbuka, dokter mempersilahkan masuk asal tidak membuat keributan. Zian bergegas masuk diikuti Satya.


Terlihat tubuh Dila berbaring diatas ranjang, ia sudah membuka matanya. "Maafkan aku, sayang." Zian memeluk Dila. Dila menagis di pelukan Zian. 


"Kamu membuatku takut,Zi." ucap Dila sesegukan dan terdengar parau.

__ADS_1


"Maafkan aku, maafkan aku," bisik Zian.


Satya hanya melihat dan kemudian berjalan keluar ruangan. Ia merasa keadaan Zian dan Dila sudah membaik, karena itu dia tak mau ikut campur dan membuat Dila dan hatinya sendiri  tersakiti lagi. Bagaimanapun melihat Dila dan Zian bersama adalah penyiksaan bagi Satya.


__ADS_2