
Dila duduk di depan meja riasnya. Dia masih memikirkan hubungan Tio dengan ibunya. Ingin Dila bertanya pada ibunya namun untuk membuka mata saja ibunya belum bisa.
"Ada apa, Yank?" Zian memeluk Dila dari belakang, Dila menatap Zian dari pantulan cermin.
"Ayo tidur." Dila hendak beranjak namun Zian semakin merapatkan pelukannya.
"Katakan, ada apa?" bisik Zian.
"Cuma masalah pekerjaan." Dila ragu untuk bertanya tentang Tio lebih jauh.
"Kamu nggak ingin resign aja kah? Aku nggak mau kamu banyak pikiran seperti ini."
Zian memutar tubuh Dila, kini mereka saling berhadapan.
"Jangan, ini impian ibuku juga, aku nggak mau melepasnya begitu saja."
Zian memegang kedua bahu Dila, "katakan jika kamu butuh bantuanku." Tatapan hangat Zian seakan membuat Dila tenang.
Dila mengangguk, memang semestinya Zian membantunya. Tapi Dila takut Zian tersinggung.
Mereka berdua menuju ranjang, membaringkan tubuh yang lelah setelah seharian beraktifitas. Lampu kamar juga dipadamkan, tersisa lampu kecil di meja di samping ranjang.
"Sayang," panggil Dila.
"Hmm." Zian berbaring dan masih sibuk membaca beberapa pesan di ponselnya.
"Menurut kamu, apa benar kak Tio adalah bandar narkoba?" tanya Dila pelan, suaranya terdengar bergetar dan takut.
Zian menaruh ponselnya dan menatap Dila. "Kenapa ngomongin dia?" pertanyaan Zian seakan mengintimidasi.
"Hmm.. Nggak sih, aku cuma tanya aja, bagaimana menurut kamu?"
"Nggak tau dan nggak mau tau." Zian memunggungi Dila.
Dila memeluk Zian dari belakang, "jangan marah ya, aku cuma tanya aja kok."
"Dia orang berbahaya, jangan mencari tahu apapun tentangnya, jika kamu ada masalah, tanyakan padaku."
"Jadi aku boleh bertanya pada kamu, kan?"
Terdengar Zian menghela nafas panjang, lalu ia berbalik dan menatap Dila. "Jangan bilang kamu ada tugas buat cari tahu info tentang Tio."
Dila menggigit bibir bawahnya, menandakan ia sedang cemas. "Tolong, aku." Akhirnya Dila mengatakan semuanya terutama tentang foto ibunya bersama Tio.
Zian terlihat begitu antusias mendengar semua yang diucapkan Dila. Sampai-sampai keduanya duduk, tak lagi berbaring.
"Mungkin mereka hanya kenal sesaat, nggak ada yang spesial," ucap Zian setelah Dila menceritakan semuanya.
Dila menatap wajah Zian, "ada yang kamu sembunyikan?"
"Apa?"
"Katakan Zian, apakah kamu tahu sesuatu?" tanya Dila dengan tatapan penuh harap.
"Nggak, Sayang, aku hanya mendengar rumor, sama sepertimu, aku tak punya bukti apapun." Zian memegang kedua pipi Dila.
"Aku akan mencari semuanya sendiri jika kamu nggak mau bilang." Dila menarik diri dan membaringkan tubuhnya lagi.
"Apa yang akan kamu lakukan?"
"Entahlah, aku hanya ingin tau apa hubungan ibuku dengan kak Tio." Dila menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya, memunggungi Zian.
Zian mendengus, "jika aku tau sesuatu, aku akan memberi tahumu, namun jangan bertindak gegabah." Zian berdiri dan meninggalkan Dila di kamar, menuju ke ruang tengah.
Zian duduk di sofa setelah mengambil minuman soda di dapur. Terlihat asap rokok keluar dari mulut Zian. Ada raut keputus asaan di wajahnya. "Sepertinya, ini saatnya," gumam Zian.
****
Suara hentakan heels Dila beradu dengan lantai rumah sakit. Kaki jenjangnya melangkah dengan cepat karena jam istirahat makan siang ia gunakan untuk pergi mengunjungi ibunya. Berharap ada keajaiban yang membuat ibunya sadar dan menjelaskan keadaan yang sebenarnya.
Saat melihat ibunya yang masih terbaring seperti biasa, Dila merasa jika ibunya memiliki banyak hal yang perlu diceritakan padanya. Tentang Tio, tentang masa lalu ibunya, juga siapa ayahnya.
Setelah merasa cukup untuk melihat keadaan ibunya, Dila beranjak keluar ruang rawat ibunya. Ketika ia berjalan di koridor rumah sakit ia bertemu Indra. Dila hanya menatap dan menganggukan kepalanya saat berpapasan, tak ada obrolan seperti biasa. Dila terus melangkah tanpa menoleh lagi, berbeda dengan Indra, ia menatap punggung Dila yang sedang berjalan hingga menghilang ketika Dila berbelok diujung koridor rumah sakit.
Dila segera naik taksi online yang sudah ia pesan sebelum keluar ruang rawat ibunya. Dia mengambil ponsel di tasnya, menggeser benda pipih itu dengan ragu ketika melihat kontak, dia pilih salah satu nama. Dengan ragu ia menekan tombol bergambar telepon lalu menaruh ponsel di dekat telinganya.
"Halo. aku ingin bertemu," ucap Dila pada seseorang yang telepon.
****
Dila duduk di samping kaca sebuah resto, dia tak kembali ke kantor setelah meminta izin pada Aldo.
Netra Dila menatap jalanan di balik kaca resto, ia menunggu kehadiran seseorang. Tampak di luar cuaca sedang mendung.
__ADS_1
"Maaf sudah membuatmu menunggu." Sebuah suara membuyarkan lamunan Dila. Dila menatap wajah yang ia tunggu.
"Silahkan duduk." Dila mempersilahkan duduk namun tanpa senyuman.
"Kenapa tiba-tiba kamu ingin bertemu denganku?" tanya orang itu sambil duduk.
Dila menoleh nafas panjang, "jelasin ke aku, kenapa kamu tiba-tiba membenciku sebelum kamu berangkat ke Jepang dulu, Sat?" Dila menatap netra Satya. Tatapan penuh tanya.
Sesaat Satya menatap netra Dila, ada rasa ingin membuat Dila menatapnya dengan lembut. Ingin Dila menatapnya penuh kehangatan dan cinta. Namun Satya tahu jika itu bukanlah hal mudah setelah beberapa kali ia membuat Dila kesal.
"Kamu bilang menyukaimu dari kita SMP, tapi kenapa kamu membenciku tanpa alasan?"
Satya memandang kearah lain, ia ingin menjelaskan pada Dila namun terasa berat. "Untuk apa kamu tanyakan itu?"
"Tiba-tiba aku ingin tahu." Dila menatap kearah luar, melewati kaca. Hujan mulai turun.
"Aku nggak perlu menjawab pertanyaannya, yang terpenting kamu cukup tahu, jika saat ini aku mencintaimu." Kali ini Satya menatap Dila meski Dila melihat kearah lain.
"Seandainya saja kamu mau menjelaskan, mungkin aku bisa mempertemukan perasaanmu." Dila menoleh dan menatap Satya lekat.
Satya terperangah mendengar ucapan Dila. Ada binar bahagia di mata Satya.
"Apa kamu yakin?" tanya Satya.
Dila menghela nafas panjang, " aku bisa mempertimbangkan." Dila meminum minuman miliknya. Seakan mencoba mengusir kegusarannya.
"Tapi aku tak punya jawaban yang mampu membuat rasa penasaranmu terobati." Kini netra Satya kembali menikmati hujan.
Hening.
Dila dan Satya menatap hujan dalam diam untuk beberapa saat.
"Apakah hal itu sangat sulit untukmu? Apakah kamu tahu banyak tentang kehidupanku melebihi aku sendiri?" Dila masih menikmati hujan.
"Aku tak ingin membuat kamu menyesali atas jawaban dariku, jika memang kamu ingin mempertimbangkan perasaanku, terima saja perasaan ini, aku rela meski kamu membaginya dengan Om Zian."
Dila menoleh, menatap memperhatikan Satya yang bisa berbicara seenaknya membuat Dila kesal.
"Kamu boleh tetap dengan Om Zian, kamu juga bisa denganku, saat ini aku belum sanggup memberikan apa yang Om Zian berikan padamu."
"Apa maksudmu?" tanya Dila.
"Om Zian memiliki banyak materi karena dia mau berbuat apa saja sama seperti papaku, tapi aku bukan seperti mereka." Satya menatap Dila. "Saat ini kamu mau bersama Om Zian juga pasti karena materi, kan?"
Plak
"Jangan mencoba cari tahu apapun tentang keluargaku! Jika memang kamu ingin bahagia, tinggalkan Om Zian dan ayo pergi bersamaku." Satya tak memperdulikan pipinya yang memerah karena tamparan Dila.
"Omong kosong." Dila beranjak dan meninggalkan Satya yang masih termenung menatap kepergian Dila.
"Lebih baik begini Dila, semakin kamu membenciku maka tak ada ruang di hati kamu untuk menerimaku, tak peduli sebenci apapun kamu padaku, aku akan tetap mencintaimu," gumam Satya.
Kini Satya duduk sendiri dan masih menikmati hujan yang masih belum usai. Ingatan Satya menerawang kejadian saat dirinya beranjak remaja. Masa paling sulit yang ia temui.
Sore itu Satya yang masih berusia lima belas tahun sedang mengerjakan tugas dari gurunya. Sialnya laptop Satya sedang rusak karena terjatuh sepulang sekolah. Satya hendak meminta tolong papanya untuk meminjam laptop papanya sebentar. Namun seisi rumah sedang keluar. Hanya ada Satya di rumah.
Satya berjalan menuju ruang kerja papanya, kebetulan ruang kerja sedang tak terkunci. Satya menelusuri ruang kerja papanya, Satya memang jarang ke ruang kerja papanya, namun ia tahu jika ada sebuah laptop disana. Satya menemukan laptop itu dan menyalakannya.
Selama beberapa saat Satya mengerjakan tugasnya dengan baik, namun ketika menyimpan tugasnya, Satya membuka beberapa dokumen yang papanya simpan. Tanpa sengaja Satya meng-klik file milik papanya karena judul yang Satya tulis untuk file-nya sama dengan file milik papanya, file itu dinamakan BLOOD. Satya pikir itu file miliknya karena memang tugas Satu adalah tentang darah. Namun Satya terkejut, file itu bukan miliknya.
Satya tercengang, ia membaca file itu, disana tertulis data beberapa tempat untuk bertransaksi narkoba. Disana juga ada beberapa foto papa Satya sedang melakukan transaksi.
Karena cukup terkejut dengan file itu, Satya membuka semua file di laptop papanya. Satya juga mencari email di laptop itu. Namun kali ini justru sebuah kenyataan lebih mengejutkan bagi Satya. Selain berjualan narkoba ternyata papa Satya adalah seorang mafia kelas atas.
Satya tak dapat mempercayai apa yang ia lihat, tubuhnya bergetar karena ia baru menyadari jika ia adalah anak seorang penjahat. Padahal selama ini papanya terlihat baik dan terkenal akan kedermawannya. Tak terlihat sama sekali jika papanya adalah penjahat.
Namun rasa penasaran Satya tak dapat ia hentikan, tangannya menelusuri semua file demi file dan juga email papanya.
Beberapa email dibuka Satya dengan tangan bergetar, disana tertulis papanya sedang menyuruh beberapa orang mencari tahu keberadaan anak dan istri dari seorang temannya yang telah dibunuhnya melalui pembunuh bayaran. Satya mengira jika pasti papanya menyuruh untuk mencari anak dan ibu itu untuk melenyapkannya juga, sama seperti yang papanya lakukan pada lelaki yang menjadi ayah dan suami yang sudah dilenyapkan terlebih dahulu.
Dan ternyata ada sebuah email yang belum dibuka papanya, dengan sangat takut akan sebuah jawaban jika pesuruh itu sudah mengahabisi nyawa ibu dan anak itu, Satya mencoba membukanya. Betapa terguncangnya Satu saat membuka email itu karena berisi foto Dila dengan seorang perempuan yang kemungkinan besar adalah ibunya Dila.
Satya menatap email itu dengan perasaan campur aduk. Ini adalah foto gadis yang sudah menjadi temannya beberapa waktu lalu, gadis yang sudah memberi Satya semangat belajar. Gadis spesial yang ia kenal melalui lomba antar sekolah.
"Tidak, aku nggak akan biarkan Dila menjadi korban papaku." Satya menahan air mata ketakutan dan kekecewaan terhadap papanya.
Dengan tanpa berpikir panjang, Satya membalas email dari orang suruhan papanya.
[Baik, selanjutnya biar aku lakukan sendiri. Sudah sampai disini tugasmu, jangan menghubungiku lagi! ]
Tulis Satya, seakan ia menjadi papanya. Lalu Satya segera menghapus foto dan alamat Dila dari laptop itu. Satya segera menghapus jejaknya, termasuk tugas yang kerjakan tadi, ia tak ingin papanya menyadari jika ia sudah memakai laptop papanya.
Sejak saat itu Satya mencari cara agar Dila baik-baik saja. Satya juga tak ingin papanya mengetahui keberadaan dan jati diri Dila. Namun Satya tak berani mengatakan kebenarannya pada Dila.
__ADS_1
Karena hal itu, Satya membuat Dila membencinya, bahkan dengan berbagai cara licik, Satya membuat Dila pindah ke kota lain, hal ini agar Dila tak satu kota dengan papanya.
Satya tega membuat ibu Dila kehilangan pekerjaannya dengan merusak hasil jahitan yang sudah ibu Dila kerjakan. Hasil jahitan itu adalah milik orang lain. Satya juga sudah memfitnah Dila jika ia adalah pencuri. Karena berbagai kegetiran hidup, Dila dan ibunya pergi meninggalkan kotanya, apalagi setelah kepergian neneknya.
Masih teringat ketika Dila menangis sebelum Dila pindah, saat itu Satya memperhatikan Dila dari jauh. Hatinya begitu hancur melihat Dila sedih. Ingin rasanya menguatkan Dila, namun inilah tujuannya, ia ingin Dila pergi. Yang membuat Satya merasa bersalah adalah separah apapun keadaannya, Dila tak pernah membagi kepedihannya, ia hanya menyimpannya.
Satya dan Dila bertemu di sebuah olimpiade. Satya tahu jika Dila habis menangis, namun ketika bertemu Satya, Dila menampakan wajah cerianya, seakan tidak ada apa-apa.
"Kita bertanding secara sportif, ya," ucap Dila saat itu.
"Aku akan mengucapkan selamat padamu jika kamu menang," lanjut Dila dengan tersenyum.
Satya justru memandang Dila sinis, "aku mempunyai sebuah kesepakatan sebelum olimpiade ini dimulai," ucap Satya.
Lagi-lagi Dila tersenyum meski Satya menatapnya sinis, "katakan!"
"Jangan memanggilku dan mendekatiku ketika aku mampu menenangkannya olimpiade ini! Anggap saja kita tak pernah saling mengenal," ucap Satya tegas hingga membuat Dila tercengang.
"Ada apa ini?" tanya Dila.
Satya menghela nafas panjang, menyiapkan kata-kata untuk membuat Dila membencinya meski Satya sendiri benci mengatakannya.
"Aku membencimu, Dila!" Satya beranjak namun Dila mengejarnya. Bertanya apa salahnya dan meminta penjelasan.
Olimpiade dimulai dan setelah selesai, nilai akan diumukan segera. Saat itu Dila berusaha mencari Satya, namun Satya bersembunyi, ia takut jika bertemu Dila maka akan mengucapkan berbagai kata kasar lagi. Satya menunggu hingga pengumuman olimpiade.
Namun saat pengumuman dilakukan ternyata nilai Satya berada di bawah Dila. "Bagaimana? Bukankah nilai milikku berada diatasmu, apakah kita masih bisa berteman?" tanya Dila saat mereka membaca papan pengumuman hasil olimpiade.
Satya tak tahu harus berbuat apa, dia menginginkan Dila mendapat nilai dibawahnya karena pikir Dila akan menjauhinya dan jika memang nilai Dila yang lebih bagus setidaknya bukankah Dila membenci Satya karena ucapan kasar Satya?
"Aku makin membencimu, Dila! Ternyata kamu melakukan berbagai cara untuk mengalahkanku." Satya membentak Dila di depan banyak orang.
"Ada apa, Vin?" Dila meraih lengan Satya.
Namun Satya menepisnya, "Dila, jangan pernah ada dihadapanku! Aku muak denganmu!" bentak Satya lalu ia meninggalkan Dila.
Satya menahan air matanya sebisanya, ia tak ingin Dila mengetahui jika ia terpaksa melakukan ini.
Sejak saat itu dia tak lagi berbicara dengan Dila, namun ia masih sering memperhatikan Dila diam-diam. Satya masih khawatir karena Dila tak juga pindah. Hal ini membuat Satya terpaksa meneror rumah Dila. Berharap Dila dan ibunya takut.
Dan ketika mengetahui Dila dan ibunya sudah pindah, Satya merasa lega. Setidaknya Dila dan ibunya aman, namun di hati Satya sangat sedih, ia telah kehilangan sahabatnya.
Satya menjadi anak pemalas, ia juga sering melawan papanya. Orang tua Satya menjadi bingung akan sikap Satya.
Suatu malam Tio, papa Satya sedang menerima telepon. Tanpa sengaja Satya yang sedang lewat turut mendengarkan, Satya takut jika email yang ia balas atas nama papanya diketui papanya.
Satya berdiri di balik pintu, mencoba mencuri dengar percakapan papanya.
"Roni sudah tak memberiku kabar, bisa jadi dia sudah tertangkap atas kasus lain, sudahlah yang terpenting namaku tidak disebut," ucap Tio saat menelpon.
"Selesaikan pengiriman barang ke Vietnam, kabari aku jika sudah selesai," lanjut Tio.
Satya bersyukur mendengar kabar jika papanya tak tahu jika ia sudah membalas dan menghapus email pesuruh itu.
"Sedang apa kamu, Satya?" tiba-tiba mamanya berada di belakang Satya yang sedang menguping.
Belum sempat Satya menjawab papanya sudah keluar dari ruang kerja. Satya bingung, ia berada di posisi gawat, papa dan mamanya menangkap basah dirinya yang sudah menguping.
***
Tio menghembuskan asap rokok dari mulutnya, ia berdiri menatap Satya yang sedang duduk di sofa ruang kerjanya. Terlihat Rima duduk di sebelah Satya.
"Jadi kamu sudah mendengar apa saja?" tanya Tio dengan tatapan mencekam. Namun Satya remaja itu masih menunduk, berusaha membuat alasan tepat.
"Katakan, Satya!" bentak Tio.
"Jangan terlalu kasar, Mas," ucap Rima sambil mengelus punggung Satya. "Katakan. Nak! Apa saja yang kamu dengar, papa tak akan menghukummu."
Satya masih menunduk.
"Jangan diam saja!" bentak Tio hendak menampar Satya namun di tepis oleh Rima. Tubuh Rima hampir jatuh menahan tangan kekar Tio.
Satya kini menatap wajah papanya, "bukan papa yang akan menghukumku, tapi aku akan membuat papa dihukum," ucap Satya tegas.
Rima memeluk Satya. "sudah, jangan melawan papamu!" Tangis Rima berderai saat memeluk Satya.
Sejak saat itu Satya tak mau lagi bertemu papanya. Ia ingin meninggalkan rumah namun Rima mencegahnya, untuk itu Rima mengambil jalan tengah, Rima mengirim Satya ke Jepang.
Satya yang juga tak ingin bertemu Dila, ia menyetujui keinginan mamanya. Satya merasa ini adalah hal yang terbaik. Meski ia menahan rasa kesal pada papanya, ia juga sedih meninggalkan Dila.
Satya hanya memiliki mimpi, melupakan Dila dan berharap Dila baik-baik saja. Satya tak ingin apa yang ia buat pada Dila sia-sia, biarkan Dila membencinya asalkan Dila baik-baik saja.
__ADS_1
Jadi, jika sekarang Satya harus dibenci Dila sekali lagi demi keselamatan Dila, bukankah itu suatu hal yang harus ia lakukan lagi?
"****